
Setelah berdebat dengan pemikirannya akhirnya Daren memutuskan untuk pulang dan menemui sang kakak. Ia juga mengatakan hanya untuk sebentar dan ia akan segera kembali lagi ke Singapura. Ia merindukan sang kakak dan juga ingin bertanya tentang masalah sebenarnya, akan tetapi ada rasa khawatir di hati Daren. Ia yakin justru ketika ia sampai disana, kakaknya malah kembali berusaha menghabisinya.
"Aku hanya khawatir itu saja Audri. Kita tidak akan tahu hal kedepannya dan rencana orang seperti apa terhadap kita, kita tidak akan tahu!" ucap Daren.
Audriana paham, walau bagaimanapun Zicko dan Natha sudah pernah melakukan kejahatan terhadap Daren. Sangat wajah jika pria ini menaruh curiga terhadap mereka.
"Kamu benar, dan sebaiknya kamu berhati-hati jika sampai disana," ucap Audriana turut merasa khawatir.
Obrolan keduanya terus berlanjut dan sudah berganti topik saat mereka masuk ke dalam mobil dan seorang sopir langsung mengemudikan mobil tersebut menuju ke kediaman Dameer.
Berbeda halnya dengan pria yang saat ini sedang melamun, ada rasa ngilu di hatinya namun ia tetap tersenyum kala kenangan itu menghampirinya.
Flash back
Hingga sore itu ia yang baru saja berkelahi dengan mamanya pun keluar dari rumah dan mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan seperti orang kesetanan saat mengendarai mobilnya hingga ia tidak melihat seorang gadis yang hendak menyeberang jalan dan dengan cepat Natha menginjak rem mobilnya namun sayang ia tetap tidak bisa menghindari tabrakan.
__ADS_1
Natha bergegas keluar dari mobil dan mendapati seorang gadis cantik tengah meniup-niup luka di lututnya. Untung saja gadis itu tidak terluka parah. Natha pun membantunya untuk di bawa ke rumah sakit.
"Siapa namamu?" tanya Natha tanpa minat, ia hanya ingin berbasa-basi saja agar ketika ia membawa gadis itu ke rumah sakit ia tahu identitas korbannya ini.
"Apa itu penting? Aku hanya ingin diobati dan tidak ingin berkenalan denganmu," sahutnya ketus.
Natha terbelalak, berani sekali gadis ini padanya. Ia melirik gadis itu yang tengah menahan tangis karena perih pada bagian lukanya. Ia tersenyum miring.
"Menangis saja, tidak usah sok jaga image," cibir Natha.
"Kau, kau sudah menabrakku dan bunga-bunga yang aku jual menjadi hancur semua. Kau harus ganti rugi jika tidak mau aku laporkan. Dasar kriminal!" sungutnya.
"Kau bilang apa tadi? Aku kriminal? Mau aku tunjukkan seperti apa itu kriminal?" Natha sebenarnya hanya berniat menakuti gadis ini tetapi yang terjadi justru dirinya yang ketakutan. Gadis ini dengan nekat membuka pintu mobil yang lupa untuk Natha kunci dan ia hendak melompat.
"Kau diamlah dan tenang. Aku bukan kriminal dan aku akan mengganti jualanmu itu. Aku juga akan mengobatimu, tenanglah," bujuk Natha.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum sumringah yang membuat Natha mengerutkan dahinya.
"Nah gitu dong, biar aku nggak perlu drama loncat dari mobil. Tertabrak saja sudah sesakit ini, apalagi loncat dari mobil. Nggak mau lah aku," kekehnya.
Mata Natha terbelalak, jadi ia baru saja dikerjai dan dirinya dengan bodohnya masuk dalam perangkap.
"Terima kasih, aku Audriana. Panggil saja Audri."
Natha mendengus, "Aku Natha. Tidak senang berkenalan denganmu," ketusnya.
Sedangkan Audriana, gadis itu malah tertawa.
Natha tersenyum kala mengingat awal pertemuannya dengan Audriana. Sesuatu yang begitu manis untuk ia kenang dan begitu sedih ketika mengingat kondisi Audriana saat ini.
Flashback Off ...
__ADS_1
"Audriana, selamanya aku akan mencintai kamu. Entah kapan perasaan ini akan hilang!"