
Bab 34 Orangnya Tidak Bisa Disentuh
Jalan sepetak di ruang kantor dibuat sesak karenanya. Termasuk pegawai di bagian lain, semuanya dibuat penasaran dan melihat-lihat sebenarya apa yang sedang terjadi.
"……Eki Tobingdatang"
Entah siapa yang berteriak, semua orang berduyun-duyun mengintip keluar, pandangan mereka tertuju pada lorong disamping ruangan mereka.
Ternyata terlihat Eki Tobingyang memakai baju kantor berwarna hitam, sedang bersama Direktur Abdul Qodirberjalan mendekat kemari.
Ekspresi wajah Damiri dan PUjang Arifa seketika berubah tidak senang.
Wanita hina ini, kenapa bisa bersama kakak? Saat rapat selesai jelas-jelas kakak adalah orang pertama yang meninggalkan ruang rapat, apa dia kembali lagi ke ruang rapat? PUjang Arifa dengan memandang ke arah itu dengan sedikit curiga, kemarahan yang menggebu-gebu kelur dari sorot matanya!
Pegawai yang berdiri sepanjang jalan dari kejauan sudah melihat direktur yang berjalan mendekat dari arah itu, mereka berdiri di lorong dengan mengosongkan bagin tengah, yang berarti mereka berdiri terbagi menjadi dua baris.
Langkah kaki Abdul Qodirterhenti sesaat, melihat bahwa semua bawahannya berkumpul disini, kemudian terdengar suara dinginnya yang terasa begitu datar dan sedikit asing, tetapi khas dengan nada memerintahnya.
"Apa yang kalian semua lakukan disini?"
"……" Semua orang seketika seketika terdiam, dan terlihat ekspresi gelagapan kebingungan dari wajahnya.
Kali ini, nampaknya Presdir telah menjadi pelindung yang kuat bagi Raline. Hal itu membuat setiap orang menjadi mempunyai sebuah pertimbangan, dan jika akan mengatakan sesuatu harus dipikir masak-masak agar tidak terjadi keslaahan nantinya.
"Ada masalah apa sebenarnya, apa tidak ada seorangpun yang akan melaporkannya kepadaku?" Abdul Qodirbertanya kembali dengan nada yang dingin.
Pak Hadi kemudian menjawab. "Presdir, tidak ada masalah apa-apa, kita disini untuk membicarakan materi untuk rapat besok pagi."
Melihat situasi yang seperti ini, Damiri tiba-tiba berubah ramah dan menambahkan, "iya benar Presdir. Kita sedang mempersiapkan detail tentang rapat besok pagi dan menyadari bahwa penerjemah Eki Tobingtidak hadir, dan bertanya-tanya mengenai keberadaannya."
Apakah memang seperti ini kejadiannya? Hanya orang sebelumnya berada disinilah yang mengetahui kebenarannya.
Sidi Lestari seketika kesal mendengar jawaban yang mereka lontarkan, dia di Sanjaya Group juga sudah bekerja selama 3 tahun, dia bekerja dengan sangat giat dan dari awal tidak pernah dalam pekerjaannya berbuat suatu kesalahan atau melakukan hal yang tidak benar, tetapi pada ajang penghargaan setiap tahun tidak sekalipun terdapat namanya didalamnya, kerja kerasnya pun tidak seorangpun mengetahuinya.
Alasannya hanya satu. Dia tidak pernah membuat senang Damiri.
__ADS_1
Tetapi mereka yang kinerjanya biasa-biasa saja dan dalam pekerjaan tidak begitu menonjol, yang mengerti bagaiman menyenangkan dan bergaul kepada sesama pegawai yang lain dengan mudahnya naik pangkat dan naik gaji.
Berfikir seperti ini membuat Sidi Lestari tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan kemudian menyaut dengan keras, "kalian semua berbohong, jelas-jelas semua orang disini sedang membicarakan tentang pemecatan Eki Tobing"
Mendengar Sidi Lestari yang berkata seperti ini membuat semua orang terdiam kaget.
Eki Tobingtidak mengira bahwa ketika dia berada disaat yang sulit, seseorang yang membantu dirinya adalah gadis ini, Sidi Lestari, dia menatap Sidi Lestari dan mengisyaratkan rasa terimakasihnya karena rela membantunya menghadapi situasi ini.
Sedangkan ekspresi wajah Abdul Qodiryang mendengar perkataan Sidi Lestari seketika terdiam mematung.
Tatapan tajam membunuhnya tersorot pada Pak Hadi, kemudian beralih kepada Damiri,dan akhirnya terhenti pada PUjang Arifa yang berdiri disana.
"PUjang Arifa, apakah benar seperti itu?"
PUjang Arifa meskipun dirinya adalah keluarga dari pemilik Sanjaya Group, dan ditambah lagi bahwa dia adalah adik dari Nicholas, membut sifatnya yang sangat keras dan tidak mau mengalah. Tetapi dia juga mempunyai sisi lemah dalam dirinya.
Dia sangat takut terjadap kakaknya, Nicholas!
