
"Brengsek!"
Bastian mengumpat, ia sudah tidak bisa lagi mencari tempat persembunyian karena sejak Gavriel dan Adrian mengerahkan seluru anggota mereka dan berbekal surat izin dari kepolisian, ia sudah beberapa kali berpindah-pindah sedangkan tuan Zeller sudah kembali ke Negera tempat ia tinggal selama ini.
Tuan Zeller memang hanya sesekali datang ke negara ini sebab ia memiliki bisnis di negara lain yang lebih ia utamakan.
Bastian menatap putri Gavriel yang sedang terlelap. Ia tidak membunuh anak itu sebab ia juga memiliki seorang putra yang usianya tidak jauh berbeda dari Gea. Bastian memang menculik Gea tetapi bukan untuk membunuhnya, ia hanya ingin membuat Gavriel sadar kalau berurusan dengannya akan berakibat fatal.
Ia ingin mengakuisisi kelompok Mazeen dengan menyandera putrinya itu, tetapi yang terjadi justru tidak berakhir sesuai rencananya. Ia harus memikirkan cara lain agar bisa lepas dari amukan Gavriel tetapi ia juga mendapatkan keuntungan.
"Aku harus membawa anak ini ke rumah Farah. Di sana ada Harris yang seusia dengannya, setelah itu aku akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan keuntunganku," gumam Bastian.
Ia mengemasi barang-barangnya, ia tidak akan membangunkan anak ini karena tidurnya sangat nyenyak. Bagaimana pun Bastian sangat membutuhkan Gea sebagai opsi pertukaran jika saja Gavriel menggila dan hendak membunuhnya.
Bastian keluar dari rumah, ia memandang sekitar di mana saat ini ia berada di sebuah gubuk yang hampir roboh. Ia sudah berpindah-pindah tempat untuk dua hari ini. Setiap sudut di negara ini dipenuhi dengan anak buah Gavriel dan Adrian sehingga ia kesulitan untuk menetap.
__ADS_1
Bastian menelepon Farah dan kebetulan wanita yang menjadi ibu tirinya padahal seusia dengannya itu dan yang paling penting wanita itu menyukainya juga pun langsung menjawab panggilannya.
Suara Farah terdengar khawatir. "Anak buah Gavriel bahkan sudah memeriksa rumahku," ucap Farah tanpa basa-basi ketika ia menjawab panggilan dari Bastian.
Sebuah lengkungan tipis tertarik hingga ke pipi Bastian. Ini adalah kabar yang memang ia tunggu.
"Itu bagus," ucapnya.
Farah terhenyak. "Bagus katamu? Aku bahkan hampir mati berdiri dan untung saja mereka tidak tahu siapa aku," ucap Farah kesal, Bastian seakan menggampangkan segalanya.
Farah tahu Bastian tidak membalas cintanya. Ia dulu kecewa berat pada pria ini, Farah sudah mengejarnya bahkan ia mengabaikan cinta pertamanya yang belakangan ia ketahui adalah saudara sepupu Bastian yang yaitu Ikram Elard (Ikram Elard itu salah satu tokoh di novel Gadis Taruhan Alvaro ðŸ¤)
Sayang sungguh sayang, ia bahkan sampai detik ini tidak bisa menyentuh hati Bastian sedangkan Brandon Elard pun hanya mengambil keuntungan dari dirinya dengan dia yang masih muda hanya untuk bersenang-senang semata, selebihnya Brandon lebih sering membuat hidupnya menderita.
"Jangan salah paham dulu, Farah. Aku mengatakan ini bagus karena aku bisa menitipkan Gea padamu. Mereka tidak akan memeriksa rumahmu dua kali, bukan? Mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Gea di sana sehingga akan aman jika aku menitipkannya di sana. Kamu pasti paham maksudku," ucap Bastian mencetuskan idenya.
__ADS_1
Farah menghela napas berat. Ide Bastian memang tidak salah, tetapi sangat berisiko untuknya dan juga putranya. Tetapi Farah yang begitu bertekuk lutut pada Bastian walau tidak pernah merasakan cintanya berbalas itu pun akhirnya setuju.
Bastian menyeringai, setelah mendapatkan persetujuan dari Farah, ia segera mengecek keadaan Gea yang ternyata sudah bangun. Anak kecil itu sedang menangis karena memang ia selalu begitu, mencari keberadaan orang tuanya sedangkan Bastian selama ini selalu mengancamnya hingga membuat anak kecil itu berhenti menangia. Ia memang tidak membunuhnya tetapi ia menyakiti perasaan anak itu.
"Berhentilah menangis karena sebentar lagi kita akan pergi menemui ayahmu," ucap Bastian tanpa berperasaan dan tanpa pernah membujuk anak itu ketika sedang menangis.
Mata Gea berbinar-binar, ia menghentikan tangisnya sambil sesekali melihat apa yang sedang dilakukan oleh Bastian. Gadis kecil yang biasanya cerewet itu kini hanya bisa diam tanpa berani berbicara. Hampir seminggu bersama pria ini Gea selalu takut karena dulu pernah ia berbicara dan bertanya serta menangis menginginkan kedua orang tuanya, Bastian memukulinya hingga ia kesakitan dan trauma.
"Sekarang kita pergi," ucap Bastian dan ia segera mengajak Gea pergi. Tak lupa ia meninggalkan jejak agar nanti jika orang suruhan Gavriel maupun Adrian sampai ke tempat ini, mereka kembali diliputi kemarahan karena langkah mereka begitu lamban sehingga ia bisa secepatnya melarikan diri.
'Setelah ini entah itu Gavriel Mazeen atau Adrian Dameer, mereka pasti merasa menjadi orang yang paling payah di muka bumi ini. Hahaha ... nyawa putri kalian sangat berharga bukan? Tebusannya tentu tidak segampang itu. Bersiaplah untuk menukar nyawa dengan nyawa,' ucap Bastian dalam hati. Ia terus saja tertawa seakan rencananya ini yang paling the best dan ia yakin berhasil.
...
"Mereka sempat berada di gubuk ini. Brengsek! Kita kehilangan jejak lagi, sepertinya dia selalu memiliki jalan pintas untuk bisa segera pergi dan menghindar dari kejaran," umpat Albert yang datang bersama Zicko dan Natha.
__ADS_1
Bastian memang meninggalkan jejak sebuah surat dan juga pakaian yang pernah Gea pakai saat ia diculik pagi itu.
"Mereka pasti belum jauh dari sini. Mari kita keja," ajak Albert, ia yakin setidaknya mereka bisa menemukan jejak lain agar bisa membawa Gea kembali pulang ke rumahnya.