
Penolakan Sheila membuat Dinand terpukul. Gadis yang mengaku jatuh cinta padanya namun menolaknya ketika ia menyatakan perasaannya secara langsung. Awalnya Dinand pikir ini akan mudah, ia bertemu Sheila dan cinta mereka bersemi. Tapi ternyata ia salah, gadis itu justru menolak cintanya dan kini mereka sudah berada di taman rumah sakit.
"Maaf Dinand, aku sungguh tidak bisa menjadi kekasihmu. Aku kecewa karena kamu tidak pernah jujur padaku. Aku juga ingin fokus mengurus ibuku lalu aku melanjutkan kuliah yang sempat tertunda. Aku tidak terpikirkan untuk merajut tali kasih kita. Aku hanya ingin fokus pada kehidupanku dan juga ibuku," ucap Sheila yang sekali lagi sekaan mere-mas jantung Dinand.
Dugaan dan khayalan tentang hubungan yang harmonis, penuh kebahagiaan dan juga suasana romantis keduanya saat bertemu kembali hanyalah angan belaka. Justru yang terjadi malah sebaliknya, Dinand dibuat patah hati bahkan sebelum mereka menjalin hubungan.
"Shei—"
"Akan lebih baik kita menjadi sahabat seperti dulu. Aku lebih nyaman berdekatan denganmu tanpa takut kamu sewaktu-waktu akan membunuhku," potong Sheila yang membuat Dinand terdiam.
Sheila sebenanrya sangat ingin menerima Dinand sebagai kekasihnya, tetapi ia lebih memilih untuk mengurus dirinya dan ibunya dulu. Ia masih harus membuat dirinya menjadi gadis yang sukses hingga bisa membanggakan ibunya dan juga ayahnya. Sekalian ia ingin memperlihatkan pada ibu tirinya jika ia bisa berdiri di kaki sendiri walaupun ada keluarga Adiguna di belakangnya.
"Tapi, apakah kamu tidak mencintaiku? Aku menemukan surat itu dan disana kamu bilang kal—"
"Ya, aku memang mencintaimu tapi bukan berarti aku mau menjalin hubungan dengan pria berbahaya sepertimu. Itu hanyalah sebuah rasa yang tidak seharusnya ada karena yang aku cintai adalah Dinand, lelaki yang datang ke rumahku dengan mengaku sebagai gelandangan. Pria itu yang aku cintai, bukan Ferdinand Mazeen!"
Dinand memejamkan matanya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ia tidak salah jatuh cinta hanya caranya diawal yang memang keliru. Lagi pula waktu itu ia tidak akan tahu jika targetnya justru akan menjadi orang yang ia cintai. Harusnya ia tidak sampai jatuh cinta dan bermain hati seperti ini. Tapi Dinand merasa bahwa Sheila adalah wanita yang ditakdirkan untuknya setelah ia bertahun-tahun mencintai calon kakak iparnya.
Mata Dinand terpejam, ia harus bisa mengontrol emosinya. Bagaimanapun Sheila pun masih begitu muda dan mereka berselisih beberapa tahun dengan ia yang lebih tua dari Sheila.
"Ambil waktu sebanyak mungkin tapi ingat akulah yang akan memilikimu dan kamu hanya untuk aku. Silahkan mengurus ibu dan dirimu, silahkan tempuh pendidikan sebanyak yang kamu mau. Tapi ingat Sheila, akulah yang akan menjadi tujuan akhirnya setelah kamu puas mencari jati dirimu," ucap Dinand mencoba mengalah karena ia tahu Sheila pun tidak akan mengubah keputusannya.
__ADS_1
Sheila tercengang mendengar penuturan Dinand. Ia mengalihkan wajahnya yang saat ini sudah memerah dan bahkan ia kesulitan melawan bibirnya yang terus ingin tersenyum. Siapa yang tidak akan melayang mendengar penuturan tersebut, Dinand seakan sudah menentukan kedepannya akan seperti apa.
Dinand tidak melihat seperti apa ekspresi Sheila karena ia sibuk menata hatinya sendiri. Ditolak tidak pernah ada dalam pikiran Dinand saat ini meskipun kemungkinan itu ada mengingat di dalam surat Sheila sudah mengatakan bahwa ia mengetahui tentang Dinand yang akan membunuhnya.
"Apakah kamu baru saja mengatur masa depanku?" tanya Sheila setelah ia berhasil menguasai dirinya. Raut wajah Sheila kembali datar dan Dinand dibuat kecewa karena gadis yang ia akui sebagai kekasihnya ini tidak terlihat merasa bersalah setelah mematahkan hati dan harapannya.
"Ya. Apakah kamu keberatan? Sekalipun iya, aku tidak peduli. Aku sudah jatuh cinta padamu dan kamu harus tahu kalau tidak ada yang bisa menghentikan langkahku ketika aku ingin mendapatkan sesuatu," jawab Dinand yang mencoba menunjukkan kepada Sheila bahwa ia benar-benar akan menentukan takdir Sheila.
