
Bab 32 Mengganggunya Tanpa Henti
Eki Tobingmemiliki kemampuan yang yang sangat mumpuni dan profesional, seperti halnya pada rapat kali ini yang berjalan sangat lancar tanpa perlu terlalu bersusah payah. Untunglah dia sangat profesional dan tidak berbuat masalah sedikitpun.
Satu-satunya yang membuat dia tidak nyaman adalah...... Mungkin itu adalah tatapan dari mata laki-laki itu.
Tatapan yang begitu fokus dan dalam yang terlihat sangat membara.
Tetapi, saat dia tidak sengaja meliriknya kemudian mendapati bahwa dia dengan tatapannya yang meredup tapi mampu membuatnya terpana. Dia yang sekarang masih tampak begitu sempurna dimatanya, wajah dinginnya yang terlihat cuek dan acuh, kapan akan mulai memperhatikannya.
Apa hanya dia saja yang terlalu berpikir berlebihan?
Setelah rapat selesai, Eki Tobingkembali ketempat duduknya untuk membereskan beberapa dokumennya. Abdul Qodirmeninghalkan ruang rapat terlebih dahulu, para pegawai yang lain pun berangsur-angsur meninggalkan ruang rapat
Sesampinya saat dia selesai membereskan dokumennya dan mengangkat kepalanya dia baru menyadari bahwa di dalam ruang rapat yang begitu megah hanya tersisa dia sendiri.
Ruang yang sangat besar, sesaat memberikan kesan yang sangat kosong.
Entah kenapa, saat itu perasaannya seketika berubah menjadi sedikit tidak tenang, gelisah seakan-akan akan terjadi sesuatu yang buruk.
Dia mengerutkan dahinya mengabaikan dan berjalan keluar dari ruang rapat.
Pintu dengan warna merah gelap yang memberinya kesan disiplin, dengan lembut meletakan tangan kecilnya di gagang pintu, mendorong pintu besar itu perlahan-lahan.
Cahaya menyilaukan terpancar diluar ruangan, redupnya cahaya saat itu terasa jelas jika waktu menunjukkan sekitar pukul 5 sore, cahaya orange kemerah-merahan dilangit sore membuat orang terkagum-kagum.
Tiba-tiba, sosok bayangan besar hitam berada didepannya dan menghalangi sinar itu memantul ke arah tuhuhnya.
Tanpa menunggunya bereaksi, Rio saputrabegitu saja membuka pintu dan dengan keras menutupnya, dan menggunakan tubuhnya sendiri menahan pintu, dari kedua matanya terpancar aura kemarahan yang membara-mbara.
"Apa yang kamu lakukan?"
Eki Tobingmerasa ada sesuatu yang tidak beres.
Laki-laki ini sangat aneh!
Rio saputratersenyum kaku, dengan sekejap tangannya mengunci pergelangan tangan Raline.
__ADS_1
Eki Tobingtidak dapat memberontak, dokumen-dokumen yang berada ditangannya jatuh berserakan di lantai. Kemudian belum sampai dia dapat berdiri dengan tegak, Rio saputradengan sekuat tenaga mendorong tubuh Eki Tobingkebelakang pintu dan menggunakan tubuhnya menahannya didalam.
Sudut ruangan yang sebenarnya sudah terasa sangat sempit, karena paksaan dari laki-laki ini menjadi terasa semakin sempit, semakin lama semakin sempit sampai membuatnya sedikit terjepit.
Kemarahan Eki Tobingsudah sampai di ubun-ubun, menggertakkan giginya, dan mengangkat kakinya yang ramping itu.
Rio saputramemperlihatkan senyum picik dari wajahnya, tendangan yang diayunkan Eki Tobingtidak mengenai sasaran dan menerobos sela-sela kaki Eki Tobingdan dengan mudah membuatnya terjepit ditengah-tengahnya, tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Kamu...." Eki Tobingdengan sorot kemarahan dimatanya, menggertakkan giginya dan memaki nya dengan keras, "Dirga, kamu benar-benar tidak tau malu!"
Tepalak tangannya yang besar itu dengan mudah menerobos ke belakang lehernya, pergelangan tangannya seketika mengunci pergerakannya, menariknya kedalam pelukannya, membuat dada Eki Tobingdengan kuat ditempelkan kedalam dadanya yang bidang itu.
"Ketidakmaluanku tidak bisa dibandingkan denganmu, secara terang-terangan berani main mata dengan Nicholas."
"Jangan sembarangan bicara!" Eki Tobingmerasa dirinya terengah-engah dibuatnya.
"Eki TobingJangan kamu pikir aku tidak tau. Kamu jangan berpura-pura lagi didepanku, hentikanlah sandiwaramu itu! Aku sudah melihat dengan jelas sikapmu tadi yang murahan itu, kamu pikir kamu bisa dengan culas menyembunyikannya, tetapi kamu harus tau, kamu tidak akan menyembunyikannya begitu saja dari pandanganku."
Perkataan laki-laki yang sedang menyekapnya itu terlintas menyeratkan aura yang sangat menakutkan, membuatnya marah sampai sekujur tubuhnya gemetar.
