
Hati siapa yang tidak sakit jika mendengar ibu yang melahirkannya sedang berjuang melawan sakitnya? Apalagi ibu adalah orangtua terakhirnya. Ia sudah kehilangan ayahnya sejak lama dan tidak ingin kehilangan sosok ibu.
Sienna berjalan pelan dan sedikit lemah, seperti seorang zombie. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada ibunya dan juga kedua adiknya. Belum sempat ia mencari jalan untuk masalah adik-adiknya, tiba-tiba masalah datang lagi dari ibunya. Itu semakin menyakitkan ketika Sienna menyadari dirinya tak bisa melihat dan menemani sang ibu. Meskipun ia punya bibi yang bisa merawat kedua adiknya di rumah, semua itu tak membuatnya tenang dalam sekejap dan malah membuatnya semakin khawatir.
Sangking asyiknya berlarut-larut dalam luka hatinya, ia sampai tidak menyadari kehadiran Yui dan Aika disebelahnya.
"Ohayou, Sienna-chan~" sapa Aika dengan riang namun Sienna tetap tak mendengarnya
"O-oi, dia kenapa?" bisik Yui pada Aika yang dibalas dengan gelengan kepala dari Aika yang juga tidak mengetahui penyebab Sienna melamun di pagi hari.
Yui memutuskan untuk menepuk bahu Sienna agar temannya itu kembali tersadar dan benar saja. Ia langsung tersentak kaget saat Yui menepuk bahunya dengan cukup keras. Sienna langsung tersenyum lebar pada kedua temannya itu.
"Sejak kapan kalian disini?" tanya Sienna dengan lugu nya
"Kau kenapa? Melamun di jalanan itu berbahaya." tegur Yui dengan tatapan tajam
"Yui-chan benar. Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Aika dengan wajah khawatir, Sienna jarang sekali terlihat tersenyum lepas, seperti orang yang benar-benar terbebani. Sienna hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, aku akan menceritakannya pada kalian jika aku sudah kuat menahan sakitnya. Dengan begitu, aku tidak akan menangis lagi di depan kalian.." ujar Sienna dengan senyum pahit.
"Sienna no baka!" Yui memukul lengan Sienna dengan keras hingga membuat Sienna yang notabene nya belum makan sejak malam menjadi terhuyung kearah Aika. Untung saja Aika bisa menangkap Sienna dengan sigap.
"Mou.. ittai yo, Yui no baka!!" ketus Sienna dengan cemberut sambil mengelus bekas pukulan Yui.
"Kau seharusnya menceritakan masalah mu pada kami! Aku tahu kau sangat lelah dengan semua yang kau hadapi." balas Yui tak kalah ketus nya.
"Eh? Tapi aku sedang tidak bisa mengatakan apapun." Sienna mengangkat bahunya berpura-pura lagi.
•
__ADS_1
•
Seperti biasanya, Ryuuga dan Naoki bolos ke atap sekolah untuk bermain game. Kali ini Arata tidak ikut karena sedang ada kelas tambahan materi untuk peserta lomba sains antar sekolah. Sebenarnya Ryuuga sudah di daftarkan karena otaknya mampu tapi dia menolak keras dengan alasan tidak punya waktu.
"Oi, Ryu."
"Hn."
"Apa kau sudah putus dengan Erika-senpai?"
"Hn. Kenapa?"
"Sudahi saja semuanya, Reiji-nii sebentar lagi pulang kan? Dia pasti akan marah jika tahu kau masih melanjutkan sifat burukmu ini." ujar Naoki
"Dia tidak akan marah jika tidak ada yang mengadukan diriku." sindir Ryuuga dengan dingin, membuat Naoki terdiam lalu cengengesan tidak jelas.
"Iya, iya. Aku mau pergi ke C Cafe. Kau ikut tidak?" Naoki beranjak dari duduknya lalu hendak melangkah pergi.
"Wahh Onee-san!! Yo, apa kabar?" tanya Naoki dengan senyum lebar. Sienna membeliak kaget karena sikap Naoki yang seakan-akan kenal dekat dengan dirinya.
"A-ah Genki desu.." jawab Sienna dengan senyum kaku.
Jujur saja, Sienna saat ini merasa nyawanya terancam setelah tak sengaja bertemu pandang dengan Ryuuga yang berdiri di belakang Naoki. Tatapan membunuh dari Ryuuga membuatnya bergidik ngeri melihatnya.
"Nee-san, kenapa kau baru terlihat lagi?" tanya Naoki antusias
"Itu karena saya bertugas di belakang, apa anda ada perlu dengan saya?" tanya Sienna yang mencoba untuk tetap ramah dan sopan pada pelanggan
"Kau pikir kami kesini untuk apa?" sela Ryuuga dengan sinis. Tentu saja itu membuat Sienna menahan emosi nya dan tetap berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Ah sou desu ka? Silahkan ke kasir terlebih dahulu.." sudut perempatan sudah tercetak jelas di dahi Sienna. Ia ingin sekali menjitak kepala Ryuuga agar lelaki itu bisa sedikit lebih sopan pada orang lain.
"Kau ini apa-apaan sih? Nee-san ini sudah berbaik hati mau menanggapi kita dengan baik." ketus Naoki
"Dengan baik? Itu memang sudah tugasnya." cibir Ryuuga lalu memilih untuk duduk disalah satu kursi dan membiarkan Naoki yang pergi ke kasir untuk memesan kue.
Tidak lama kemudian Naoki kembali dengan membawa nampan berisi pesanan mereka berdua. Lalu Naoki duduk sambil memperhatikan wajah Ryuuga yang sedikit berubah.
"Tidakkah kau menyadari sesuatu?" tanya Naoki
"Apa?" Ryuuga mengangkat alisnya
"Kau terlihat lebih memiliki emosi ketika berhadapan dengan nee-san tadi. Sekarang pun wajahmu menunjukkan ekspresi lain." ujar Naoki dengan senyum tipis sedangkan Ryuuga terdiam. Ia tak menyadari apapun sebelum Naoki mengatakan itu padanya.
"Diamlah." ketus Ryuuga yang langsung memakan pesanan nya agar cepat keluar dari Cafe tersebut.
Setelah itu mereka kembali lagi ke sekolah mereka. Sienna menghela napas lega ketika melihat Ryuuga sudah keluar dari Cafe. Sekarang ada jam istirahat untuk para pekerja di sana. Saat itu, Aika pergi keluar untuk membeli sesuatu.
"Kenapa kau melamun?" tanya Yui
"Aku bertemu dengan lelaki itu lagi, itu mengerikan." ujar Sienna
"Benarkah?! Di mana?" tanya Yui yang ikut terkejut
"Tadi dia kesini."
"Souka? Tapi sepertinya bukan hanya itu yang mengganggu mu." ucap Yui yang ternyata cukup peka dengan perubahan raut wajah Sienna.
"Yui-chan. Aku sudah memutuskan."
__ADS_1
"Memutuskan apa?"
"Aku akan menerima pekerjaan itu." Sienna menatap Yui dengan serius, Yui diam seribu bahasa. Ia menatap Sienna dengan mulut yang terbuka.