Kesungguhan Dinand dan tekadnya yang kuat membuat Sheila semakin melambung tinggi. Selain itu, sebenarnya dan sesungguhnya ia sudah mendapat kabar dari calon kakak iparnya jika Dinand akan menemuinya dan ia meminta agar Sheila tidak menerima cinta pria itu dulu dan membiarkannya berjuang sekali lagi tentu dalam keadaan yang tidak ada kepura-puraan di dalamnya seperti saat pertama kali Dinand menghampirinya.
Sheila harus pandai memainkan drama ini jika ia memang benar-benar menginginkan Dinand menjadi pria yang baik dan tidak akan memanipulasinya lagi setelah ini. Anggap saja ini adalah ujian untuk Dinand dalam memenangkan cintanya. Sheila akan tetap setia padanya akan tetapi ia tidak bisa menerima hubungan untuk sekarang dan harus fokus meraih mimpinya lebih dulu walaupun salah satu mimpinya adalah menjadi pasangan Dinand.
"Kamu sebaiknya kembali Dinand. Aku juga harus menjaga ibuku. Nanti kita bisa bicara lagi dan aku tidak menutup akses untukmu kok. Kita 'kan teman," ucap Sheila dan Dinand hanya bisa tersenyum kecut mendengar kata 'teman' tersebut.
Sheila menggeleng. Ia memperhatikan penampilan Dinand yang sudah seperti bos-bos di perusahaan besar dan itu memang adalah kenyataannya.
"Jika kamu terus bersamaku, lalu kapan kamu akan pergi bekerja? Mau diberi makan apa aku dan anak kita nanti jika kamu malas bekerja — upsss ..."
Sheila langsung berlari setelah ia mengomeli Dinand tanpa sadar. Ia malu dan juga kesal karena tidak bisa menahan diri ketika tadi tak sengaja mengeluhkan Dinand yang tidak mau bekerja sedangkan ia sejak tadi terus berkoar-koar akan menjadi masa depan Sheila.
Dinand tertawa, tawa bahagia. Hilang sudah raut wajah kusut bagai pakaian yang bertumpuk-tumpuk dan tidak disetrika.
__ADS_1
"Hei dengar, aku akan pergi bekerja dan mengumpulkan banyak uang untuk masa depan kita dan anak-anak kita nanti," teriak Dinand dengan begitu senangnya.
Sheila tidak berbalik badan dan ia meneruskan langkahnya sambil berusaha menyembunyikan senyumannya yang tidak mau surut dari bibirnya. Sesampainya di ruang rawat ibunya, Sheila langsung menutup pintu kamar tersebut dengan rapat seakan Dinand akan datang untuk mendobraknya.
Sheila memegangi dadanya yang berdebar-debar sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Bibir itu terus saja tersenyum dan mata Sheila masih memancarkan binar kebahagiaan yang sejak tadi ia tahan.
Sheila sangat senang dan sangat bahagia sekali ketika ia mendapat kabar kalau Dinand akan bertemu dengannya. Ia pun sama merindunya seperti Dinand dan ia juga sangat menanti pertemuan ini. Namun ucapan calon kakak iparnya juga benar, Dinand harus dilihat kesungguhannya dan Sheila harus sok jual mahal agar sekali lagi Dinand akan berjuang untuknya.
"Kalau cinta mengapa ditolak?"
Pertanyaan Bu Anjar membuat Sheila kaget. Ia pikir ibunya sedang tidur tapi ternyata tidak. Pipi Sheila memerah, ia jadi salah tingkah karena ibunya memperhatikan kelakuannya tadi.
"Aah ibu ... Sheila hanya tidak ingin salah, Bu. Dinand ternyata bukan sesederhana yang kita kenali. Dia anak orang kaya, Bu. Dia adalah anak dari keluarga Mazeen yang konon katanya harta mereka tidak akan habis walau dimakan tujuh turunan dan tubuh tanjakan, Bu. Apalag aku," ucap Sheila merendahkan dirinya di hadapan ibunya.
Gadis ini bingung harus bersikap seperti apa. Dalam satu waktu ia harus menjadi gadis kuat dan tak sentuh. Di waktu yang lain ia juga menyembunyikan rasa cintanya dan mengatakan bahwa ia dan Dinand tidak akan pernah mungkin bersatu karena perbedaan kasta. Namun di sudut hatinya yang terdalam, Sheila benar-benar berharap jika ia dan Dinand akan berjodoh.
Bu Anjar tersenyum. "Jika kamu bersamanya maka ibu akan merasa tenang karena ibu sudah tahu seperti apa orangnya. Jika ibu meninggalkanmu, ibu bisa tenang dan kamu pasti akan sangat bahagia dan beruntung jika bersamanya," ucap Bu Anjar yang membuat air mata Sheila menetes dengan sendirinya.
"Ibu ngomong apa sih? Jangan gitu dong, Bu," tegur Sheila namun sayangnya ibunya hanya terkekeh saja mendengar protes sang anak.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat dan ibu juga akan tidur. Restu ibu bersama kalian berdua," ucap Bu Anjar kemudian ia menutup matanya dan terlelap di alam mimpi.
__ADS_1
Sheila menghela napas kemudian ia pergi ke sofa untuk berbaring.
Andai ibu tahu siapa Dinand, ibu pasti tidak akan merestui.