
Gavriel segera mendekat begitu Audriana mengatakan kepadanya jika anak mereka mengalami sebuah gangguan. Memang ia perhatikan sejak tadi anaknya ini hanya bisa menatap mereka sambil menangis tanpa menjawab satupun pertanyaan darinya ataupun dari mommynya. Awalnya Gavriel mengira itu karena Gea masih syok dengan penculikan tersebut, tetapi sampai detik ini anaknya itu tidak mau bersuara dan hanya bisa menatap sambil menangis saja.
"Jangan terburu-buru sayang, mari kita lihat dulu seperti apa kondisinya ... atau bagaimana jika aku memanggilkan dokter keluarga kita untuk datang memeriksanya?" usul Gavriel dan Audriana segera mengangguk.
Audriana terus menatap putrinya, ia khawatir jika sampai terjadi sesuatu kepada Gea dan mereka terlambat menyadarinya. Audriana rela menukar seluruh hartanya untuk kesembuhan putrinya.
Tak lama kemudian dokter datang bersama dengan masuknya Adrian dan juga Devi ke dalam kamar Audriana. Audriana segera memberi ruang kepada dokter John untuk memeriksa putrinya.
Adrian menyentuh bahu Gavriel kemudian ia mengangguk sebagai kode agar tidak Gavriel ikut bersamanya, karena ada hal yang ingin ia bicarakan. Gavriel pun menurut kemudian keduanya keluar dari ruangan dan membiarkan Audriana dan Devi menjaga Gea bersama dokter John.
Sesampainya di luar kamar, Adrian langsung mengatakan apa yang terjadi tadi di mana ia juga menemukan Gea yang tidak ingin berbicara sepatah kata pun dan hanya bisa menangis.
"Untung saja Gea masih bisa mengenaliku, jika tidak mungkin sampai detik ini aku tidak bisa membawanya kembali ke rumah ini. Aku bisa melihat sorot mata ketakutan dan juga kecemasannya. Kita harus membawanya ke psikiater jika dokter menyarankan. Ini harus Gavriel, anakmu sepertinya mengalami trauma mendalam atas penculikan tersebut!"
Gavriel mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi kepada putri kecilnya yang baru berusia 5 tahun. Semua ini harus dibayar lunas oleh Bastian Elard dan juga tuan Zeller. Gavriel berjanji dalam hatinya untuk tidak melepas kedua pria itu hingga salah satu dari mereka menjemput ajal.
"Sepertinya Bastian memperlakukan anakmu dengan tidak baik. Mari kita masuk dan mendengarkan apa hasil pemeriksaan dokter John, agar kita bisa langsung mengambil tindakan," ajak Adrian.
Begitu Gavriel dan Adrian masuk ke dalam kamar, dokter John pun baru saja selesai memeriksa keadaan Gea. Ia kemudian menatap satu per satu orang yang ada di dalam ruangan tersebut kemudian ia mengajak mereka untuk berbicara di sofa kecil yang ada di dalam kamar tersebut. Dari raut wajahnya, mereka bisa menyimpulkan ada hal yang serius yang tengah menimpa Gea.
"Anak ini kekurangan asupan makanan ... bagaimana bisa anak kalian hidup dalam kekurangan makanan seperti ini Tuan Gavriel?" tanya Dokter John yang merasa kaget dengan hasil pemeriksaannya terhadap Gea.
Mau tidak mau nggak Gavriel pun menceritakan apa yang baru saja terjadi. Dokter John langsung syok mendengarnya, ia kemudian menyarankan mereka untuk segera membawa Gea ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Sebaiknya lebih cepat lebih baik, bawa Gea ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, dan juga jika memang kondisinya sudah memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya, kalian bawalah dia ke psikiater ... mungkin saja ada trauma mendalam di dalam hati dan pikirannya sehingga dia tidak bisa mengeluarkan suaranya."
Gavriel memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal erat di dalam saku celananya. Ia kemudian mengangguk lalu Adrian mengantar dokter John keluar sementara Gavriel mempersiapkan apa-apa saja yang akan mereka bawa ke rumah sakit.
Audriana sendiri menangis mendengar penjelasan dokter John. Devi hanya bisa memeluk sambil mengusap-usap punggung adik iparnya itu dengan mencoba untuk memberikan ketabahan dan juga aliran semangat.
"Gea pasti akan sembuh dan sehat seperti sedia kala. Kamu harus kuat untuk anakmu. Kamu adalah ibunya dan kamu harus lebih kuat dari anakmu, agar bisa memberikannya energi positif dengan membantunya untuk keluar dari traumanya," ucap Devi mencoba untuk menenangkan Audriana.
