OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 119


__ADS_3

Audriana terdiam sambil menatap hampa langit-langit kamar tersebut begitupun dengan Gavriel yang juga melakukan hal yang sama. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat terhadap kekasihnya sekaligus calon istrinya ini. Dengan sadisnya ia menyetubuhi Audriana walaupun wanita itu terus meronta untuk dilepaskan. Ia bahkan tidak mempedulikan tangisan Audriana saat ia dengan paksa merobek selaput darah miliknya.


Penyesalan itu baru saja datang setelah ia menikmati percintaannya walaupun sepanjang melakukannya Audriana lebih banyak diam. Dan sampai detik ini ia pun masih saja terdiam dengan sisa air mata yang telah mengering di pipinya.


"Sayang aku minta maaf. Maafkan ak--"


Belum selesai kalimat Gavriel, Audriana langsung berbalik badan. Tubuhnya masih terasa sakit dan remuk namun tidak sebanding dengan hatinya yang begitu terluka saat ini. Gavriel sudah merenggut segalanya, pria yang ia percayai dengan luar biasa itu kini berhasil membuat kepercayaannya itu runtuh dan kini juga pria itu sudah menjadikannya sebagai wanita seutuhnya.


Gavriel menghela napas, ia tahu ini kesalahannya. Ia sudah merusak Audriana namun ia juga bertekad akan bertanggung jawab. Ia akan menikahi Audriana dan bila perlu malam ini juga. Ia sangat siap.


Hati Gavriel kembali terasa hancur saat melihat punggung Audriana bergerak naik turun dan ia bisa pastikan kekasihnya itu saat ini sedang menangis. Gavriel mengepalkan tangannya, perbuatannya memang tidak bisa dimaafkan akan tetapi ia tidak ingin Audriana membencinya.


Audriana menghapus jejak air matanya yang kembali membasahi pipi. Dengan posisi menyamping ia bisa melihat pakaiannya yang berserakan di lantai. Audriana menarik selimut yang membungkus tubuhnya tanpa peduli saat ini Gavriel terlihat tanpa sehelai benangpun.


Berusaha bangun dengan tubuh yang terasa remuk karena tadi Gavriel menggempurnya tanpa ampun dan bahkan beberapa kali mendapati pelepasannya membuat tubuh Audriana terasa sakit semua. Ia bahkan terjatuh dari tempat tidur dan Gavriel dengan cepat membantunya akan tetapi Audriana menepis tangan Gavriel lalu ia memunguti pakaiannya dan dengan langkah tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kamar mandi.


Gavriel yang merasa Audriana begitu marah dan menghindarinya langsung mengumpulkan pakaiannya dan ia kenakan kembali. Ia akan menunggu Audriana dan mereka akan berbicara tentang kejadian tadi juga tentang niat Gavriel yang akan menikahi Audriana malam ini juga tanpa peduli Adrian akan marah dan menghajarnya habis-habisan.


Di dalam kamar mandi Audriana tengah menatapi tubuhnya yang penuh dengan tanda merah, bekas ciuman Gavriel yang merupakan jejak cinta yang Gavriel tinggalkan di tubuh putih mulus Audriana. Ia menggosoknya berusaha untuk menghilangkan semua itu walau ia tahu perbuatannya itu sia-sia.

__ADS_1


"Hikss ... aku pikir kamu adalah lelaki terbaik dan aku pikir kamu adalah yang paling bisa menjagaku, tetapi kamu bahkan lebih buruk dari Natha. Huhuuu ... aku sangat membenciku Gavriel Mazeen. Aku juga bahkan benci dengan diriku sendiri yang kini sudah ternodai dan kotor karenamu. Aku sudah memberikan hatiku padamu tapi mengapa justru kau merusak tubuhku? Mengapa kau mematahkan hatiku? Mengapa?!!"


Jika di dalam kamar mandi Audriana kembali menangis sesenggukan meratapi nasibnya dan kejadian yang baru saja terjadi, di atas ranjang Gavriel justru tengah gelisah sebab sudah setengah jam Audriana mengurung dirinya di dalam kamar mandi. Gavriel khawatir dan tak sengaja ia melirik noda merah yang tertinggal di sprei bekas percintaannya dengan Audriana.


Tangan Gavriel terkepal kuat, ia kemudian memukul kepalanya sendiri dengan begitu kuat karena menyesali perbuatannya tadi.


"Aku memang bodoh. Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu pada Audriana dan mengabaikan dirinya yang terus berteriak menolak dan memohon. Aku memang brengsek! Aku akui tadi aku terbawa emosi karena Audriana menyebut nama Natha. Aku terpengaruh dan akhirnya karena cemburu buta aku pun tanpa sadar sudah melewati batas. Tapi nasi sudah jadi bubur dan aku harap Audriana akan memaafkanku lalu kami segera menikah. Aku juga sudah membuang banyak benihku di rahim Audriana, aku khawatir dia akan hamil. Semoga itu tidak akan terjadi dan biarkan kami menikah dulu lalu memiliki calon bayi. Audriana pasti akan sangat terpukul dan semakin membenciku. Arrghh, sial!!"


