
kedua orang tua Natha menatap sendu ketika mereka berdiri tepat di halaman rumah mereka yang lama dimana para asisten rumah tangga sudah berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.
Tidak ada yang berubah dari rumah itu sebab tidak pernah ada yang tinggali kecuali para asisten rumah tangga. Mereka dengan senang hati menyambut kedatangan mantan majikan mereka yang kini kembali menjadi majikan mereka lagi.
Ada beberapa memang yang kurang suka, apalagi bicara soal nyonya Clay yang dulu dengan watak yang begitu angkuh dan tak jarang membuat beberapa asisten rumah tangganya sering merasa sakit hati.
Namun tiba-tiba mereka begitu terkejut ketika melihat nyonya Clay berhambur memeluk mereka satu per satu sambil mengucapkan rasa syukurnya setelah sekian lama mereka bisa bertemu lagi.
Dalam hati sebagian dari mereka mencibir, mungkin saja semua ini diakibatkan nyonya Clay yang sudah pernah merasakan karma jatuh miskin sehingga lebih menghargai para asisten rumah tangga yang selama ini sudah dengan setulus hati membantunya mengurus keperluan rumah tangganya walaupun ia sering bersikap kasar dan juga tak jarang melukai hati mereka.
Mereka kemudian digiring masuk ke dalam rumah oleh asisten rumah tangga. Penataan rumah yang masih saja sama seperti dulu, benar-benar tidak ada yang berubah dan memang benar jika tidak ada satupun yang diambil oleh Adrian dari rumah ini.
Natha sendiri menertawai kebodohannya. Adrian Dameer bahkan sangat kaya, mana mungkin dia sempat mengambil sesuatu dari rumah ini yang bahkan kemungkinan segalanya tersedia di kediaman Dameer.
"Natha, mama mau ke kamar dulu. Mama sangat rindu dengan kamar mama," ucap nyonya Clay kemudian ia bergegas naik ke tangga menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Di lantai bawah, Natha dan papanya sedang membahas perusahaan mereka. Natha menitipkan dulu pada sang papa karena ia masih terikat kerja sama dengan Zicko. Natha juga meminta sang papa untuk mencari asisten baru karena ia yakin Zicko sudah tidak bisa dipekerjakan lagi sebab sudah memiliki perusahaan sendiri walaupun milik keluarga Clay jauh lebih besar.
"Baiklah Pa, Natha harus pergi dulu ke perusahaan bang Zicko. Walau bagaimanapun Natha masih memiliki kontrak kerja sama dengannya. Papa bisa 'kan menghandle perusahaan kita dulu?" ucap Natha dan papanya mengangguk.
"Tentu, papa akan mengurusnya lebih dulu. Kau bekerjalah dan jangan sampai Zicko kecewa padamu. Ingat, kau harus profesional," pesan Gustav pada Natha.
__ADS_1
"Iya pa," jawab Natha kemudian ia bergegas pamit. Ia harus segera ke kantor Zicko karena ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan dan lagi ia juga harus menyelesaikannya dengan cepat karena ia hendak menemui Fidelya.
Dengan semangat Natha mengendarai mobilnya menuju ke kantor milik Zicko. Natha tidak mungkin mendadak mengundurkan diri sedangkan ia belum sebulan bekerja bersama Zicko. Natha juga berpikir jika ia akan mengajak serta Daren bekerja lagi dengannya terlepas Daren sudah mengkhianati dan juga bekerja sama dengan Adrian dan Gavriel, Natha menyadari bahwa semua itu Daren lakukan pasti ada alasannya dan bukan semata-mata karena Daren ingin hidup enak bersama keluarga Dameer.
Natha berpapasan dengan Zicko ketika mereka sampai di lobi perusahaan. Keduanya berjalan beriringan menuju ke lantai dimana ruangan mereka berada. Sambil berbincang-bincang mengenai kejadian kemarin, Zicko mengatakan jika Albert dan Gavriel sudah tidak lagi menjadi rival.
"Mungkin untuk sementara karena mereka sedang mengurus sahabat mereka bersama yang sedang mengalami depresi," ucap Zicko.
