Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 42 Perseteruan Pintu Masuk


__ADS_3

Bab 42 Perseteruan Pintu Masuk


Saat Marsely keluar dari ruang kerjanya, PUjang Arifa sedang dalam perjalanan mengambil mobilnya.


Di kanan kiri jalan hanya ada pepohonan yang berjejer, lampu jalan yang terang menyorot terang ke arah taman disekitar. Orang yang tidak tau mungkin akan mengira bahwa kawasan itu bukanlah perumahan, melainkan merupakan sebuah taman yang indah dan tenang.


Dari depan terdengar ada suara lonceng kecil yang berbunyi, PUjang Arifa penasaran dan mengangkat wajahnya, kemudian dia melihat ada seekor anjing kecil yang lucu seputih salju datang mendekat ke arahnya. Meskipun belum melihat pemiliknya, tetapi PUjang Arifa dia sudah dapat menduga siapa pemilik dari anjing mungil itu.


Ternyata benar, tidak lama kemudian PUjang Arifa melihat sepasang suami istri yang berdandan ala baju rumah berjalan mendekat.


Seorang laki-laki dengan alis yang tajam, raut wajahnya yang penuh dengan kejujuran, perawakannya terlihat lebih muda dari ayah nya beberapa tahun saja. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas Sanjaya Group, Siti. Dan orang yang berjalan beriringan dengannya, terlihat sangat bermartabat dan anggun, terlihat bahwa dia dari keluarga baik-baik. Dia adalah istri dari Siti, Rissa.


PUjang Arifa tersenyum-senyum dalam hatinya.


Sepasang suami istri ini adalah pasangan yang paling tidak mencolok dalam Keluarga Qodir. Dari awal tidak memperebutkan apapun, dan tidak mendekati siapapun untuk mendapat keuntungan. Sepasang suami istri yang jauh dari dunia persaingan, tetapi tidak dapat melahirkan anak dari keturunan Keluarga Qodir, melihat usianya yang sudah tidak muda lagi, dan tidak ada harapan untuk memiliki anak kandung, menjaga jarak hubungan dari kerabatnya yang lain, mengadopsi anak dan diberi marga Sanjaya.


Rissa dibandingkan dengan anak-anak dari Sanjaya Group yang lain usianya memang lebih muda, masih dalam usia yang harus pergi ke sekolah setiap hari. Demi masa depan anak perempuannya, mereka berdua mengirim anaknya untuk belajar ke luar negeri. Kemudian mereka berdua dirumah untuk mengatasi kejenuhan dan kesepian memutuskan untuk mengadopsi seekor anjing.


"paman, bibi." PUjang Arifa tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka.


Siti menganggukkan kepalanya. Rissa tidak hanya bermartabat dan murah hati, suaranya pun terdengar sangat lembut dan anggun.


"apa itu PUjang Arifa, kenapa baru kembali? saat makan malam paman mempertanyakanmu kenapa tidak datang, sudah beberapa minggu tidak bertemu kamu, bibimu benar-benar merindukanmu."


"pekerjaanku sangat sibuk dan tidak bisa kembali." PUjang Arifa belajar dari kerabatnya yang lain, menggunakan alasan yang sama.


Sepasang suami istri ini tidak akan menjadi musuhnya, dan tidak akan membantu dia dalam hal apapaun, benar-benar tidak ada alasan untuk berbicara lebih lanjut, berbasa basi saja agar terlihat lebih harmonis. Kemudian PUjang Arifa berkata, "paman, bibi, aku pamit dulu, masih ada urusan. Paman dan bibi hati-hati di jalan."


"baiklah, hati-hati di jalan."


Rissa juga tidak lupa untuk menyapanya.

__ADS_1


Sesampainya saat tubuh PUjang Arifa hilang dari pandangan di bawah cahaya lampu yang kekuningan, Siti kemudian membuka mulutnya berkata.


"anak itu saat perjamuan makan malam tidak datang, saat ini baru kembali dan langsung pergi ke tempat kakak, apa mungkin ada sesuatu yang terjadi?"


Sorot mata Rissa yang indah menatap suaminya sekali, "kamu jangan bepikir berlebihan. Jika itu adalah Rissa , begitu dia kembali pasti langsung berkunjung kerumah kita terlebih dahulu."


"kalau masalah ini aku sependapat." Siti mengangguk pelan, sorot matanya yang penuh dengan kecurigaan tadi seketika menghilang kemudian memandangi pemandangan yang tenang jauh disana, dan berkata pelan. "sejak kakek masuk kerumah sakit, tindakan kakak semakin lama semakin sulit dipahami. Rissa apa kamu tidak merasakannya? Setiap kita ingin bertemu dengan ayah pasti selalu saya dihalang-halangi, dan harus melalui persetujuannya, dan harus ada dirinya disana baru kita boleh mengunjunginya."


