
Bianca menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak menyangka Natha akan melamarnya secepat ini. Ia bahkan dibuat tidak bisa berkata-kata dengan sikap manis Natha, itu memang benar-benar sebuah kejutan yang sangat mengejutkan. Jadi tadi memang ucapan Natha itu bukanlah sebuah guyonan belaka, Natha benar-benar melamarnya.
"Tolonglah dijawab Bi, apakah kamu masih lama berpikir? Sumpah lututku sudah mulai terasa keram," ucap Natha dengan wajah meringis.
Air mata yang hendak jatuh dari mata Bianca karena terharu mendadak masuk kembali setelah mendengar ucapan Natha tersebut. Sungguh sangat tidak banyak romantisnya, baru saja berbicara manis melamarnya kini sudah mengeluh hanya untuk bertahan berlutut dalam beberapa detik saja.
"Dih! bagaimana bisa dijadikan jodoh, berlutut belum ada dua menit aja udah mengeluh," ujar Bianca yang membuat Natha tersenyum manis.
"Jangankan berlutut dua menit, dua puluh menit pun aku siap, asalkan kamu jadi jodohku!" ucap Natha menimpali ucapan Bianca.
Wajah cantik Bianca tersipu malu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Dalam hati berniat membuat Natha berlutut di harapannya sedangkan ia duduk ke tenang di kursi untuk waktu dua puluh menit seperti yang diucapkan oleh Natha. Bianca hanya ingin melihat keseriusan Natha, itu karena baginya pria yang dipegang adalah ucapannya dan bisakah Natha memegang ucapannya tersebut.
Mata Natha membulat sempurna ketika ia melihat Bianca justru malah asyik menyantap makanannya. Entah Bianca lupa tentang lamarannya atau memang gadis ini tidak ingin menerima pinangannya. Dalam hati Natha terus menerka-nerka mungkinkah Bianca hanya ingin bermain-main saja dengannya? Apakah Bianca belum ingin mengikat hubungan mereka dan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi?
"Apakah masih lama waktuku untuk berlutut di hadapanmu? Lupakah jika aku baru saja melamarmu? Kamu belum memberikan jawabannya loh," ucap Natha yang kini mulai gelisah, dia juga sedikit kesel dengan Bianca yang seakan acuh padanya.
Bianca melepas sendok dan garpunya kemudian ia menatap Natha sambil mengunyah makanannya. "Katanya tadi siap lutut selama dua puluh menit untuk bisa dijadikan jodoh, ya sudah lakukan saja. Ingat loh Nath, laki-laki itu yang dipegang ucapannya jadi buktikan ucapanmu tersebut baru bisa dijadikan jodoh."
Kembali Natha terbelalak, ia tidak percaya jika ucapannya tadi dijadikan senjata untuk Bianca mengerjainya. Benar-benar Natha tidak bisa dibuat membantah lagi karena memang ia sendiri yang berucap akan siap berlutut selama dua puluh menit asalkan bisa jadi jodoh.
Waktu yang digunakan Bianca untuk menghabiskan makanannya kurang dari 10 menit dan itu artinya masih ada 10 menit tambahan untuk Natha berlutut, sedangkan Bianca tidak tahu harus melakukan apa. Natha menengok makanannya yang belum tersentuh sama sekali sebab ia tadi melakukan drama menjatuhkan sendok hanya untuk membuat adegan romantis melamar Bianca.
Siapa yang akan menyangka adegan romantis itu berbuntut dengan ia yang harus berlutut selama 20 menit lamanya dalam keadaan perut yang kosong, pikiran yang kacau dan juga lamaran yang digantung. Bianca benar-benar tidak peduli padanya. Dan oh-oh, sekarang wanita itu sedang asyik bermain ponselnya.
"Apakah masih sangat lama? Tidak kasihan kah denganku? Ayolah Bi, bukankah kamu juga mencintaiku," rengek Natha. Bianca pun meliriknya tapi hanya sekilas kemudian ia kembali beralih pada ponselnya.
"Masih 8 menit lagi. Bisa tidak tersabar sedikit? Bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan jangankan 2 menit 20 menit pun aku sanggup. Lah terus dimana kata-kata itu?" ucap Bianca menirukan ucapan Natha hingga pria itu tidak bisa berkutik lagi.
'Hehehe .... kapan lagi itu aku mengerjai CEO tampan seperti Natha. Ah andai saja kita tidak di ruangan private, aku sangat ingin momen ini diabadikan oleh semua orang. Jika pun mengajak Natha untuk pindah ke ruangan yang lebih terbuka, mana mungkin dia mau berlutut lagi. Aih sial sekali aku, tidak bisa pamer dong aku,' gerutu Bianca dalam hati.
