OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 147


__ADS_3

Natha saat ini tengah memperhatikan Bianca yang sudah melakukan presentasi. Mereka kembali bertemu pada sebuah meeting dimana perusahaan yang bekerjasama dengan mereka mengadakan pertemuan untuk membahas sebuah proyek besar yang nantinya akan dikerjakan masing-masing perusahaan yang memenangkan tender.


Dan saat ini Bianca mewakili perusahaannya sedang mempresentasikan bagian yang menjadi tugasnya. Natha sendiri langsung mewakili perusahaannya juga untuk mempresentasikan bagian yang ditugaskan padanya.


Proyek tersebut dibagi-bagi dalam tiga bagian. Bagian pertama yaitu desain beberapa lantai bangunan. Bagian kedua yaitu desain bagian depan dan bagian ketiga adalah desain area belakang bangunan tersebut. Dan proyek besar tersebut akan membangun sebuah hotel sehingga mereka membutuhkan jasa dari para pendesain sedangkan Natha sendiri bukanlah seorang arsitektur.


Namun semenjak Natha bangkit dari keterpurukannya, ia sudah mengambil beberapa pembelajaran tentang desain interior sehingga kini ia bisa berada di ruangan ini untuk memenangkan tender yang akan menjadi bagiannya, dimana ia memiliki dua perusahaan saingan. Begitupun dengan masing-masing bagian yang lain juga memiliki dua perusahaan yang bersaing bersama mereka.


Kenapa dia terlihat semakin cantik ketika kecerdasannya ditampilkan? gumam Natha dalam hati, ia masih memperhatikan Bianca yang begitu cakap saat menjabarkan bagian yang menjadi tugas mereka.


Bianca sendiri tahu jika sedari tadi Natha memperhatikannya. Hanya saja ia bingung apakah pria yang pernah mengajaknya menjalin hubungan serius itu sedang memperhatikan presentasinya atau hanya sedang memperhatikan dirinya saja yang sedang berbicara di depan.


Memikirkan pemikiran keduanya itu membuat Bianca terkekeh dalam hati. Ia yang baru saja selesai melakukan presentasi membalas tatapan Natha dengan tatapan tajam sehingga pria tersebut langsung memalingkan wajahnya.


Selanjutnya giliran Natha yang mempresentasikan bagiannya dan ini akan menjadi kelompok terakhir. Natha yang tadinya ingin memperlihatkan kepiawaiannya dalam mempresentasikan kinerjanya, mendadak mengurungkan niatnya. Ia justru memilih Daren — sang asisten kesayangan untuk melaksanakan tugasnya.


Saat ini Natha hanya ingin fokus menatap Bianca saja. Sudah hampir seminggu wanita ini tidak pernah bertemu dengannya lagi. Mereka memang menjalin hubungan kerjasama dalam sebuah proyek, akan tetapi Natha yang begitu sibuk tentu saja tidak bisa meluangkan waktunya untuk terjun langsung pada proyek yang ia urus bersama Bianca.


Setelah meeting tersebut selesai, para peserta meeting pun masing-masing kembali ke perusahaan mereka sedangkan Natha yang melihat Bianca berjalan bersama sekretarisnya pun menghampirinya.


"Halo nona Bianca Adiguna, bagaimana kabarmu? Mengapa begitu sulit menghubungi?" tanya Natha sok akrab.


Bianca menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sapaan Natha yang berada tepat di belakangnya. Ia pun meminta sekretarisnya untuk lebih dulu kembali ke mobil karena ia ingin berbicara dulu dengan Natha.

__ADS_1


"Bukankah sudah pernah aku katakan jika aku ini adalah seseorang yang sangat sibuk! Dan bukankah aku juga sudah membalas pesan-pesanmu ... ya walaupun terlambat 'kan setidaknya ada, karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," jawab Bianca yang membuat Natha tergelak.


Senyuman manis dan anggukan ia berikan kepada Bianca. Ia kemudian mengajak wanita itu untuk berjalan bersamanya menuju ke lobi perusahaan, sedangkan Daren di belakangnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bosnya itu tengah kasmaran.


Semoga saja dia wanita yang tepat untuk Natha. Aku sudah lama menantikan dia menemukan seorang wanita yang bisa mendampinginya dan dari yang aku perhatikan ke ini sangat baik jika disandingkan dengan Natha, keduanya terlihat sangat serasi. semoga mereka berjodoh Aamiin.


Daren hanya bisa membatin karena jika dia mengeluarkan kata-katanya, bisa jadi Natha akan mengamuk padanya karena sudah beberapa hari ini Natha merajuk sebab Daren akan menikah sedangkan dirinya sama sekali tidak memiliki kekasih.


