
Audriana kini bisa bernapas lega, mereka sudah kembali ke negara mereka dan Zivia tentu saja sudah tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi. Audriana sempat merasa sangat kesal karena selama dua hari mereka menemani Zivia di rumah sakit, wanita itu hanya ingin Gavriel saja yang menemani. Selalu saja ada drama sebelum masuk ke ruang dokter.
Padahal hari pertama kontrol, dokter menyarankan Zivia untuk di rawat inap saja, akan tetapi wanita itu menolak dengan mengatakan jika ia bosan di rumah sakit dan tidak melakukan apapun. Bahkan wanita itu cenderung mengabaikan Albert, ia melupakan pria yang selama ini selalu ada untuknya ketika ia bertemu dengan Gavriel.
Cemburu sudah pasti, namun karena Audriana tahu Gavriel hanya menginginkannya, ia pun mencoba memahami situasi. Hanya saja yang kurang ia sukai adalah ketika Albert berusaha mendekatinya dengan bertanya berbagai macam dan terkesan mengakrabkan diri. Bahkan pria itu dengan terang-terangan mengatakan rasa tertariknya pada Audriana. Namun walau begitu Albert tetap bersikap menghormatinya sehingga Audriana tidak merasa cemas, hanya risih saja.
Jadwalnya Minggu depan mereka akan kembali ke Indonesia untuk peresmian perusahaan baru milik keluarga Dameer. Disana ia pasti akan kembali bertemu dengan Zivia dan membayangkannya saja sudah membuat Audriana kesal.
"Kau, tidak perlu kau datang di saat peresmian perusahaan kak Ian," ucap Audriana.
Gavriel yang saat ini sedang menyetir mobil langsung menginjak rem, ia menatap Audriana dengan tatapan penuh pertanyaan. "Ada apa?" tanya Gavriel heran.
Audriana memalingkan wajahnya, sangat gengsi mengatakan jika ia melarang karena cemburu dan ingin menjauhkan Gavriel dari Zivia. Haruskah ia mengatakannya? Ia tidak sanggup memendam akan tetapi ia juga merasa malu.
"Ya pokoknya nggak usah datang!" jawab Audriana yang tidak memiliki ide untuk memberi alasan yang masuk akal.
__ADS_1
Gavriel menghela napas, ia sedikit banyak sudah mempelajari sikap Audriana. Ia tahu ada sesuatu yang dipendam oleh Audriana namun karena mungkin ia lelah setelah seharian bekerja di kantor maka kekasihnya itu begitu sensitif.
Nanti saja aku tanyakan di rumah.
Gavriel kemudian mengemudikan mobil lagi, Audriana pun masih belum berani menatap Gavriel. Ia masih mencari-cari alasan sebab ia tahu Gavriel akan menanyakannya lagi.
Sejujurnya Audri merasakan kegelisahan, ia merasa jika datangnya Zivia akan mengganggu hubungannya dengan Gavriel dan juga bisa jadi akan merusak hubungan tersebut. Audriana tentu masih ingat dengan Natha dan suster Fidelya. Ia harus mengantisipasi sebelumnya agar nanti tidak akan terulang kembali kejadian yang dulu pernah ia alami.
Membayangkan tatapan mata Zivia terhadap Gavriel, itulah yang membuat Audriana yakin jika wanita itu menginginkan kekasihnya. Albert sendiri secara tidak langsung mengatakan jika Zivia tidak menginginkannya dan justru terlihat seolah ia sedang memproklamirkan kepada dunia jika pria yang ia sukai adalah Gavriel.
Sebagai calon nyonya Mazeen, Audriana tidak terima dan ia tidak ingin Zivia merebut Gavriel.
Gavriel kembali menghentikan mobilnya dan memilih menepi. Ia tersenyum, kini ia tahu apa yang sedari tadi mengganggu pikiran kekasihnya ini.
"Kau meragukan aku atau sedang cemburu padaku?" goda Gavriel yang membuat Audri kesal. "Kau tahu sendiri aku sudah menyukaimu sejak kecil, jadi tidak mungkin aku akan menyakitimu. Itu sama halnya dengan aku menyakiti diriku sendiri. Kau tenang saja, aku adalah milikmu dan tidak akan berpaling dengan yang lainnya," ungkap Gavriel, entah mengapa ia begitu senang saat Audriana mengakui perasaannya dan menyiratkan kecemburuan.
__ADS_1
Audriana menggeleng, ia sebenarnya yakin dengan cinta Gavriel padanya akan tetapi dulu juga ia sampai seyakin itu terhadap Natha namun berujung luka karena pengkhianatan mereka.
"Aku berjanji, aku tidak akan menyakitimu apalagi menduakanmu, tidak akan sayang. Kau harus tahu kalau aku sejak dulu sudah mencintai dirimu saja," jawab Gavriel berusaha meyakinkan Audriana.
Lama Audriana terdiam kemudian ia mengangguk. "Jangan sampai kau dimakan janjimu, Gavriel. Dulu aku pernah mengenal seseorang yang berjanji sangat dalam, akan tetapi dia justru menghilang bersama janjinya tersebut. Untung saja dia tidak mati," ucap Audriana seirus namun justru terlihat menggemaskan di mata Gavriel mazee6.
Pria itu mengangguk, ia membenarkan ucapan Audriana. Sejujurnya ia khawatir juga setelah mengucapkan janji. Ia takut akan banyaknya halangan dan rintangan dalam hubungan mereka kelak dan memaksakan satu dari mereka harus saling melepas.
Ia khawatir akan kejadian dulu dimana Natha selalu berjanji dan kerap kali ia ingkari. Bahkan dia berjanji dengan nyawanya akan tetapi pria itu tetap saja jatuh ke pelukan wanita lain.
"Baiklah, aku akan membuktikannya padamu. Apakah kau mau menikah denganku saat ini juga agar kau sah menjadi milikku dan aku pun sah menjadi milikmu.
"Audriana Maaysa Dameer, dulu aku pernah melamarmu dan sampai saat ini kau masih mengenakan cincin lamaran yang aku berikan. Sekarang sekali lagi aku bertanya padamu, Will you marry me?"
Tak lupa Gavriel menambhakan jika setelah Audriana menjawabnya maka ia akan langsung membawa Audriana ke kantor yang mengurus pernikahan mereka nanti.
__ADS_1
Audriana syok, ternyata Gavriel tidak bercanda. Ia harus mencari jawaban yang pas untuk Gavriel.
"Hmmm ... aku memang cinta kamu tapi kakakku belum menikah, aku tidak ingin melangkahinya. Jika kau masih ingin menikah denganku maka bersabarlah karena kita akan menikah setelah kak Ian. Itu pun jika kamu masih bisa sabar dan tidak tergoda oleh Zivia!"