OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA

OUR LOVE STORY TAPI ADA DIA
BAB 178


__ADS_3

Byurrr ...


Wajah Dinand basah dengan guyuran air seember dan ia tidak bisa mengelap wajahnya sebab ia terikat dan tangannya tidak bisa ia gerakkan. Setelah ia bisa bernapas dengan baik, Dinand kemudian membuka matanya dan bersiap mengumpat tetapi yang ia dapati di depannya ada pria itu, pria yang menghubunginya malam itu dan ditemuinya tadi pagi untuk menerima misi.


Dinand kembali mengingat kejadian tadi siang dimana ia yang mengikuti targetnya dan akhirnya keadaan berbalik saat wanita itu justru menodongkan senjata api di pelipisnya. Dinand yang tidak siap kala itu mencoba melawan tetapi serangan dari wanita itu justir membuatnya kalah telak sebab ia tidak siap dan lagi ada beberapa orang yang membantunya.


'Sial! Aku ternyata dijebak!' umpat Dinand dalam hati.


Dinand sebenarnya merasa takut dan cemas berlebihan, apalagi ia tidak memberitahu siapapun tentang misi kali ini. Belum lagi ia mengingat jelas jika ponselnya ia tinggal di mobil dalam keadaan mati. Ia berharap semoga kakaknya menyadari ketiadaannya dan mereka mencarinya.


Ia tidak takut melawan musuh dan bahkan ini bukan sekali dua kali tetapi tak terhitung berapa banyak Dinand berada dalam situasi genting tetapi tidak dengan dirinya yang diikat dan tidak bisa melawan balik. Tidak adil baginya tetapi ia tahu mana mungkin musuh yang kekuasaannya berada di bawah level keluarga Mazeen akan berani menyerangnya dengan tangan kosong.


"Kalian berkonspirasi untuk melawanku? Cuih! Jika berani maka lawan aku dan jangan jadi pecundang seperti ini!" ejek Dinand yang sebenarnya ingin memainkan emosi lawannya agar mereka mau membuka ikatannya sehingga ia bisa melawan dan menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


Namun sayang, dua orang yang sangat Dinand kenali itu tidak terprovokasi sama sekali, mereka justru tertawa mendengar ucapan Dinand yang sangat percaya diri itu.


Farah maju mendekat ke arah Dinand dengan di tangannya ada sebilah pisau yang menjadi favoritnya selama ini. Ia kemudian mengelus pundak Dinand dengan gerakan sensual namun sayang sekali pria ini tidak memberikan reaksi seperti yang diinginkan oleh Farah.


Tak ingin dipandang rendah oleh Dinand, Farah kembali menyentuhnya tetapi dengan sentuhan yang berbeda. Farah merangkai wajah Dinand dengan menjalankan pisau itu di wajah Dinand seakan membentuk pola wajah Dinand.


"Upss ... aku tidak sengaja," ucap Farah ketika ia dengan sengaja menekan ujung pisau tersebut hingga pipi Dinand mengeluarkan darah.


Dinand tersenyum menyeringai, ia tidak akan menunjukkan wajah yang merasa kesakitan atau ketakutan. Ia adalah seorang Mazeen dan ia harus tetap mempertahankan sikap kepercayaan dirinya sebab itulah modal utamanya untuk menemukan dan menaklukkan lawan.


Terprovokasi dengan senyuman santai Dinand membuat Farah merasa kesal dan ia langsung menancapkan belati yang ia pegang di dada Dinand.


Dinand mengernyit menahan sakit, sesekali ia meringis sebab pisau yang tertancap di dadanya sepertinya mengandung zat berbahaya.

__ADS_1


Farah dan temannya tertawa terbahak-bahak, namun Dinand sama sekali tidak terprovokasi. Ia menunggu dalang dibalik semua ini.


Penantian Dinand tak berlangsung lama saat ia mendengar derap langkah kaki semakin mendekat. Walaupun wajahnya kini berlumuran darah, ia tidak takut jika harus kembali menghadapi musuh sebenarnya. Ia tahu dua orang yang menjaganya dan juga pelakon penipuan tersebut bukanlah musuhnya sebenarnya sebab ia tidak mengenali dua orang ini.


Ditemani pencahayaan yang minim, Dinand mencoba untuk menyipitkan matanya dan akhirnya ia menyeringai begitu tahu siapa yang sudah melakukan rencana penculikan terhadapnya ini.


"Woah, sudah bisa ditebak. Saya sudah menduga Anda adalah dalangnya Tuan Bastian Elard. Ternyata benar Anda adalah seorang pecundang karena beraninya menipu dan mengikatku seperti ini seakan ingin menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang lemah. Hahahaha ...."


Dinand mencoba untuk memprovokasi Bastian dan benar saja, pria itu langsung mendekat dan memberikan sebuah pukulan keras di wajah tampan Dinand. Tak lupa satu tendangan di kepala Dinand hingga darah segar mengalir dari sela-sela rambutnya.


Dinand merasakan sakit dan juga pusing di kepalanya ia sangat luar biasa. Tetapi ini bukan waktunya untuk melemah, ia harus kuat karena ada seorang gadis yang pasti menunggunya pulang dengan selamat.


'Aku tidak boleh mati sia-sia di tempat ini. Aku harus bisa pulang dengan selamat dan memeluk Sheila lalu aku nikahi .... ah sial! Bagaimana caranya bisa lari dari tempat ini sedangkan mereka sudah menyiapkan rencana yang sangat matang. Semoga saja aku bisa melewati semua ini dan berhasil pulang dalam keadaan utuh dan bernyawa,.'

__ADS_1


__ADS_2