Nona Maid

Nona Maid
Pertengkaran


__ADS_3

"Ah Ryuuga! Kenapa kau lama sekali, sih?! Kami sudah menunggumu dari tadi. Reiji nii-chan sampai terlambat untuk datang ke kantor, tahu." omel Naoki di pagi hari membuat Ryuuga jengah dan memilih untuk tidak mendengar apapun, ia langsung duduk di kursi nya dan memakan sarapannya dengan tenang. "Cih, menyebalkan." gumam Naoki yang langsung ikut memakannya.


"Jadi, apa kalian mau ku antar ke sekolah?" tanya Reiji di sela-sela sarapan


"Tapi.. Nii-chan kan sudah telat 7 menit." jawab Naoki


"Tidak usah." sahut Ryuuga yang tak menatap mereka berdua. Ia lebih memilih fokus untuk sarapan, pikirannya melayang pada gadis beriris saphire blue yang tadi ada di kamarnya.


"Souka, kalau begitu aku berangkat duluan ya. Jaa ne!" Reiji menyelesaikan sarapannya walaupun tak dihabiskan, ia beranjak dari kursi dan langsung membawa tas kantornya ke luar pintu.


"Itterashai~" Naoki melambaikan tangan sebentar sampai Reiji tak terlihat lagi lalu kembali memakan sarapannya.


*Selamat jalan, sampai jumpa


"Kau berhutang penjelasan padaku." ujar Ryuuga yang membuat Naoki segera menoleh dan menatapnya heran. Rasanya tidak ada yang aneh, untuk apa pemuda ini meminta penjelasan? Apa tentang yang tadi malam? Entahlah, Naoki hanya bisa pasrah.


"Naoki-sama, Ryuuga-sama. Apa kalian akan pulang terlambat hari ini?" tanya Nanami yang entah sejak kapan berdiri di belakang mereka dan membuat mereka terkesiap


"Etto, ba-chan kami tidak tahu akan pulang terlambat atau tidak.. Memangnya ada apa?"


"Eh? Begini.. Ryuuga-sama, bolehkah saya hari ini.. Pulang ke rumah?" tanya Nanami takut-takut sedangkan Ryuuga menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak apa-apa, tapi ada apa?"


"Ano.. Saya hanya ingin pulang, saya merindukan keluarga saya. Saya berjanji akan kembali secepat mungkin."


"Souka.. Ba-chan, tapi siapa yang akan—"


"Anda tidak perlu khawatir tentang itu, Naoki-sama. Saya sudah tahu siapa yang bisa menggantikan saya sementara."


"Kapan kau akan kembali?" tanya Ryuuga


"Tiga hari, saya akan segera kembali jika urusan saya sudah selesai."


"Hn. Baiklah."


"Doumo Arigatou, Ryuuga-sama.." Nanami membungkuk hormat lalu tersenyum lembut, memperlihatkan garis-garis halus disekitar matanya.






             Ryuuga dan Naoki sudah sampai di sekolah, mereka berjalan dengan santai di koridor. Hari begitu tenang sebelum para gadis mengerumuni jalan dan menghambat perjalanan mereka. Jangan ditanya, sudah pasti itu para penggemar fanatiknya Ryuuga Namikaze dan sebagian penggemar Naoki. Jika penggemar Ryuuga banyak dari senior, Naoki memiliki lebih banyak penggemar dari junior mereka karena sifat Naoki yang charming. Naoki hanya bisa mendengus kesal ketika beberapa gadis menyerobot tempatnya dan ia harus mengalah lalu menjauh dari Ryuuga. Mereka terpisah oleh jarak yang cukup jauh, mengingat Naoki juga punya penggemar meskipun tak sebanyak Ryuuga.


"Kyaaa Ryuuga-san~ hari ini kau tampan sekali!!"


"Minggir! Jangan sentuh dia, dasar kau serakah!"


"Dia milikku!"


"Hei yang benar saja!"


