OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 120


__ADS_3

Tubuh Gavriel bagaikan disambar petir mendengar ucapan Audriana barusan. Bukannya meminta pertanggungjawaban yang siap ia berikan, Audriana malah memutus hubungan mereka begitu saja. Tentu saja hal itu tidak akan disetujui oleh Gavriel. Audriana adalah cintanya dan mana mungkin ia bisa melepaskan wanita yang sudah ia renggut kesuciannya tersebut.


Kepala Gavriel menggeleng keras, ia menolak keinginan Audriana sedangkan wanita yang sedang berusaha untuk menguatkan hati dan dirinya itu memalingkan wajahnya. Sungguh berat keputusan yang ia ambil akan tetapi saat ini ia benar-benar kecewa pada Gavriel. Entah perbuatan tadi akan membuahkan hasil atau tidak, Audriana akan memikirkannya nanti. Yang jelas saat ini ia tidak mau menatap wajah Gavriel.


"Tidak Audri, tidak bisa. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Aku tahu aku salah tapi aku akan bertanggung jawab dengan itu semua. Aku akan menikahimu secepatnya dan tolong jangan usaikan kita, Dri. Aku sangat mencintaimu dan tak bisa jika kehilanganmu. Maafkan aku."


Gavriel berlutut di hadapan Audriana, wajahnya nampak begitu sedih dan ketakutan. Tidak pernah terbayangkan baginya Audriana akan melepas hubungan mereka. Gavriel sudah terlalu lama bermimpi untuk membangun rumah tangga dan hidup bersama Audriana di sisa hidupnya. Akan tetapi karena kesalahan fatal yang ia lakukan, semua yang ia bangun dengan indah menjadi hancur begitu saja.


"Pergilah Gavriel, aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku benar-benar membencimu!" ucap lirih Audriana, ia masih sangat mencintai Gavriel akan tetapi ia saat ini sedang kecewa dan sangat marah.


Gavriel menarik tangan Audriana, "Jangan seperti ini sayang. Aku tahu kau sedang sangat marah, kau boleh menghukumku, puas-puaskanlah mendiamiku dan marahi aku sesukamu tapi tolong jangan akhiri hubungan kita. Aku sangat takut untuk hal itu," pinta Gavriel dan kali ini ia sudah bersujud di kaki Audriana.


Wanita berparas cantik itu menggigit bibir bawahnya, ia sangat tidak melihat Gavriel seperti ini -- merendahkan dirinya sendiri. Tapi apalah daya, Audriana tidak ada kuasa untuk memaafkan Gavriel saat ini. Ia sadar benar jika keputusan yang diambil saat sedang marah tentu adalah sesuatu yang berdampak nantinya ketika amarahnya telah rendah, tapi saat ini Audriana sangat tidak ingin bertemu Gavriel.


"Pulanglah, aku ingin sendiri. Hati-hati di jalan dan jangan dulu temui aku. Aku membutuhkan waktu untuk sendiri dan berpikir! Pergi!!" teriak Audriana dan ia menghempaskan tangan Gavriel dari kakinya lalu ia membuka pintu apartemen meninggalkan Gavriel dengan sejuta penyesalannya.


Di dalam apartemen nampak Adrian yang baru selesai berdiskusi dengan Lefi. Ia sedikit heran karena melihat cara berjalan adiknya yang sedikit pincang. Adrian mulai menerka-nerka apa yang sudah terjadi dengan adiknya dan bagaimana bisa Gavriel tidak mengantar Audriana sedangkan yang ia ketahui adiknya bersama Gavriel sejak siang.


Dengan langkah lebar Adrian menghampiri Audriana. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa jalanmu pincang begitu dan dimana Gavriel? Apa dia tidak menjagamu dengan baik?" tanya Adrian cemas.


Mau tidak mau Audri harus menghentikan langkahnya. Melihat ke-posesifan kakaknya membuat hati Audriana terasa ngilu. Ia segera menghambur memeluk kakaknya dan menangis sejadi-jadinya. Hal ini tentu saja membuat Adrian semakin bingung dan geram. Setelah sekian lama ia kembali melihat air mata adiknya dan entah siapa dalang dari semua kesedihan ini.


"Hei apa yang terjadi? Katakan pada kakak siapa yang menyakitimu? Apakah Gavriel atau ada yang lain?" tanya Adrian cemas. Tangannya terkepal, ia ingin sekali menghajar orang yang sudah membuat adiknya bersedih.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan Lefi, ia juga mendekat dan merasa geram melihat wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu dalam keadaan seperti ini. Ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan orang tersebut.


"Ak-aku hanya sedikit berselisih dengan Gavriel. Aku mengusirnya pulang. Di-dia itu terlalu posesif padaku, Kak. Aku nanya tak sengaja memimpikan Natha tapi dia malah cemburu buta padaku," ucap Audriana tanpa melepas pelukannya. Ia khawatir jika ia bertatapan dengan kakaknya, Adrian bisa melihat kebohongannya.


Adrian tersenyum tipis, rupanya adiknya sedang kesal pada Gavriel namun jika dipikir kembali hal ini terlalu lebay dan bagaimana bisa masalah cemburu bisa membuat kaki Audriana pincang serta menangis sesenggukan ini.


