
Langkah Sheila terburu-buru, ia merasa ketakutan karena ada dua orang di belakangnya sepertinya terus saja mengikutinya setelah ia bertemu dengan suami nyonya Wilda. Ia yakin sekali jika orang-orang itu adalah suruhan nyonya Wilda seperti biasanya. Ia harus bisa bersembunyi atau setidaknya mencari tempat yang ramai agar orang-orang itu tidak mendekatinya.
Apa salahku? Dia adalah ayahku dan aku berhak atas apa yang dimilikinya. Dia berkewajiban memberikan pembiayaan pada hidupku. Sungguh wanita jahat, sudah merebut ayah dari ibu lantas dia juga ingin membunuhku!
Sheila rasanya ingin sekali mengadu pada ayahnya akan tetapi ia tahu wanita rubah itu pasti lebih bisa memanipulasi semuanya sehingga ia yang selalu dipersalahkan. Tapi, Sheila tidak mungkin hanya diam saja jika tingkah ibu tirinya itu sudah kelewatan begini.
Jalanan cukup sepi sore ini di sekitar tempat Sheila berjalan, hanya beberapa pengendara dan juga orang-orang yang berjalan kaki bisa dihitung dengan jari, Sheila harus bisa menemukan tempat persembunyian agar tidak sampai di temukan oleh mereka.
Sheila menemukan sebuah mobil yang pemiliknya baru saja turun untuk berbincang dengan seseorang di depan sebuah ruko. Ia segera masuk ke jok belakang berharap pemilik mobil tidak akan memarahinya ketika ia ketahuan sudah menyelinap masuk.
Dua pria berbadan kekar berhenti di samping mobil yang dimasuki oleh Sheila. Mereka mencoba untuk mengintip ke dalam mobil namun sang pemilik mobil lebih dulu berbalik badan dan menegur mereka.
"Kalian mau merampok?" tegur Natha.
Dua pria itu menggeleng, mereka mengenali siapa Natha yang merupakan kaki tangan dari mafia yang bernama Albert. Pembunuh bayaran seperti mereka tentu saja harus mengenal baik siapa saja anggota mafia yang harus mereka hindari.
"Tidak Tuan, kami sedang mencari seseorang yang kabur dari rumah sakit jiwa," jawab salah satu dari mereka.
Natha hanya menatap datar dua pria tersebut dan ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Natha mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi karena ia sudah terlambat untuk sampai ke rumah Bianca, mereka memiliki janji temu sehingga Natha terburu-buru.
Harusnya tadi ia sudah hampir sampai, hanya saja ia tak sengaja bertemu dengan Dicky — suami Fidelya saat ia berhenti untuk membawakan buah tangan berupa kue dari toko dimana Dicky baru saja keluar dari sana. Mereka berbincang sebentar lalu Natha mengambil kue pesanannya.
"Bi-bisakah pelan sedikit?"
Spontan saja Natha menginjak rem mobilnya mendengar suara seseorang di belakangnya. Natha menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis sedang duduk di lantai mobilnya sambil berpegangan kuat.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Natha tak suka.
"Maaf Tuan, tadi dua pria itu adalah orang suruhan ibu tiri saya. Mereka hendak mencelakai saya dan terpaksa saya sembunyi di mobil Anda. Sekali lagi maafkan saya dan terima kasih karena sudah menolong saya," jawab Sheila dengan gemetar.
Natha mencoba untuk menelisik gadis ini dan ia melihat betapa ketakutannya dia hingga Natha pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
"Baiklah, alamatmu dimana, biar saya mengantarmu. Tapi nanti, saya punya janji temu dan saya sudah terlambat. Duduklah dengan tenang di belakang dan jangan lupa pakai sabuk pengamannya karena saya sedang buru-buru," ucap Natha dan Sheila pun langsung menuruti perkataannya.
Benar saja, Natha melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga Sheila hanya bisa menutup matanya dengan erat. Natha tidak peduli, ia hanya tersenyum tipis saat melihat pada kaca spion.
Tak lama kemudian mobil Natha berbelok ke arah perumahan elit, mereka hampir sampai di kediaman Adiguna dan Natha pun mulai memperlambat laju kendaraannya. Sheila pun perlahan-lahan membuka matanya dan melihat mobil Natha ternyata sudah terparkir di garasi sebuah rumah megah.
