
"Ryuuga benar-benar belum pulang?"
"Iya, Reiji-sama."
"Haahh... Sepertinya aku butuh istirahat.."
Reiji berlalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Naoki dan Nanami di sana. Naoki sendiri tak habis pikir dengan perilaku Ryuuga yang semakin hari sulit untuk di kontrol. Ia menunduk dalam sambil mengepalkan kedua tangannya.
"A-ano summimasen, Naoki-sama.. Apa anda tidak ingin istirahat? Ini sudah larut malam. Saya akan siapkan kamar untuk anda—"
"Iie, Nanami ba-san. Aku harus mencari Ryuuga. Dia tidak menghubungi ku sama sekali!" Naoki menatap Nanami dengan penuh amarah.
"D-demo Naoki—"
Naoki tak lagi mendengarkan suara Nanami. Ia melenggang pergi sambil terus berusaha menelepon Ryuuga namun tak kunjung diangkat oleh si pemilik, ia semakin khawatir dengan keadaan teman sepermainan nya itu. 'Ryuuga sebenarnya kau ada dimana?!'
•
•
Sienna tetap diam didalam kamarnya, ia melamun sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya. "Apa masih lama?" gumamnya pelan lalu tak lama setelah itu ia mendengar pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Sienna buru-buru merapikan seragam maid nya dan segera membukakan pintu kamarnya dan melihat Nanami berdiri di sana namun wanita itu malah menunjukkan raut sedihnya. "Ba-san, ada apa?! Ayo silahkan masuk ke dalam kamarku." Sienna memberikan segelas air putih untuknya. "Ba-san, apa ada masalah? Kenapa kau bersedih?"
"Aku hanya khawatir saja, Sienna..."
"Memangnya ada apa?"
"Ryuuga-sama tidak pulang lagi, dia bahkan tidak menghubungi Naoki-sama. Sekarang sudah untuk yang ke sekian kalinya Ryuuga-sama tidak menghadiri acara keluarga seperti malam ini.."
"Souka.. Kenapa dia tidak menghadiri acara penting seperti ini— eh? Tunggu dulu.. Aku sepertinya pernah mendengar nama itu.." Sienna terdiam beberapa saat sambil mencoba mengingat kembali nama itu namun ia tak jadi memikirkannya lebih lanjut karena keadaan Nanami yang sedang gelisah.
"Anak itu.. Dia memang sangat membenci kedua orangtua nya sejak kecil, tapi.. Entah kenapa aku semakin khawatir dengan keadaannya yang seperti ini terus menerus." ucapnya dengan lirih sambil memegang dadanya yang terasa berdetak kencang hingga membuatnya terasa sakit.
"Kenapa—" Sienna tidak jadi melanjutkan pertanyaannya. Ia sadar, saat ini Nanami butuh penenang agar dia bisa menghilangkan kegelisahannya dengan cepat, pertanyaan semacam itu bisa ia simpan dan ditanyakan kembali lain waktu. Sienna menghembuskan napas dengan pelan lalu tersenyum dan menggenggam tangan Nanami. "Ba-san, bukankah kau sudah lama tinggal disini? Kau juga sudah merawat semua tuan muda keluarga ini dengan baik, memberinya makanan yang sehat, memberikan waktumu untuk mengurus dan menemani mereka, benar kan? Pasti ada satu hal yang hanya kau yang tahu tentang tuan muda.. Daijoubu yo, ba-san. Aku tahu kau percaya padanya. Kami-sama juga takkan tinggal diam, dia akan melindungi seseorang yang berharga untukmu." ucapan Sienna berhasil membuat Nanami tertegun. Ia tak menyangka gadis di hadapannya mampu berpikir dengan tenang dan mencoba membantu dirinya untuk menenangkan hatinya.
"Arigatou ne, Sienna-chan." Nanami tersenyum pahit sambil menunduk, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Sienna. "Ku harap, kau akan bisa merawatnya dengan baik meskipun sifatnya sangat keras dan dingin, tapi dia punya hati yang lembut dan penuh perhatian."
"Huh? Kenapa aku..?" tanya Sienna dengan wajah bingungnya
"Apa? Jadi kau belum tahu tugasmu yang sebenarnya?" tanya Nanami balik, ia juga menatap Sienna dengan pandangan bingung. Sementara Sienna hanya menggeleng pelan sambil tersenyum kikuk. "Souka.. Tugasmu adalah merawat Reiji-sama selama beliau masih disini dan juga si bungsu Ryuuga-sama. Jadi kau lah yang akan mengurus mereka berdua, sedangkan aku akan fokus mengurus dapur." ungkap Nanami yang langsung membuat Sienna syok. Tentu saja ia terkejut. Meskipun Sienna sudah terbiasa mengurus kedua adiknya, tapi kasus ini tentu berbeda karena yang akan ia rawat bukanlah anak kecil lagi melainkan para lelaki yang sudah besar.
