Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 49 Menikah Dengan Pria Gangguan Mental


__ADS_3

Bab 49 Menikah Dengan Pria Gangguan Mental


Hati Raline berkata, kali ini tidak boleh dengan mudah membiarkan kedua orang ini. Soal apa tujuan mereka menyuruhnya untuk pulang kali ini, dia sementar juga tidak bertanya dulu.


Bu Alda melihat cara bicara Admaja mulai berubah menjadi tenang, dalam hati juga diam-diam mulai lega.


Raline tiba-tiba mulai terisak-isak, dengan ekspresi memelas berkata, "Pa, kamu jangan bertanya pada Tiara lagi. Dia semalam sudah mabuk, tidak ingat apa pun lagi, sudahlah. Apalagi, orang-orang juga bilang, omongan orang yang sedang mabuk selalu ngawur. Aku tahu, dalam hati adik selalu ada rasa tidak suka sama kakaknya ini, biarkan dia semalam  melampiaskannya sebentar selagi mabuk."


Ungkapan dalam perkataan ini, kata-katanya, artinya, orang yang mengerti akan langsung memahaminya. Orang yang tidak mengerti, berpikir sampai gimana pun tidak akan memahaminya.


Admaja mengerutkan alis lagi, bagaimana dia bisa tidak tahu, ketidakadilan yang di rasakan putri pertamanya dirumah ini?


Dan saat ini, Rafa adalah pemicu yang bagus untuk menambah kemarahannya.


"Tidak, tidak mau mama.... Jangan tinggalkan Rafa.... Semalam Rafa sudah melihat semuanya dari dalam kamar.... Bibi kecil mau memukulmu, Rafa takut.... Dia sepertinya mau memakan orang.... Hiks hiks.... Rafa takut, hiks hiks hiks! Rafa tidak mau mama pergi, mama kalau mau pergi harus sekalian membawa Rafa. Jika suatu hari bibi mabuk lagi, pasti akan melampiaskannya pada Rafa..... Rafa tidak mau dimakan...."


Kata-kata Rafa, membuat semua orang terkejut. Bahkan Raline juga merasa salut dengan akting si kecil ini!


Jelas-jelas semalam saat dia kembali ke kamar, melihatnya tertidur sampai begitu pulas.


Jika tadinya Admaja sudah percaya dengan kata-kata Tiara, makan kali ini kata-kata yang terlontar keluar dari mulut seorang anak kecil, dia walau bagaimana pun pasti tidak akan mempercayai Tiara.


"Tiara, kali ini masih ada apa lagi yang mau kamu katakan?"


Menghadapi pertanyaan Admaja, kemarahanTiara bukan karena satu hal lagi. Masih ada bocah kecil itu, sengaja berpura-pura sunguh kepribadian yang sama dengan mamanya yang rendahan, kapan dia pernah memukul orang?


"Pa, kata-kata anak kecil kamu juga percaya? Aku tidak akan minta maaf, mereka bergabung untuk memfitnahku, aku tidak memukul orang, palingan hanya memarahi dia beberapa kata saja."


"Kamu---" Admaja dibuat kesal sampai tidak bisa berkata apa-apa."Kenyataan sudah ada di depan mata, kamu masih bersikeras tidak mengakuinya? Atau umur Rafa yang masih kecil, sudah bisa berbohong!"


Air mata ketidakadilan Tiara mengalir keluar, bicaranya semakin sembarangan dan tidak mempertimbangkan lagi.


"Pa, kamu kenapa percaya dengan omongan anak haram ini? Apakah kamu lupa saat itu Raline bagaimana hamil? Sampai sekarang ayah dari anak ini masih tidak tahu keberadaannya.... Dia adalah anak haram, dia sama sekali tidak cocok menjadi anggota keluarga Lin..."

__ADS_1


"Prakkkkk!"


Admaja mengangkat tangan dan menampar keras-keras ke wajah Tiara.


Tiara menjerit, badannya miring kaki tidak stabil langsung terjatuh ke lantai.


Melihat situasi begini Bu Alda, menjerit dan berlari kesana untuk melindungi Tiara.


"Admaja, kamu berani memukul putriku? Aku beritahu kamu, kamu mau pukul lagi maka pukul aku saja, pukul kami berdua sampai mati agar kamu merasa nyaman, agar kemarahanmu bisa reda?"


"Alda, kamu minggir saja. Kamu terus melindunginya begini, nantinya akan jadi apa dia? Kamu dengar ucapakan yang diucapkannya, sebagai seorang gadis pantaskah nerbicara seperti itu!"


