OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 173


__ADS_3

Berbeda halnya dengan Troy yang sedang merasa jatuh cinta, saat ini Ferdinand sedang merasa patah hati. Ia melihat Sheila sedang berbicara dengan seorang perawat pria yang terlihat sebaya dengan Sheila dan mereka terlihat sangat akrab. Niat hati mengunjungi kekasih hati walau belum jadi kekasih sungguhan, tapi ia justru menemukan Sheila sedang bercanda dengan seseorang dan itu membuatnya panas.


"Tch, mengapa aku harus cemburu pada perawat itu? Dia hanya perawat dan aku adalah seorang Mazeen. Dia tentu kalah jauh dariku, tapi aku tidak yakin dengan Sheila. Gadis itu tidak memandang harta, aku saja yang waktu itu mengaku gelandangan tetap diterimanya dengan baik dan menjadi temannya lalu diam-diam dia jatuh cinta. Apalagi pria perawat seperti dia. Hei Sheila, mengapa kamu membuatku gelisah? Apa aku bunuh saja pria yang asyik bercanda bersamamu itu?"


Buru-buru Ferdinand mengurungkan niat jahatnya itu. Ia tidak mungkin membuat masalah hanya karena ia patah hati. Toh ia tidak tahu juga hubungan seperti apa yang dimiliki Sheila bersama perawat itu. Ia kembali menormalkan pikirannya dan menganggap Sheila dan pria itu hanya sekadar berbincang karena dia yang bertugas merawat Bu Anjar — ibunya Shiela.


Sheila sendiri sebenanrya sudah mengetahui kedatangan Ferdinand. Hanya saja ini sudah larut malam dan bukan lagi jam besuk. Tadinya Sheila yang tidak bisa tidur karena sibuk belajar untuk masuk perguruan tinggi di negara ini berniat untuk mencari kopi di luar sana yang biasanya selalu tersedia 24 jam di dekat rumah sakit. Namun ternyata perawat yang bertugas menjaga ibunya pun ingin melakukan hal yang sama dan ia meminta Sheila untuk menutup saja padanya.


Sheila tahu Ferdinand merasa cemburu padanya, ia sangat suka dan berharap Ferdiand akan mendekat dan mengenaskan kepemilikannya, namun sayang pria itu justru berbalik pergi.


Hati Sheila terasa perih, ia tidak mengira Ferdiand memilih menjauh dibandingkan mendekatinya dan mengambilnya dari perawat yang bernama Gaon ini.


'Apakah dia marah? Tidak biasanya dia pergi tanpa mengatakan apapun,' gumam Sheila dalam hati.


"Kamu melamun?" tanya Gaon dan Sheila sedikit tersentak.


Merasa sudah melakukan hal yang salah dengan berduaan dengan pria lain walau itu bukanlah sebuah kesalahan karena ia dan Ferdinand tidak memiliki hubungan, Sheila pun memutuskan untuk masuk saja. Ia merasa tidak enak hati pada Ferdinand.


"Maaf Gaon, sepetinya aku mengantuk. Kenapa meminum kopi ini justru membuatku mengantuk?" ucap Sheila mencoba untuk menghindari Gaon, walau ternyata sebenarnya ia tidak merasa ingin tidur.


Gaon tertawa, ia kemudian meminta Sheila untuk masuk saja dan beristirahat. Dengan cepat Sheila masuk dan ia melihat sebentar ibunya lalu ia berpindah pada satu kasur busa yang disediakan oleh Ferdinand untuknya agar ia tidak perlu tidur di sofa.

__ADS_1


Sangat perhatian bukan?


'Dinand, apakah kamu benar mencintaiku? Tapi yang aku tahu kamu itu adalah orang terkaya di negara ini. Apakah pantas aku bersamamu? Aku terlalu merasa kecil. Kamu bagaikan langit yang hanya bisa aku pandang tanpa bisa aku sentuh. Apakah perasaan ini tidak berlebihan karena menyukaimu?'


Sheila bukannya menolak Ferdinand karena ia tidak cinta, bukan. Ia hanya sadar diri dan memilih mematahkan hatinya lebih dulu agar sembuhnya lebih cepat. Memiliki Ferdinand adalah hal yang menurutnya hampir mustahil. Mungkin Dinand menyukainya, tapi bagaimana dengan kedepannya karena berhubungan dengan orang berduit itu jalannya tidak akan semulus jalan tol.


.


