OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 161


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Natha saat melihat Bianca melamun.


Bianca tersadar kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Hanya sedang memperhatikan pasangan pengantin saja," kilahnya.


Natha tersenyum, dari raut wajah Bianca saja sudah mencerminkan hal berbeda dari apa yang tengah ia pikirkan dan apa yang ia katakan. Dengan peralatan Natha meraih tangan Bianca kemudian ia genggam dengan erat. Satu kecupan ia daratkan di punggung tangan Bianca.


"Setelah ini giliran kita," bisiknya di telinga Bianca, membuat wanita itu tersipu malu.


Sementara itu di atas pelaminan, pasangan pengantin tersebut tengah menyambut banyak tamu dan dari salah satunya ada keluarga Prayoga — rekan bisnis sekaligus teman baik Gavriel.


Tuan Alvaro Genta Prayoga memberikan ucapan selamat sekaligus memeluk pria yang akhirnya menikahi wanita yang ia cintai, setelah semua pesakitan yang ia alami selama lima tahun lamanya.


"Selamat Tuan Gavriel Mazeen, akhirnya keinginan Anda tercapai juga. Dan setelah ini jagalah baik-baik wanita Anda agar tidak kabur-kaburan lagi," seloroh Alvaro yang membuat Gavriel tertawa terbahak.


"Tentu. Apakah Anda tidak melihat dari tadi saya terus menggenggam tangannya? Saya takutnya dia kabur, walaupun sudah sah menjadi istri saya, dia ini suka kabur-kaburan. Jadi harus digenggam terus tangannya," timpal Gavriel kemudian ia menata Audriana yang sedang menatap kesal padanya, tetapi ada semburat merah di pipinya selain dari blush on yang ia kenakan.


Alvaro dan Gavriel asyik berbincang dan tak lupa mereka saling mengenalkan istri mereka masing-masing. Audriana dan Nurul Aina saling berkenalan dan keduanya sedikit berbincang, sebelum akhirnya Alvaro mengajak Nurul untuk segera turun dari pelaminan karena masih ada tamu undangan yang lainnya yang ingin memberikan ucapan selamat.


Sebenarnya Gavriel dan Alvaro tidak sengaja saling bercerita. Saat dimana Audriana telah meninggalkan Gavriel dan saat itu Gavriel benar-benar terpuruk. Dan ketika itu apa yang dialami oleh Gavriel sama seperti apa yang ia rasakan dahulu ketika ditinggal oleh istrinya — waktu itu belum menjadi istrinya, karena pada masa itu Alvaro menggunakan Nurul sebagai gadis taruhan saja. Hingga akhirnya ia menyadari cintanya dan mereka terpisah bertahun-tahun lamanya dan akhirnya bertemu kembali.


Dari kisah Alvaro tersebut Gavriel termotivasi untuk terus bisa menemukanmu keberadaan Audriana, karena dari kisah Alvaro Gavriel merasa yakin jika ia bisa mendapatkan Audriana kembali seperti Alvaro mendapatkan Nurul Aina kembali Walaupun ada begitu banyak rintangan pesakitan dan juga orang orang yang menghalangi hubungan mereka, Alvaro akhirnya bersatu juga dengan Nurul dan itulah yang memotivasi Gavriel.


Dari sudut berbeda, seseorang yang sebenarnya diundang tetapi memilih untuk bersembunyi karena tidak ingin melihat pernikahan yang tidak seharusnya terjadi ini tengah menatap benci pada sosok pengganti wanita. Ia mengepalkan tangannya sambil menatap tajam pada pasangan suami istri yang tengah berbahagia tersebut. Mereka terlihat sedang menyambut beberapa tamu mereka yang selalu silih berganti perdatangan dan sebuah tiada habisnya.


"Harusnya aku yang ada di sana, harusnya aku yang menikah dengan Gavriel dan bukan Audriana. Harusnya cinta itu milikku! Dan harusnya kamu tidak kembali lagi Audriana. Seluruh hidupku menjadi kacau berantakan, entah siapa yang sudah meniduriku malam itu dan entah siapa ayah dari bayi yang tengah aku kandung ini. Tapi yang aku ketahui, pria itu adalah Gavriel, karena dia yang aku berikan obat perangsang."


