Nona Maid

Nona Maid
Teman Baru


__ADS_3

Sudah satu bulan Sienna bekerja sebagai maid di keluarga Namikaze ini. Masih ada waktu satu hari lagi Nanami baru akan pulang. Sienna merasa kelelahan, bukan tanpa alasan, ya tentu saja lelah karena ukuran ruangan di mansion ini tidak ada yang kecil bahkan untuk kamar mandi nya sekalipun. Meskipun lelah, Sienna tetap mengerjakannya dengan telaten dan tidak mengeluh. Ada satu hal yang masih menjadi misteri di mansion Namikaze ini. Ya, Sienna hanya satu kali melihat maid lain saat penyambutan kedatangan tuan dan nyonya besar Namikaze.


"Sebenarnya bagaimana cara kerja tempat ini? Misterius sekali.." gumam Sienna yang sedang duduk di kursi ruang makan sambil menopang dagu. Ia menatap kebun belakang mansion tersebut yang masih tetap terjaga kebersihannya karena ia rawat. "Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku dan ngomong-ngomong, aku belum pernah berkeliling di mansion ini.." Sienna bangkit dari duduknya lalu berjalan tak tentu arah, ia berjalan ke luar dapur dan menyusuri lorong panjang yang terdapat beberapa pilar besar. Lorong itu sangat lengang, ia tak mendengar suara langkah kaki selain miliknya. Mansion itu terasa mati.


        


                               Sienna terus melangkah hingga pada akhirnya ia memilih berhenti tepat di depan pintu berukuran besar yang pintunya sedikit terbuka. Sienna berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri lalu mengintip lewat balik pintu. Ia menganga melihat ada begitu banyak buku yang tersusun rapi di dalam 4 rak buku yang super besar dan tinggi. "Sugoi wa.." gumam Sienna sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia berjalan sambil mendongak melihat-lihat susunan buku-buku yang sangat rapi dan bersih. Ia mendekat ke salah satu rak dan mengambil satu buku tebal lebih tepatnya sebuah novel. Sienna tersenyum sambil membuka lembar demi lembar isi buku itu. Lalu ia mendengar suara batuk seseorang, ia mencari sumber suara dan melihat seorang gadis yang tengah berdiri di sebuah tangga dan membersihkan debu-debu menggunakan kemoceng. Sienna mengintip di balik rak buku dan memperhatikan gadis itu lamat-lamat, "Uhuk.. Uhuk." gadis itu menutupi hidungnya agar tidak batuk terus-menerus dan akhirnya ia berniat untuk turun dari tangga. Tapi.. Ia tak memperhatikan langkahnya dan kakinya pun tergelincir, "Awas!!" teriak Sienna dan ia dengan cepat lari mendekat pada gadis itu. "Kyaa!!"


Bruuuk


Gadis itu mendarat dengan baik di atas tubuh Sienna atau lebih tepatnya gadis itu duduk di punggung Sienna. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali dan terlonjak kaget setelah menyadari ada seseorang di bawahnya. "Astaga! Daijoubu desu ka?!" gadis itu dengan paniknya membantu Sienna untuk duduk.


"Ittai.." Sienna mengelus punggungnya yang terasa nyeri


"Eeehh??! Go-gomennasai!!" gadis itu membungkukkan badannya dan membuat Sienna sedikit terkejut dengan respon yang berlebihan dari si gadis itu.


"Hehe daijoubu yo. Apa kau terluka?" tanya Sienna yang memegang bahu gadis itu agar ia segera mengangkat kepalanya. Dengan pelan, gadis itu menatap wajah Sienna yang tersenyum. Ia menggigit bibir bawahnya, pipinya bersemu merah dengan keringat yang mengalir dari dahinya.


"A-aku baik-baik saja, ma-maafkan a-aku.. Aku t-tidak sengaja—"


"Kenapa bicaramu terbata-bata begitu? Apa kau gugup? Tenanglah, bicaralah dengan santai padaku.." Sienna memperhatikan gadis imut itu, ada kemiripan dengan tingkah laku Aika. Gadis itu memiliki iris coklat hazel, dengan rambut coklat sebahu yang ia kuncir dua di bawah. Kacamata bundar bertengger sempurna di hidung mancungnya. Sienna bisa mengetahui jika gadis di hadapannya ini mudah gugup terlihat dari tingkahnya saat ini. "Ano, bolehkah aku tahu siapa nama mu?" tanya Sienna pada gadis yang bekerja sebagai sesama maid.