Rissa berkata pelan, "Siti, kamu dari awal tidak pernah mempermasalahkan mengenai hal-hal semacam itu, dia ingin berbuat seperti apa ya sudah terserah dia saja. Dia tidak sampai berbuat macam-macam kepada kita kan? Ditambah lagi kalian adalah kakak adik, tidak ada dendam semacam itu kan, kamu tidak usah mencemaskan hal yang tidak perlu."


Sitimenganguk mengiyakan dan tidak berkata-kata lagi.


Sepasang suam istri ini sebenarnya masih ingin membawa anjingnya jalan-jalan, tetapi mereka melihat ada 3 sampai 5 orang pelayan dari berjalan mendekat, sorot matanya kebingungan, dan mereka berjalan buru-buru, seperti ada masalah besar yang terjadi.


Para pelayan yang melihat mereka berdua dengan sopan membungkukan badan.


Sorot mata curiganya masih membuntuti para pelayan yang berjalan menjauh itu, kecurigaan Siti seketika bertambah lebih dalam.


"Rissa, ayo lihat kesana."


"baiklah."


Yang membuat orang merasa aneh adalah diluar tempat orang tuanya tinggal itu ada banyak penjaga yang berpengalaman dan berkemampuan berjaga diluar. Tanpa persetujuan dari Marsely, siapapun tidak boleh masuk mengganggu istirahat orang tuanya itu.


Siti menyadari bahwa dia tidak akan bisa menerobos masuk begitu saja, lebih baik dia dan Rissa menunggu dengan tenang diluar.


Tidak lama kemudian mereka melihat pelayan yang tadi kembali.


Perawakan yang dingin dan khas dari dirinya, memberikan kesan seolah dia laki-laki yang tidak mudah didekati, iya, dialah kakaknya, Marsely.


"kakak." Siti menyapa terlebih dahulu.

__ADS_1


Marsely menganggukkan kepala pelan, sorot mata tajam yang keluar dari kedua matanya menatap Rissa dan kemudian terhenti pada Siti.


"Siti, tengah malam begini masih belum tidur, apa yang kamu lakukan disini?"


Siti tersenyum dan berkata, "kakak, aku dan Rissa sedang jalan-jalan, kemudian melihat pelayan yang keluar dari dalam dengan buru-buru, aku mengkhawatirkan keadaan ibu, jadi ingin melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi."


"Oh." Marsely tidak bertanya lebih banyak lagi. Memutar kedua matanya ke arah Rissa, "adik ipar, bagaimana kesehatanmu akhir-akhir ini?"


"baik-baik saja, terimakasih kakak perhatiannya. Ini hanya membawa Siti untuk jalan-jalan malam sebentar sekalian menurunkan makanan." Rissa dengan senyum yang ramah, sesuai dengan yang harus dimiliki oleh seorang wanita dari kelas atas. "oh iya, bagaimana keadaan ibu? Kenapa ada begitu banyak pelayan yang kelihatan panik?"


Marsely yang berdiri tegap di depan pintu menghadap kedalam ruangan dan melirik nya sekilas.


"tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keadaan ibu, mungkin karena tadi menghadiri acara makan malam keluarga, jadi badannya sedikit terkena angin. Aku sudah memerintahkan banyak pelayan untuk menjaganya, keadaanya pasti akan cepat membaik."


"Oh. Karena hal apa kenapa bisa menjadi kambuh lagi, apa karena...."


Siti masih ingin bertanya lebih jauh, tetapi dihentikan oleh Marsely.


"Siti, adik ipar, sudah malam, kalian harus kembali untuk istirahat. Aku juga anaknya ibuku, aku berbuat seperti ini juga demi kebaikannya. Jangan-jangan Siti mengira aku akan tega mencelakai ibu kandungku sendiri?"


Siti dan Rissa hanya mengerutkan alisnya ringan.


"kakak, kata-katamu ini sedikit keterlaluan." Siti kembali tenang dan menatap Marsely dengan nada yang sedikit bergurau, dan kemudian memegang tangan Rissa dan berkata, "jika keadaan ibu tidak ada apa-apa, lebih baik kita kembali saja. Besok-besok kalau kakak ada waktu luang kita akan kembali untuk menjenguk ibu."


"hem." Rissa mengangguk dan seakan tidak terjadi apa-apa.


Sepasang suami istri kemudian meninggalkan ruangan, hanya menyisakan Marsely yang sedang berdiri mematung disana, memandangi pintu yang sangat familiar baginya dengan dalam sekilas.


Masih dalam termenungan, dia berkali-kali melihat gambaran dirinya pada saat masih kecil dulu sedang bersama beberapa temannya bermain-main dan bersenda gurau di taman.


Dan dari pintu ini juga, seorang perempuan cantik berjalan keluar.

__ADS_1


__ADS_2