Di dalam mobilnya Ferdinand tengah mengumpati sang kakak yang tadinya justru menyuruh ia bekerja di kantor padahal ia ingin mengambil waktu untuk bertemu Sheila dan kembali meyakinkannya jika ia benar-benar ingin menjadikan Sheila sebagai kekasih. Tapi sayang sekali perintah seorang Gavriel Mazeen tidak mungkin ia tentang.


Ferdinand memang seorang pembunuh bayaran tapi ia tidak mungkin membunuh kakaknya sendiri. Apalagi karena masalah wanita, ia lebih memilih mengumpat saja agar setelah itu ia merasa lebih tenang dan bisa berpikir jernih.


"Tidak tidak, yang ada aku justru diamuk kak Gavriel dan Sheila justru membenciku. Sebaiknya jangan melakukan hal yang konyol. Sebaiknya aku memikirkan cara yang lain."


Dalam lamunannya, ponsel Dinand berdering dan itu dari nomor yang tidak dikenalinya. Ia mengangkat sebelah sudut alisnya karena nomor telepon yang biasanya masuk ke ponsel miliknya ini hanyalah orang-orang yang akan menyewa jasanya. Dalam hati Ferdinand mengatakan bahwa ini pasti adalah sebuah pekerjaan.


"Ya ... saya sendiri ... membunuh seseorang ...? Kita akan membicarakannya secara langsung ... baik besok pagi kita akan bertemu ...."


Ferdinand menyimpan ponselnya. Sepertinya pekerjaan ini membuat moodnya menjadi lebih baik. Ia memang suka bermain dengan nyawa seseorang tapi ia bukanlah seorang psikopat melainkan seorang profesional. Namun demikian, ia tidak menggunakan identitas aslinya sebagai seorang Mazeen dalam pekerjaan ini. Lagi pula hanya orang-orang tertentu yang akan mengetahui jika ia adalah adik dari Gavriel Mazeen dan identitas mafia mereka itu sangat terjaga ketat.


Dinand kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Ia melirik sekilas ke arah rumah sakit sembari berkata, "Setelah ini aku akan sibuk dan harus menyelesaikan misiku. Aku mungkin tidak akan datang menemuimu dalam waktu dekat dan aku harap kamu tetap menjaga hatimu untukku, Shiela."

__ADS_1


Dinand pun meninggalkan area rumah sakit dan segera pulang ke rumahnya. Rumah yang jarang ia tempati karena pekerjaannya yang begitu banyak membuatnya harus meninggalkan rumah dan berpetualang ke kota-kota lain atau negara-negara lain tempat di mana ia mendapatkan panggilan kerja.


Keesokan harinya, Dinand pun berangkat ke kota tempat ia janjian dengan calon kliennya. Dengan menaiki kendaraan pribadinya yang berupa mobil balap keluaran terbaru, ia bisa sampai ke kota itu dengan sedikit lebih cepat dari jarak tempuh biasanya.


Ia pun turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya yang langsung menjadi pusat perhatian setiap orang yang berlalu-lalang atau pengunjung kafe tempat ia memutuskan janji temu dengan calon kliennya.


Dinand kemudian digiring masuk ke dalam ruang VIP kafe tersebut dan di sana ia bertemu dengan seorang pria seusia kakaknya yang terlihat langsung menyambut kedatangannya. Karena ini masih di negaranya juga, Ferdinand memutuskan untuk mengenakan kulit sintetis di wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya.


Tanpa berbasa-basi, Ferdinand langsung meminta orang tersebut menjelaskan duduk perkaranya.


Pria yang bernama Colin itu langsung mengeluarkan selembar foto dan memperlihatkannya kepada Ferinand.


"Namanya Noella, dia adik tiriku tapi pembagian warisan itu jatuh padanya lebih banyak. Aku ingin Anda membunuhnya dan sebelum itu buat dia menandatangani surat pengalihan harta," ucap Colin dan Ferdinand menganggukkan kepalanya mengerti.


'Apakah harta bisa membuat saudara saling menghabisi? Tapi aku dan kak Iel sama sekali tidak merasa demikian. Aku tidak berminat mengerjakan pekerjaannya tapi dia selalu memberiku bagian setiap bulannya. Aahh, apakah benar harta itu bisa membuat orang bercerai berai?'


"Baiklah, saya akan melakukannya dengan segera," ucap Dinand kemudian ia dan pria itu saling berjabat tangan.


Sebuah seringai terbit di bibir pria itu kemudian ia mengajak Ferinand untuk mencicipi hidangan yang sudah ia pesan sedari tadi.


'Pria ini sangat mencurigakan. Aku merasa ada yang aneh dengannya, tetapi entah apa!'

__ADS_1


__ADS_2