"E-eh? Na-namaku.. Kimura Yuuna, kau b-bisa memanggilku Yuuna." jawab gadis itu dengan senyum manisnya


"Whoa nama yang Bagus~ yoroshiku Yuuna-san!!" Sienna mengulurkan tangannya ke depan gadis bernama Yunna tersebut yang langsung ia sambut dengan antusias.


"Y-yoroshiku etto..." mata Yuuna menatap Sienna dengan bingung. Sienna tersentak lalu tersenyum canggung.


"A-ah aku lupa memberitahu namaku ya, maaf ya.. Namaku Miyazaki Sienna. Panggil saja Sienna."


"Sienna-san, matamu Indah sekali.. Seperti orang luar negeri saja hihi."


"Eh? Ayahku memang orang luar negeri hehe.."


"Hontou ni?! Sugoi desu ne.. Pantas saja kau cantik sekali dan wajahmu tidak mirip dengan orang Jepang."


"Souka? Ahaha aku tidak tahu.."


Itulah pertemuan singkat antara Sienna dan juga teman barunya yaitu Yuuna. Jujur saja, Sienna sekarang sedang sangat senang bisa menemukan maid lain di mansion megah itu. Setidaknya, dia tidak lagi merasa kehampaan yang cukup membuat bosan dirinya. Kini mereka berdua menjadi teman yang sangat akrab dalam waktu yang singkat. Mereka sedang duduk di sofa yang memang di sediakan di sana untuk majikan mereka. "Jadi.. Kau sudah lama bekerja disini?" tanya Sienna dengan wajah penasaran.


"Etto.. Aku baru dua tahun bekerja disini. Sienna-san sendiri bagaimana?"


"Eh.. Aku baru satu bulan bekerja sebagai maid yang mengurus Reiji-sama dan Nami— Ryuuga-sama hehe.." Sienna membeliak kaget saat melihat tatapan Yuuna yang berbinar kagum menatapnya tanpa berkedip sedangkan mulutnya sedikit terbuka akibat takjub. Sienna berusaha memutar otaknya, apa yang ada di pikiran gadis itu sampai ia memandangnya dengan tatapan seperti itu "Ada apa?" Sienna sudah tidak dapat memikirkan apapun lagi dan ia memutuskan untuk bertanya.


"Sugoi desu ne!!" seru Yuuna dengan wajah ceria nya yang membuat Sienna malah semakin terperosok dalam kebingungannya. Tanda tanya besar muncul di atas kepala blonde milik Sienna. 'Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti' batin Sienna bingung.


"Apanya yang hebat?" tanya Sienna lagi


"Hee? Apa kau tidak tahu?" tanya Yuuna yang dibalas dengan gelengan kepala dari Sienna. "Aa sou desu ne, kau kan masih terhitung baru disini.. Ne, ne Sienna-san, bagaimana rasanya mengurus dua tuan muda Namikaze sekaligus?" tanya Yuuna dengan wajah antusias nya, ia seakan sangat tertarik dengan pembahasan ini dan membuat Sienna semakin terlihat bodoh.


"B-bagaimana ya... Haha, kurasa.. Biasa-biasa saja.." gumam Sienna


"Heee???! Doushite??!" Yunna mengerutkan keningnya mendengar jawaban Sienna yang tak sesuai dengan prediksi nya. "Para maid lain bilang, tuan muda sangatlah tampan."


"M-memangnya.. Yuuna-san, apa kau tidak pernah melihat salah satu diantara mereka atau kedua-duanya?"


"Eng, tidak pernah." jawab Yuuna dengan wajah polosnya yang membuat Sienna tidak mengerti dengan cara kerja mansion besar ini. Bagaimana mungkin maid yang bekerja disini tidak pernah melihat majikannya sendiri? Ini aneh. "Ano ne, para maid bilang mereka berdua sangatlah menawan. Banyak yang bilang mereka ingin sekali bekerja di bagian tugasmu sekarang ini, Sienna-san.. Katanya, pekerjaan itu sangatlah menyenangkan.." tutur Yuuna dengan wajah yang super polos. Sienna tersentak lalu ia hanya tertawa hambar dan sweatdrop di tempat 'Tidak, tidak! Apanya yang menyenangkan? Bertemu dengan pencari masalah seperti Ryuuga? Aku yakin itu hanya menurut para maid lain saja..' batin Sienna. Bibir Yuuna melengkung ke bawah, menandakan bahwa ia sedang sedih "Saat acara pesta kecil penyambutan Tuan dan Nyonya besar, aku tidak bisa ikut menyambut.." kata Yuuna sambil menunduk, memasang raut wajah sedihnya.