"Ano saa, apa ba-san tidak salah?! T-tapi.. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk kedua putra Namikaze ini." Sienna sudah menunjukkan raut khawatir nya namun Nanami hanya tersenyum lalu menepuk pundak Sienna.
"Kau akan terbiasa, aku akan membantu mu melakukan pekerjaanmu sampai kau bisa. Tenanglah, semoga saja kau betah ya haha.." Nanami tertawa kecil lalu beranjak dari duduknya, "Aku akan mengurus dapur. Kau bisa membantuku kalau kau mau." kata Nanami sambil berjalan ke ambang pintu. Dengan segera, Sienna mengikuti Nanami dari belakang.
•
•
Mobil yang dikendarai Naoki melaju dengan sangat cepat membelah keramaian dijalan malam itu. Ia mengendari mobilnya dengan perasaan campur aduk, sebelah tangan nya ia gunakan untuk menghubungi beberapa teman-teman yang dekat dengannya dan juga Ryuuga.
"Arata?"
"Ada apa? Tumben sekali tengah malam begini kau meneleponku."
__ADS_1
"Apa Ryuuga sempat menghubungi mu hari ini?"
"Kau.. Seperti sedang terburu-buru. Ryuuga menghilang, apa aku benar? "
"Iya. Cepat beritahu saja."
"Wah kau tidak biasanya kasar seperti itu, Naoki-kun. Ryuuga tidak menghubungi ku sama sekali."
"Souka."
"Coba saja kau cari ditempat biasa Ryuuga pergi tanpa dirimu."
"Maksudmu?"
"Ryuuga biasa pergi kemana? Ke apartemen pribadi nya mungkin? Atau bahkan saat ini dia sedang 'bermain' dengan gadis-gadis nya di bar."
"Yang benar saja.. Tapi terimakasih informasinya."
Naoki langsung memutuskan sambungan teleponnya dan segera menambah kecepatan mobilnya menuju apartemen milik Ryuuga yang sudah tak jauh lagi. Sayang sekali, Naoki tak menemukan Ryuuga sama sekali. Sekarang Naoki sedang bersandar di mobil nya sambil menggigiti kuku jempolnya. "Ano kusso otoko! Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahu siapapun?! Menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini apa?!" Naoki terus menggerutu sambil mengumpat tidak jelas di samping mobilnya. Ia hendak masuk lagi ke dalam mobil, tangannya sudah membuka pintu mobil tapi gerakannya terhenti saat melihat salah satu senior nya sedang berjalan bersama kedua temannya. Naoki kembali menutup pintu mobilnya dan berlari kecil untuk mengejar langkah seniornya. "Ano Yumi-senpai!!" panggil Naoki dan gadis berambut sebahu itu menoleh ke belakang lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Naoki-san? Kenapa kau ada disini?" tanya Yumi, ia heran melihat sahabat Ryuuga ada di depan apartemen Ryuuga tapi sendirian. Belum lagi, Naoki jarang sekali ke daerah apartemen ini.
"Aku sedang mencari Ryuuga. Apa kau tahu dimana Ryuuga?" tanya Naoki dengan wajah tidak berdosa nya, Naoki tidak peka dengan perubahan mimik wajah Yumi yang sudah berubah menjadi kesal.
"HAH? Kenapa kau malah bertanya padaku?!" tanya Yumi dengan sewot sambil memelototi Naoki dan membuat lelaki itu gemetar takut.
"S-suman senpai! Aku pikir kau tahu dimana dia. Kalau begitu maaf sudah mengganggu waktu mu.." Naoki menggaruk tengkuknya sambil menunduk sungkan sementara Yumi membuang muka sambil mendengus kasar dan melipat kedua tangan di depan dada.
Naoki mengangkat kepalanya lagi dan melebarkan matanya tak percaya. "Souka? Sankyuu senpai~!!" Naoki segera berlari menuju mobilnya setelah sebelumnya melambaikan tangan pada senpai nya itu. Sebenarnya Naoki memutuskan untuk bertanya pada Yumi karena dia adalah salah satu mantan terbaru Ryuuga.
