
Sheila mulai gelisah, sudah hampir seharian ia tidak bertemu dengan Ferdinand dan pria itu bahkan tidak memberinya kabar walau hanya lewat pesan singkat. Tetapi buru-buru Sheila mengingat jika ia tidak memiliki nomor ponsel Dinand. Ia pun hanya mendapatkan ponsel karena diberikan oleh Bianca. Sheila teringat akan kejadian semalam. Ia merasa itu adalah penyebab Dinand tidak datang menghampirinya.
"Apakah dia sedang marah?" tanya Sheila pada dirinya sendiri.
Gadis itu kemudian kembali membaca bukunya. Untung saja ia sempat diajak Bianca dan Audriana berbelanja buku untuk belajar sebelum mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Dua hari lagi waktu seleksinya dan ia harus belajar lebih giat.
Sheila bukanlah gadis yang tidak berprestasi, ia cukup cerdas hanya saja kendala biaya maka ia tidak bisa melanjutkan studi. Padahal, ia memiliki seorang ayah yang merupakan pengusaha, tetapi Sheila menggunakan uang yang ia minta dari ayahnya untuk pengobatan ibunya dan untuk kehidupan mereka sehari-hari.
Namun, tidak bisa ia pungkiri tanpa Ferdinand Mazeen hidupnya terasa sunyi. Biasanya pria itu akan menyambanginya dan membuatnya terpesona serta Dinand pasti akan membuatnya merasa terhibur. Tapi tidak dengan hari ini. Sheila semakin resah, walaupun ia belum bisa menegaskan hubungannya dengan Ferdinand, tetapi ia mencintai pria itu. Ia hanya belum siap untuk terikat hubungan sebab ia harus memikirkan banyak hal sebelum dirinya.
"Aihh ... mengapa aku tidak berhenti memikirkannya? Apakah dia benar-benar marah padaku?" keluh Sheila dan untung saja ibunya sedang tidur. Jika tidak, Sheila pasti akan ketahuan memikirkan pria itu.
Di lain tempat, orang yang sedang Sheila pikirkan sedang sibuk mengintai calon korbannya. Kali ini seorang wanita yang terlihat sebaya dengannya. Dinand merasa kesal, ia sangat tidak suka menghabisi wanita sebab menurutnya wanita adalah ciptaan terindah dari Yang Maha Kuasa, wajib dilestarikan bukan dibinasakan.
Tetapi, kali ini ia tidak bisa gagal dalam menangani misinya. Ia sudah pernah gagal karena bermain hati pada gadis yang memang sejatinya tidak bersalah. Wanita itu yang menukar fakta sehingga Ferdinand sempat terhasut.
Elsa Willson — nama wanita yang sebentar lagi hanya akan terkenang namanya saja di dunia ini. Ferdinand mengikutinya ketika mobil itu mulai bergerak entah menuju ke daerah mana. Dinand sedikit mengambil jarak, ia akan melakukannya dengan segera dan tidak ingin mencari tahu masalahnya apa sebab ia tidak ingin kejadian seperti pada Sheila terulang lagi.
Entah wanita di depan sana adalah antagonisnya atau protagonis, ia tidak peduli. Menyelesaikan tugas dan pulang lalu menemui pujaan hati, itulah yang ada di benak Ferdinand saat ini. Sisi kemanusiaannya ia kesampingkan karena ini adalah tugas dan juga pekerjaannya. Mafia berkedok pebisnis.
Saat jalanan sepi, Ferdinand berniat untuk menghalangi mobil Elsa tetapi tanpa ia duga mobil Elsa mendadak berhenti dan itu membuat Dinand tak sengaja menabrak mobilnya dari arah belakang.
"Oh ****!" umpat Dinand kemudian ia keluar dari mobil.
__ADS_1
Langkah kaki Dinand begitu lebar sebab ia merasa inilah waktunya menghabisi sang korban. Ia mengetuk pintu mobil tetapi tidak ada tanggapan dan ketika ia mencoba mengintip, ia sama sekali tidak menemukan seseorang melainkan ia merasakan sebuah senjata api melekat di pelipisnya.
Kedua tangannya terangkat ke atas lalu ia menatap seseorang yang membuatnya terkejut.
"Kamu!"
Hati Sheila begitu gelisah, ia sedari tadi mondar-mandir menunggu kedatangan Ferinand atau sekadar seseorang datang menyampaikan informasi tentang pujaan hatinya itu. Ia gelisah bukan karena tidak bertemu dengan Dinand, melainkan ada hal lain yang mengganjal di hatinya tetapi entah apa.