"Eh? Kenapa?"


"Aku sedang demam sehingga maid lain memintaku untuk fokus pada kesehatanku dulu dan akhirnya aku jadi tidak bisa melihat majikan ku sendiri.."


"Sudahlah Yuuna-san, mau bagaimana lagi.. Lain waktu, mungkin kau akan bisa melihat mereka secara langsung. Oh iya, memangnya kau benar-benar belum pernah melihat kedua putra Namikaze itu?"


"Tidak pernah, Sienna-san. Sebagai maid, kita semua sudah ditugaskan di bagian masing-masing. Jadi, kita tidak boleh berkeliaran di tempat lain selain bagian kita, bukankah kau juga tahu kalau kamar yang kita tempati pun dekat dengan bagian pekerjaan kita?"

__ADS_1


"Eh? Souka.. Aku baru menyadarinya.."


"Itu sebabnya kami yang bekerja di beberapa ruangan jarang atau bahkan hampir tidak pernah melihat langsung para majikan."


"Tapi.. Apa kalian tidak boleh keluar dari ruangan kerja masing-masing? Aku bahkan tidak pernah melihat maid lain pergi ke dapur.."


"Loh? Apa kau juga tidak menyadarinya? Kamar yang kita tempati sudah di sediakan dapur kecil dan kulkas berisi bahan lengkap yang kita butuhkan. Jadi kita tidak perlu menggunakan dapur yang juga digunakan oleh majikan kita."


"Wah seperti apartemen saja.. Tapi, kamarku tidak tersedia hal semacam itu.."


"Hontou desu ka?! Hm.. Mungkin karena kamarmu letaknya tidak jauh dari dapur yang digunakan untuk majikan kita."


"Hoo jadi itu alasannya ya..."


"Ne, Sienna-san. Kenapa kau malah datang kemari? Apa pekerjaan mu sudah selesai? Bagaimana jika tuan muda tahu?"


"Aku sudah menyelesaikan semuanya. Tapi sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan, kurasa mereka tidak akan pulang secepat ini..."


"Souka.. Senangnya ya, bisa mengetahui jadwal pulang dari para tuan muda"


"Ini ada perkiraan ku saja kok. Ne, Yuuna-san.. Ku harap kita bisa menjadi teman baik."


"Eng, pasti. Ku harap kita bisa lebih sering bertemu ya, Sienna-san!!"


"Ne, kau tahu? Aku ingin sekali bekerja di bagian mu ini.."


"Eh? Kenapa? Bukankah bertemu setiap hari dengan tuan muda justru lebih menyenangkan?"


"Kau.. Benar-benar masih polos ya. Lebih baik kau buang jauh-jauh hasutan maid lain itu dari otakmu.." gumam Sienna sangat lirih dengan wajah malasnya, ia membayangkan betapa beratnya berinteraksi langsung dengan Reiji apalagi Ryuuga. Ia terus memikirkan bagian mana yang menyenangkan yang dimaksud oleh para maid termasuk Yuuna. Benar-benar diluar nalar.


"Hm? Kau bilang apa?" tanya Yuuna dengan polosnya yang langsung dibalas dengan gelengan kepala dari Sienna.


"A-ah tidak kok. Aku sangat suka membaca buku makanya aku bilang ingin bekerja di bagian mu."


"Wah kau luar biasa, bahkan kau sampai hafal letaknya.." puji Sienna dengan senyuman lembutnya yang membuat Yuuna tersipu malu.


"A-arigatou.."


"Tapi.. Bisakah aku membawanya sampai aku selesai membacanya?"


"Eh? Ah etto.. Aku tidak tahu, mungkin kau bisa karena tuan muda sangat jarang sekali kemari. Lagipula, bukankah beliau tidak membaca novel? Bawa saja, Sienna-san."


"Huwaa Arigatou~!!"


"Ehehehe"


"Aku harus kembali lagi ke dapur, sebelum Reiji-sama pulang."


"Eh wakatta."


"Jaa ne, Yuuna-san!!" Sienna melangkah keluar dari ruang perpustakaan itu sembari melambaikan tangan pada Yuuna yang masih berdiri di belakangnya sampai ia benar-benar keluar.