Naoki kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan menelepon Arata lagi tapi tak diangkat oleh si pemilik. "Mungkin dia sudah terbang ke Afrika lewat mimpi." gumam Naoki sambil cemberut kesal. Saat ini Naoki sedang menuju bar yang pernah di beritahukan oleh Arata pada dirinya. Setelah dekat dengan alamat bar itu, Naoki mulai kebingungan karena jalanan di sana yang sedikit sepi dan mulai menyempit. "Apa ini benar tempatnya? Apa aku salah tempat?" Naoki kembali membaca alamat di handphone nya dan alamat yang tertera benar. Naoki memutuskan untuk melanjutkan perjalanan nya dengan berjalan kaki. Di depan sana, Naoki sudah bisa melihat banyak gang kecil yang cahaya lampu jalannya redup.
Naoki turun dari mobil dan mengunci mobil tersebut. Ia menengok kesana kemari untuk melihat keadaan di sana. Ramai tapi seperti ada yang tidak beres dengan lingkungannya. Tiba-tiba dari sebuah gang kecil di sebelahnya, keluar seorang wanita dengan gaun pendek yang tipis dengan dandanan yang super tebal itu mendatangi nya. Jalannya gontai seperti orang mabuk. Setelah jarak di antara mereka sudah dekat, Naoki mundur dengan teratur hingga tersudut di mobilnya sendiri. Wanita itu menyeringai tipis lalu menjatuhkan dirinya di dada bidang Naoki.
Naoki menunduk untuk melihat wanita di dadanya itu dengan wajah takut. 'Kimochi warui!!' pekiknya dalam hati. Ia tidak tahu apa maksud wanita tersebut yang tiba-tiba menempel pada dirinya. "A-ano.." Naoki berusaha memanggil wanita itu tanpa menyentuh nya sedikitpun. Wanita itu mendongak sambil tersenyum, ia menunjukkan mata sayu nya dan terlihat seperti hendak menggoda Naoki.
"Kau tampan sekali~" puji wanita itu dengan nada yang sedikit menggoda namun Naoki bukanlah lelaki yang peka. Ia malah justru semakin takut dengan hawa keberadaan wanita itu. Kakinya sedikit gemetar.
"A-ano summimasen, bisakah kau menjauh dariku?" tanya Naoki dengan sopan namun wanita itu tidak mengindahkan permintaan Naoki dan malah memeluk pinggang Naoki dengan erat. 'Ya Tuhan, apa yang sebenarnya dia lakukan??!' batin Naoki yang sudah semakin panik tapi wanita di depannya itu malah menggeliat di tubuhnya. 'Tidak sopan!!!' Naoki menjerit dalam diam. Kini ia sudah mulai mual. Naoki segera membungkam mulutnya sendiri saat merasakan beberapa bagian tubuhnya yang bergesekan dengan wanita itu.
"Ne, tuan tampan.. Tidak bisakah kau menemaniku pulang?" tanya wanita itu dengan suara yang benar-benar membuat Naoki geli. Wanita itu seolah terus menggoda Naoki tapi sayang... Naoki sama sekali tidak tergoda. Ya, Naoki tetaplah lelaki normal tapi saat ini dia hanya fokus untuk mencari Ryuuga. Dengan sekuat hati, Naoki membulatkan tekadnya untuk melawan. Naoki memegang kedua bahu wanita itu. Awalnya wanita yang tak dikenal itu mulai tersenyum senang, ia mengira Naoki akan menyentuhnya sekarang juga tapi naas.. Naoki malah mendorongnya dengan cukup kuat hingga dirinya terjatuh ke tanah dan gaunnya sedikit kotor karena jatuh tepat di genangan air.
"Kyaaa gaunku!!!" pekik wanita itu dengan cukup keras, ia menatap bahu Naoki yang sudah menjauh dengan tatapan marah.
"Gomen ne, aku terpaksa melakukannya karena aku sedang buru-buru!!" Naoki berlari menjauh dari gadis itu sambil menutupi mulutnya. Setelah menemukan tempat sampah, ia segera memuntahkan isi perutnya. Wajahnya menjadi pucat pasi. "Sialan! Ini semua salah Ryuuga! Untuk apa dia datang ke tempat menjijikkan seperti ini sih?!" umpat Naoki setelah ia sudah selesai membuang semua kesialannya. "Saa, sekarang dimana Ryuuga?" tanya nya pada diri sendiri.