"Ini terlalu menyakitkan, Kak. Aku sungguh tidak sanggup mendengar kondisi anakku yang seperti ini. Dia sudah mengalami penculikan berhari-hari lalu kembali dengan membawa trauma dan juga pesakitan, aku sungguh tidak terima ... rasanya aku ingin membunuh orang yang sudah menculik dan memperlakukannya dengan tidak baik," histeris Audriana dengan begitu marah. Dia kesal, sedih, geram dan entah perasaan yang mana yang lebih mendominasi.
Devi paham dan mengerti, dia kemudian memberi ruang pada Audriana untuk mencurahkan kasih sayangnya pada Gea dan ia memilih membantu Gavriel untuk menyiapkan keperluan Gea dan mereka langsung membawa anak kecil itu ke rumah sakit.
"Oh astaga ...! Aku lupa mengabari Troy tentang kabar ditemukannya Gea. Aku harus menghubunginya lebih dulu dan anak buah Bastian juga masih berada di dalam bagasi mobil," ucap Gavriel sambil menepuk jidatnya, ia kemudian memberikan Gea dalam gendongan Audriana sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
Gavriel kemudian mengambil ponselnya dalam saku celana, ia langsung menghubungi Troy mengabarkan bahwa Gea sudah ditemukan dan mereka akan segera membawanya ke rumah sakit. Tak lupa pula ia mengatakan kepada Troy untuk segera datang ke kediaman keluarga Dameer untuk menjemput Hans yang berada di dalam bagasi mobil. Entah mungkin saja pria itu sudah pingsan atau tewas karena kehabisan banyak darah ... Gavriel tidak peduli.
__ADS_1
Setelah menghubungi Troy, Gavriel pun bertolak ke rumah sakit bersama Audriana sedangkan Adrian dan Devi tetap berada di rumah sampai Troy datang.
Begitu sampai di rumah sakit, Gea langsung mendapatkan penanganan, seperti yang dikatakan oleh dokter John, dokter di rumah sakit pun mengatakan hal yang sama. Gavriel dan Audriana hanya bisa menghela napas berat dan berdoa untuk kesehatan dan kesembuhan anaknya.
Sementara itu, di rumah keluarga Dameer, Troy datang dan ia menemukan Hans telah tak sadarkan diri di dalam bagasi mobil. Cukup mengerikan perbuatan Adrian Dameer ini, tetapi siapa suruh mereka mencoba untuk mengusik keluarganya. Cari mati!
"Bawa dia ke markas dan biarkan dia dikurung di sana sampai Ferdinand sembuh. Pria ini miliknya dan biarkan dia yang menentukan haruskah dilepaskan atau dibunuh," ucap Adrian. Tidak ada lagi Adrian yang mengutamakan keselamatan siapapun, ia sudah cukup memberi toleransi pada musuh mereka dan juga pemberontak, tidak lagi kali ini.
"Baik Tuan Adrian. Kalau begitu saya permisi dulu untuk membawanya ke markas," ucap Troy dan dia beserta beberapa anak buah Gavriel langsung memindahkan tubuh Hans ke dalam mobil mereka.
Setelah Troy dan rombongannya pergi, Adrian memerintahkan Joe untuk membuang mobilnya karena ia tidak suka mobilnya ada noda darah musuh apalagi yang sudah menghancurkan hati adik dan keponakannya.
Beberapa saat setelah Adrian masuk dan Joe pergi membawa mobil tersebut, rombongan Albert datang. Adrian menerima mereka dengan baik apalagi mereka membantu mencari keberadaan keponakannya.
"Syukurlah kalau Gea sudah ditemukan," ucap Natha setelah mereka berada di ruang tamu.
Adrian mengangguk. "Bastian ini sangat licik, dia menunggu saat anak buah Gavriel selesai memeriksa salah satu rumah anggotanya lalu dia berpindah ke sana agar tidak kembali diperiksa. Tapi dia lupa akan ada orang lain yang datang untuk memastikan lagi," ucap Adrian.
"Ya, kau benar. Pasti saat ini Bastian sedang mencari perlindungan. Dia mungkin akan kembali bekerja sama dengan tuan Zeller untuk membalas dendam. Tuan Zeller yang sudah melarikan diri itu tentu sudah menyusun rencana pembalasan. Kita lihat saja, pasti akan ada serangan tak terduga. Kalian harus waspada," ucap Albert memperhitungkan langkah tuan Zeller selanjutnya.
Adrian syok mendengar hal tersebut, namun ia kembali ingat jika mereka adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia hitam, tentu saja pembalasan dendam dan rencana penyerangan kembali itu pasti adanya.