Perdebatan tak bisa terelakkan. Ryuuga mulai merasa kesal berada disekitar gadis-gadis berisik yang mengganggu di pagi hari. Ia melihat Yumi yang bersandar di dinding sambil mengobrol dengan temannya. 'Lock on' batin Ryuuga, ia tersenyum tipis sekali. Segera Ryuuga mempercepat langkahnya dan menarik tangan Yumi lalu merangkul pundak Yumi. Bingo! Caranya berhasil membuat para gadis bungkam setelahnya. Yumi sendiri benar-benar sangat terkejut dengan tindakan Ryuuga yang sangat mendadak. Ia mendongak untuk melihat wajah Ryuuga.


"H-hei apa yang kau lakukan?!" tanya Yumi dengan wajah bersemu merah tetapi nada bicaranya seolah ia kesal. Ryuuga tahu gadis di rangkulan nya itu masih mencintainya, itulah alasan seringai Ryuuga kembali muncul.


"Apa tidak boleh? Kita bukan musuh." ucap Ryuuga sambil sedikit membungkuk agar wajah mereka menjadi dekat. Yumi benar-benar sudah memerah sempurna, ia tak tahu bahwa Ryuuga hanya memanfaatkannya untuk menghindari para gadis yang terus mengejarnya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang memantau mereka dari kejauhan, tatapan yang memicing tajam dan menggambarkan ketidaksukaannya.


                    Ryuuga lebih dulu sampai dikelas. Saat ini dia duduk di kursinya sambil memasang earphone di kedua telinga nya. Ia memilih melihat ke luar jendela. Sementara itu, Naoki masih harus berurusan dengan beberapa gadis lalu berjalan ke kelas bersama dengan Arata yang juga baru saja datang.


"Oi, Arata!!" sapa Naoki dengan cengiran khas nya


"Bisa kecilkan suaramu? Ini masih pagi."


"Oh maaf, hehe.."


"Jadi? Bagaimana kemarin? Apa kau berhasil menemukan Ryuuga?" Arata mulai membuka pembicaraan, Naoki tersenyum.


"Terimakasih kau sudah memberiku ide jadi aku lebih hemat—" Naoki menghentikan ucapannya sendiri ketika tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian dimana ia harus dihadapkan dengan wanita yang tidak dikenali, "Ugh menggelikan" gumam Naoki sambil bergidik ngeri sedangkan Arata memandang nya aneh.


"Kau ini kenapa?"


"Ah tidak. Aku hanya.. Lupa mengerjakan tugas matematika, lebih baik kita bergegas." Naoki mempercepat langkahnya

__ADS_1


"Terserah. Dasar merepotkan."


               Naoki sudah melihat sahabatnya duduk ditempat duduknya sambil melamunkan sesuatu. Naoki berlari kecil dan langsung duduk di samping Ryuuga.


"Yo Ryuuga!!" sapa Naoki yang membuat Ryuuga sedikit terkejut meskipun wajahnya tetap datar.


"Hn"


"Kau minta penjelasan apa dariku?"


"Jadi yang kau maksud maid baru itu gadis blonde itu?" Ryuuga melirik Naoki dari ekor matanya


"E-eh? Aku tidak tahu apa maksudmu. Ryuu, aku bahkan belum pernah melihat maid baru itu sama sekali."


"Oh"


"Siapa yang kau maksud gadis blonde?"


"Hn"


"Hei, jawab pertanyaanku dengan benar dong."


"Tidak"


"Tch mendoukusai!" gerutu Naoki sambil mengalihkan pandangannya ke depan. Ia terus memikirkan siapapun gadis atau wanita yang pernah dekat atau bahkan bersama dengan Ryuuga. 'Tidak ada.. Otak ku tidak bisa berpikir lebih jauh' Naoki menghela napas dalam-dalam. Diam-diam Naoki memperhatikan Ryuuga yang sedang tidur bersandar pada kursi. 'Baka Ryuu. Seharusnya kau tahu apa akibat yang akan kau dapatkan dari sifat jelek mu itu.'