Zicko kemudian menceritakan tentang Zivia dan kedua mafia yang selama ini berseteru itu. Natha bisa mengambil kesimpulan bahwa awal mula Albert menjadikan Natha sebagai musuhnya karena Zivia. Pantas saja sejak pertama kali Natha bertemu dengan Albert, pria itu langsung menerimanya. Rupanya mereka punya pengalaman yang hampir sama dengan lawan yang sama masalah cinta.
"Jadi apa kau akan kembali ke perusahaanmu lagi?" tanya Zicko, ia sudah mendengar dari Natha jika papanya yang akan mengelola perusahaan Clay.
Natha mengangguk, "Tapi belum saat ini. Aku masih punya kontrak kerja denganmu, bang," jawab Natha dan Zicko tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Natha sudah memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Audriana karena akan lebih baik ia menerima kenyataan jika saat ini dan seterusnya Audriana tidak ditakdirkan untuknya. Lagi pula ada wanita cantik dan juga wanita pertama untuk Natha, ia akan mengambil tanggung jawab setidaknya ia masih bisa melakukannya setelah mereka kehilangan bayi mereka di dalam kandungan Fidelya.
.
.
Pekerjaan Natha selesai tepat di waktu yang ia tentukan. Ia bahkan tadi tidak keluar untuk makan siang dan hanya memesan makanan saja. Natha memang sudah bertekad untuk memperbaiki hidupnya. Membuka lembaran baru dengan Fidelya dan membina rumah tangga. Audriana tidak tergapai dan alangkah lebih baik jika ia memilih wanita yang memang bisa ia gapai dan tak akan pernah meninggalkannya seperti Audriana.
__ADS_1
Natha dengan semangat masuk ke dalam mobilnya, ia terlebih dahulu sudah mengatakan pada Zicko jika ia ada urusan penting dan karena pekerjaan Natha sudah rampung maka Zicko mengizinkan Natha untuk pergi.
Ia mencoba untuk menghubungi Fidelya namun panggilannya tidak terjawab. Natha mencoba berpikir positif jika saat ini Fidelya pasti sedang sibuk mengurus pasien.
Tak lupa Natha mampir di salah satu toko bunga, ia berniat membawakan bunga cantik untuk Fidelya sebagai tanda ia ingin memberikan hati dan hidupnya pada wanita itu.
"Saya ambil yang ini ya," ucap Natha setelah ia menemukan sebuket cantik bunga mawar putih.
Tak sengaja mata Natha melihat ada serangkaian kecil bunga dandelion. Ia ingat betul bunga itu adalah bunga favorit Audriana. Natha masih ingat betul bagaimana Audriana menjelaskan pada Natha jika bunga dandelion itu banyak maknanya, termasuk tujuan Natha kali ini yang ingin membuka lembaran baru bersama Fidelya.
Namun, karena Fidelya penyuka mawar maka Natha memilih bunga mawar. Nanti saja ia akan membelikan Fidelya bunga dandelion ketika lamarannya diterima oleh wanita itu.
Sambil bersenandung Natha mengemudikan mobilnya. Tak butuh waktu lama hingga ia sampai di rumah sakit dimana Fidelya berkerja. Natha melirik jam tangannya, ia melihat jam kepulangan Fidelya sekitar empat menit lagi. Natha memutuskan untuk turun saja dan memberikan kejutan pada Fidelya.
Natha berjalan di koridor rumah sakit sambil membawa bunganya dan juga sesekali ia menciumi bunga tersebut. Senyuman manis tak hilang dari bibirnya hingga ia melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri Fidelya saat ini sedang bersama seseorang.
"Lya, Will you marry me?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Dicky.
Dengan senang hati Fidelya mengangguk, "Yes I Will," jawabnya.
Bunga di tangan Natha terjatuh, ia tidak menyangka jika saat ini wanita yang hendak ia jadikan istri itu justru dilamar oleh seseorang tepat di hadapannya. Tangan Natha terkepal, ia tidak tahu sejak kapan Fidelya dekat dengan pria lain selain dirinya. Kemarin mereka masih baik-baik saja tapi mengapa hari ini ada pria yang mendahuluinya untuk melamar Fidelya?
__ADS_1
Kenapa rasanya hatiku sangat sakit ya?