
Gavriel baru saja sampai di rumah dan ia berlari turun dari mobil mencari keberadaan sang istri. Ia bahkan tidak peduli saat kakinya tersandung di tangga, untung saja tangannya berpegangan kuat, jika tidak Gavriel pasti sudah jatuh. Pikirannya saat ini sedang sangat kacau, ia belum pernah merasakan tersiksa seperti ini bahkan ketika perusahaannya hampir gulung tikar.
Pintu kamar dibuka dengan kasar oleh Gavriel dan nampaklah sang istri yang sedang duduk di sofa sambil memeluk bingkai foto Gea ditemani oleh kakak iparnya. Dengan cepat Gavriel berlari dan Devi langsung memberi ruang untuk Gavriel.
"Sayang ...," lirih Gavriel ketika ia membawa Audriana ke dalam dekapannya.
Audriana tidak bersuara tetapi air matanya yang sedari tadi enggan untuk berhenti itu semakin deras saja. Ia memeluk erat tubuh Gavriel untuk menyalurkan perasaannya. Gavriel tahu saat ini istrinya benar-benar rapuh dan itu sama seperti apa yang ia rasakan.
"Dia masih sangat kecil ... apakah dia baik-baik saja? Apakah mereka tidak menyiksanya? Mengapa mereka melakukan ini? Meminta tebusan kah? Apakah anakku sudah makan? Dia tidak kesepian dan merindukanku? Dia tidak pernah bisa jauh dariku, harusnya aku tidak meninggalkannya sedetik pun. Aku ibu yang ceroboh!"
Rintihan Audriana semakin membuat hati Gavriel tersayat-sayat. Ini adalah luka yang teramat perih, dua orang paling berharga dalam hidupnya menghilang dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Dia pasti baik-baik saja. Aku janji akan segera menemukannya," bisik lirih Gavriel, suaranya bahkan hampir tidak terdengar.
Audriana melepaskan pelukannya kemudian ia menatap lekat kedua mata Gavriel. "Aku akan menyerahkan seluruh hartaku untuk mendapatkan putriku kembali. Iel, kamu harus menemukan anak kita, aku tidak mau tahu, segera temukan dia. Hikss ... entah bagaimana keadaannya di luar sana, putriku masi sangat kecil, Iel. Dia pasti sedang mencariku, huhuu ... bagaimana dia akan melewati hari ini tanpa seseorang yang dikenalinya? Dia pasti ketakutan saat ini. Kasihan dia, aku bisa mati jika sampai tidak menemukannya—"
__ADS_1
Gavriel meletakkan jari telunjuknya di bibir Audriana. Ia tidak sanggup lagi mendengar setiap ucapan Audriana yang membuatnya semakin geram dan khawatir. Di perjalanan tadi pun ia sudah menghubungi Joe untuk menanyakan kejadiannya dan juga ia sudah mengirim banyak anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan putrinya.
Belum ditemukan sang adik, kini putrinya harus menjadi korban. Sungguh hidup Gavriel tidak baik-baik saja.
'Berdoalah aku menemukan putriku dalam keadaan baik-baik saja, karena jika tidak maka bersiaplah untuk menemui malaikat maut melalui tanganku,' gumam Gavriel dalam hati.
Devi kembali menitikkan air mata mendengar dan melihat bagaimana pasangan suami istri ini terluka karena kehilangan putri mereka. Ia membayangkan ada di posisi Audriana, tentu ia pun akan mengalami hal yang serupa seperti Audriana.
"Aku akan menemukan putri kita secepatnya dan malam ini juga. Aku berjanji padamu sayang. Aku akan menghukum orang yang sudah menculik putri kita dan bahkan dia akan merasakan neraka dunia karena sudah berani menculik anak Gavriel Mazeen!" ucap Gavriel mencoba untuk menenangkan Audriana.
Audriana kembali jatuh pingsan saat ia merasakan sesak di dadanya akibqy kembali menangis berlebihan. Gavriel langsung membawanya ke atas tempat tidur dan menyelimutinya dibantu oleh Devi.
"Apa yang terjadi padanya hari ini Kakak ipar?" tanya Gavriel kepada Devi.
Devi menghapus air matanya kemudian ia menceritakan seperti apa kejadian hari ini yang sudah membuat Audriana berkali-kali jatuh pingsan.
__ADS_1
"Dia bahkan tidak menyentuh makanan sedikitpun sampai detik ini. Aku sudah mengusulkan tadi pada Adrian untuk memberikannya cairan infus saja karena tadi ketika Audri pingsan aku mengecek kondisinya dan dia sangat lemah. Jika dipasangkan infus maka kita juga bisa memberikannya obat penenang. Kondisinya sangat buruk dan aku tidak ingin dia mengalami depresi," papar Devi dan itu membuat Gavriel semakin geram pada orang yang sudah memberi penderitaan pada keluarganya.
"Lakukan yang terbaik, aku percaya padamu dan tolong titip Audri dulu, aku ingin menemui Adrian," ucap Gavriel kemudian ia mengecup dahi Audriana dan meninggalkannya.
Gavriel harus bicara dengan Adrian, ia membutuhkan bantuan pria itu untuk semua hal dan ia juga yakin Adrian tidak tinggal diam untuk kasus penculikan Gea. Ia juga sudah mengunjunginya tadi dan Adrian menunggunya di ruang kerja karena ada hal penting juga yang ingin ia sampaikan.
Di dalam ruangan tersebut Natha nampak sangat serius menjelaskan rencananya untuk menembus kelompok Scorpio. Adrian dan Lefi sama-sama menyimak dan sesekali memberi saran kepada Natha.
"Jika rencana ini tidak bisa berhasil maka aku akan membawa Albert. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi dan sepetinya masalah ini tidak atas perintah ketua kelompok mereka. Aku akan mencoba menghubunginya, semoga aku bisa tembus padanya dan jika tidak maka Albert harus dipaksa untuk menemuinya," ucap Natha lagi setelah ia menjabarkan beberapa rencananya yang disetujui oleh semuanya dengan beberapa perubahan dari Adrian dan Lefi.
"Aku merasa ini memang cukup sulit karena dari kalian bertiga hanya Albert yang memiliki hubungan akrab dan Zicko sedang dalam misi besar. Tetapi aku berharap semoga kamu bisa berbicara dengannya," ucap Adrian.
Lefi mengangguk, ia membenarkan ucapan Adrian. Mereka tidak akan mudah menembus ketua Scorpio yang memang sama seperti Gavriel, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui identitas mereka.
"Oh ya, tuan Gavriel sepertinya sudah datang. Mungkin sebentar lagi dia akan ke ruangan ini. Dari kabar yang saya dapatkan pun ternyata Ferdinand belum ditemukan. Ini pasti ada hubungannya dengan Bastian Elard. Sungguh ujian yang berat bagi Gavriel." Lefi sangat prihatin terhadap apa yang terjadi pada Gavriel, ia berharap masalah ini cepat selesai dan terutama Gea harus bisa ditemukan dengan cepat.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan oleh Lefi, tak sampai semenit Gavriel sudah membuka pintu. Gavriel jelas terkejut melihat kedatangan Natha.
"Kenapa ada dia?" tanya Gavriel menatap ke arah Natha.