OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 196


__ADS_3

Dengan menggila Adrian mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Hans yang menurut feelingnya harus ia datangi lebih dulu sebelum rumah Farah. Kali ini tidak ada ampun lagi darinya, mereka sudah membawa keponakannya berhari-hari hingga membuat adiknya depresi, Adrian tidak terima semua ini. Ia kali ini sudah melepas benteng kelembutannya dan perikemanusiaan. Ia hanya akan membunuh jika tidak ada yang mau bekerja sama dengannya untuk menemukan Bastian.


Sesampainya di alamat tersebut, dengan cepat Adrian turun dan mengetuk pintu rumah yang terlihat sederhana dengan pagar kayu dan agak jauh dari rumah tetangga. Sekitar seratus meter baru akan menemukan rumah warga lainnya.


Suara gedoran pintu membuat penghuni rumah terusik. Ia marah dari dalam dan hendak memaki siapapun yang sudah mengusik ketenangannya di siang ini.


"Siapa?" tanyanya dari dalam dan baru saja ia bersiap untuk memberi umpatan makian, ia dibuat kaget dengan sosok yang berdiri dengan tatapan siap memangsa di depannya.


"Di mana Bastian?" tanya Adrian dengan suara dingin namun didominasi aura yang menekan hingga mampu membuat Hans gemetar.


"A-aku tidak tahu," jawabnya terbata. Ia memang pernah melihat Adrian, seorang pengusaha sukses di negara ini yang selalu terlihat bersahaja dan belum pernah memiliki kasus atau skandal apapun itu, tetapi yang berdiri di hadapannya kali ini begitu berbeda. Pria ini siap memangsanya kapanpun itu.


Adrian tersenyum sinis, rupanya pria di hadapannya ini masih ingin bermain-main dengannya. Ia siap meledakkan kepala pria ini jika masih belum juga berkata yang sebenarnya.


"Jawab yang jujur atau detik ini juga kamu menghadap Sang Pencipta!" ancam Adrian.


Hans gelagapan, ia tahu orang di depannya ini siap membunuh dan memenuhi setiap perkataannya, tetapi ia juga tidak bisa mengatakan di mana Bastian bersembunyi, ia akan menjadi pengkhianat sedangkan Bastian sudah banyak membantu kehidupannya.


"Gelagatmu sudah membuatku curiga. Beritahu atau aku ledakkan kepalamu!" ancam Adrian lagi.


"A-aku benar-benar tidak tahu. A-anda silakan saja periksa rumah saya jika Anda tidak percaya," ucap Hans, menurutnya dengan Adrian memeriksa rumahnya dan tidak menemukan keberadaan Bastian itu jauh lebih baik.


Adrian mengeluarkan pistol dari saku celananya. Ia bermain-main dengan pistol tersebut di hadapan Hans dengan sengaja, ia ingin menguji seberapa besar nyali pria ini menyembunyikan tuan mereka.


Hans kesulitan menelan salivanya, baginya pria ini lebih kejam dari Gavriel Mazeen yang pada kasus ini tidak menyerang sama sekali. Oh andai ia tahu Gavriel bisa saja menggila lebih dari ini jika saja istrinya tidak sedang sakit di rumah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pistol ini meledakkan kepalamu, Hans?"


Hans terkesiap, bukan hanya karena Adrian mengetahui namanya, itu juga karena pistol itu sudah menempel tepar di dahinya. Ia tidak mampu hanya untuk menelan ludahnya sendiri sebab tenggorokannya terasa begitu sakit seakan mencekiknya.


'Pria ini tidak bisa dianggap remeh. Dia pasti sudah mencaritahu tentangku dan yang lainnya lebih dulu. Sial! Jika aku mengatakan mencari ke rumah Farah lalu jika benar tuan Bastian berada di sana, maka habislah riwayatnya,' gumam Hans dalam hati.


"Bersuara atau mati?"


Lutut Hans gemetar, rasanya ia begitu lemas tak mampu menopang bobot tubuhnya lagi. Adrian terlalu mengerikan dan ia tidak sanggup lagi berpikir keras.


"Ambil ponselmu dan hubungi Bastian Elard sekarang juga!" perintah Adrian dengan tatapannya yang begitu tajam.


Mata Hans melotot, ini sama saja ia yang menjerumuskan tuannya. Tetapi, jika ia tidak melakukannya maka ia yang ada dalam bahaya. Haruskah ia menyelamatkan nyawa orang lain lantas melupakan dirinya sendiri? Haruskah ia mengikhlaskan kehidupannya berakhir untuk menyelamatkan hidup orang lain? Hans tidak semurah hati itu.


