
Audriana memutar langkahnya, ia harus segera bersembunyi karena ia tidak ingin sampai bertemu dengan Gavriel. Ia tidak mau dan tidak siap. Tetapi bagaimana dengan Gea? Audri berharap Gavriel tidak akan mengenali wajah anak mereka yang begitu mirip dengannya.
Audriana langsung masuk ke dalam salah satu kamar setelah ia meminta pada pihak panti mengantarnya dengan alasan ia sedang sakit kepala. Ia tidak menyangka jika Gavriel akan datang ke acara ini sedangkan kakaknya mengatakan ia tidak akan bertemu dengan Gavriel karena mantan tunangannya itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Baru bertemu walaupun tidak bertatapan secara langsung membuat jantung Audriana deg-degan. Ada perasaan yang membuncah, rindu pada sosok itu sedikit terobati dengan melihat keadaannya yang sudah baik-baik saja dari terakhir kali ia mendengar kabar Gavriel yang terpuruk.
Jika bukan karena bantuan Audriana dalam masalah finansial, mungkin Gavriel sudah kehilangan bisnisnya dan akan terjun langsung ke dunia bawah menjadi mafia yang akan mendapatkan segala harta benda dengan cara yang kotor.
"Hahh ...." Audri menghela napas, ia memegangi dadanya yang terasa sesak. "Baru juga melihatnya aku sudah segugup ini, bagaimana nanti jika kami benar-benar bertemu secara langsung dan bertatap muka, akan seperti apa reaksiku nanti. Aku ternyata masih belum siap berhadapan langsung dengannya," gumam Audriana.
Sedangkan di luar, Gavriel dibuat tertarik melihat wajah menggemaskan gadis kecil di pangkuan Adrian. Mendadak ia membayangkan jika dia menikah dengan Audriana pasti mereka akan memiliki anak yang cantik dan tampan. Sayang sekali Audriana justru pergi meninggalkannya setelah kesalahan di sore itu.
Devi menatap khawatir kepada Adrian yang dibalas senyuman oleh suaminya itu. Adrian tahu apa yang sedang dicemaskan oleh Devi. Apalagi Gea yang cenderung suka berbicara itu ada kemungkinan untuk kecoplosan, Devi sangat tidak ingin. Ia sangat paham dengan keadaan Audriana sehingga ia berdiri di barisan paling depan untuk melindungi adik iparnya tersebut.
"Anak ini sangat manis. Sejak awal aku melihatnya aku sangat tertarik padanya. Apakah boleh aku mengadopsinya?" tanya Gavriel yang membuat Devi bereaksi berlebihan.
Kening Gavriel mengkerut melihat ekspresi kaget Devi. Instingnya sebagia seorang mafia langsung bekerja dengan baik setelah melihat perubahan wajah calon kakak iparnya tersebut. "Ada apa?" tanya Gavriel.
Adrian tertawa. Ia melepaskan Gea dari pangkuannya kemudian ia berdiri dan menepuk pundak Gavriel. "Hei, jelas saja istriku marah padamu, gadis kecil itu adalah keponakannya. Masih memiliki ayah dan ibu yang lengkap dan kau meminta untuk mengadopsinya. Kau pasti mengira dia adalah anak panti asuhan bukan? Ck! Apakah dia terlihat seperti tidak terawat?"
__ADS_1
Ucapan Adrian tersebut membuat Gavriel merasa sedikit malu kepada Devi, ia merasa canggung karena sudah mengira gadis kecil itu adalah anak panti asuhan. Pantas saja sangat terawat dan cantik, pikir Gavriel.
"Maafkan aku kakak ipar, sungguh aku tidak bermaksud berpikir demikian," ucap Gavriel merasa tidak enak hati.
Suster Devi yang tadinya resah kini sudah mulai tersenyum lebar. Ia kemudian menatap Gavriel dan menganggukkan kepalanya. "Bukan hal yang harus diperpanjang. Lagi pula kau tidak pernah melihat keponakanku, 'kan?" ujar Devi, ia hanya menimpali ucapan yang sudah disusun oleh Adrian.
Gavriel tersenyum tipis, ia kemudian mengajak Adrian untuk berbicara empat mata dan menjauhi dulu kerumunan. Akan tetapi MC dari acar tersebut langsung mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai sehingga Gavriel mengurungkan niatnya.