Lefi sendiri tidak langsung percaya, ia yakin ada yang tidak beres. Namun karena ingin menjaga privasi Audriana, ia tidak akan turut campur.


"Apakah benar begitu? Lalu kenapa kakimu?" selidik Adrian.


Audriana sudah mempersiapkan jawabannya, dengan cepat ia menjawab dan berkata, "Tadi aku bermain hujan kak. Gavriel sudah melarangku tapi tidak mendengarnya hingga akhirnya aku jatuh dan terkilir. Aku tadi kesal pada Gavriel yang cemburu buta padaku jadi aku lampiaskan dengan bermain hujan saja."


Adrian menganggukkan kepalanya, jawaban Audriana cukup masuk akal dan ia juga bisa mencium aroma sabun berbeda di tubuh adiknya. Ia juga percaya bahwa Gavriel tidak akan menyakiti Audriana sebab ia sangat tahu seperti apa sayang dan cintanya Gavriel terhadap adiknya.


"Lalu, apakah kakimu sudah diobati?" tanya Adrian.


Saat Audriana sudah masuk ke kamarnya, Adrian kembali duduk bersama Lefi. Keduanya saling bertatapan dan sama-sama tahu apa yang tengah mereka pikirkan. Dengan cepat Adrian mengambil ponselnya dan menghubungi Gavriel.


Gavriel yang masih berada di dalam mobil yang terparkir di parkiran apartemen, ia merasa ragu untuk menjawab panggilan dari Adrian. Ia mulai menerka-nerka apa yang hendak Adrian bicarakan. Akan tetapi ia yakin juga jika Audriana tidak akan mengadukan kejadian tadi pada kakaknya. Ia pun memutuskan untuk menjawab saja panggilan tersebut.


"Ya?"


"Kau dimana? Kenapa tidak mengantar Audriana? Dia pulang-pulang langsung menangis dan kakinya pincang begitu. Kau apa tidak bisa menjaga adikku?" cecar Adrian.

__ADS_1


Gavriel menghela napas, ia bisa menarik kesimpulan jika Adrian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan ia juga sekarang bingung hendak menjawab apa karena ia tidak tahu apa yang sudah Audriana katakan pada kakaknya tadi.


"Aku tadi mengantarnya tapi dia malah menyuruhku pulang. Dia sangat kesal padaku," ucap Gavriel hati-hati.


Terdengar helaan napas Adrian. "Kau jangan cemburu buta begitu padanya, bro. Dia hanya tidak sengaja memimpikan Natha dan kau sudah marah padanya. Aku tahu kau sangat cemburu akan tetapi aku tahu Audriana tidak mungkin berpaling apalagi pada Natha. Haiihh ... harusnya aku tidak ikut campur hanya saja aku tidak suka adikku menangis begitu," ucap Adrian panjang lebar dan Gavriel kini tahu jika Audriana tidak menceritakannya dan hanya membahas masalah Natha saja.


Dan andai Adrian tahu yang sebenarnya, aku bisa dibunuhnya!


"Maaf, sekarang pun aku masih berada di parkiran apartemen. Audriana sangat marah dan aku tidak bisa menemuinya karena dia melarangnya. Aku harus bagaimana?" keluh Gavriel.


Adrian melirik Lefi yang juga mendengar keluhan Gavriel karena sejak tadi Adrian mengaktifkan pengeras suara. Lefi mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tahu-menahu harus menjawab apa.


Untung saja Devi tidak memiliki pria masa lalu, gumam Adrian dalam hati.


Ia sejujurnya sangat mengasihani nasib Gavriel. Adrian juga tahu kalau tidak mudah bagi adiknya melupakan Natha yang sudah lama bersamanya. Ia jadi bingung sendiri harus mendukung Gavriel atau adiknya.


"Pulanglah, kau bisa datang lagi besok," ucap Adrian.


Gavriel mengangguk walaupun Adrian tidak melihatnya.


Dri, aku akan terus datang padamu hingga kau memaafkanku.


Gavriel kemudian melakukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya. Tidak ada yang akan ia dapat dengan terus menunggu di parkiran. Ia akan memikirkan langkah selanjutnya di rumah.

__ADS_1


Berbeda dengan Gavriel, saat ini Audriana sedang menyusun rencananya sendiri. Ia sudah mendapatkan sebuah ide dan ia akan melaksanakannya.


"Aku tahu langkahku salah dan aku tahu ini sangat berisiko. Tapi aku tidak bisa menepis rasa kecewaku terhadap Gavriel. Kak Ian, sekali lagi aku minta maaf padamu karena tidak bisa menjadi adik yang baik sedangkan kau selalu menjadi kakak terbaik untukku. Maafkan aku, langkah yang aku akan ambil memang akan sangat membuatmu kecewa tapi aku juga sedang kecewa, Kak. Semoga kau mengerti nantinya. Aku hanya akan menenangkan hati dan pikiranku. Kau pasti akan marah dan aku hanya bisa minta maaf." gumam Audriana, ia sudah berbaring namun matanya enggan untuk terpejam.


__ADS_2