"Apakah kau ingin bersemedi di dalam atau ikut turun? Saya hanya tidak ingin kekasihku curiga denganmu," ujar Natha dan Sheila pun bergegas turun.
Di depan rumah ada Bianca yang sudah menunggu, ia menatap heran pada seseorang yang turun dari mobil dan bahkan matanya tidak berkedip menatap sosok yang berjalan di belakang Natha.
Natha menghentikan ucapannya ketika Bianca bukannya menghampiri dirinya melainkan mendekat pada sosok gadis yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang dia bukan seli—"
"Ila, kamu Sheila, kan?" tanya Bianca dengan mata berkaca-kaca.
Sheila yang merasa namanya disebut dan suara itu begitu familiar di telinganya pun mengangkat pandangannya.
"K-kak Bianca, ini kakak?!"
__ADS_1
Bianca menganggukkan kepalanya kemudian ia memeluk Sheila dengan erat. Keduanya berpelukan dan menangis bersama, terlebih lagi Sheila yang sangat bahagia karena berhasil bertemu dengan Bianca.
"Bi Anjar dimana? Apakah dia sehat?" tanya Bianca.
Wajah Sheila langsung murung dan ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ibu sakit parah, Kak. Kamu tidak punya biaya untuk berobat ibu. Ayah juga tidak mau memberikan uang untuk pengobatan dan hanya sering memberiku uang untuk makan sehari-hari saja. Istrinya itu sudah menyabotase Ayah sampai-sampai dia menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisiku," jawab Sheila dengan suara yang bergetar.
"Oh Tuhan ...," lirih Bianca.
Natha yang melihat interaksi keduanya itu menjadi bingung. Ia pun mendekat dan bertanya kepada Bianca tentang siapa sebenarnya gadis yang menumpang di dalam mobilnya tersebut.
"Dia Sheila, adikku. Kebetulan dulu kakekku tidak memiliki anak perempuan sehingga waktu itu ibunya Sheila diadopsi dari panti asuhan ..."
Lebih lanjut Bianca mengatakan bahwa ibu Sheila menjalin hubungan dengan seseorang pria pada masa itu yang tidak lain adalah ayah dari Sheila sendiri. Hubungan tersebut tidak mendapat restu dari ayah angkatnya sehingga Anjar nekat kabur dan tidak pernah kembali ke rumah.
Namun demikian, Damian Adiguna masih tetap peduli pada adiknya terlebih lagi ternyata suaminya itu merupakan seorang karyawan swasta dan berpenampilan menarik. Damian Adiguna sering membantu adiknya itu bahkan memberikan harta warisan untuknya ketika ayah mereka meninggal dunia.
Ayah mereka — tuan Adiguna melunak ketika mengetahui putri angkatnya melahirkan seorang putri juga yang sangat cantik. Disisa hidupnya ia masih sempat berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucunya.
Harta yang diberikan untuk ibu Sheila digunakan untuk membangun perusahaan baru. Awalnya berjalan lancar dan mereka baik-baik saja hingga akhirnya tepat ketika Sheila berusia lima belas tahun, ayahnya mulai tergoda oleh sekretarisnya yang tidak lain adalah istri dari ayahnya sekarang.
"Aku diusir Kak, bersama ibu. Kami awalnya masih bisa hidup enak karena ibu sempat membawa beberapa benda berharga yang bisa kami jual. Tapi itu tidak berlangsung lama karena saat aku tahu ibu sakit aku mendatangi ayah dan setelah ayah memberikan uang, wanita itu justru mulai meneror kami sehingga aku dan ibu harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi," ucap Sheila, tidak ada air mata disana karena ia sudah ditempa menjadi anak yang kuat.
"Mengapa tidak mencari kami? Kami adalah keluarga kalian Ila," tanya Bianca yang kini sudah berderai air mata.
__ADS_1
"Kami datang ke rumah lama, Kak. Tapi waktu itu Kak Bianca sedang studi di luar negeri dan paman juga sedang berada di luar kota. Dan mungkin satpam rumah lama kakak tidak mengenal kami sehingga tidak mempersilahkan masuk. Ponsel paman tidak bisa dihubungi sehingga satpam tersebut tidak bisa membawa kami masuk," jawab Sheila menjelaskan.
"Maaf Ila. Kalau begitu ayo kita menemui bibi dan akan kita bawa untuk pengobatan, kalau perlu di luar negeri hari ini juga!"