"Dinand, kamu dimana? Aku begitu gelisah memikirkanmu, seperti ada firasat buruk yang sedang menghantuiku. Aku tahu pekerjaanmu sangat berisiko tinggi ... tetapi aku berharap kamu selalu baik-baik saja. Aku sangat mencemaskanmu," gumam Sheila.
Bu Anjar yang sudah bangun dan melihat putrinya itu tampak gelisah pun memanggilnya. Ia menanyakan apa yang menyebabkan Sheila segelisah ini dan Sheila pun menceritakan kegundahan hatinya.
"Mengapa tidak mencoba menghubungi keluarganya?" saran bu Anjar.
Bu Anjar tersenyum kecil, ia sangat mengerti kegelisahan putrinya sebab ia tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Sheila dan Dinand. Ia menyarankan Sheila untuk menghubungi Bianca karena mungkin kakaknya itu memiliki nomor telepon salah satu keluarga Ferdinand.
Dengan cepat Sheila menghubungi Bianca dan kakaknya itu mengirimkan nomor ponsel Audriana. Sheila awalnya ragu, tetapi rasa tidak enak di hatinya membuatnya lebih berani untuk menggangu kegiatan Audriana.
Di Vila, Audriana dan Gavriel yang baru saja selesai melakukan aktivitas panas mereka kini terbaring kelelahan. Audirana rasanya ingin terlelap karena begitu lelah melayani hasrat suaminya yang seakan tiada habisnya. Begitupun dengan Gavriel yang merasa sangat lelah memacu dirinya di atas Audriana.
Ponsel Audriana berdering dan ia sudah terlelap. Hanya Gavriel yang masih terjaga sebab ia sedang mengecek email di ponselnya namun masih sambil berbaring memeluk sang istri dari samping.
Gavriel mengambil ponsel Audriana dan melihat ada nomor telepon tak dikenal mengubungi istrinya. Ingin tidak ia tanggapi tapi rasa penasaran itu ada.
__ADS_1
"Halo, ini dengan siapa?" tanya Gavriel, ia sudah memasang tampang waspada jika saja istrinya dihubungi oleh seorang pria.
"Ha-halo ... apakah ini tuan Gavriel suami nyonya Audriana?"
Gavriel tersenyum, ia merasa lega karena bukan seorang pria yang menghubungi istrinya. "Ya benar, Anda siapa?"
"Saya Sheila, Tuan."
'Sheila? Aku seperti pernah mengenalnya ....'
Beberapa saat kemudian Gavriel teringat jika gadis yang disukai adiknya bernama Sheila, ia merasa bahwa gadis itu adalah yang sedang berbicar dengannya.
"Ada apa Sheila? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gavriel dengan suara lembut, ia tahu gadis ini sebentar lagi akan menjadi adiknya.
"Tuan, saya sedari tadi mengkhawatirkan Dinand. Tidak biasanya dia tidak memberi kabar dan perasaan saya tidak enak memikirkannya sejak tadi. Apakah dia baik-baik saja? Saya hanya ingin memastikan," ucap Sheila kemudian ia menggigit bibir bawahnya.
Gavriel sedikit tersentak, ia mengira adiknya itu sedang menempeli gadis ini tetapi justru ia tidak di sana dan tidak meninggalkan jejak. Tak ingin membuat Sheila semakin khawatir, Gavriel pun mengatakan jika ia sedang bersama Ferdinand dan mereka sedang memiliki pekerjaan penting.
Setelah panggilan berakhir dan ia memastikan Sheila tidak meresahkan adiknya, Gavriel pun mencoba menghubungi nomor telepon adiknya.
Beberapa kali panggilan terabaikan begitu saja dan tidak seperti biasanya. Perasaan Gavriel ikut-ikutan menjadi tidak tenang. Ia mengubungi markas tetapi mereka juga sama sekali tidak mengetahui keberadaan Dinand. Gavriel pun menghubungi Troy untuk memintanya melacak keberadaan Ferdinand.
"Semoga kamu baik-baik saja. Jangan membuatku cemas seperti ini ...," lirih Gavriel kemudian ia mengenakan seluruh pakaiannya sebab ia tidak bisa jika hanya bersantai saja menunggu kabar dari Troy.
__ADS_1