Hans mengangkat tangannya, ia akan menghubungi Bastian dan berniat kabur dari rumah itu setelah Adrian pergi dari sana. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Tangan Adrian pun tak bergeming, masih dengan menempelkan mulut pistolnya di dahinya.


Dengan gemetar tangan Hans menekan ponselnya dan mengaktifkan loud speaker ponselnya agar Adrian bisa mendengar percakapan mereka.


"Halo Hans. Ya kebetulan sekali kamu menghubungiku, aku hanya ingin mengatakan kalau kamu berhati-hatilah karena anak buah Gavriel sedang melakukan penggeledahan di setiap rumah tanpa terkecuali. Aku membawa anak ini ke rumah Farah karena mereka sudah selesai menggeledah rumah itu—"


Belum selesai Bastian berbicara, Adrian sudah mematikan panggilan tersebut sambil menyeringai. Ia melepaskan senjatanya dari dahi Hans hingga membuat pria itu bernapas lega.


Tanpa pamit Adrian segera berbalik badan dan pergi meninggalkan Hans. Tetapi, satu hal yang tidak diduga oleh Hans, ketika ia baru saja akan masuk ke dalam ruang dan akan mengirimkan pesan kepada Bastian, kakinya mendapat satu tembakan dan pelakunya adalah Adrian yang saat ini sedang berjalan sambil tersenyum puas.


"Baru ditinggal sebentar sudah akan melawan. Tch! Kamu pikir saya bodoh melepaskanmu begitu saja. Haha, tadi saya baru mengetes dan ternyata sesuai dugaan," ucap Adrian kemudian ia kembali melepaskan satu peluru ke bahu Hans hingga pria itu mengerang kesakitan.

__ADS_1


Tak ada perlawanan saat Adrian menyeret Hans dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Ia akan menyerahkan pria ini pada kelompok Mazeen sebab ia percaya Hans terlibat dalam penculikan Ferdinand dan mengenai hukuman untuknya itu urusan kelompok Mazeen.


"Larilah sejauh kau bisa Bastian Elard, karena hari ini adalah akhir bagimu. Aku datang untuk mengantarmu ke peristirahatan terakhir!" ucap Adrian kemudian ia menghidupkan mesin mobilnya.


Di tempatnya, di rumah Farah saat ini Bastian sedang menatap layar ponselnya karena Hans yang tiba-tiba menelepon lalu tanpa berbicara apapun ia langsung menyudahi panggilan tersebut.


"Hans kenapa? Apa sesuatu telah terjadi padanya?" tanya Bastian pada dirinya sendiri.


Bastian menatap Gea yang sedang duduk diam sambil memerhatikan Harris bermain bersama ibunya. Usia mereka sama namun Gea tidak berniat sama sekali mendekati Harris.


"Farah, ke sini sebentar," panggil Bastian.


Farah langsung mendekat dan ia benar-benar merasa gugup setiap kali bersama dengan Bastian. Farah tahu ini tidak benar sebab Bastian adalah anak tirinya, tetapi ia juga tidak bisa mencegah perasaan tersebut tumbuh di hatinya.


"Ada apa Tuan?" tanya Farah.


Bastian menyeringai lalu berkata, "Anak itu sangat cantik, bagaimana kalau kita jual saja untuk dijadikan budak atau anak adopsi orang di negara lain. Jika kita menanti uang tebusan dari Gavriel, bukan tidak mungkin mereka malah menangkap kita. Aku berubah pikiran, aku akan membawanya ke rumahku di New Zealand dan menjualnya di sana. Ayo kemasi barang-barang kalian karena sekarang kita harus ke bandara," ucap Bastian.


Farah tidak mengerti sama sekali dengan niat Bastian. Tadinya jika ia mengajaknya ke negara lain Farah sempat berpikir jika Bastian akan memulai hidup baru dengannya, tetapi ia salah.


"Tapi mengapa mengajakku untuk kembali ke sana. Ada ap—?"


"Ssttt ...." Bastian meletakkan jari telunjuknya di bibirnya menginterupsi ucapan Farah. "Ada yang datang. Sekarang cepat periksa siapa yang datang dan bisa saja itu adalah Gavriel atau Hans," titah Bastian.


Dengan memberengut Farah pergi ke arah pintu dan ia terkejut melihat siapa yang sudah mengetuk pintunya berulang kali. Farah langsung terkejut begitu melihat siapa tamunya.

__ADS_1


"Dasar tidak sopan! Anda ... Bagaimana bisa?"


__ADS_2