OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 197


__ADS_3

"Minggir!"


mendengar suara yang sangat ia kenali itu langsung membuat Bastian ketar-ketir. Ia harus segera pergi dari sini saat ini juga dan membawa Gea. Untung saja ia berada di dekat pintu samping sehingga ia bisa langsung kabur tak lupa membawa Gea dalam gendongannya.


Mendengar keributan dari dalam, Adrian langsung berlari kedalaman mendorong Farah dan ia melihat pintu samping terbuka. Tanpa pikir panjang Adrian langsung mengejarnya dan begitu ia melihat Bastian berlari menggendong Gea berusaha mencapai mobilnya, satu peluru ia tembakkan dan berhasil mengenai kaki Bastian. Adrian tidak ingin mengambil risiko menembak tangan Bastian yang mungkin saja akan mengenai keponakannya itu.


Sambil tertatih-tatih Bastian berlari berusaha menjauh tetapi Adrian semakin dekat.


"Aku harus melepaskan anak ini. Nyawaku lebih penting dan aku akan datang lagi untuk membalas dendam!" ucap Bastian kemudian ia melepaskan Gea sejurus kemudian ia melihat Farah sedang memegang senjata api dan bersiap menembak Adrian.


Doorr ...


satu tembakan berhasil mengenai lengan Adrian dan itu menghentikan langkahnya. Ketika Adrian hendak terbalik, Farah langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menggendong Harris lalu dengan buru-buru ia membawa putranya itu keluar dan masuk ke dalam mobil lalu mereka meninggalkan rumah itu.


"Sial!" umpat Adrian kemudian ia berbalik dan sudah tidak mendapati Bastian lagi. Ia hanya melihat keberadaan Gea yang sedang duduk di tanah sambil menangis tanpa suara.


Tanpa mempedulikan lukanya Adrian langsung menghampiri keponakannya dan menggendongnya dengan sebelah tangan yang tidak terkena tembakan. Adrian menangis sambil mencium puncak kepala Gea karena akhirnya ia berhasil menemukan keponakannya itu. Ia yang paling merasa bertanggung jawab karena saat itu ia yang menjaga Gea tetapi ia bisa kecolongan.


"Kamu aman sekarang sayang, uncle akan membawamu pulang sekarang," bisik lirih Adrian kemudian ia segera membawa Gea ke mobilnya.


Gea yang melihat Adrian dan mengenalinya tidak mau melepaskan diri dan alhasil Adrian menyetir mobil sambil memeluk Gea dengan tangannya yang bersarang peluru.


Hati Adrian begitu teriris melihat keponakannya yang paling ia sayangi hanya bisa menangis tanpa suara. Ia yakin sekali keponakannya ini sudah mengalami trauma beberapa hari bersama Bastian, entah apa yang sudah pria itu lakukan pada keponakannya tetapi Adrian bersumpah akan menghabisi pria itu dengan tangannya sendiri.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah dan akan bertemu dengan Mommy dan Daddy," ucap Adrian berusaha menghibur keponakannya tersebut. Ia juga mulai merasakan ngilu yang luar biasa dari timah panas yang masih bersarang di dalam tubuhnya.


'Aku harus segera membawa Gea pulang dan mengobati lenganku. Peluru ini harus segera dikeluarkan,' ucap Adrian dalam hati.


Mobil itu dikemudikan Adrian dengan pelan-pelan, selain tangannya sakit ia juga tidak ingin membuat keponakannya merasa semakin cemas. Ia bisa melihat ada ketakutan yang luar biasa dari keponakannya ini sehingga Adrian harus membuatnya merasa senyaman mungkin bersamanya. Untung saja Gea bisa mengenalinya, jika tidak mungkin anak ini tidak akan mau dibawa olehnya.


"Bastian awas aja kau! Kau pasti akan segera mati di tanganku. Kau sudah membuat adik tersayangku depresi dan sekarang kau sudah membuat keponakanku trauma. Siksaan yang paling pedih akan aku berikan kepadamu sebelum Tuhan menyiksamu!" teriak Adrian dan Gea hanya bisa menangis tanpa bersuara.


Sementara itu mobil di berbeda Bastian dan Farah masih saling bertengkar. Bastian merasa terjebak karena Farah mengatakan rumahnya sudah digeledah oleh anak buah Gavriel sehingga ia datang ke tempat itu. Sedangkan Farah juga merasa harus membela dirinya karena jika ia tidak menembak Adrian maka Bastian bisa saja sudah tinggal nama saat ini.