1 menit, 2 menit, 3 menit, hingga 8 menit pun berlalu akhirnya tantangan untuk Natha telah berakhir. Bianca pun memintanya untuk duduk dan menikmati makanannya sedangkan Bianca sendiri asyik dengan ponselnya.
Meskipun pertanyaan yang menggantung dan lamarannya seakan diabaikan, tetapi Natha tidak bisa mengabaikan genderang perang yang berbunyi dari dalam perutnya. Ia harus tetap selalu sehat, tubuhnya harus selalu fit karena ia begitu banyak kesibukan.
Seusai makan Natha langsung menatap Bianca dengan intens, tak lupa ia menarik ponsel Bianca lalu menyembunyikannya di balik saku jasnya agar wanita itu lebih fokus padanya.
__ADS_1
"Oh lihat, pria ini begitu berambisi untuk mendapatkan jawaban dariku. Bagaimana jika aku menolaknya, apakah dia akan depresi?" ledek Bianca dan Natha hanya bisa tersenyum tipis sampil menahan rasa kesalnya karena Bianca lagi-lagi mempermainkannya.
"Bi, tolong serius dong, aku sedang bertanya padamu tolonglah dijawab. Apa tidak kasihan denganku yang terus menunggu sejak tadi?" pinta Natha dengan mengiba dan jika kali ini Bianca tidak menjawab pertanyaannya, maka Natha pun akan memutuskan untuk menyudahi saja hubungannya dengan Bianca, sebab wanita ini terlihat sama sekali tidak serius padanya.
Bianca memang lebih mudah dibandingkan Natha. Jika Natha usianya sudah sangat matang untuk menikah, berbeda dengan Bianca yang usianya masih memikirkan untuk menata kariernya. Natha memang makluminnya tetapi jika Bianca tidak ingin menerima lamarannya, ia harus segera mendapat kepastiannya karena ia harus menentukan langkah selanjutnya yang akan ia ambil. Ia tidak mungkin bertahan dengan seseorang yang tidak ingin serius dengannya.
"Nath ... mengapa harus mengulang pertanyaan yang sama? Tentu saja aku menerima lamaranmu. Tapi itu baru aku, sejujurnya aku sangat tidak ingin menerima pinanganmu sebelum aku mengenal lebih dalam siapa dirimu dan keluargamu. Bayangkan aku tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuamu secara pribadi lho, Nath. Lalu tiba-tiba kamu melamarku, apakah mereka menyukaiku atau jangan-jangan mereka justru tidak menginginkanku? Jangan membuat aku menerima pinangan lalu akhirnya berantakan ya, Nath!"
Bianca mengeluarkan unek-uneknya, itu sebenarnya yang ia pikirkan sebelum menerima pinangan Natha. Siapa yang tidak ingin menikah dengan lelaki pujaan hati, hanya saja restu dari orang tua adalah hal yang paling penting dalam membangun sebuah rumah tangga. Bianca tidak pernah berbincang-bincang dengan kedua orang tua Natha, ia khawatir suatu saat nanti ketika pinangan telah ia terima lantas kedua orang tua Natha tidak merestui, dia yang akan patah hati sendiri.
Nata tersenyum lega begitu mendengar ucapan dan Bianca. Sudah dari tadi ia harap-harap cemas, berpikir bahwa Bianca masih ingin melanjutkan kariernya dan belum terpikir untuk menikah, apalagi menjadi pengurus rumah tangga. Namun ternyata ia salah, Bianca mengkhawatirkan tentang restu kedua orang tuanya.
"Ini sangat tepat sekali sayang, kedua orang tuaku sudah selalu mendesak untuk membawamu bertemu dengan mereka. Aku juga mengajakmu makan malam bersama ini untuk menanyakan kesiapanmu bertemu dengan kedua orang tuaku, biar kalian bisa berkenalan dan mungkin saja memiliki kecocokan hingga nantinya rumah tangga kita akan berjalan dengan mulus tanpa hambatan, seperti jalan tol."
Ucapan Natha tersebut membuat hati Bianca terasa lega. Ternyata kedua orang tua Nathq sudah tahu tentang hubungannya dan mendesak untuk bertemu dengannya, sungguh Bianca merasa sangat senang sekaligus deg-degan. Ia khawatir nanti ia bukanlah wanita yang menjadi kriteria calon menantu dari kedua orang tua Natha.
