OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 118


__ADS_3

Suara guntur menggelegar menyadarkan Audriana, ia langsung mendorong tubuh Gavriel yang sudah menindihnya sejak tadi sedangkan keadaan mereka sudah polos tanpa sehelai benangpun. Gavriel yang didorong oleh Audriana pun terkejut karena ia tadi sudah hilang kendali karena terbawa suasana. Hanya saja, ini terlalu sulit untuk diakhiri. Gairah Gavriel sudah sampai di ubun-ubun dan ia tidak ingin mengakhiri ini semua.


Perlahan Gavriel meminta maaf dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Audriana. Ia juga ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Audriana. Setidaknya walau tidak terjadi hal yang sama-sama mereka inginkan, Gavriel masih senang sebab mereka berada dalam tempat tidur yang sama dan berbagi selimut yang sama pula.


"Maaf Dri," lirih Gavriel.


Audriana tidak menjawab, ia terdiam mematung sambil menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Entah apa yang tadi terjadi hingga ia tidak sadar kembali hampir memberikan kesuciannya kepada Gavriel. Semua seperti tidak baik-baik saja setelah ia bersama Gavriel.


Wanita ini mengakui bahwa Gavriel memang orang yang baik, mereka sering kali berada dalam situasi seperti ini dan Gavriel sama sekali tidak memaksanya, bahkan meminta persetujuannya meskipun mereka sudah sama-sama polos. Namun yang membuat Audriana heran, mengapa sering kali terjadi? Harusnya Gavriel bisa menghindari ini, tetapi tidak sama sekali.


Ataukah mungkin karena suasana yang mendukung? Atau karena lagi dan lagi karena Audriana sedang teringat masa lalu dan Gavriel selalu bisa mendapatkan celah tersebut? Audriana merasa bingung hanya saja ia memilih diam dibandingkan harus berbicara dengan Gavriel saat ini. Ingin pergi pun percuma sebab ia pasti akan tetap bertemu dengan Gavriel sekeras apapun ia coba untuk menghindar.


Dulu ketika aku bersama Natha, memang aku tidaklah menjadi diriku sendiri. Natha seolah menuntutku untuk menjadi sosok yang ia sukai akan tetapi Natha memang menjagaku. Selama tiga tahun kami bersama, Natha tidak pernah berbuat lebih selain mencium dan memelukku. Tapi Gavriel? Bahkan kami baru beberapa bulan bersama tapi dia selalu berhasil membuatku berada di ujung tanduk mempertahankan kehormatanku. Ada apa sebenarnya ini?


Melihat Audriana yang hanya diam saja membuat hati Gavriel resah. Ia merutuki dirinya sendiri yang lagi dan lagi tidak bisa mengontrol hasratnya terhadap Audriana. Hampir saja ia merusak masa depan kekasihnya itu walaupun sebenarnya dia adalah pria masa depan itu.

__ADS_1


Mengapa aku begitu bodoh? Ah tidak, dia pasti saat ini sangat kesal dan marah padaku. Tapi tolong jangan membenciku, Audriana. Aku terlalu takut untuk hal itu dan aku akui semua salahku yang sampai lepas kendali. Aku yang salah.


Keduanya kini sibuk dalam pikiran mereka masing-masing, apalagi Audriana yang semakin tenggelam dalam ingatan hubungan manisnya bersama Natha dahulu yang jauh dari kata **** bebas. Natha sangat menjaganya bak menjaga sebutir telur. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumannya.


Senyuman itu tak luput dari pandangan mata Gavriel. Walau agak aneh, tetapi ia berusaha berpikir positif. Ia berharap senyuman itu adalah tanda maaf dari Audriana.


"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Gavriel.


"Ya Nath?"


Bagai tersambar petir di luar sana hati Gavriel saat ini. Dia bukan orang bodoh yang tidak paham dengan ucapan Audriana barusan. Jelas sekali kekasihnya itu sedari tadi sedang memikirkan mantan kekasihnya dan celakanya lagi ia bahkan tidak bisa membedakan mana Gavriel dan mana Natha.


Dengan marahnya Gavriel menyibak selimut tersebut dan ia membuangnya entah kemana. Gavriel sudah tidak bisa lagi mengontrol rasa marahnya terhadap Audriana yang justru memikirkan pria lain saat sedang berbagi satu selimut dengannya.


"Nath apa yang kau laku--"

__ADS_1


"Nath? Natha Clay kah yang kau maksud Audriana?"


Suara berat Gavriel dan tatapan tajam bagai elang membuat Audriana tersentak dan tersadar bahwa ia sudah salah mengenali seseorang dan celakanya lagi ia sudah tidak bisa membuat pergerakan apapun lagi sebab kini Gavriel sudah mengungkungnya.


"Gavriel maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk--"


Gavriel menutup mulut Audriana dengan satu tangannya lalu bibirnya tersungging senyuman. Sebuah senyuman yang tidak pernah Audriana lihat sebelumnya dan itu sangat mengerikan.


"Rupanya kau masih sering memikirkan mantan kekasihmu itu ya Audriana? Lalu apa artinya aku selama ini di hidup kamu? Hanya figuran kah?" tanya Gavriel yang kini langsung membenamkan wajahnya di leher Audriana.


Audriana berusaha untuk memberontak karena ia merasa perlakuan Gavriel kali ini sungguh berbeda. Kasar dan sangat menuntut sedangkan ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Gavriel mengunci kedua tangannya.


"To-long jangan seperti ini Gav-riel. Jangan melakukan ini padaku!" lirih Audriana namun yang ada Gavriel justru semakin menggila dengan kini sudah menguasai kedua bukit kembar milik Audriana.


"Terlambat sayang, sepertinya sore ini akan menjadi milik kita berdua. Jadi, mari kita menikmatinya dan ingat baik-baik wajahku ini dan namaku. Aku ingin kau berteriak nikmat dan mende-sahkan namaku sore ini. Aarrghh ... bersiaplah karena aku akan segera memasukimu sayangku!"

__ADS_1


__ADS_2