Farah menatap Harris lewat kaca spion, saat ini putranya itu telah menangis dan ia begitu kesal kepada Bastian karena tidak tahu terima kasih sudah ia tolong tetapi masih saja terus menyalahkannya.


"Jika kamu ingin menyalahkanku maka sebaiknya kamu turun dari sini. Pergi saja kepada Hans, bukankah tadi Hans yang menanyakan di mana keberadaanmu, apakah tadi kamu tidak curiga jika saja yang menghubungimu itu bukanlah Hans melainkan Adrian Dameer. Di sini Kamu yang bodoh bukan aku!" sentak Farah yang sudah kesal, apalagi saat ini ia yang menyetir mobil sedangkan Bastian hanya bisa mengomel.


"Kamu sendiri yang mengatakan bahwa rumahmu sudah selesai digeledah, lalu apa tadi?" bantah Bastian yang lagi-lagi tak ingin kalah.


Farah mendengus. "Iya, anak buah Gavriel sudah selesai memeriksa rumahku tetapi kita tidak akan tahu ternyata Adrian Dameer akan memeriksa dua kali! Sekarang kamu akan kemana, apakah kita akan langsung kembalikan New Zealand saat ini juga?" tanya Farah, walaupun ia kesal tetapi pria ini adalah orang yang ia cintai hingga ia mencampakkan cinta pertamanya dan juga meninggalkan keluarganya.


Bastian hanya bisa terdiam. Sebenarnya ia tidak bisa menyalahkan Farah tetapi karena ia merasa begitu kesal tidak mendapatkan uang jaminan—tidak membuat Gavriel tunduk padanya—dan juga melepaskan anak itu, semua membuatnya merasa geram. Ia tidak mendapatkan apapun dari penculikan yang ia lakukan berhari-hari.

__ADS_1


"Arrrggg!!" teriak Bastian.


Farah hanya bisa menatap Bastian tanpa ingin mengomentari. Ia sudah bosan berdebat dan ia ingin segera sampai ke bandara sebelum menemukan mereka lagi.


"Bagaimana dengan Hans?" tanya Bastian ketika ia mulai merasa tenang.


Farah melirik sinis pada Bastian lalu berkata, "Jika kamu ingin menghubungi Hans silakan. Tetapi jangan sampai kita ketahuan oleh mereka lagi, aku hanya ingin kembali ke rumah dengan selamat dan baik-baik saja. Jika kamu masih ingin di sini ya sudah, silakan turun dan selesaikan semua misimu!" ucap Farah dengan ketus.


Bastian langsung menutup rapat-rapat mulutnya. Kali ini yang membenarkan ucapan Farah jika ia tidak boleh bertindak gegabah. Mungkin saja saat ini Hans sudah berada di tangan anak buah Adrian maupun Gavriel.


"Baiklah, baiklah. Sekarang pergilah ke bandara, kita harus segera pulang ke rumah," ucap Bastian memilih mengalah.


Farah menghela napas. Akan lebih baik seperti ini, Bastian mengalah dulu padanya namun ia tiba-tiba teringat dengan peluru yang masih bersarang di kaki Bastian, mereka sebaiknya mengobatinya lebih dulu.


"Apakah masih ada waktu untuk mengobati lukamu lebih dulu?" tanya Farah sambil melirik kaki Bastian yang terus saja mengeluarkan darah.


Bastian mengikuti arah pandang Farah kemudian ia menggeleng. "Sudah tidak ada waktu lagi," ucapnya.


Farah berdecak. "Kita akan ke rumah sakit dulu untuk membersihkan lukamu dan juga mengeluarkan peluru itu. Lagi pula tidak ada penerbangan ke New Zealand saat ini di jam ini, juga penerbangan ke tempat lain belum ada jam segini. Kita harus memesan tiket dulu, sambil menunggu mari kita ke rumah sakit yang tidak mungkin bisa dilacak oleh Gavriel maupun Adrian."


Bastian hanya bisa menurut. Lagi pula ia tidak bisa menahan belasan jam di pesawat dengan sebuah peluru di kakinya. Akan lebih baik mereka menepi dulu ke rumah sakit atau sebuah klinik untuk membantunya.


Bastian mencuri pandang pada Farah yang sedang menyetir mobil. Ia tersenyum tipis melihat bagaimana wanita yang ia tahu jatuh cinta padanya tetapi malah menjadi ibu tirinya sekarang. Ia memang tidak bisa membalas perasaan Farah tetapi selama ini ia juga tahu jika Farah sama sekali tidak menghilangkan perasaan itu. Entah ia harus bagaimana lagi agar membuat Farah melepas perasaannya sedangkan ia memanfaatkan wanita ini demi kepentingannya sendiri.