        Saat ini dibelakang gedung sekolah, ada dua orang gadis yang sedang saling melempar tatapan tidak suka. Mereka seakan-akan seperti musuh yang siap berperang untuk memperebutkan posisi mereka.


"Hei kau! Dasar gadis tidak tahu diri!"


"Siapa yang kau panggil tak tahu diri?! Bukankah itu dirimu sendiri?!"


"Bukankah itu juga berlaku untukmu?! Ayolah Erika~ seharusnya kau sadar posisimu. Hanya karena dia bersikap biasa saja padamu lalu kau menganggap dia masih memiliki perasaan yang sama?!"


"Kau—"


"Mencari penggantimu sangatlah mudah untuk Ryuuga, tidak menutup kemungkinan selama dia baik padamu dia juga sudah memiliki kekasih baru! Jadi jangan besar kepala dulu dasar wanita murahan!"


"Yumi, sudah cukup kau menghinaku! Kau sendiri juga sebenarnya masih mengharapkannya, kan?! Tapi dia tidak melirik mu sama sekali dan itu yang membuatmu iri terhadapku!"


"Oh ya? Setidaknya aku masih punya harga diri. Tidak seperti mu yang sudah di putuskan tapi masih saja menempel seperti benalu pada Ryuuga!"


"Kau— menjengkelkan!"


Mereka saling mendekati satu sama lain dan mulai melanjutkan peperangan mereka ke sesi berikutnya. Ya, sebagaimana para perempuan bertengkar seperti pada umumnya. Mereka saling menjambak, mencakar, memukul, dan saling menampar hingga keadaan mereka benar-benar kacau dan menarik perhatian banyak orang. Teman-teman Yumi yang baru mengetahuinya dari orang lain pun segera menyusulnya. "Astaga Yumi!!" teriak kedua teman Yumi yang segera datang menarik Yumi mundur, begitupula Erika yang ditarik ke belakang udah beberapa orang. Meskipun mereka telah dipisahkan oleh beberapa orang, mereka tetap melayangkan tatapan kebencian. Yumi benar-benar mendapatkan luka memar di sudut bibir dan pelipisnya. Sedangkan Erika hanya lebam di bagian pipi dan rambut panjang nya sangat kusut akibat jambakan keras dari Yumi.


"Yumi, apa yang kau lakukan?! Kau pasti akan di panggil oleh guru kedisiplinan!" ujar temannya pada Yumi namun Yumi tak mendengarkannya, ia tetap menatap Erika.


"Ne, Erika. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Hah?! Apa?!" tanya Erika dengan sangat ketus


"Apa kau yakin dengan perasaan Ryuuga padamu? Cinta akan lebih membahagiakan jika keduanya memiliki perasaan yang sama. Apa kau pernah sekali saja menanyakan perasaan Ryuuga padamu?" tanya Yumi dengan mata yang berubah drastis, ia memandang Erika dengan sedih namun Erika melihatnya seperti Yumi sangat mengasihani dirinya.


"Tentu saja dia juga mencintaiku! Kau tidak perlu mencari celah diantara kami!"


"Tch, kau pikir aku ini sepertimu? Kita sangat berbeda. Coba tengok dirimu lagi, selama kau mengenal Ryuuga, kau memang jadi mengenal apa itu Cinta. Tapi apa kau sadar? Semenjak itulah kau selalu sendirian, tidak punya siapapun dan rela menjauhi teman-teman mu. Kau terus mengejar Ryuuga yang bahkan tak peduli denganmu, kau sudah melupakan temanmu. Ya, aku."


Erika tertohok oleh ucapan Yumi. Hatinya berdenyut nyeri, ia merasa seakan kesulitan bernapas setelah melihat Yumi yang sedang berdiri di hadapannya bersama dengan kedua temannya, Erika diam membeku. Matanya melebar ketika Yumi menatapnya dengan mata yang menyiratkan kesedihan dan kecewa secara bersamaan. Lalu, guru kedisiplinan pun datang.


