Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 13 Rizki Yang Bijaksana


__ADS_3

Bab 13 Rizki Yang Bijaksana


Rizki mendengar, lalu segera mengalihkan pandangannya dari meja dan menatap kearah Ujang Arif, berbicara selayaknya orang dewasa.


"Bibi Ujang Arif, Rizki tidak lapar, sedikitpun tidak merasa lapar. Mama Eki Tobingpernah berkata, ketika di meja makan, apabila orang dewasa tidak memulai terlebih dahulu, maka anak kecilpun tidak dapat memulainya."


Tidak terpikirkan bahwa pemuda tersebut sangat begitu mengerti aturan, Ujang Arif menganggukan kepala setuju dengan perkatannya, tiba-tiba terdengar suara tidak berirama yang masuk ketelinganya.


"… … kruk kruk… … kruk kruk … …"


Ini adalah suara lapar yang berasal dari perut Rizki.


Pemuda tersebut juga melihat kearah Ujang Arif, karena begitu malu wajah putihnya dengan begitu cepat berubah menjadi merah.


Ujang Arif berpikir, bahwa ini cukup menyulitkan bagi anak sebesar dia, kemudian berkata,"Rizki, disini hanya antara saya dan Mama kamu saja, juga tidak ada orang luar manapun, Bibi telah putuskan, kamu boleh makan terlebih dahulu."


Tanpa diduga pemuda tersebut yang baru saja menatap santapan yang disajikan hingga hampir meneteskan air liurnya, sejenak merubah posisi duduknya kembali menjadi tegak, lalu dengan pelan-pelan bertanya,"Bibi Ujang Arif, kemanakah Mama Eki Tobingpergi?"


Ujang Arif terkejut dengan ekspresi keseriusan wajah pemuda tersebut, lalu menjawab," Dia … … seharusnya… … mungkin pergi karena ada hal yang perlu diurus!"


"Kamu membohongi saya!" Pemuda tersebut menangkap keragu-raguan dari raut wajah Ujang Arif, ini seperti ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


Dunia anak kecil begitu polos, bagaimanapun cara mereka mengatakan sesuatu selalu tepat adakalanya. Karena begitu tampak jelas ketika Bibi cantik ini menjawab pertanyaan darinya, bahwa dia tidak bersungguh-sungguh menatap mata pemuda tersebut.


"Bagaimana mungkin berbohong padamu?" jawab Ujang Arif pasrah, namun dia benar-benar tidak mengetahui kemanakah Eki Tobingpergi.


Perasaan kecewapun terlihat jelas dari bibir kecil Rizki yang berwarna merah, diapun mengarahkan matanya ke meja menatap kembali makanan yang disediakan, dengan kesedihan yang mendalam dan kepahitan mengatakan, Ibu Raline… … apakah mungkin dia telah menjual ku kepada Bibi… …"


Perkataan pemuda tersebut tiba-tiba membuat hatiUjang Arif terkejut!


Dia bergegas mendekatkan dirinya, sambil menghibur dan berkata,"Bagaimana bisa, itu tidak mungkin! Mama Eki Tobingsangat begitu menyayangi Rizki, dia tidak mungkin rela menjual dirimu."


"Lalu mengapa dia menghilang!" Tiba-tiba mata Rizki yang besar itu mulai berkaca-kaca,"Penyebabnya pasti karena kenakalan Rizki, yang membuat Mama Eki Tobingmenjadi kesal dan merasa lelah, sehingga dia menyuruh Bibi membawaku untuk pergi bersama-sama menyantap makanan yang lezat, kemudian… … dia menjualku kepadamu."


Ujang Arif semakin terkejut!

__ADS_1


"Rizki itu tidak benar, Bibi berjanji, hal tersebut tidak akan mungkin terjadi. Rizki sangat begitu pintar, juga begitu lucu, siapapun tidak akan ada yang rela meninggalkanmu. Mama Eki Tobingpasti ada hal mendesak yang perlu diurus, sebentar… … hanya sebentar, pasti akan kembali lagi."


Rizki adalah pemuda yang juga keras kepala, dalam pikirannya hanya penuh dengan gambaran tentang Mama Eki Tobingyang sedang melambaikan selamat tinggal kepadanya. Dia mengulurkan tangan, lalu hendak menampar dirinya sendiri dengan keras.


"Salahkan saja Rizki yang kurang baik, karena tidak mampu menanggung kesusahan Ibu… …Rizki tidak berguna, semuanya karena Rizki kurang baik, tidak mampu menjadi lebih baik untuk melindungi Ibu… …"


Ujang Arif dengan terburu-buru menangkap tangan kecil pemuda tersebut, hatinya sungguh lembut, sangat enggan merelakan kepergian Raline. Akhirnya dia mulai mengerti, mengapa dalam kurun waktu lima tahun belakangan Eki Tobingbegitu rela membawa anaknya sendirian, karena itulah menjadi salah satu penyebab dia menolak untuk menikah lagi.


Lagi-lagi tampak mobil sport mewah berhenti didepan pintu gerbang, kemudian Eki Tobingturun dari dalam mobil tersebut.


Dia mengitari mobil, lalu menghampiri kearah jendela pengemudi.


