
Audriana terus menangis di dalam kamarnya dan bahkan ia beberapa kali mencoba untuk kabur dari rumah tetapi entah itu Gavriel ataupun Adrian, mereka selalu berhasil menangkap Audriana. Memang benar, Gavriel akan lebih baik di rumah menjaga Audriana sebab istrinya itu tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ia membutuhkan penjagaan dan harus selalu di pantau.
Kadang Gavriel menangis sembunyi-sembunyi memikirkan istri dan anaknya, ia harus tetap kuat di hadapan semua orang walaupun sesungguhnya ia lah yang paling rapuh di sini.
"Dri, sayang, jangan kayak gini. Tenanglah Dri, semua akan baik-baik saja dan Gea pasti akan kembali," ucap Gavriel sambil mengelus-elus rambut Audriana yang saat ini hanya menatap hampa ke arah langit-langit kamarnya.
Hati suami mana yang tidak hancur melihat istrinya yang selalu cantik, anggun, elegan dan berwibawa ini menjadi seperti ini, kata dokter Audriana mengalami depresi dan harus pergi ke psikiater.
Saat mendengar dokter mengatakan hal itu, bukan hanya Gavriel yang hancur, tetapi Adrian juga merasa paling hancur di sini. Ia gagal menjadi kakak yang baik itulah sebabnya ia merasa hancur.
"Temukan dia secepatnya atau kalian yang akan aku hukum!" ancam Adrian kepada anak buahnya yang tidak lain pada Joe tetapi itu ia tujukan untuk semua anak buahnya.
"Kami terus mencari, Tuan. Rombongan tuan Albert menemukan jejak mereka di sebuah gubuk dan kami juga sempat menemukan jejaknya tetapi memang mereka berpindah-pindah, seakan sudah tahu kami mencarinya dan juga sudah mempersiapkan rencana pelarian sematang mungkin. Jika sudah begini, saya yakin nona kecil akan segera ditemukan. Mereka tidak akan bisa sembunyi terus-menerus," papar Joe.
Adriana cukup terkejut mendengar hal tersebut, dari sini ia menyimpulkan bahwa pergerakan mereka memang sudah sampai ke telinga lawan. Entah ia memiliki banyak mata-mata atau nasibnya yang beruntung, namun Adrian berjanji akan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Ia benar-benar sudah diusik ketenangannya. Seseorang bernama Bastian Elard sudah mengajukan kembali Singa yang sudah lama tertidur.
"Terus cari dan kirimkan lokasi di mana saja kalian menemukan jejak Gea. Aku akan turun lagi mencarinya," ucap Adrian kemudian ia memutus sambung telepon menanti kiriman pesan dari Joe.
__ADS_1
Tangan Adrian terkepal kuat hingga memperlihatkan urat-uratnya. Ia sangat marah dan sepertinya ia siap meledak. Setelah menerima pesan tersebut, ia segera keluar dan mengendarai mobilnya seorang diri. Ia tidak boleh kalah hanya melawan seorang Bastian saja. Dia adalah pemilik alias pewaris sesungguhnya kerajaan mafia yang dipimpin oleh Gavriel.
Ponsel Adrian kembali berdering saat ia sedang menyetir. Sebuah pesan yang sudah sejak dua hari ini ia tunggu akhirnya muncul juga. Setelah membaca semuanya data dari pesan tersebut, Adrian melakukan mobilnya ke suatu tempat.
Mobil Adrian berhenti dengan perlahan di hadapan sebuah gedung yang merupakan salah satu rumah di mana Bastian tinggal. Walau pria itu nomaden, ia memiliki banyak tempat tinggal atas nama dirinya.
Braakk ...
Adrian menendang pintu rumah dari ukiran kayu yang terlihat cukup mahal itu hingga membuat orang-orang yang sedang bermain biliar di ruang tamu terlonjak kaget.
"Siapa kamu?" tanya salah satu dari mereka sambil memegangi stik biliarnya.
Awalnya ruangan tersebut begitu hening hingga salah satu dari mereka tertawa dan diikuti oleh yang lainnya.
"Dasar bodoh! Kamu mendatangi kami seorang diri, berarti kamulah yang datang mengantar nyawa ke tempat ini. Bagaimana kamu bisa sepercaya diri it—"
Doorr ...
__ADS_1
Satu peluru Adrian lepaskan dengan tanpa diduga-duga dan tidak ada yang sempat melihat Adrian mengangkat senjatanya, tahu-tahu pria yang mengolok-oloknya tewas seketika.
"Masih ada yang berani bermulut besar? Kalau iya mari hadapi aku. Sekali lagi aku katakan aku hanya ingin alamat Bastian Elard atau kalian akan hancur sebab kelompok Mazeen akan langsung membumihanguskan tempat ini dan juga tempat-tempat kalian yang lainnya," ancam Adrian.
Mendengar nama kelompok Mazeen, mereka dibuat gemetar. Mereka tidak menyangka jika yang datang adalah salah satu orang Mazeen, pantas saja sangat berani. Belum lagi kalau mereka tahu dialah sebenarnya pemimpin kelompok itu.
"Jawab atau kalian semua akan tahu akibatnya!" bentak Adrian lagi yang sudah siap dengan dua senjata di tangannya yang sengaja ia perlihatkan.
Anak buah Bastian takjub melihat dua senjata milik Adrian yang kecil bisa mematikan. Mereka sebagai anak buah Bastian saja sangat jarang diperlihatkan senjata seperti itu dan hanya boleh memilikinya jika sudah bersama membesarkan kelompok Scorpion.
"M-mungkin mereka berada di salah satu rumah orang kepercayaan tuan Bastian. H-hans dan Farah. itu nama mereka dan Anda bisa mendatangi kediaman mereka untuk mencari tuan Bastian sebab dua orang itu selalu jadi tempat berlindung tuan Bastian," jawab salah satu dari mereka dengan terbata.
Adrian tersenyum tipis karena ia juga mendapatkan informasi tentang Hans dan Farah, itu berarti ia harus segera meluncur ke dua tempat itu.
Baru saja Adrian akan pergi, ia berbalik lagi dan melepaskan satu peluru pada salah satu anak buah Bastian.
"Jangan coba-coba melawanku agar tidak mau bernasib sama sepertinya," ancam Adrian dengan suaranya yang begitu dingin. Ia menatap sinis pada tubuh yang ia tembak karena sempat menangkap gelagatnya seolah sedang bertukar informasi dengan seseorang.
__ADS_1
Adrian mendengus kemudian ia segera meninggalkan tempat tersebut, seorang diri tanpa iring-iringan pengawal. Kali ini ia akan menemukan keponakannya dan juga penculiknya dengan tangannya sendiri.