           Naoki dan Arata sedang berada di ruang klub basket, sayang Ryuuga tidak bisa ikut berkumpul karena si Cassanova sekolah itu harus mengurus medali dan piagam yang ia peroleh dadi lomba sains beberapa bulan lalu. Saat ini semua anggota klub basket sedang berunding untuk lomba antarsekolah yang akan diadakan minggu depan namun sepertinya Naoki tidak tertarik dengan rapat tersebut padahal biasanya hanya Arata yang sama sekali tidak mendengarkan. Menyadari ada aneh dengan Naoki, Arata pun memandangi gerak-gerik Naoki. "Oi, Naoki-kun." panggil Arata dengan suara yang pelan sedangkan Naoki hanya meliriknya sebentar.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada. Aku hanya sedang malas."

__ADS_1


"Tidak biasanya kau bersikap seperti ini. Katakan saja apa yang sedang kau pikirkan."


"Ano saa, Aiko itu orangnya yang mana? Aku ingin menanyakan banyak hal padanya." ujar Naoki yang membuat Arata merasa sedikit aneh. Ia merotasikan kedua bola matanya bosan.


"Mattaku... Pasti Ryuuga lagi. Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua? Seperti Cinta sejati saja."


"Tck, kau ini bisa jawab tidak? Aku benar-benar membutuhkannya!!" ucap Naoki yang terdengar frustasi. Melihat Naoki yang seperti itu membuat Arata menghela napas panjang.


"Aku juga tidak tahu tapi aku tahu kelasnya."


"Baiklah ayo—"


"Chotto matte, ano baka!" Arata menahan bahu Naoki agar ia tidak beranjak dari tempat duduk. "Kau gila?! Kita sedang ada meeting, jangan pergi seenaknya!"


"Oh? Aku lupa."


"Kita lakukan setelah selesai pertandingan basket benar-benar selesai. Kita tidak mungkin punya banyak waktu untuk bersantai apalagi untuk mencari pacar Ryuuga itu."


"Hee... Lama sekali.." keluh Naoki


"Empat hari lagi kita akan bertanding. Itu sudah lebih cepat."


"Huft menyebalkan."


"Sebenarnya dari tadi apa yang sedang kalian bicarakan?! Apa kalian berdua sedang merundingkan perdamaian dunia?!" cibir si ketua basket dengan alis yang bertaut kesal, membuat kedua pemuda itu tersentak kaget dan hanya bisa cengengesan.


"Gomennasai..." ucap keduanya bersamaan sambil menunduk.


"Hah... Kalian jangan main-main lagi, waktu persiapan kita tidak banyak. Yurui-sensei benar-benar terlambat memberitahu kita, tapi tidak apa-apa. Kita bisa mengatasinya." kata si ketua dengan wajah seriusnya dan menatap para member nya secara bergiliran. "Oleh sebab itu, aku minta kerja samanya dari kalian. Seriuslah sedikit."


"Wakatta."


              Sementara itu Ryuuga telah selesai dengan urusannya. Ia baru saja keluar dari kantor guru untuk mengurus medali dan piagam nya yang belum juga selesai karena ada sedikit kendala. Ia berjalan melewati koridor yang cukup sepi karena sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Ryuuga berjalan dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya, ia berjalan dengan begitu eloknya layaknya seorang model yang sedang berjalan di atas catwalk. Bukan untuk mencari perhatian tapi memang seperti itulah gaya berjalannya. Wajah stoic nya sungguh sangat mendukung sehingga membuat para kaum hawa terpikat hanya dengan melihatnya saja.


"Ryuuga-kun!!" seru seseorang dari kejauhan yang membuat si pemilik nama menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dengan enggan nya dan melihat Erika sedang melambaikan tangan padanya lalu berlari kecil menghampirinya.


"Hn"


"Ne, Ryuuga-kun. Kau dari mana?" tanya Erika dengan mengukir senyuman di wajahnya


"Bukan urusanmu." Ryuuga kembali berjalan namun Erika tetap mengikuti nya dan berjalan di sampingnya, karena tidak bisa mengimbangi langkah cepat dari Ryuuga akhirnya Erika memberanikan diri untuk menarik lengan Ryuuga agar lelaki itu berhenti.


"Mou, Ryuuga-kun! Aku sudah beberapa hari tidak bertemu denganmu. Aku merindukanmu." ujar gadis itu dengan wajah kesalnya yang dibuat-buat lalu ia bergelayut manja di lengan kekar sang Cassanova. Mereka tak menyadari, ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatan mereka dengan mata yang memicing tidak suka. 'Erika sekarang kau berubah jadi gadis yang menjijikkan. Kau bukan lagi Erika yang ku kenal.' Yumi langsung pergi dan tak ingin lagi melihat mereka berdua, lebih baik ia mengerjakan hukuman nya ketimbang memperhatikan pemandangan yang sangat memuakkan seperti tadi.