Damiri tiba-tiba menjelaskan,"Presdir, ini hanya sebuah kesalahpahaman. Sebenarnya……presdir sama sekali tidak punya niatan seperti itu. Hanya saja kinerja penerjemah Eki Tobingpada rapat kali ini tidak begitu memuaskan, jadi wakil peesdir hanya ingin memberi peribgatan kepadanya, dan memintanya untuk lebih memperhatikan tindak-tanduknya lain kali....."
Abdul Qodirmengamati sekeliling dan berkata dengan tegas.
"Wakil presdir, aku tidak peduli selama ini apa saja yang telah kamu lakukan, tetapi kamu jangan lupa, kamu hanya seorang wakil presdir, dan kamu bukan seseorang yang paling berpengaruh dalam perusahaan ini. Tiba saatnya nanti ketika aku pensiun, pasti kamu lah yang akan menjadi presdir utama, ya?"
Kata terakhir’ya’ yang dia ucapkan menyiratkan arti ketus yang sangat mendaam. PUjang Arifa yang mendengarnya seketika terlihat ekspresi wajahnya yang berubah pucat.
"Kakak.... aku.... " PUjang Arifa mulai melunak.
Tatapannya yang memohon, dan ekspresi memelas yang terlihat sangat jelas tertuju pada Nicholas.
Abdul Qodirmerasa apa yang telah PUjang Arifa lakukan kali ini sedikit keterlaluan, selama ini dia selalu membiarkan dia berbuat semau nya asal tidak melewati batas, dia tidak pernah memarahinya ataupun menegurnya. Tetapi kali ini, dia ternyata berani menyentuh wanitanya. Masalah ini dia terpaksa harus ikut campur.
"Disini adalah Sanjaya Group, yang ada didepanmu adalah atasanmu. Jika yang kamu cari adalah kakakmu, kamu kembali kerumah saja mencarinya. Dan juga, penerjemah Eki Tobingadalah pegawai yang aku wawancarai sendiri untuk bisa masuk kedalam Sanjaya Group, dia merupakan bagian dari Sanjaya Group. Ketika dimana keadaan aku tidak menyetujuinya, PUjang Arifa……kamu tidak ada kapasitas untuk memecatnya."
Satu kata yang membuat PUjang Arifa seketia terdiam dengan seribu arti.
__ADS_1
Dalam hatinya dia sangat mengerti bahwa kakaknya itu sangat memanjakannya dan menyayanginya, tetapi begitu menyangkut perusahaan dia tidak akan berbuat seperti biasanya dengan begitu memanjakannya.
Dia seketika menyerutkan bibirnya, kemudian setelah beberapa saat berkata, "mengerti, presdir!"
Abdul Qodirmenarik kembali pandangannya dari PUjang Arifa, mengangkat kedua kaki panjangnya melangkah menuju ke arah ruangannya.
Saat kakinya baru melangkahkan beberapa langkah, dia menyadari bahwa perempuan yang berada dibelakangnya tidak mengikutinya sama sekali. Dia menghentikan langkahnya, memalingkan badannya berkata, "kenapa hanya diam disitu?"
"Aaa?" Eki Tobingmenyaut kebingungan. Apa maksud perkataannya? Apa aku harus mengikutinya pergi?
Dalam hatinya terbesit pikiran itu, lebih baik segera melangkahkan kaki mengikutinya.
"Letakkan saja dokumennya."
Dia yang sekali lagi memerintah.
"Ooh iya."Eki Tobingsorot matanya seketika tertuju pada meja kerjanya kemudian meletakkan dokumen itu diatasnya dan dengan tergesa-gesa mengikuti langkag kaki presdirnya itu.
Keadaan mengalir seperti ini, para pegawai yang tadinya bergerombol seketika sudah mulai tenang kembali.
Wanita misterius yang dibawa Presdir masuk ke perusahaan untuk bekerja, sampi dibawa ke ruangannya agar dokter bisa memeriksa lukanya benar-benar menunjukkan kedudukan wanita itu dimata Presdir.
Perempuan yang dicap sebagai orang licik dan penggoda yang beruntung itu bukanlah dia adalah penerjemah baru bernama Raline?
Damiri yang mengerti situasi segera pergi mengikutinya.
Hanya Pak Hadi yang melihat segala sesuatunya dengan sangat tenang, ekspresi wajahnya menunjukkan seakan tidak ada yang terjadi dan kmebali kedalam ruang kerjanya.
Laki-laki yang berada didepannya berjalan dengan langkah kaki yang sedikit berat, langkah kaki yang terkesan sedikit sombong, sepatu bermerk nya yang bergesekan dengan lantai menimbulkan pantulan suara yang berirama.
Eki Tobingberjalan mengikutinya dibelakang tanpa diam tanpa berkata apapun, tetapi hatinya benar-benar tidak bisa tenang sedikitpun.
Langkah kaki Abdul Qodirberada didepan pintu ruangan, dan dia sama sekali tidak menghentikan langkahnya dan berjalan terus maju ke depan.
Eki Tobingterpaksa tidak melambatkan langkahnya juga, melihat sekilas ke arah pintu ruang presdir yang tertutup rapat, dia segera menggerakkan ujung bibirnya ingin mengatakan sesuatu. Entah karena Abdul Qodir yang berjalan terlalu jauh atau langkak kakinya yang tidak ada keinginan untuk memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1