Mobil Farah berhenti di depan sebuah klinik. Ia tidak berani membawa Bastian ke rumah sakit karena mungkin saja mereka di jalan bertemu dengan anak buah Adrian maupun Gavriel. Ia harus meminimalisir risiko, lagi pula Bastian pasti saat ini sudah sangat kesakitan.


Bastian masuk ke dalam klinik dipapah oleh Farah sedangkan ia membiarkan Harris berada di dalam mobil. Sambil menunggu penanganan untuk Bastian, Farah langsung mengecek penerbangan hari ini di waktu terdekat. Ia menemukan satu penerbangan tetapi mereka tidak akan bisa langsung sampai, harus melakukan dua kali penerbangan tetapi demi menyelamatkan diri, semua ini harus mereka lakukan.


Farah menatap ke dalam ruangan di mana Bastian tengah diobati. Ia mulai mengkhayal lagi bagaimana jadinya jika Bastian adalah suaminya dan ia adalah istrinya Bastian, pasti akan sangat bahagia rasanya.


'Harusnya aku membunuh istrinya Bastian saat tengah mengandung Keenan, bukan malah memanjat ranjang ayahnya. Ini sebuah kegilaan yang membuatku gila!'


Farah berteriak frustrasi dalam hati, ia sudah berusaha semampunya tetapi memang Bastian tidak pernah mau meliriknya bahkan menginginkannya walau sekadar one night stand pun tidak pernah.


Tak lama kemudian Bastian keluar dari ruangan. Farah tersenyum tipis kemudian ia kembali membantu Bastian berjalan ke mobil. Di dalam mobil Harris sedang memainkan ponselnya, Farah tersenyum pada anaknya itu kemudian ia segera mengemudikan mobil menuju ke bandara.


"Penerbangan kita kali ini tidak langsung ke New Zealand, kita akan singgah ke Australia lebih dulu. Jadwal penerbangan ke New Zealand lusa sedangkan kalau kita ke Australia, kita bisa beristirahat di sana dan juga kamu bisa bertemu dengan tuan Zeller yang lebih dulu melarikan diri," ucap Farah menerangkan sepanjang jalan. "Tidak bisa diandalkan," imbuhnya lirih, Farah merasa kesal terhadap tuan Zeller yang melarikan diri tanpa konfirmasi lebih dulu.


"Ya sudah bagaimana baiknya saja. Aku juga butuh istirahat di sana dan akan berbicara banyak hal dengan tuan Zeller," ucap Bastian mengalah.


....


Mobil Adrian kini terparkir di depan teras rumahnya, ia bahkan tidak lagi memperdulikan di mana ia berhenti. Adrian buru-buru membawa Gea ke dalam rumah untuk bisa membuat adiknya itu senang.

__ADS_1


Gavriel dan Audri yang kebetulan sedang berada di taman yang ada di samping rumah — sebab Gavriel ingin mengajak Audriana menghirup udara sore dan juga ingin mengajak istrinya itu berbicara agar bisa menghiburnya pun mendengar suara teriakan Adrian yang menggelegar di rumah.


"Audriana! Gavriel! Devi! Cepat berkumpul di sini ...!" teria Adrian yang sudah berada di ruang tamu.


Gavriel meninggalkan Audriana sebentar kemudian ia berlari ke ruang tamu dan melihat siapa yang sedang berada di dalam gendongan Adrian. Dengan mata berkaca-kaca Gavriel langsung menghampiri saudara iparnya itu kemudian ia mengambil alih ke dalam pelukannya.


"Ya Tuhan benar ini anakku, benar ini anakku. Syukurlah akhirnya kamu ditemukan," ucap Gavriel sambil membombardir wajah anaknya dengan ciuman.


Mendengar teriakan Gavriel yang mengatakan tentang anak membuat pikiran Audriana tersadar. Dengan perlahan-lahan ia berjalan masuk ke ruang tamu melalui teras samping dan ia melihat Gavriel sedang menggendong anaknya.


Audri langsung menangis kemudian dengan sisa tenaganya ia berlari ke arah Gavriel dan langsung mengambil alih anaknya. Ia memeluk Gea dengan penuh kasih sayang dan juga begitu erat sambil menghujani pipi dan kepala anak itu dengan ciuman.


"Anakku ... akhirnya kamu ditemukan, Nak. Akhirnya kamu kembali kepada Mommy. Di mana yang sakit Nak? Apakah kamu sudah makan? apakah dia memperlakukanmu dengan baik atau dia menyakitimu? Cepat katakan kepada Mommy," cecar Audriana, ia kemudian memeriksa seluruh bagian tubuh anaknya barangkali ada terdapat luka atau apapun itu.