"Ada apa ini?! Siapa yang berkelahi?!" tanya guru itu dengan tatapan marah. Setelah mendengar suara gurunya, beberapa siswa yang bergerombol pun memberi jalan untuknya. "Kalian berdua ikut saya ke ruang BK sekarang juga! Kalian semua silahkan kembali ke kelas masing-masing!" perintah gurunya dan semua kerumunan para siswa itu sirna hanya menyisakan dua pelaku yang masih bersitegang satu sama lain. "Kalian harus menjelaskan semuanya!"


Sementara itu, Naoki yang mengetahui pertengkaran dua gadis itu pun segera berlari kembali ke kelas untuk memberitahu Ryuuga. Setelah sampai dikelas, Naoki langsung menepuk bahu Ryuuga dengan cukup keras hingga membuat si empu nya tersentak kaget.


"Apa sih?!" tanya Ryuuga sambil melirik tajam pada Naoki


"Kau harus tahu ini, Ryuu! Erika-senpai dan Yumi-senpai habis berkelahi!" Ryuuga membeliak kaget lalu memasang wajah datar andalannya lagi.


"Lalu? Bukan urusanku."

__ADS_1


"Tentu saja ada! Mereka berkelahi karena kau!" ujar Naoki sedikit kesal dengan tanggapan Ryuuga yang terkesan menganggap enteng masalah ini. Ryuuga menghela napas panjang 'Apa Erika melihat kejadian tadi pagi?' Ryuuga memilih untuk kembali tidur. "Hei, Ryuu! Kau ini benar-benar tidak bisa serius sama sekali!"


"Lalu aku harus apa? Lagipula ini sudah terjadi."


"Kau—"


Sraaakk


Terdengar bunyi pintu kelas di geser. Semua orang memandang pintu yang terbuka itu. Ternyata seorang junior yang membuka pintu.


"A-ano permisi, apa Namikaze-senpai ada di kelas?" tanya gadis itu takut-takut karena mendapat perhatian dari kelas itu. Setelah tahu tujuan junior itu, semua mata kini tertuju pada bangku Naoki dan Ryuuga. Naoki kesulitan menelan ludah saat semua mata juga menatapnya. Bisikan-bisikan tentang masalah yang tadi mulai terdengar, samar-samar Naoki dapat mendengarnya. Naoki menoleh lalu menggoyangkan bahu Ryuuga.


"Hei Ryuu. Bangunlah. Ada yang mencari mu." bisik Naoki yang langsung membangunkan Ryuuga. Cassanova sekolah itu mengangkat kepalanya lalu menatap gadis yang berdiri di ambang pintu hingga gadis itu gemetar ketakutan.


"A-ano senpai, anda di panggil oleh guru kedisiplinan. Mohon segera datang ke ruang BK karena sensei sudah menunggu. Terima kasih." gadis itu membungkuk lalu segera berlari meninggalkan kelas. Ryuuga langsung berdiri dan berjalan dengan santai ke luar kelas tanpa mempedulikan berbagai macam tatapan dan juga bisikan tentang dirinya. Sedangkan Naoki benar-benar harap-harap cemas setelah Ryuuga benar-benar pergi dari kelas.


"Dia kenapa?" tanya Arata yang baru bangun dari tidur panjangnya


"Cih, dasar tukang tidur! Kau selalu ketinggalan berita." cibir Naoki namun Arata tidak peduli dan hanya mengangkat bahu ringan lalu melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong.






         sesampainya di ruang BK, Ryuuga langsung masuk dan berdiri di samping meja guru kedisiplinan. Ia tetap memasang wajah datar meskipun guru kedisiplinan sudah menatapnya dengan tajam. Dua gadis yang sudah di sidang terlebih dulu itu hanya bisa menunduk setelah Ryuuga melirik sekilas pada mereka.