Mata tajam Zivia terus menatap ke arah Audriana yang terlihat begitu cantik malam ini. Semakinlah bertambah rasa iri dan dengkinya kepada sosok Audriana yang telah berhasil mendapatkan Gavriel. Padahal jika Zi telaah kembali, maka di sini yang beruntung adalah Gavriel karena ia berhasil meyakinkan cintanya untuk menikah.

__ADS_1


Audri tidak pernah memaksakan Gavriel untuk menjadi suaminya bahkan untuk menjadi kekasihnya pun Audri tidak pernah memintanya. Akan tetapi di sini Gavriel yang sejak awal sudah mengejar-ngejarnya, bahkan ketika ia masih berada di dalam pelukan Natha.


Zivia hanya tidak bisa terima saja karena sejak lama ia sudah mencintai Gavriel. Ia bahkan dibuat depresi dan sempat menjadi orang dalam gangguan jiwa karena patah hatinya terhadap Gavriel dan akhirnya ia mendapat kekerasan seksual yang membuatnya trauma mendalam.


"Inilah yang dinamakan cinta sejati. Cintamu itu hanyalah semu dan hanya obsesi belaka. Harusnya kamu sudah melupakannya sejak lama dan kamu harusnya menghargai keberadaanku sejak lama, hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Kamu wanita yang terlalu terobsesi pada suatu hal yang melupakan hal yang lain. Dan lihatlah, hari ini kamu pun ditinggalkan oleh obsesimu itu."


Zivia sangat mengenali suara yang baru saja berbicara padanya Ia pun berbalik ke belakang dan melihat sosok Albert yang tengah menatapnya dengan tubuh sebelah kirinya menyandar di dinding dan tangan kanannya berada di dalam saku celananya. Dan malam ini Albert terlihat benar-benar tampan.


"Tidak perlu menasihatiku. Apakah hidupmu sudah benar? Kamu pun sama menyukai Audriana, bukan?" tuding Zivia yang tidak ingin disalahkan sendiri.


Albert tertawa sarkas. "Aku menyukai Audriana? Ya, mungkin aku dulu mengaguminya, tetapi setelah aku sadar semua itu hanya perasaan kagum belaka, ya aku mencari sosok lain untuk menjadi pendampingku. Dan akhirnya aku menemukannya dan kami sepakat untuk menikah. Dan kini tinggallah kamu seorang diri. Entah siapa lagi yang akan kamu jadikan obsesi setelah ini. Sadar Zi, di hidup ini kita membutuhkan seseorang yang juga membutuhkan kita. Jangan terus berharap pada seseorang yang tidak menginginkan kita, nanti kamu jatuhnya akan begitu sakit."


Zivia mengepalkan tangannya, ia menatap tak suka pada Albert yang seakan-akan terus menasihatinya seolah Albert adalah orang yang terbaik di dunia ini dan tak pernah melakukan sebuah kesalahan.


"Menjauhlah dariku karena aku tidak ingin mendengar ucapanmu yang selalu suka menceramahiku. Pergi sana dan jauhi aku sejauh-jauhnya. Aku tidak membutuhkanmu disini dan kamu tidak pernah menjadi pendukungku selama ini!" pekik Zivia yang kemudian dia justru yang pergi bukannya Albert yang diusirnya tadi.


"Kamu akan menyesali keputusanmu jika kamu masih terobsesi pada Gavriel. Kamu hanya akan membawa dirimu dalam jurang kesengsaraan yang tiada dasarnya, karena Gavriel itu selamanya tidak akan menjadi milikmu. Apapun usaha yang kamu lakukan Zi, dia hanya melihat sosok Audriana saja. Sejak dulu dan hingga selamanya, aku yakin hanya Audriana yang ada di hatinya. Kamu terlalu naif Zi, menganggap semuanya bisa kamu genggam tetapi kamu salah, dan semoga suatu saat nanti kamu bisa menemukan kebahagiaanmu."


 ....


Gavriel membantu Audriana membuka gaun pengantin yang begitu besar dan juga membuat Audriana merasa gerah karena sudah berjam-jam ia mengenakannya. Sebenarnya ia ingin turun dari pelaminan akan tetapi tamu undangan mereka yang jumlahnya ribuan itu silih berganti berdatangan dan ia tidak enak jika tidak menyambut kedatangan mereka.