"Yang dikatakan Tuan Albert itu benar, Tuan Adrian. Dia itu Tuan Zeller — pemimpin kelompok Scorpion, dia sangat terkenal dengan trik penyerangan tak terduga dan kalian harus berhati-hati untuk itu," imbuh Zicko yang memang sudah hapal seluk-beluk kelompok tersebut.
Setelah banyak berbincang, Adrian menawarkan mereka untuk beristirahat di rumahnya tetapi mereka memilih untuk kembali ke hotel yang sudah mereka sewa. Adrian hanya mengiyakan tetapi ia juga tak lupa memberikan pelayanan berupa kiriman makanan untuk mereka di hotel dan yang lainnya. Ia sangat berterima kasih untuk bantuan mereka walaupun pada akhirnya ia sendiri yang menemukan keponakannya tersebut.
...
Hari kembali berlalu, arunika sudah kembali menyapa diiringi suara berisik kendaraan bermotor yang sudah menjadi musik sehari-hari di kota besar. Aktivitas kembali berlangsung seperti biasanya tetapi ada pula yang tidak melakukan apapun selain berdiam diri dan bermalas-malasan di tempat mereka berada.
Ada yang sibuk bekerja, ada sibuk mencari kerja dan ada pula yang tidak ingin bekerja. Rutinitas makhluk hidup yang tentu ada yang positif dan ada pula yang negatif.
Pagi ini pun masih sama seperti hari sebelumnya, Ferdinand masih terbaring dan belum sadarkan diri di tempat tidurnya. Di sana juga ada sang kekasih hati yang selalu datang mengecek keadaannya setelah ia memastikan sudah mengurus ibunya dengan baik.
"Hai, selamat pagi pria tampan. Mengapa begitu betah menutup mata? Tidak bisakah bangun sejenak dan menatapku seperti biasanya? Ayo kita bercerita, mari kita ke rumahku dan memanen sayur serta menangkap ikan di kolam. Tahu tidak, aku sangat merindukan suaramu dan juga tatapan penuh selidik seakan aku tidak mempercayai setiap ucapanmu. You know, I miss you ...."
Sheila menarik napas dalam-dalam kemudian dengan perlahan ia hembuskan. Entah sudah berapa banyak kata cinta dan kata rindu yang ia ucapkan tetapi pria ini tak kunjung membuka matanya. Sheila yang begitu banyak khayalan sempat berpikir bahwa Ferdinand sedang berpetualang di alam lain bersama dengan rohnya yang terlepas selagi ia koma.
"Hei, apakah tidak ingin kembali padaku lagi?" tanya Sheila setengah merajuk.
__ADS_1
Hal ini jelas diperhatikan oleh Gavriel yang sedari tadi berada di ambang pintu memperhatikannya dan ia menahan tawa geli melihat bagaimana cara Sheila mengungkapkan perasaannya dan juga memperlihatkan kasih sayangnya.
'Dia sangat menyayangi Ferdinand terlepas dari bagaimana anak itu membohongi gadis ini. Perasaannya murni pada Dinand sebab waktu itu anak nakal itu mengaku sebagai gelandangan. Wajar Sheila merasa curiga, mana mungkin ada gelandangan tampan dan memiliki kulit putih, bersih, mulus dan terawat sepertinya. Sungguh Dinand tidak mencari alasan yang lebih masuk akal lagi. Namun begitu, akhirnya mereka terjebak akan perasaan cinta dan semoga mereka berjodoh. Aku merestui,' ucap Gavriel dalam hati.
Sheila menggenggam tangan Ferdinand, lalu ia mengecupnya. Kini wajahnya merajuk dan sedih sebelumnya terlihat mulai berubah sendu. Dia kembali ditarik oleh kenyataan bahwa pria dihadapannya ini sedang berjuang untuk kembali sadar dan sehat seperti sedia kala.
Sheila menundukkan kepalanya di atas ranjang masih dengan tangan Ferdinand sebagai bantalannya.
"Mengapa begitu lama membuka matamu? Aku sungguh menantikan kapan kau akan kembali tersenyum padaku. Cepatlah sehat agar kita bisa kembali bersama bercerita. Aku merindukanmu Ferdinand, cepatlah buka matamu, tatap aku dengan penuh cinta. Aku sungguh menantikan hal-hal itu dan tak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan dan kesehatanmu. Percayalah aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu ...."
Mendengar isakan Sheila, Gavriel tak tahan untuk hanya memandangnya saja. Ia membuka pintu itu kemudian ia berjalan dengan perlahan menghampiri Sheila.