Naoki berjalan dengan pelan sambil memperhatikan semua bangunan di sana hingga pada akhirnya, ia melihat satu gang yang cukup terang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia sudah dapat melihat sebuah bangunan yang cukup besar dengan tulisan Motel di depannya. Naoki pun segera masuk ke dalam gang dan berdiri di depan bangunan itu. Bangunan yang terlihat sangat sederhana. Naoki mendecih pelan "Cih. Bisakah Ryuuga mencari tempat yang lebih baik dari ini? Padahal dia ini orang yang sangat kaya." setelah itu Naoki membuka pintu motel sekaligus bar itu dengan pelan dan ternyata sangat berbeda. Ternyata dari dalam, bangunan itu terlihat sangat mewah dan besar. Bahkan bisa dilihat jika semua yang ada disini harganya mahal. Naoki menganga tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Di dalam sangat lah ramai. Kebanyakan pria yang datang adalah pegawai kantor, pejabat, dan pengusaha lain. Bodoh. Pergi ke tempat hina seperti itu tapi menggunakan jas kebanggaan mereka.
Naoki terus menjelajahi tempat itu, ada beberapa wanita yang beberapa kali menghalangi jalannya dan terus mengajaknya entah kemana tapi Naoki terus menolak dan menghindari mereka sebisa mungkin walaupun susah karena ini adalah sarang mereka. 'Apa aku harus berkorban sebesar ini untuk si Ryuuga sialan itu?!' umpat Naoki dalam hati. Ia tahu kalau dirinya sudah sangat banyak mengumpat hari ini dan dosa nya akan bertambah lagi karena telah menginjak tempat yang tidak seharusnya ia kunjungi. Naoki terus mencari dan akhirnya menemukan Ryuuga yang sedang menikmati minuman nya di meja bar, ia semakin terkejut ketika melihat Erika yang duduk di sebelah Ryuuga dan terus-menerus menempel pada Ryuuga tapi Ryuuga terlihat tak menggubris nya dan terus meminum minumannya. Naoki langsung mendekati Ryuuga dan merebut gelas kecil yang ada di tangan Ryuuga. Ryuuga menengadahkan wajahnya lalu menatap Naoki dengan datar.
"Pergilah. Jangan menggangguku." ujar Ryuuga dengan suara parau. Naoki menatap Ryuuga dengan tatapan nanar. Dia sudah menghabiskan dua botol minuman. Meskipun itu tidak cukup untuk membuat Ryuuga mabuk tapi tetap saja itu tidak benar.
"Ohoho kau memanglah peminum yang hebat. Tapi Ryuuga-sama, sekarang saatnya kita pulang." ujar Naoki sambil menarik tangan Ryuuga dan berhasil di tepis dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang! Sudah ku bilang jangan ganggu aku!" bentak Ryuuga dengan mata yang sudah memerah karena terlalu banyak minum. Naoki menghela napas panjang lalu menatap gadis senior mereka yang masih saja menarik tangan Ryuuga dan mendekapnya dengan erat.
"Senpai. Tolong lepaskan tangan Ryuuga." ujar Naoki dengan wajah dingin nya.
"Memangnya kau siapa?! Aku tidak mau! Aku belum puas menemani Ryuuga-kun." jawab Erika tak mau kalah lalu Naoki menatapnya dengan tajam tapi Erika tetap tak gentar dan malah semakin mendekap lengan Ryuuga dengan erat. Naoki mendekati Erika.
"Dasar tidak tahu diri! Senpai untuk apa kau bersekolah tinggi jika perilaku mu ini sangat buruk?! Bukankah kau sudah mengecewakan orangtua mu?! Sekarang carilah orang lain. Jangan sahabatku!" gertak Naoki dan membuat Erika terkejut lalu melepaskan genggaman Erika pada tangan Ryuuga. Erika tetap diam saat Naoki mulai membawa Ryuuga keluar dari tempat itu.
"Baka Ryuuga! Kau bau alkohol sekali. Menjijikkan." Naoki terus menggerutu sementara Ryuuga tetap diam saat dia harus berjalan dengan di papah oleh Naoki karena terlalu lemas. "Sekarang kita harus pulang."
Naoki dengan sabar membantu Ryuuga untuk masuk ke dalam mobil dan mereka pun pulang ke mansion Ryuuga. Naoki memang sudah sejak kecil berteman dengan Ryuuga, tapi Naoki merasa kesal. Meskipun berteman lama, ia merasa tidak tahu apa-apa tentang makhluk dingin di sampingnya itu. Menyakitkan.