Gavriel menelan salivanya dengan susah payah ketika ia melihat punggung mulus istrinya terpampang nyata di hadapannya. Sudah lama sekali Gavriel tidak pernah melihat tubuh Audriana walaupun ia pernah merasakannya, akan tetapi itu hanya sekali dan penuh dengan paksaan sebab Audriana pada saat itu menolaknya dan bahkan tidak mengikuti percintaan seperti yang ia rasakan.


Tangan Gavriel perlahan-lahan menyentuh kedua bahu Audriana dan membuat gerakan sensual hingga merangsang Audriana. Audriana memejamkan matanya, ia benar-benar dibuat merinding dengan sentuhan Gavriel. Apalagi ketika suaminya itu menjatuhkan kecupan tepat di punggungnya, hal itu membuat darah Audriana seakan berdesir. Ia hanya bisa menautkan jari-jemarinya karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku menginginkanmu, Dri," bisik lirih Gavriel dan Audriana tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah ketika suaminya telah berhasil meloloskan gaun pernikahannya dan kini hanya tinggal menyisakan tank top dan juga celana pendek miliknya.

__ADS_1


"Tapi aku belum mandi dan ini rasanya sangat gerah," tolak Audirana dengan halus, sebenarnya bukan sebuah penolakan karena tidak ingin tetapi karena ia merasa gugup.


"Apakah ini undangan untuk mandi bersama?" tanya Gavriel dengan seringai nakal di bibirnya.


Belum sempat Audriana memberi jawaban, tubuhnya sudah melayang di udara begitu Gavriel mengangkatnya. Tanpa persetujuannya Gavriel langsung membawanya ke dalam kamar mandi dan keduanya bermain air bersama. Tentu saja disana Gavriel melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka memadu kasih di ranjang panas pengantin.


Gavriel sama sekali tidak melepaskan Audriana, bahkan ketika keluar dari kamar mandi ia sudah menggendong istrinya tersebut dan tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu, ia langsung membaringkan tubuh Audriana di atas tempat tidur lalu mendidihnya.


Audriana menatap Gavriel dengan begitu lekat, ia kepayahan menelan salivanya saat ini sedangkan Gavriel terlihat begitu berhasrat. Jakunnya naik turun dan debaran jantungnya bahkan bisa didengar oleh Audriana. Napas mereka saling bersahut-sahutan dan dengan perlahan tapi pasti Gavriel mendaratkan ciumannya di bibir Audriana.


Ciuman itu lambat launn menjadi menuntut. Gavriel benar-benar tidak melepaskan Audriana dan ia membuat istrinya itu terbuai dan melayang ke nirwana. Audriana yang tadi masih mengenakam bathrobe itu kini sudah polos dan jubah mandi itu telah tergeletak di lantai, begitupun dengan handuk yang dikenakan Gavriel.


Dibeberapa bagian tubuh Audriana sudah dipenuhi tanda mereka, Gavriel benar-benar memangsa istrinya ini dan Audirana pun hanya bisa pasrah sambil menikmati tiap sentuhan yang diberikan oleh Gavriel.


"Aww!!" Audriana memekik ketika Gavriel mulai memasukkan juniornya.


Gavriel tentu tersentak kaget. Yang ia tahu Audriana tentu tidak akan merasakan sakit lagi karena ia sudah membuka segel tersebut dan lagi pula Audriana sudah melahirkan anak mereka.


"Apakah masih sakit? Bukankah ini adalah yang kedua kalinya?" tanya Gavriel menjeda kegiatannya.


Rasanya Audriana ingin memukul wajah Gavriel. Ia tidak mengerti apakah suaminya ini paham dengan hal seperti ini atau tidak. Tapi Audriana jelas sangat bersyukur karena ia yakin Gavriel hanya melakukan hal ini dengannya saja.


"Dasar mafia bodoh, aku melakukannya denganmu itu sudah bertahun-tahun lamanya dan aku tidak pernah melakukan ini lagi. Jelas saja ini sangat sakit. Coba saja kamu yang ada di posisiku saat ini. Dasar otak ************," umpat Audriana yang membuat Gavriel terbengang.


Aktivitas panas tadi kini berubah menjadi panas tetapi bukan karena mereka berkeringat melainkan karena hari Audirana tengah kesal.


"Ya sudah, bagaimana kalau aku yang berbaring dan kamu yang bergerak di atas. Aku akan menggantikan posisimu jika kamu merasa posisimu tidak nyaman."

__ADS_1


kriikk .. Kriikkk ...


__ADS_2