"Percayalah dia akan baik-baik saja. Teruslah berdoa untuknya, semoga sebentar lagi dia akan sadarkan diri dan kembali berkumpul bersama kita. Cinta tulusmu akan menuntunnya untuk kembali membuka mata. Percayalah pada kekuatan cintamu itu dan semoga Tuhan menyertai perasaan kalian berdua," ucap Gavriel yang membuat Sheila tersentak.
Buru-buru Sheila mengangkat kepalanya kemudian ia menghapus jejak-jejak air matanya dan memberi hormat kepada Gavriel.
"Tuan Gavriel ... maafkan saya, saya tidak tahu Anda sudah berada di sini, sungguh," ucap Sheila dengan suara yang terdengar begitu serak. Ia bahkan menahan tangisnya yang hendak kembali pecah.
Gavriel menggeleng. "Minta maaf untuk hal apa? Kamu tidak salah apapun padaku, aku bahkan ingin berterima kasih karena kamu sudah mencintai adikku dengan begitu besarnya, dan terima kasih juga karena kamu mau menerimanya, seperti apa kekurangannya. Aku tahu kamu mengetahui identitas Ferdinand yang lainnya, terlepas dari siapa itu keluarga Mazeen, aku sangat bersyukur untuk itu. Aku juga merestui hubungan kalian, berbahagialah dan semoga Ferdinand segera membuka matanya."
Sheila menarik lengkung bibirnya dan menatap Gavriel dengan pandangan berkaca-kaca lalu menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat selain kekuatan doa. Mari kita berdoa untuk kesembuhan Ferdinand dan kamu pun jangan lupa untuk tetap mengurus ibumu juga pendidikanmu karena itu juga teramat penting bagi kehidupanmu," nasihat Gavriel lagi dan Sheila lagi-lagi dibuat mengangguk olehnya.
Setelah itu tak ada pembicaraan apapun antara mereka. Gavriel melangkah ke sisi lain ranjang tersebut kemudian ia mengusap rambut adiknya. Ia juga sangat hancur hatinya sama seperti Sheila dan juga sangat berharap adiknya itu segera membuka matanya.
Walaupun mereka sering tinggal terpisah, ia juga sempat marah besar kepada Ferdinand karena telah menyembunyikan Audriana dan anaknya, tetapi bagaimanapun juga mereka adalah kakak-beradik, sedarah. Tidak mungkin ada permusuhan di antara mereka seberat apapun permasalahan itu.
'Cepatlah bangun Dinand, Kakak menantikan kamu kembali seperti biasanya. Kamu anak yang kuat sejak dulu, Kakak tidak rela jika kamu meninggalkan Kakak. Bangunlah, Kakak ingin segera mendengar suaramu dan menatap matamu. Setelah ini kamu bebas berbuat apapun terserah dirimu, tetapi yang pasti kamu harus bangun dulu ...,' ucap lirih Gavriel dalam hati.
Setelah puas memandangi adiknya, Gavriel berpamitan pada Sheila. Tak lupa ia mengingatkan pada gadis itu untuk tidak memfokuskan diri pada Ferdinand karena di rumah sakit ini juga ada ibunya dan juga ia di Negara ini memiliki tujuan selain merawat ibunya yaitu melanjutkan studinya.
Sheila merasa begitu diperhatikan. Selepas Gavriel pergi ia kembali berkhayal jika ia menikah dengan Ferdinand tentu saja ia akan mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya. Ia bisa melupakan pedihnya kehidupan sebelumnya bersama dengan pengkhianatan ayahnya dan juga keserakahan ibu tirinya hingga mengancam nyawanya.
"Andai saja pembunuh bayaran itu bukan kamu, aku pasti sudah mati di tangannya bersama dengan ibuku yang mati di gubuk karena sudah tidak ada lagi yang merawat dan mengetahui keadaannya. Hiks ... sungguh rencana Tuhan lebih baik dari para perencana. Aku bersyukur untuk semua ini," ucap Sheila yang kembali menangis mengingat bagaimana kehidupan dia bersama ibunya dahulu.
...
Siang ini di bandara terlihat begitu ramai dengan para penumpang pesawat entah yang baru akan melakukan penerbangan atau yang baru sampai. Nampak tiga pria tampan sedang berjalan untuk penerbangan mereka kembali ke negara asal sambil mengobrol.
__ADS_1
Natha yang nampak tengah fokus dengan ponselnya tak menyadari ada bahaya yang mengancam hingga akhirnya sebuah peluru bersarang di bahunya dan menguat ponselnya terjatuh di lantai.
Suara tembakan tersebut membuat panik orang-orang yang ada di bandara sedangkan Albert dan Zicko secepatnya membawa Natha keluar dan mencari taksi untuk mereka ke rumah sakit.