
Bab 50 Berpacaran Dengan Presdir
"Putra gangguan mental?" MZakiah mengerutkan alis, "Ma, apa maksudmu? Apakah kalian akan menikahkan ku dengan si bodoh?"
"Bicara sembarangan!" Bu Ayu memotong pembicaraannya. Lalu, matanya yang misterius melihat ke arah pintu. Akhirnya, mengahlikan pandangan pada wajah MZakiah, kali ini kamu sudah mengerti belum?"
Dalam sekejap MZakiah memahaminya!
Ternyata menjemput wanita rendahan itu pulang maksudnya adalah begini. Tapi, apakah Eki Tobingakan menyetujuinya? Siapa yang akan setuju menikah dengan orang bodoh untuk di jadikan istri.
Melihat kebingungannya, mata Bu Ayu menyipit, menunjukan sebuah cahaya yang jahat.
"Tidak bisa pilihan baginya setuju atau tidak!"
Setiap minggu setiap departemen perusahaan, ada akan rapat kecil.
Kepala departemen yang jadi penerjemah saat rapat departemen, berumur kurang lebih 40tahun, sangat kurus, memakai kacamata, kepalanya sedikit botak. Sekali lihat sudah tahu seorang pekerja yang rajin, pemimpin kecil yang tahu aturan.
"....minggu lalu, melihat kinerja departemen kita ini...."
Eki Tobingmemakai setelan jas bisnis, berdiri ditengah kerumunan orang. Walau cuma setelan seragam kerja yang berwarna sama, tapi malah dia yang kelihatan lebih menonjol, menarik. Dengan begini, pandangan mata kepala departemen selalu di ahlikan padanya.
Di tangga tiba-tiba tetdengar sederet suara langkah kaki, ada orang yang penasaran jadi memasukkan kepala melihatnya.
Di belakang Abdul Qodirikut segerombolan orang, lewat dari sini.
Kepala departemen bergegas menyingkirkan wajah yang serius, tuk tuk tuk berlari ke sana, dengan suara hormat berkata, "Presdir pagi."
Mata pria ini melihatnya sebentar, bertanya dengan datar, "Sedang rapat?"
Kepala departemen seketika merasa sedikit panik karena di hargai, terus menganggukkan kepala bilang iya.
Malah melihat pria yang sombong itu mengangkat kaki, berjalan paling depan dalam kelompok orang. Mata yang ganas melirik, lalu dengan tepat melihat ke salah satu tempat.
Dan Eki Tobingkebetulan berada di barisan paling samping, dalam hati terlintas sebuah kepanikan yang aneh. Selalu merasa, sepertinya ada masalah apa. Benar saja, di sudut pandangan yang agak rendah, langsung melihat sepasang sepatu mengkilap berjalan ke arahnya, akhirnya berhenti di sampingnya.
Dia mengangkat kepala, pandangan mata yang jernih bagaikan air yang tenang."
"Kenapa tidak membalas pesanku?"
"……"
Mata Eki Tobingmelotot sampai bulat sekali!
__ADS_1
Sekeliling bagai burung gagak tanpa suara, tapi sepasang sepasang mata yang terperangah semuanya tertuju ke arah Raline.
"Eng?" Dalam suara rendah yang serak sekali lagi mengeluarkan pertanyaan mendesak.
"Aku... Itu..." Eki Tobinghanya merasa kulit kepala pun kesemutan. Tapi, begitu banyak orang di sini, dia tidak boleh hilang kendali, jangan sampai hilang kendali. Jadinya, dia diam-diam mendehem.
"Presdir, sudah larut malam, jadi aku tertidur. Dokumen yang anda butuhkan sudah aku persiapkan, sebentar lagi akan di antar ke kantor anda."
Dia memberinya sebuah jawaban yang tidak jelas.
Sebenarnya malam itu, Abdul Qodirtidak mengungkit satu huruf pun soal dokumen.
Alis Abdul Qodirterangkat, diikuti bibir tipis yang di tarik, "Baik!"
Sekelompok orang meninggalkan area kantor berjalan secara besar-besaran, Eki Tobingjuga diam-diam merasa lega.
Tapi jika dipikir kembali, apa yang ingin dilakukan presdir?
Kenapa selalu tiba-tiba datang begini?
Pria membawa tim elitenya pergi.
Kepala departemen tidak ada mood untuk rapat lagi? Setelah buru-buru mengakhiri rapat kecil, masih sengaja berjalan ke samping Raline, menganggukan kepala padanya sebagai sikap sopan, membalikkan badan berjalan ke kantornya sendiri.
Dulu, saat Eki Tobingmau pergi foto kopi sesuatu, selalu ada rekan kerja yang menghampirinya, tersenyum bertanya, "Nona Eki Tobingcantik, apakah bisa membantuku foto kopi satu juga? Ada sedikit sibuk, jadi tidak enak terimakasih ya."