Seorang laki-laki didalam mobil dengan sebelah tangan sambil memegang setir, sebelah tangannya lagi diletakkannya dekat jendela, tersenyum kecil kearah Raline.


Keren, tampan!


Eki Tobingdengan pandangan datar menatap matanya, lalu berkata,"Terima Kasih."


"Sama-sama." jawab laki-laki itu dengan suara lembut dan enak didengar, membuat nyaman bagi orang-orang yang mendengarnya.


Setelah melihatnya berbalik badan dan meninggalkannya, Abdul Qodirseperti merasa telah melupakan sesuatu hal. Sampai bayangan dari wanita tersebut telah menghilang dari pandangannya, barulah dia tersadar sebenarnya memang ada sesuatu yang telah dilupakannya!


Seperti, informasi kontak.


Seperti, Namanya.


Ataupun seperti, masihkah ada kesempatan lain lagi untuk bertemunya kembali… …


Eki Tobingberjalan memasuki hotel melewati lorong-lorong, disaat yang bersamaan pada saat membuka pintu, terdengar suara Rizki berbisik memanggilnya.


"Mama Eki Tobing-- --"


Rizki melihat Eki Tobingtiba dengan tergesa-gesa menghampirinya, matanya sekejap terbelalak lebar, seperti gelapnya langit-langit kamar yang telah diterangkan oleh cahaya lampu yang menyala, kemudian melompatlah dia turun dari kursinya langsung memeluk Raline.


"Aku kira Ibu tidak menginginkan Rizki lagi, aku kira Ibu dengan sengaja ingin menjual Rizki."

__ADS_1


Pemuda tersebut yang masih menangis baru saja hendak mencaci maki untuk memberi dirinya pelajaran, namun datanglah Raline, dan semua tetesan air matanya seakan ditariknya kembali dengan cepat. Sebab dia tahu, bahwa Ibu Eki Tobingpaling tidak menyukai dia menangis, karena itu dapat menyakiti hatinya.


Ujang Arif kembali menghela nafas, bertanya-tanya anak siapakah pemuda tersebut, sangat begitu memiliki kecerdasaan yang luar biasa.


Hati Rizki sangat bahagia, karena ada Eki Tobingyang menjaganya, diapun makan cukup banyak. Eki Tobingjuga menyalahkan dirinya, yang telah membiarkan Rizki merasa kelaparan. Kasih sayang antara ibu dan anak ini, dapat terlihat sangat begitu dalam. Memberikan perasaan mendalam kepada Ujang Arif, melebihi dari perasaan orang yang dicintai.


Meskipun suasana keadaan begitu manis dan hangat dipandang, namun masih terlihat jelas bahwa hatinya masih menyimpan perasaan luka.


Setelah makan, Rizki merasa kecapaian, kemudian bersandar di pelukan Eki Tobingdan tertidur. Ujang Arif melihat waktu sudah tiba, kedua orangpun telah bertemu lalu dia mempersiapkan diri untuk bergegas pulang.


Ujang Arif berjalan menuju pintu keluar, lalu mengambil mantel yang diberikan oleh seorang pelayan, kemudian meletakkan di pergelangan tangannya. Sedangkan Eki Tobingmengantarnya sambil menggendong Rizki di pundak belakang.


Keduanya berjalan menuju arah lantai dua, pandangan Eki Tobingmelihat kearah bawah pintu gerbang, berdirilah sepasang kekasih memakai baju setelan berjas, diantaranya itu ada Dirga.


Ujang Arif juga melihat kearah laki-laki tersebut, dia sempat berhenti berjalan setapak lalu menoleh kebelakang melihat Raline.


"Sudahlah, kita lewat pintu belakang saja" usul Raline.


"Kenapa?" tanya Ujang Arif,"Siapapun juga tidak berhutang pada dia, lalu mengapa kita harus keluar melewati pintu belakang."


Saat itu Eki Tobingtidak ingin berbicara banyak, dengan mengerutkan kening, berkata,"Setelah kembali akan aku jelaskan." imbuhnya, tanpa banyak bicara dia membalikkan gendongannya ke arah depan.


Melihat keadaannya seperti itu Ujang Arif hanya bisa terdiam. Dia sangat mengenali karakter teman baiknya, apabila telah memutuskan sesuatu, ibarat sepuluh sapipun tidak akan sanggup ditarik kembali.


Dalam perjalanan pulang, Ujang Arif mengendari mobil, Eki Tobingduduk dibelakang sambil menggendong anaknya.


"Raline, Apakah sebelumnya kamu pernah bertemu dengan Dirga?" Tanya Ujang Arif.


Apabila hanya bertemu sekali saja, bagaimana mungkin Eki Tobingsangat ingin menghindari laki-laki tersebut. Dia berpikir kembali mengenai kejadian tadi dimana tiba-tiba Eki Tobingmenghilang, apakah  ada hubungannya dengan Dirga.


"Iya." Eki Tobingmengangguk."Pernah Bertemu."


Akhirnya, Ujang Arif tidak bertanya lagi.


Sepertinya diantara mereka berdua pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sehingga Eki Tobingmemilih untuk menghindarinya.

__ADS_1


__ADS_2