•
•
Naoki sudah sampai di depan pintu sambil memapah Ryuuga. Ia menekan tombol bel mansion. Nanami dan Sienna yang berada di dapur mendengar bel berbunyi beberapa kali.
"Itu.. Bunyi bel? Apa itu Naoki-sama?!" Nanami menghentikan aktivitas mencuci piringnya.
"Mungkin iya, cepatlah kesana ba-san. Biar aku yang mengurus pekerjaan disini." ujar Sienna sambil tersenyum
"Baiklah, mohon bantuannya ya Sienna."
Nanami segera berlari menuju pintu depan sementara Sienna yang melanjutkan pekerjaan dapurnya dengan senang hati. Nanami segera membuka pintu besar mansion itu lalu membelalakkan matanya tak percaya. Keadaan kedua tuannya itu sangat kusut.
"Astaga.. Naoki-sama! Ryuuga-sama!" Nanami segera membantu Naoki membawa Ryuuga.
"Tadaima, ba-chan.." ucap Naoki sambil tersenyum lebar
"Okaerinasai, Naoki-sama to Ryuuga-sama. Biarkan saya membantu."
"Hehehe terimakasih, ba-chan."
Mereka pun membawa Ryuuga ke dalam kamarnya dan menidurkan lelaki itu di ranjangnya. Nanami menyelimuti tubuh Ryuuga. Aroma alkohol menyeruak masuk ke dalam hidung Nanami. "Apa anda menemukannya di bar?" tanya Nanami dengan wajah sedih
"Iya, jangan khawatir ba-chan! Dia akan baik-baik saja, hehe." jawab Naoki sambil menunjukkan cengiran khas nya. "Duh, sepertinya aku harus mandi dengan dua sabun terbaik. Aku sudah ternodai.." gumam Naoki dengan wajah jijik dan lelah yang bercampur menjadi satu. "Ano ne, ba-chan.. Aku mandi dulu ya, setelah itu aku akan langsung tidur. Hari ini aku terpaksa menginap di sini lagi gara-gara manusia ini." kata Naoki sambil melangkah keluar kamar menuju kamar tamu yang sering ia tempati.
Nanami memandang wajah tenang milik Ryuuga. Nanami membentuk garis melengkung ke bawah setelah melihatnya dengan keadaan yang kacau seperti sekarang. Setelah membenarkan selimutnya, Nanami segera keluar dari kamar Ryuuga dan menutup pintunya. Ia menuju dapur dan melihat Sienna yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan nya. Nanami mendekati Sienna dan menepuk bahu Sienna.
"Biar aku yang melanjutkan nya. Sekarang, kau harus mengerjakan tugas bagian mu.."
"Huh? Maksudmu?"
"Buatkan air hangat dan bawakan itu ke kamar di lantai dua. Di pintu sudah ada nama Ryuuga-sama. Aku yang akan melanjutkan tugasku. Terimakasih sudah membantuku." ujar Nanami sambil tersenyum lembut.
"B-baiklah ba-san."
*Skip time
Sienna saat ini sudah berada di depan pintu kamar bertuliskan nama 'Ryuuga' di pintunya. Entah kenapa saat ini dia menjadi sangat gugup. Sudah hampir satu bulan ia bekerja di sini, ia belum pernah melihat para majikannya. "Ikimashou Sienna!" seru Sienna dengan pelan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dia membuka pintu dengan perlahan. Sienna melangkah sangat pelan karena kamar itu sangat gelap dan hanya lampu meja yang menyala. "Ano.. Permisi.." ucap Sienna namun tak ada jawaban. Ruangan itu terlalu gelap hingga ia tak bisa melihat apapun. "Lebih baik aku letakkan air nya disini saja.." gumam Sienna. Tiba-tiba lampu menyala dengan sangat terang dan membuat Sienna menutup matanya.
Beberapa detik kemudian Sienna kembali membuka matanya lalu mengerjapkan matanya berkali-kali dan di detik berikutnya Sienna di kejutkan dengan sesuatu. Ia melihat lelaki di hadapannya yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya dan handuk kecil yang menggantung di lehernya. Pemandangan yang sangat vulgar bagi Sienna. Tapi... Lebih mengejutkan lagi karena lelaki yang ia lihat adalah lelaki yang ia kenali sebagai musuhnya. Tatapan kedua nya saling bertemu, Wajah Sienna sudah semerah tomat lalu.. "Kyaaaa!!!!"
__ADS_1