"Pa... Kamu, kamu memukulku!" Tiara memegang kuping yang kena pukul, di mata mengalir air mata yang tidak rela.


Apa lagi saat dia melihat bocah kecil yang pantas mati itu, mata besar yang berkedip-kedip, saat tertawa memancarkan ejekan. Ibu dan anak yang rendahan, suatu hari nanti dia pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda.


Dia memegang pipi, menangis keras dan berlari kembali ke kamarnya.


Bu Alda marah sampai seluruh badan gemetaran, satu tamparan itu seperti terpukul ke dalam hatinya, dia melotot kejam pada Admaja.


Bu Alda menarik pandangannya, pandangan yang kejam di tujukan pada sepasang ibu dan anak yang ada duduk di atas sofa.


Tapi demi rencana besarnya, dia hanya bisa menyembunyikan rasa benci ini sedalam-dalamnya di hati.


"Raline, kalian tenang saja, ayah sudah mendidik Tiara. Gadis ini sifatnya keras kepala, lewat beberapa hari lagi dia akan mengerti."


Raline mengangkat kepalanya, melihatnya sekilas penuh ketidakadilan.


Bu Alda berusaha mengeluarkan sebuah senyuman hangat di wajahnya, sekali lagi menghiburnya, "Raline, kalian ibu dan anak tenang saja tinggal di rumah ini, jika ada yang tidak nyaman, kamu bilang saja padaku. Selain itu, di sini adalah rumahmu sendiri, tidak ada masalah apa-apa."


Raline menganggukkan kepala, berpura-pura seperti terimakasih padanya dan melirik.


"Mama tiri, terimakasih."

__ADS_1


"Ha ha, tidak apa-apa, tidak apa-apa." Bu Alda tersenyuman hehe.


Ralinemembawa Rafa kembali ke kamarnya sendiri.


Dia merasa terkejut sendiri, dia sudah membuat masalah sampai tahap begini, Bu Alda bahkan masih bisa menahan diri. Sebenarnya mereka mau menyuruhnya melakukan apa, hingga membuat Bu Alda bisa menahan sifatnya sampai tahap di perlakukan bagaimana pun tidak membalasnya?


Dengan begini, dalam hati Ralinelebih penasaran lagi, dia sepertinya sudah tidak sabar ingin mengetahuinya, sebenarnya apa tujuannya!


Ujung bajunya pelan-pelan di tarik, Raline melirik, langsung melihat putra kecilnya menatapnya dengan kasihan.


Dia tersenyum, memeluk Rafa pada kedua lengannya.


"Mama, apakah anda marah?" Rafa mendongak dan bertanya.


".....eng, ada sedikit saja." Raline mengedipkan mata.


"Mama, maaf, aku salah. Tidak seharusnya aku berbohong." Mulut Rafa cemburut, "Tapi aku melihat sikap bibi kecil itu sangat membenci mama, masih ada nenek, saat tersenyum sangat palsu! Mereka bergabung untuk menindas mama, Rafa sangat marah."


Pria kecil sudah tahu dirinya berbuat salah, dengan sendirinya meminta maaf pada Raline.


Raline menganggukkan kepala, matanya lembut bagaikan air.


"Rafa, caramu melindungi mama adalah benar, tapi lain kali kita tidak boleh membohongi orang lagi, harus menjadi anak baik yang jujur. Baik tidak?"


"Eng!"


Rafa menganggukkan kepala keras-keras, mengulurkan tangan mungil yang gemuk untuk mengikat janji dengan Raline.


Dalam kamar Tiara, Bu Alda berdiri di samping ranjang dengan sabar menasehati dan menghiburnya, menasehatinya agar sabar beberapa hari lagi.


"Tidak bisa. Kenapa aku harus menerima penderitaan ini? Tadi anak haram dan wanita rendahan itu bergabung menjebakku! Dia kembali kedalam negeri, kenapa kalian masih mau menjemputnya pulang!"


Bu Alda bergegas mengulurkan tangan memberi isyarat agar suaranya lebih pelan. Raut wajahnya serius berjalan sampai samping pintu, menempelkan telinganya ke atas dan teliti mendengarkannya, sudah memastikan di luar tidak ada orang, barulah kembali.

__ADS_1


"Tiara, bisnis papa mu sedang mendapat masalah, butuh sejumlah uang untuk melakukan transfer mingguan. Ada sebuah pengembang yang bersedia membantu mereka, tapi syaratnya adalah ingin putri kami..... Menikah dengan putranya yang ganguan mental untuk dijadikan istri."


__ADS_2