Gusar menantikan Audriana yang tak kunjung keluar padahal ini sudah hampir satu jam membuat Gavriel mau tidak mau mendekati pintu kamar mandi tersebut. Ia tadi memang sengaja memberikan waktu untuk Audriana tapi sekarang rasanya itu sudah berlebihan dan ia khawatir Audriana akan melakukan hal gila di dalam kamar mandi.


Dan sebenarnya kekhawatiran Gavriel benar adanya, sejak tadi Audriana memang berpikir untuk melukai dirinya sendiri dan hendak bunuh diri karena merasa tertekan dengan kejadian tadi. Hanya saja ia tidak menemukan cara atau alat yang bisa ia gunakan dan juga ia kembali teringat akan sang kakak yang sangat menyayanginya. Adrian sebentar lagi akan menikahi dan ia tidak ingin ada duka sebelum kakaknya menikah.


Gavriel yang tidak mendapatkan respon dari Audriana hendak mendobrak pintu tersebut akan tetapi baru saja hendak ia lakukan, pintunya sudah terbuka dan Audriana keluar dari kamar mandi dengan wajah datar serta mata yang sembab.


Gavriel meraih tangan Audriana namun secepat kilat Audriana menghempaskan tangan tersebut. "Aku mau pulang!" ucap Audriana tanpa menatap Gavriel dan kini ia sudah membuka pintu kamar tersebut.


Dengan cepat Gavriel berlari mengejar Audriana dan menahan tangan wanita yang merupakan kekasihnya itu. Ia memaksa menenggelamkan wajah Audriana ke dalam dekapannya. Audriana tidak menolak juga tidak mengiyakan. Ia hanya diam saja saat Gavriel mulai melontarkan permintaan maafnya dan juga mengecup puncak kepalanya berkali-kali.


"Sayang bicara please, diammu membuatku takut!" bujuk Gavriel namun Audriana tetap memilih bungkam.

__ADS_1


"Aku ingin pulang. Tolong lepaskan," ucap Audriana dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Merasa tertohok, Gavriel melepaskan pelukannya dan ia menatap sendu kedua mata Audriana. "Kita harus bicara sayang. Izinkan aku bertanggung jawab dan aku siap menikahimu malam ini. Jangan benci padaku, aku tahu aku salah. Maafkan aku sayang. Hukum aku sepuasmu tapi jangan benci padaku," ucap Gavriel memohon, ia bahkan berlutut di kaki Audriana namun Audri langsung memalingkan wajahnya.


Gavriel tersenyum miris, Ia yakin Audriana saat ini memang sangat marah dan membutuhkan waktu untuk berpikir dan mengikhlaskan peristiwa ini. Gavriel tidak akan memaksa akan tetapi ia juga akan terus mendekati Audriana demi mendapatkan maaf dari wanitanya. Ya wanitanya, karena sejak beberapa jam yang lalu Audriana resmi menjadi wanitanya.


"Aku ingin pulang. Aku lelah dan ingin beristirahat. Dan tolong jangan mencegahku lagi," ucap Audriana kemudian ia berbalik badan meninggalkan Gavriel yang masih berlutut.


Pria tampan sekaligus ketua kelompok mafia itu berdiri lalu kembali menyusul Audriana. "Aku yang akan mengantarmu. Aku tidak akan membiarkanmu dalam masalah dan bahaya di jalan," ucap Gavriel.


"Ah, bukankah kau sedang mengatai dirimu sendiri tuan Gavriel Mazeen?" sindir Audriana yang membuat hati Gavriel seolah ditusuk belati.


Mendadak bibir Gavriel tak mampu berucap, ia hanya terus mengikuti Audriana hingga ke dalam mobil.


Di dalam mobil pun kembali terjadi kebisuan hingga akhirnya mereka sampai di apartemen. Gavriel mengantar Audriana hingga ke unitnya guna memastikan kekasihnya ini baik-baik saja.


"Tidak perlu ikut masuk. Sebaiknya kau pulang saja. Aku ingin beristirahat dan kau pun sama," ucap Audriana saat Gavriel hendak mengatakan jika ia akan menginap di apartemen ini bersama Adrian.


"Tapi--"

__ADS_1


"Mulai detik ini aku tidak ingin punya hubungan apapun denganmu. Aku Audriana Maaysa Dameer memutus hubunganku denganmu. Jauhi aku dan jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku karena aku sangat membencimu tuan Gavriel Mazeen! Aku membencimu!!"


__ADS_2