"Lepaskan!" Ryuuga menepis tangan Erika dengan kasar lalu menatap seniornya itu dengan tajam "Kerjakan saja hukuman mu dan jangan ganggu aku." ucapnya sebagai akhir perbincangan mereka hari itu. Erika hanya mengerucutkan bibirnya sebal dengan tingkah lelaki yang dicintainya itu.


"Kau harus berjanji padaku Ryuuga-kun! Setelah aku selesai dengan hukumanku, kau harus menemani aku jalan-jalan!!" seru Erika agar Ryuuga yang sudah jauh berjalan dapat mendengarnya.


"Mau sampai kapan kau membutakan matamu?" tanya Yumi yang sudah berdiri di belakang Erika hingga membuat gadis itu terperanjat kaget. Mendengar pertanyaan Yumi, ia pun berbalik lalu berkacak pinggang.


"Cih, memangnya apa peduli mu?! Urusi saja urusanmu sendiri!" Erika memicingkan matanya tak suka seolah Yumi adalah musuhnya yang bisa mengambil Ryuuga kapan saja.


"Tenang saja, aku tidak berniat menghancurkan sesuatu yang kau bilang 'hubungan' itu dengan si Ryuuga." ucap Yumi dengan ogah-ogahan


"Kalau begitu berhentilah mengoceh tidak jelas di depanku. Kau mengatakan itu karena kau cemburu kan? Akui saja kekalahan mu." Yumi tertegun. Ia sudah tidak lagi mengenali gadis yang tengah berdiri di hadapannya ini, dia seolah telah berubah menjadi manusia yang tidak berperasaan dan egois. Dia rela mengemis cinta pada seseorang yang bahkan tidak menganggapnya sama sekali dan ia rela kehilangan segalanya demi lelaki itu.


"Kau... Siapa kau sebenarnya? Aku sudah tidak mengenalmu."


"Kau terus saja mengoceh tidak jelas tentangku. Apa kau ingin merusak hubungan ku dengan Ryuuga?! Tidak akan ku biarkan."


"Heh memangnya hubungan apa yang kau punya dengan Ryuuga?" Yumi menyeringai kecil dan memberikan tatapan merendahkan pada gadis itu hingga membuatnya membelalakkan matanya. "Dengar ya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan hal semacam itu karena aku masih punya harga diri. Aku juga tidak mau berkelahi denganmu lagi." ujar Yumi namun sepertinya salah satu kalimatnya sedikit menusuk perasaan Erika. "Jujur saja, dulu aku sangat sakit hati dan cemburu karena Ryuuga memutuskan ku tiba-tiba dan pergi begitu saja tanpa alasan. Aku lebih sakit hati lagi setelah tahu bahwa ternyata kau masih saja dekat dengan Ryuuga padahal kau yang lebih dulu di putuskan olehnya." Erika hanya menatap Yumi dengan kesal tanpa berniat membuka mulutnya. "Itu dulu dan sekarang aku tahu apa yang lebih berharga untukku. Di hargai dan di cintai itu adalah hal yang lebih membahagiakan."


"Kau membual lagi.. Apa kau tidak lelah? Berhenti menceramahi ku karena aku tahu apa yang aku lakukan!"


"Tapi kau tidak tahu akibat dari apa yang kau lakukan! Pernahkah kau pikirkan setelah lelaki itu menghilang dari hadapanmu atau bahkan hilang dari hidupmu?! Apa kau akan mengingat apa saja yang telah kau rusak demi mengejar lelaki itu? Hubungan pertemanan, kepercayaan orang lain, rasa nyaman tanpa memiliki musuh, kau hancurkan semua itu. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu! Erika yang aku kenal tidak seperti ini. Dengarkan aku baik-baik, aku mengatakan ini padamu bukan untuk menusuk mu dari belakang lalu mengambil posisimu. Kau bisa nikmati itu sepuasnya tapi kau akan sadar betapa banyak hal-hal yang sudah kau hancurkan hanya demi lelaki yang tidak melihatmu sama sekali. Dasar bodoh." setelah mengatakan semua unek-unek nya, Yumi berlalu pergi untuk melanjutkan hukumannya lagi. Tanpa Erika sadari, Yumi berbalik dan melangkah pergi dengan setetes air mata yang menetes turun melalui dagunya.

__ADS_1


__ADS_2