Sesampainya di samping mobil Bianca, Natha pun memberanikan diri untuk mengajak wanita itu makan makan malam bersama nanti malam. Bianca awalnya berpikir dan akhirnya ia tersenyum dan mengiyakan ajakan Natha.


"Aku akan menjemputmu nona Bianca Adiguna," ucap Natha dengan begitu senang.


Bianca tertawa, ia sebenarnya menyukai Natha sejak pertama, hanya saja ia tidak ingin menunjukkannya karena ia takut hanya menjalin cinta sendiri.


Malam hari pun tiba, Natha datang untuk menjemput Bianca dan ia dibuat terpesona karena kecantikan Bianca yang menurutnya sangat alami dan menawan.


Di samping Bianca ada tuan Adiguna yang akan memberikan wejangan sebelum mereka keluar. Bianca dibuat malu oleh ayahnya itu karena tuan Adiguna langsung menanyakan kapan Natha akan datang melamar. Walaupun ia tahu itu hanya gurauan ayahnya saja, tetapi baginya itu adalah sebuah kekonyolan.


"Tentu saj secepatnya, seperti yang Anda inginkan," ucap Natha penuh percaya diri.


Natha pun mengajak Bianca untuk segera pergi dan menikmati malam bersama. Natha membawanya ke restoran dan menikmati makan malam dengan suasana yang romantis. Tidak ada obrolan dari keduanya, sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing dan menikmati makanan serta menuman yang sudah dihidangkan.


Ada banyak hal yang ingin Natha bicarakan akan tetapi ia menunggu Bianca selesai menikmati makanan utamanya. Dan ketika Bianca meletakkan sendok dan garpu miliknya, Natha pun tersenyum dan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Bi, aku punya sebuah permintaan dan apakah kamu mau mengabulkannya?" tanya Natha dalam mode serius.


Bianca menatapnya dengan tenang. Ia tersenyum ramah dan merasa lucu karena Natha yang tadinya terus bercanda bersama ayahnya di rumah mendadak jadi orang yang paling serius seperti mereka sedang melakukan rapat saja.


"Katakan dulu baru aku bisa memutuskan," jawab Bianca.


"Sahabatku akan menikah dan dia memaksaku untuk datang. Tapi ... dia tidak ingin aku datang sendirian, dia menginginkan aku datang bersama pasangan. Berhubung wanita yang ingin aku jadikan pasangan hidup itu adalah kamu, jadi aku bertanya apakah kamu bersedia ikut bersamaku ke Singapura?"


Pertanyaan Natha tersebut hampir saja membuat Bianca tersedak desert yang baru saja ia coba. Natha membuatnya menghayal terlalu tinggi dan sialnya wajah Natha terlihat sangat serius.


"Ka-kamu jangan bercanda," elak Bianca.


Natha menggeleng, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bercanda.


"Mungkin ini terlalu cepat, aku juga sudah memastikannya sendiri dan aku menemukan bahwa aku memang sudah menaruh hati padamu. Mungkin ini terdengar konyol, tapi Bianca Adiguna, aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama dan jangan coba-coba tanya alasannya mengapa karena jauh cinta tidak butuh alasan," ucap Natha mempertegas perasaannya terhadap Bianca.


Bianca terdiam, ia bukannya tidak menerima ungkapan Natha, hanya saja ia tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan diri sebab perasaannya terhadap Natha terbalaskan. Perhatian kecil Natha lewat pesan singkat dan keberanian Natha di awal mereka berkenalan itu sudah membuat Bianca memberikan nilai tersendiri terhadap Natha.


"Jawab Bianca, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku? Aku tidak memintamu menjadi kekasihku, aku menginginkanmu menjadi pendamping hidupku. Tapi ... jika belum menemukan jawabannya pun tidak masalah, pikirkanlah dulu. Namun, tolong beri kepastian tentang kesediaanmu menemaniku ke Singapura," ucap Natha dengan tenang, terlihat jelas ia tidak memaksa Bianca akan tetapi menaruh harapan besar padanya.


Bianca bingung hendak berkata apa. Ia sebenarnya sangat ingin ikut bersama Natha dan yang paling penting ia sangat ingin mengatakan bahwa ia bersedia. Akan tetapi ini semua terlalu dini dan Bianca tidak ingin salah mengambil keputusan.


"Akan aku beri jawabannya besok. Aku harus mengecek jadwalku dulu karena tidak bisa sembarang mengambil cuti walaupun aku pemilik perusahaan tersebut," jawab Bianca berusaha diplomatis.

__ADS_1


Natha tersenyum senang. "Baiklah, sekalian dengan jawaban perasaanku jika bisa," ucap Natha terkekeh sedangkan Bianca memalingkan wajahnya karena merasa malu.


__ADS_2