Rio saputrajuga dibuat sangat marah sampai membuatnya mengeluarkan kata-kata yang paling kejam untuk menindasnya, menyakitinya. Mungkin dia harus mengekspresikan rasa sakitnya itu agar membuat perasaannya sedikit membaik.
Tetapi dia berharap terlalu banyak!
Hanya sekedar akting, siapapun juga bisa!
Setiap orang bisa memperlihatkan keburukannya sejelas ini, kenapa Eki Tobingmalah tidak menunjukkannya?
Terlihat Eki Tobingyang mengangkat dagunya, alis rapi nya yang lembut sedikit terangkat, bola mata hitam putih nya menyiratkan kilauan yang sedikit buram.
"Kamu benar, aku adalah wanita yang paling hina sampai ke tulang rusuk, wanita jahat yang kejahatannya sudah sampai mendarah daging. Tapi Dirga, meskipun kamu tau aku wanita yang seperti itu, kenapa kamu masih terus saja menggangguku seperti ini?"
Perkataan yang sangat mengena, benar-benar membuatnya terprovokasi.
Sorot mata laki-laki itu dalam sekejap menjadi lebih daam.
Eki Tobingmerapatkan kedua bibirnya yang lembab berwarna pink itu, kemudian kembali menyaut, "kenapa, tidak dapat menyangkalnya kan? Perkataanku membuatmu tersadar? Menurutmu siapa yang lebih baik, kamu pergi saja mengganggunya, kenapa malah memancing kesabaranku seperti ini. Sana ganggu PUjang Arifa saja." Eki Tobingberkata sambil sekuat tenaga membalikkan badannya, mendorong tubuh Rio saputrakebelakang, perlahan-lahan melangkahkan kakinya keluar berusaha lepas dari jeratannya.
__ADS_1
Kedua alis laki-laki itu mengerut, dengan satu tangan menahan pinggangnya, sekuat tenaga menariknya kembali kedalam pelukannya.
Di telinganya berbisik lirih, "Raline, kamu itu sengaja ingin melawanku kan?"
Eki Tobingtersenyum sinis bertanya balik, "aku sengaja untuk melawanmu? Rio saputracobalah gunakan otakmu untuk berpikir baik-baik ya? Dalam beberapa hari ini sebenarnya siapa yang mencari ribut dengan siapa!"
Rio saputraterdiam sejenak.
Dia pelan-pelan melepaskan jeratan tangannya, tetapi kedua matanya itu menyembunyikan tatapan yang tersembunyi, dan masih saja tertuju pada wajahnya yang sangat bersih putih seperti malaikat.
"Raline, aku tidak peduli kamu sekarang sedang berhubungan dengan siapa, aku juga tidak peduli siapa yang kamu sukai. Tetapi, kamu harus tau, Abdul Qodirbukanlah orang yang bisa kamu pengaruhi begitu saja."
"Memangnya kenapa?" Eki Tobingmenaikkan alisnya bertanya.
"Alasannya pasti kamu lebih mengerti daripada aku!"
Sorot mata Rio saputraakhirnya mulai kembali normal.
"Heh." Eki Tobingtersenyum sinis, "apa aku harus berterimakasih akan niat baikmu ini?"
Rio saputrabukan hanya tidak dapat menahan amarahnya, berkata dengan menggertakkan giginya, "Raline, kamu jangan berbicara kepadaku seperti ini. Kamu jangan lupa kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu, kamu yang bersalah kepadaku, bukan aku yang mengkhianatimu."
Masalah lama diungkit kembali, luka lama yang selama ini tersembunyi dengan sangat baik terkuak begitu saja. Eki Tobingmerasa seakan hatinya tercabik-cabik berkali-kali, rasa sakitnya membuat raut wajahnya memucat seketika, napasnya terasa sesak!
"Aku tau dengan pasti kenapa." Eki Tobingmengerutkan gigi depannya, benar-benar tidak boleh membiarkan air di pelupuk matanya terjatuh menjadi butiran kecil yang terjatuh di pipinya.
Eki Tobingmenarik napasnya dalam-dalam, mengangkat kelopak matanya, kedua alisnya menyaratkan ada sebuah tekad yang kuat dalam dirinya.
"Tetapi aku juga tau, setelah masalah itu terjadi, tidak ada seorangpun yang mendengarkan penjelasanku, tidak ada yang percaya bahwa aku dipaksa dan tidak dapat melawan. Dirga, kamu salah satunya!"
Alis mata Rio saputraseketika menegang, seseorang yang berada didepan pandangannya tiba-tiba meninggalkannya, sorot matanya terlihat kosong, dan diikuti oleh hatinya yang seketika juga terasa kosong dan hampa.
Kemudian, tidak menunggu sampai dia mencerna baik-baik perkataan Raline, hanya sampai mendengar suara Eki Tobingyang sedikit terdengar ada kebencian didalamnya.
"Presdir."
Dia seketika mengangkat kepalanya sambil melihat ke arah pintu di sebelah kirinya yang terbuka, dari luar terlihat sebuah bayangan seseorang diikuti cahaya orange dari sorot sinar matahari sore dengan cepat memasuki ruang rapat.
__ADS_1