Dari lantai atas Devi kemudian berlari menyusuri anak tangga dan langsung ikut bergabung. Ia memecahkan tangisnya begitu melihat keponakannya sudah berada di rumah dan dengan keadaan selamat tanpa kekurangan satupun.


Devi dan Adrian berpelukan kemudian suaminya itu meringis saat merasakan sakit yang tak tertahankan di lengannya.


"Ya ampun kamu tertembak! Ayo cepat aku akan membantu mengeluarkan peluru dari lenganmu," ucap Devi yang tadinya menangis karena terharu melihat keberadaan Gea di rumah ini langsung meringis melihat bagaimana kondisi suaminya yang berlumuran darah di lengannya.


"Gavriel, bawa Gea ke dalam kamar beserta Audriana. Nanti kita akan bicara lagi. Oh ya, jangan lupa untuk menghubungi anak buahmu karena di bagasi mobil ada Hans, anak buah Bastian," ucap Adrian yang membuat Gavriel juga Devi terkejut tetapi buru-buru Gavriel melakukan perintah Adrian sedangkan Devi membawanya ke dalam kamar untuk diobati.


Audriana tidak berhenti menangis begitupun dengan Gea, keduanya saling memeluk erat hingga sampai di dalam kamar. Audriana tidak berhenti dan tidak mau melepaskan Gea dari gendongannya, seakan anaknya itu akan pergi lagi jika ia sampai melepaskannya.


Di dalam kamar Audriana langsung membaringkan putrinya itu, kemudian ia mengusap-ngusap wajah dan juga kepalanya. Gavriel menangis haru tanpa suara melihat bagaimana istrinya akhirnya kembali kuat dan juga bisa tersenyum walaupun diselingi dengan air mata, karena ia tahu air mata itu adalah air mata bahagia.


"Apa kamu baik-baik saja, Nak? Apa kamu ingin makan sesuatu? Katakan kepada Mommy, akan Mommy berikan semuanya untukmu," tanya Audirana lagi.


Gavriel menyentuh pundak Audriana dengan lembut, kemudian istrinya itu mendongak dan menatapnya. Audriana langsung memeluk pinggang Gavriel yang berdiri di hadapannya, sedangkan ia sedang duduk di tepi ranjang. Pasangan suami-istri itu menangis bersama, menangis haru dan penuh dengan rasa syukur anak mereka sudah kembali dalam dekapan mereka.


"Anak kita pulang Iel, anak kita pulang ...," ucap Audriana dengan suara yang begitu lirih.


Gavril mengangguk. "Iya, anak kita pulang sayang ... akhirnya," balas Gavriel kemudian ia mengecup puncak kepala Audriana.


'Aku pun bahagia karena kamu akhirnya kembali ceria. Terima kasih kakak ipar, terima kasih Tuhan, anakku kembali dengan selamat dan istriku akhirnya senang. Sungguh beberapa hari ini terlewati dengan begitu berat, tetapi akhirnya Engkau memberikan kebahagiaan itu juga. Sungguh aku sangat bersyukur,' ucap lirih Gavriel dalam hati.


Audriana lalu melepas pelukannya dan berbaring di samping Gea. Ia tidak ingin meninggalkan anaknya sedetik pun, ia bahkan meminta Gavriel untuk membawakannya makanan dan minuman karena ia ingin makan dan juga menyuapi anaknya. Audriana menjadi overprotektif terhadap Gea dan ingin memastikan anaknya itu makan dengan lahap di hadapannya.


Dengan segera Gavriel memenuhi keinginan istrinya. Ia sangat bersemangat karena istrinya itu beberapa hari ini tidak makan dengan baik dan juga cenderung tidak ingin menyentuh makanan. Tentu saja mendengar istrinya ingin makan adalah sebuah kesyukuran untuknya.


Di dalam kamar, Audriana terus mengajak Gea bicara tetapi anaknya itu hanya menatapnya tanpa merespon apapun. Audriana menjadi panik, ia takut anaknya tidak bisa berbicara atau mengalami trauma sehingga ia kehilangan pita suaranya.


Gavriel datang bersama dengan nampan berisi makanan tetapi yang ia temukan adalah wajah cemas istrinya. Dengan cepat Gavriel menyimpan nampan makanan itu di atas nakas kemudian ia menghampiri Audriana.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita bawa Gea ke rumah sakit. Dia tidak baik-baik saja sekarang. Aku merasakan ada yang tidak beres dengannya. Ayo Gavriel ayo," ajak Audriana.


__ADS_2