Eki Tobingjuga sangat royal, menyetujuinya dengan senang, lagi pula juga sekalian.
Dan sekarang....
Eki Tobingberdiri siap-siap mau pergi ke ruang foto kopi, melihat rekan kerja Aminullah juga membawa beberapa dokumen, sepertinya juga mau pergi foto kopi.
"Hai Aminullah, kebetulan aku juga mau pergi ke sebelah sana, aku sekalian bantu kamu membawanya."
Tak terduga Aminullah seperti ketemu dengan orang besar apa, bergegas menggeleng kepala suaranya ada rasa hormat dan takut.
"Tidak tidak tidak usah, aku sendiri saj sudah bisa."
Melihat bayangan punggung Aminullah yang melarikan diri, dalam hati Eki Tobingterasa sangat tidak nyaman.
Hanya Sidi Lestari, gadis yang cuek ini, tetap memperlakukan Eki Tobingseperti dulu.
Saat berjalan kembali Raline, bertemu dengannya.
__ADS_1
"Sidi Lestari." Dia memanggilnya.
Sidi Lestari berbalik, menunjukan senyuman tanpa banyak pikir. Lalu pergi merangkul bahunya, dengan misterius berkata.
"Eki Tobingbagus ya kamu, bahkan membelakangiku diam-diam berpacaran dengam presdir."
"...." Wajah Eki Tobinglangsung memerah sampai ke leher. Dia menjelaskannya dengan serius berkata, "Gadis jahat, jangan bicara sembarangan."
"Jiihhh! Masih tidak mengakuinya. Sudah tersebar luas di perusahaan. Presdir kita yang berkelas dan berkuasa, sangat tampan dan mengoda, berapa banyak wanita yang mendambakannya."
Sidi Lestari bercanda mengatakannya, lalu dipikir-pikir, melanjutkannya lagi berkata, "Tentu saja, Eki Tobingkita juga tidak buruk. Kulit putih paras cantik, bibir merah gigi putih, juga tidak sedikit pria yang mengaguminya sebagai pacar impian."
"Sungguh tidak!" Eki Tobingburu-buru menariknya. Jadinya, mengangkat-angkat dokumen di tangannya, berkata, "nih, sudah lihat ini belum. Karena hari sabtu malamnya aku tidak lembur, presdir buru-buru membutuhkan dokumen ini, jadi mendesakku harus menyelesaikannya dan hari senin tepat waktu berikan padanya.
"....." Sidi Lestari curiga.
Apakah mereka benar tidak ada hubungan seperti itu?
"Baiklah, tidak ngobrol denganmu lagi, aku harus melapor ke kantor presdir." Eki Tobingsambil berbicara, pinggang yang seksi pelan-pelan berkelok, langsung mengganti arah.
Kali ini, dia harus mengatakannya dengan sangat jelas pada presdir. Dia mau memberitahunya, dia datang ke Sanjaya Group untuk bekerja, bukan datang ke sini untuk bermain hubungan tidak jelas.
Mengetuk pintu kantor presdir, orang yang membuka kan pintu adalah Pak Hadi.
Pak Hadi melihatnya, tersenyum pelan dengan sopan, lalu membawanya masuk.
Eki Tobingmelangkah masuk, langkah kaki baru tiga langkah, langsung melihat tiga sampai lima orang berdandan seperti pimpinan atas, sangat serius duduk di sana sepertinya sedang merundingkan masalah penting.
Dia masuk pada saat seperti ini termasuk apa ya? Tanpa berpikir, dia membalikkan badan bersiap mau pergi.
"Kamu sudah datang? Ke sini dan duduk." Di samping telinga terdengar suara Abdul Qodiryang tenang dan tertahan.
Seperti orang kerasukan, kedua kakinya mulai tidak mendengarkan perintahnya.
Eki Tobingmelihat Abdul Qodirdengan tidak jelas, dia sambil berbicara, sambil menujuk sofa kosong dengan jarinya, berkata, "Duduk dulu di sebelah sana."
Eki Tobingingin menolaknya, tapi Pak Hadi sudah membuat sebuah isyarat tangan mempersilahkan, dan mengisyaratkannya sebaiknya jangan bersuara, memberi petunjuk, mereka sedang merundingkan masalah yang penting.
Eki Tobingtak berdaya, hanya bisa berjalan ke tempat yang Abdul Qodirtunjukkan dan duduk.
Pria sekali lagi menghentikan rapat yang sedang berjalan, berkata pada Pak Hadi, "Tuangkan dia segelas kopi."
Pak Hadi berdiri, tidak lama, secangkir kopi hangat di bawakan ke hadapan Raline.
__ADS_1