Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 23 Mengejutkan Orang–Orang


__ADS_3

Bab 23 Mengejutkan Orang–Orang


Abdul Qodirmengabaikan orang-orang yang  memperhatiannya, Ketika dia mendengar protes  dari wanita kecil ini, dia sedikit tidak senang.


"Apa yang kamu  takutkan?"


"..."


Apa yang dia takuti? Jelas –jelas takut dengan semuanya!


Takut  digosipi, takut ditunjuk tunjuk, takut dengan laporan yang salah, takut akan bertambah parah....


Melihat  dia tidak berbicara, sebenarnya Abdul Qodirmemikirkan apa maksud dia. Apa dia takut orang lain tahu mereka berjalan dengan sangat dekat, jadi takut orang lain akan tahu?


"Tutupi wajahmu jika kamu takut."


Yang di bilang pria itu sudah ngaco.


Eki Tobinghampir pingsan di pelukannya.


Semakin banyak orang menonton, arah yang mereka tuju adalah pintu keluar lift, bagaimana mungkin dia tidak tahu, kalau pintu keluar lift sedang banyak orang, sampai pada waktunya......


Dalam waktu singkat, Abdul Qodirmemeluk Raline, kemudian masuk ke dalam lift di hadapan rekan rekannya.


PUjang Arifa dan Dirga, ada di antara mereka.


Ketika mata PUjang Arifa terfokus, dia terkejut dan melamun, dia tidak bisa mempercayainya!


Ya Tuhan, apa yang dia lihat?


Dia tiba-tiba melihat kakak laki-lakinya, Abdul Qodiryang sudah bertahun-tahun tidak dekat dengan wanita, lalu tiba-tiba memeluk wanita ****** itu di aula Sanjaya Group.


Rio saputrajuga lumayan  terkejut!


Terutama ketika dia melihat Eki Tobingdipelukannya Nicholas, dengan wajah malu-malu dan memerah, menyala sebuah api dihatinya.


Dia sepertinya menebak sesuatu.


Jangan jangan, Eki Tobingmemasuki Sanjaya Group apa karena demi dia sendiri atau.....ada orang lain?


Eki Tobinghanya merasa wajahnya semakin panas, suhunya panas seperti api.


Jangan-jangan ingin terus membiarkan orang-orang melihatnya?


Dia diam-diam mengigit giginya, lupakan, lalu tidak mempedulikannya. Dia mengubur seluruh wajahnya di pelukan yang hangat dari pria itu. Sudah tidak bagus, membiarkan orang orang melihatnya, apalagi  dia baru hari pertama  bekerja di perusahaan ini, dan hanya sedikit orang yang mengenal Raline.

__ADS_1


Abdul Qodirtidak ada keraguan. Dari luar memeluk sambil berjalan kemari, lalu juga tidak merasa capek. Yang dipeluknya seperti jaket yang ringan, tidak merasakan berat apapun.


Tidak heran dia sangat kurus. Apakah dia sering tidak makan.


Direktur memiliki lift khusus, jadi tidak perlu menunggu.


Dan ketika karyawan di pintu depan, sedang melihat direktur membawa wanita itu langsung ke lift khusus direktur, tatapan semua orang sudah tidak bagus lagi.


Bahkan ada gadis kecil menangis di tempat.


" Sebenarnya siapa wanita itu? kenapa mau menggoda direkturku."


" Wahhh, aku tidak tahu darimana rubah kecil itu datang, begitu di lihat ini bukan hal yang bagus."


"Kamu lihat penampilannya yang arogan tadi, ketika direktur begitu dekat di hadapan kami, dia punya kelebihan apa."


Di kerumunan, wajah PUjang Arifa sudah sangat kesal.


Pada saat ini, dia sudah berada di lift khusus direktut.


Dia diam-diam mengeluarkan kepalanya dari  pelukannya, lalu mendongak sedikit, Apa yang dia lihat dari matanya adalah sisi lain dari Nicholas.


Kontur wajah yang sempurna, alisnya yang memesona, hidungnya yang tegas, bibirnya yang lembut yang sedang dikerutkan.


Benar-benar pria yang sangat tampan!


Memalukan!


Ketahuan sedang mengintip direktur!


Eki Tobingcepat-cepat  mengalihkan matanya,lalu diam-diam menelan air liur.


Dia pikir, Abdul Qodirakan melepaskannya, tapi siapa yang tahu kalau pria ini disengaja atau tidak? Setelah dia memalingkan matanya, dia mengangkat matanya dan menatap lurus ke depan.


"Itu..... bolehkah....lepaskan aku," kata Eki Tobinglagi.


Tapi lelaki itu tampaknya tidak mendengar, masih berdiri seperti pohon cemara, tidak bergerak.


Akibatnya, Eki Tobingmemutar tubuhnya, lalu ingin turun sendiri.


Namun,Abdul Qodirtiba-tiba semakin erat memegangnya dengan tangan besarnya.


Dia terkejut, lalu dia menatapnya dengan mata curiga.


Mata pria itu seperti air yang jernih, seperti cahaya bulan yang terang.

__ADS_1


" Jangan asal bergerak!"


Kalimat itu tampaknya biasa, tapi juga ada makna yang tersirat di balik suaranya, lalu masuk ke telinga Raline.


Dia sedikit menaikkan alisnya.


Hatinya  seperti rusa kecil, dan terus terusan melompat.


"Ding dong..."


Lift akhirnya mencapai lantai kantor direktur.


Kali ini Lengan Raline, menghalangi leher pria itu. Tetapi ketika pintu lift terbuka dan melihat dari luar, dia sangat takut lalu dia kembali memasukkan tangannya, sekali lagi berusaha masuk di pelukan pria itu lagi.


Serangkaian gerakan kecil ini, membuat Abdul Qodirdengan lembut mengaitkan bibir tipisnya, dan senyuman yang tipis keluar dari wajahnya yang tampan.


Terkejut! Mengejutkan! Berhalusinasi!


Kepala sekretaris Damiri juga adalah orang yang sudah mempunyai pengalaman tentang orang terdekat nya meninggal dunia, tetapi bahkan dia, melihat situasi seperti ini, tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Pak Hadi, di sisi lain relatif tenang.


Dia melangkah maju menghadap direktur, " Direktur."


" En...." Abdul Qodirmengangguk, tetapi tidak ingin mendengarkan laporan pekerjaan dari mereka.


Pak Hadi menebak apa maksudnya, tetapi dia tidak berbicara, Dia hanya mengangguk kepada staf yang berdiri di belakang, lalu mengerti.


Tim elit memimpin jalan, kemudian bubar dengan sendirinya.


Pak Hadi mengikuti Abdul Qodirke kantor.


Beberapa langkah di depan kantor, Pak Hadi melangkah  maju, kemudian membuka pintu untuk direktur.


Setelah masuk, Abdul Qodirlangsung menuju sofa kulitnya yang bewarna putih, meletakkan wanita  yang ketakutan di pelukannya.


"Pergi ke departemen medis, lalu cari dokter."


"Iya." Pak Hadi mengangguk.


"Ingat, bilang obat untuk kaki yang keseleo mau pakai obat apa, lalu bawa kemari."


"Iya!"


Wajah Eki Tobingmasih memerah seperti apel.

__ADS_1


Abdul Qodirmengambil segelas air dan menuangkannya untuknya.


"Terima kasih." Raline, dengan wajah penuh rasa malu, mengangguk dan mengambil gelas air yang dia berikan.


__ADS_2