OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 156


__ADS_3

"Halo anak Daddy, apa kabar?"


Ferdinand langsung mengambil alih Gea ke dalam gendongannya, sudah lama sekali ia tidak bermain dengan gadis kecil ini, apalagi karena ia sibuk memata-matai Sheila. Belum lagi ia sibuk dengan jatuh cinta dan banyak lagi kegiatan yang ia lakukan di luar sana.


"Daddy datang! Gea sangat rindu sama Daddy," ucap gadis kecil itu memeluk posesif leher Ferdinand.


"Tentu saja!" Ferdinand bisa leluasa memeluk keponakannya ini dan bercanda serta bermain bersama karena saat ini Gavriel tidak berada di sini untuk mengawasinya. Kakaknya itu tentu sibuk di kantor dan juga tidak mungkin menemui Audriana karena besok adalah hari pernikahan mereka.


Audriana yang masih keturunan Indonesia tentu masih menganut sistem pingit, dimana calon pengantin tidak boleh bertemu dulu sebelum hari pernikahan dan tentu saja itu juga membuat Gavriel resah karena ia tidak bisa jika tidak memandang wajah kekasihnya itu.


"Gea main apa sayang?" tanya Dinand.


Gea pun menjelaskan jika ia sedang bermain petak umpet dengan Devan dan sekarang dia sedang mencari keberadaan Devan. Dinand pun menurunkan Gea dari gendongannya dan ia menanyakan keberadaan Audriana.


Gea berlari mencari Devan sedangkan Dinand berjalan ke arah kamar Audriana karena ia berniat untuk curhat pada Audriana tentang payah hatinya. Kesempatan yang langkah karena kakaknya yang sangat posesif itu pasti tidak akan membiarkannya mendekati Audriana.

__ADS_1


"Oh jadi sekalian menjaga bibimu disini? Lalu siapa yang menunggui di rumah sakit?" tanya Audriana.


"Adikku, anak dari bibiku. Kasihan sekali mereka, jadi target pembunuhan karena rasa iri ibu tirinya sebab ayahnya masih memberi nafkah padanya. Lucu sekali bukan?" ucap Bianca dengan bibir yang tersenyum miris.


Degg ...


Ferdinand seolah merasa bahwa yang sedang dibicarakan itu adalah Sheila karena ceritanya sangat mirip dengan kisah Sheila. Ferdinand menahan diri untuk tidak langsung membuka pintu, ia masih ingin mendengarkan kembali pembicaraan mereka agar lebih pasti.


"Rencananya dia akan melanjutkan studi juga di negara ini setelah bibiku sembuh. Dia sangat pandai tapi karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan dan kami juga baru bertemu, aku jadi merasa bertanggungjawab atas adikku itu," lanjut Bianca, wajahnya terlihat sedih dan Audriana langsung mengusap bahunya mencoba menyalurkan semangat.


Bianca tersenyum mendengar ucapan Audriana tersebut. Bukan memanfaatkan tetapi siapa yang tidak mengenal keluarga Mazeen dan Dameer, Bianca merasa adiknya akan aman berada di negara ini. Otak Bianca juga berpikir bahwa ada peluang untuk bekerja sama dan memperbesar bisnisnya.


"Sheila, namanya Sheila," jawab Bianca.


Deggg ...

__ADS_1


Dengan cepat Dinand membuka pintu kamar Audriana karena ia sudah tahu dan pasti jika orang yang ia cari bisa ia dapatkan infonya dari orang di dalam. Dinand yakin yang berada di dalam sana adalah anak dari tuan David Adiguna.


"Apakah Anda adalah anak dari tuan David Adiguna?" tanya Dinand tanpa basa-basi.


Audriana dan Bianca terkejut karena kedatangan Dinand yang tiba-tiba.


"Dinand, kamu kenapa?" tanya Audriana yang sempat terbengang karena kelakuan Dinand yang mengejutkan mereka.


Ferdinand tidak langsung menjawab, ia mendekati Bianca dan meraih tangannya. Kebetulan sekali juga Natha datang dan langsung menarik baju Ferdinand dari belakang.


"Jangan sentuh calon istriku sembarangan, Tuan Mazeen!" ucap Natha dengan penuh penekanan.


Ferdinand mengangkat tangannya dan ia terkejut karena ternyata itu adalah Natha. Ia langsung bisa menyimpulkan bahwa yang mendalangi pengelabuan kepergian Sheila pasti adalah mafia ini.


"Dia adalah calon kakak iparku. Aku adalah kekasih Sheila dan katakan dimana dia sekarang, aku akan melamarnya!"

__ADS_1


"Apa?!" pekik Audriana, Bianca dan Natha bersamaan.


__ADS_2