"Ada perlu apa sensei memanggilku?"


"Apa kau tahu alasannya?"


"Hn. Kurasa aku tidak melakukan kesalahan apapun." jawab Ryuuga dingin


"Harus kau ketahui, Namikaze-san. Mereka berdua berkelahi karena dirimu."


"Hn, apa urusanku? Aku tidak meminta mereka berkelahi untukku." balas Ryuuga


"Namikaze-san! Bisakah kau selesaikan dengan baik urusan kalian bertiga?!" sang guru mulai merasa kesal dengan jawaban Ryuuga.


"Ano sensei, gomennasai. Ini memang kesalahan kami berdua, kami yang terlalu kekanak-kanakkan hingga berkelahi hanya untuk beradu argumen." ucap Erika yang terdengar seperti berusaha membela Ryuuga sementara Yumi mengerutkan keningnya heran. Erika benar-benar telah buta.


"Jika kau tahu ini sangatlah kekanak-kanakkan lalu kenapa kau masih memilih untuk berkelahi?!"


"Maafkan kami sensei, kami sama-sama lepas kendali dan berkelahi di sana. Maafkan kami.." Erika menatap gurunya dengan menyesal sementara Yumi hanya menunduk. Ia tak mengatakan sepatah kata pun.


"Namikaze-san, aku harap kau mau sedikit memperbaiki sifatmu itu."


"Hn, baiklah. Sekarang aku boleh kembali? Aku tidak punya kaitan apapun dengan perkelahian mereka." ujar Ryuuga sambil melirik tajam kearah mereka berdua. Tatapan yang benar-benar bisa membunuh siapa saja yang berani menatapnya.


"Hahhhh.... Baiklah, silahkan kembali."


            Ryuuga langsung melenggang pergi tanpa permisi. Kebiasaan yang tidak bisa ditentang siapapun termasuk para guru oleh karena orangtua Ryuuga adalah donatur terbesar pada sekolah ini bahkan mereka juga lah yang ikut membantu biaya pembangunan sekolah ini. Benar-benar keberuntungan Ryuuga. Meskipun begitu, prestasi Ryuuga dengan mendapat peringkat satu dikelas maupun dalam satu angkatan dan berbagai lomba yang ia juarai sangat cukup untuk membuatnya berdiri dengan nama sendiri tanpa menyangkut pautkan nama orangtua nya. Akhirnya Erika dan Yumi mendapatkan hukuman mereka untuk membuang sampah selama satu minggu penuh.


        Ryuuga kembali ke dalam kelas. Wajah datarnya membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi padanya di ruang BK tak terkecuali Naoki dan Arata yang sudah menunggu nya di bangku mereka.


"Hei, Ryuu. Bagaimana? Apa semua baik-baik saja?" tanya Naoki dengan wajah khawatir.


"Hn"


"Kau juga dapat hukuman?"


"Jika aku sampai dapat hukuman, aku akan menuntut guru itu."


"Hah?!" Naoki dan Arata bingung sementara yang lainnya sibuk menguping pembicaraan mereka dan sebagian ikut terkejut.


"Maksudmu apa?" tanya Arata lagi


"Aku diam di kelas seharian. Aku tidak ada hubungannya dengan mereka yang berkelahi."


"Tapi... "


"Sudah ku bilang aku tidak ada hubungannya dengan perkelahian kedua gadis itu." Ryuuga melempar tatapan tajamnya hingga membuat seisi kelas yang awalnya riuh karena berbisik-bisik tentang dirinya langsung diam sunyi.


Banyak dari siswa di kelas itu yang jadi terdiam setelahnya. Ryuuga memang ada benarnya tapi pertengkaran itu juga terjadi karena dirinya. Setidaknya Ryuuga harusnya membantu menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Tapi Ryuuga tetaplah Ryuuga.

__ADS_1


__ADS_2