"Aku pernah gagal di hari mencapai hari pernikahanku. Aku juga pernah gagal ketika aku hendak melamar kekasihku, dan aku tidak ingin gagal ketika bersamamu. Aku sudah memantapkan hatiku ini untukmu dan ingin membina rumah tangga bersamamu, tolong jangan kecewakan. Aku sangat berharap lebih padamu," ucap Natha yang mengungkapkan isi hatinya, terlihat jelas wajahnya begitu sedih karena ia mengenang dua kisah cintanya yang gagal tanpa sempat memiliki.
Bianca tersenyum tipis, lebih tepatnya ia tersenyum miris memikirkan tentang kisah cinta Natha yang berakhir tragis bersama Audriana. Juga tentang kisah cintanya bersama Fidelya yang ternyata tidak kesampaian membuat Bianca merasa miris. Dia kasihan dengan Natha akan tetapi ia menerima lamarannya bukan karena sebuah rasa kasihan, melainkan karena ia juga mencintai pria ini.
Natha menatap Bianca dengan penuh rasa cinta kemudian ia berdiri dan memeluk Bianca yang sedang duduk di kursi. Bianca lalu meminta agar pelukannya dilepaskan kemudian ia berdiri dan langsung memeluk tubuh Natha. Sangat jarang keduanya bisa berpelukan seperti ini karena Natha begitu menjaganya. Bahkan Natha tidak pernah mengecup bibirnya sama sekali.
Belajar dari pengalaman, ia tidak ingin menyentuh wanita yang belum sah menjadi istrinya meskipun itu adalah kekasihnya. Natha pernah sampai melakukan penyatuan, tetapi wanita itu bukanlah jodohnya. Natha pernah begitu mencintai Audriana dan bahkan ia selalu bisa menguasai tubuhnya meskipun tidak pernah melakukan penyatuan layaknya pasangan suami-istri, tetapi akhirnya ia juga kehilangan Audriana.
Natha pun mengecup puncak kepala Bianca. Ia hanya berani sebatas itu dan juga mengecup pipi Bianca kadang-kadang. Bianca merasa begitu bahagia, masih dengan memeluk tubuh Natha ia mendongakkan kepalanya dan ketika itu Natha hendak mencium puncak kepalanya lagi namun yang terjadi justru ciuman atau mendarat tepat di bibir Bianca.
Keduanya sama-sama terdiam. Natha hendak menarik ciumannya tetapi Bianca langsung menutup matanya dan itu merupakan isyarat bagi Natha untuk melanjutkan ciumannya. Tidak ingin membuang kesempatan langka, Natha pun langsung ******* bibir Bianca dengan begitu lembut. Natha belum berani menerobos masuk ke dalam rongga mulut Bianca karena ia tidak ingin disangka begitu berambisi dan bernafsu untuk menciumnya.
Natha cukup memberikan ciuman yang lembut dan memabukkan untuk Bianca, agar wanitanya ini akan kembali menginginkan ciuman itu lagi dan lagi. Hingga akhirnya Natha bebas untuk melakukan pertukaran saliva dengannya tanpa merasa khawatir Bianca tidak nyaman dengan itu.
Setelah ciuman tersebut terlepas Natha kembali membawa Bianca ke dalam pelukannya. "Aku sangat mencintaimu Bianca, sangat mencintaimu," bisik Natha dan Bianca pun tersenyum kemudian ia memeluk erat tubuh Natha. Sangat erat.
Setelah makan malam romantis yang berujung dengan ciuman pertama mereka, ah lebih tepatnya itu adalah pertama untuk Bianca sedangkan bukan yang pertama untuk Natha, keduanya pun memutuskan untuk segera pulang.
Di perjalanan Bianca mengatakan kepada Natha untuk jangan dulu berbicara soal lamaran ini kepada ayahnya karena Bianca ingin mengenal lebih dulu keluarga Natha. Dia ingin tahu apakah ia benar-benar disukai oleh mereka atau tidak. Dan jika Bianca menemukan kecocokan serta kedua orang tua Natha welcome padanya, ia pun akan meminta Natha untuk melamarnya secara resmi kepada ayahnya.
__ADS_1
Nata pun menyanggupinya, ia menerima setiap syarat yang diberikan oleh Bianca selagi ia mengetahui bahwa wanita ini juga ingin menikah dengannya. Hanya ada satu yang kurang dari hubungan mereka, yaitu belum adanya pertemuan Bianca dengan kedua orang tuanya sedangkan Natha sudah seringkali bebas keluar masuk di rumah keluarga Adiguna, dan sudah mendapat restu dari tuan David Adiguna.
"As yo wis honey," ucap Natha.
Bianca tersenyum bahagia, baginya Natha adalah pria yang paling pantas untuk ia pilih menjadi calon suaminya. Natha begitu terbuka padanya hanya saja Bianca belum tahu siapa sebenarnya Natha ini.