"Baiklah, nanti kita akan bicara lagi. Aku juga harus kembali ke perusahaan karena da urusan penting yang harus aku kerjakan. Nanti aku akan datang ke rumahmu untuk membahas masalah yang aku bawa ini," ucap Gavriel berpamitan.
"Yahh ... sayang sekali kau tidak bisa ikut bernyanyi potong kuenya dan juga tiup lilinnya," ledek Adrian.
.
.
Zi menatap dirinya di pantulan cermin. Wanita yang sudah berhasil keluar dari trauma masa lalunya itu sedang mempercantik penampilannya karena malam ini ia akan mengajak Gavriel ke nirwana. Zi sudah mantap untuk mendapatkan hati Gavriel dengan cara apapun itu termasuk memanjat ranjang mafia tersebut.
"Baiklah Gavriel, aku akan memakai cara terakhirku untuk mendapatkanmu. Aku sudah melakukan segalanya tapi semua seakan menjadi sia-sia bagimu. Mengapa tidak pernah bisa melihat cintaku? Sejak dulu hingga saat ini mengapa hanya selalu menjadi bayang-bayangmu saja? Aku juga ingin menjadi kekasihmu, menjadikanmu milikku. Tapi kau selalu saja menolakku. Jangan salahkan aku jika cara ini yang aman aku tempuh. Kau yang menginginkannya," ucap Zi sambil tersenyum devil di depan cermin.
__ADS_1
Zi mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Gavriel. Zi yang sudah tidak mengunjungi kantor Gavriel tidak tahu jika Gavriel tadinya tidak sedang berada di kantor. Ia hanya ingin memastikan kapan rencananya akan dijalankan.
Gavriel yang sedang sibuk membaca berkas laporan tentang penyelidikan orangnya terhadap Audriana, mereka menemukan beberapa tempat tinggal dimana Audriana pernah berada. Semua tempat tersebut bisa di tarik kesimpulan oleh Gavriel bahwa Audriana tidak dengan sengaja menjadi penduduk nomaden.
"Jadi dia selalu pindah disaat tempat itu bakalan gue datangi atau sudah terendus anak buahku ya," gumam Gavriel. Ia mengamati tanggal dimana Audriana menempati rumah tersebut dan tanggal dimana ia keluar dari rumah itu.
Ia kemudian memberikan berkas tersebut kepada Troy agar asisten pribadinya itu bisa segera mengusut tuntas. Ia masih tidak ingin diganggu tetapi ponselnya yang kini justru berisik.
"Ada apa Zi?" tanya Gavriel begitu ia menjawab panggilan tersebut.
"Ak-aku ingin minta tolong padamu untuk kita bertemu. Bisa tidak?" tanya Zivia tak sabar mendengar kabar tersebut.
Gavriel melirik dokumen yang sedang ia periksa lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya ia ingin menolak tetapi malam ini ia akan menegaskan kembali kepada Zivia bahwa ia tidak akan pernah bersama dengannya karena ia hanya mencintai Audriana seorang saja dan ia sudah menemukan jejaknya. Akan tetapi ia tidak ingin egois dengan menolak ajakan Zi yang selama ini menemaninya.
"Baiklah. Kapan?"
Zi pun menyebutkan tempat dan waktu akan bertemu. Zi tidak menyangka saja jika dengan mudah Gavriel menerima ajakannya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya dan ia akan segera mendapatkan Gavriel dengan berbagai cara termasuk cara yang akan dia lakuka malam ini.
Setelah panggilan berakhir, Gavriel kembali fokus pada datanya dan ia menjadi bingung karena Audriana yang berada di sofo supermarket itu bersama dengan seorang anak, gadis kecil. Walau gambarnya buram tetapi Gavriel bisa jelas tahu kalau gadis kecil itu pernah bertemu dengannya tetapi entah dimana.
__ADS_1
"Lihatlah Dri, aku akan mendapatkanmu. Jika nanti kita bertemu maka tidak akan pernah aku menjeda waktu untuk pernikahan kita. Aku akan langsung membawamu ke penghulu!" ancam Gavriel dalam keadaan ia yang sedang bermonolog.