Dia bukan hanya sekadar seorang CEO, tetapi juga seorang kaki tangan mafia. Natha belum berani untuk menceritakannya kepada Bianca karena ia khawatir wanita ini akan lari darinya. Akan lebih baik ia mengikat Bianca lebih dulu dalam ikatan pernikahan karena setelah itu Bianca tidak akan mungkin bisa lari darinya.
'Biarkan saja dulu seperti ini. Aku khawatir Bianca tidak akan menerima statusku di dunia hitam, dia yang seorang terpelajar dan sangat baik serta masih begitu polos tentu tidak akan menerima jika ia memiliki suami seorang penjahat seperti aku. Biarlah risikonya nanti kutanggung belakangan asalkan aku memilikinya, itu sudah sangat cukup dan sudah membuatku bahagia.'
"Oh ya, bagaimana besok kalau kita pergi menonton?" ajak Bianca secara tiba-tiba.
"Menonton? Oh iya besok adalah akhir pekan ya. Aku sampai lupa, tapi bukannya kita akan menemui kedua orang tuaku?" tanya Natha dan Bianca pun terdiam karena ia memikirkan keputusan selanjutnya.
"Bagaimana kalau pulang dari menonton? Aku sangat ingin menonton film itu karena sudah sangat lama aku tunggu penayangannya. Setelah dari bioskop kita bisa langsung bertemu dengan kedua orang tuamu. Lagi pula itu akan masuk jam makan malam kok, bagaimana?" usul Bianca dan Natha pun hanya mengiyakan saja keinginan wanitanya ini.
Nata tidak mungkin menghancurkan keinginan Bianca. Apalagi wanita ini terlihat begitu antusias untuk menonton film itu, Natha menjadi sangat penasaran dengan film apa yang akan ditonton oleh Bianca, tetapi ia berpendapat bahwa itu tidak akan jauh-jauh dari film romansa.
"Memangnya apa judul film yang ingin kamu tonton itu? Aku sih sebenarnya tidak punya hobi menonton dan sangat jarang menonton film, tetapi aku akan berusaha untuk menemanimu menonton asalkan bukan film yang terlalu dibumbui percintaan ya," ucap Natha yang sesekali melirik Bianca yang tengah serius menceritakan pemeran utama dari film yang akan ia tonton.
"Aku bukan gadis-gadis remaja yang terlalu suka menonton film romantis. Aku memiliki genre filmku sendiri dan mungkin agak lain dari para wanita yang lainnya, tetapi aku jamin kamu pasti akan suka menontonnya karena sebenarnya ini adalah genre film yang digandrungi oleh para pria."
"Oh ya?' tanya natha, ia sangat penasaran dengan genre film kesukaan Bianca karena yang ia ketahui para wanita biasanya lebih suka menonton film romansa ataupun film horor yang meskipun saat mereka menonton lebih banyak mereka menutup matanya.
Bianca menjawab dengan anggukan keras. "Aku menyukai drama film action, dimana para pria itu sangat hebat bela diri dan jago menggunakan senjata api maupun senjata tajam. Itu adalah film yang sangat seru dibandingkan aku harus dibuat mengalami pubertas berkelanjutan karena menonton film yang serialnya terlalu dibumbui dengan drama percintaan," ungkap Bianca yang membuat Natha tersentak kaget.
Natha tidak menyangka saja dibalik sikap anggun Bianca ini menyimpan sebuah hobi yang bertolak belakang dengan kepribadiannya. Ia terlihat begitu manis dan anggun, akan tetapi genre filmnya dan mungkin saja masuk dalam kategori genre buku bacaannya adalah genre action.
"Dan apakah kamu tahu Nath, sejujurnya aku sangat berharap memiliki suami seorang ksatria tapi bukan seperti para Superhero. Aku menyukai seorang mafia, hidupku pasti akan sangat tertantang jika aku menikahi seorang mafia. Tapi menikah denganmu bukanlah sebuah kesalahan, aku mencintaimu meskipun kau tidak seperti para pria yang aku idam-idamkan."
Jelas saja mata Natha membulat dengan sempurna mengetahui lelaki idaman yang diinginkan oleh Bianca. Sekali lagi Natha mencoba untuk bertanya dan memastikan apakah ia tidak salah mendengar.
"Jadi, apa benar kamu menginginkan suami seorang mafia?" tanya Natha dengan perasaan deg-degan.
"Ya, aku menyukai mafia, tapi aku juga menyukaimu. Tenang saja tidak akan aku berselingkuh dengan mafia kok."
__ADS_1