
Bab 27 Menggoda
Wanita cantik yang disebelah nya juga tertawa, wajah Adinda Novita semakin canggung.
Eki Tobingmemandang Sidi Lestari dengan niat menegur, kemudian bibir nya cemberut tidak mengatakan apa-apa lagi. Kemudian, menoleh ke Adinda Novita, dia berkata, "Sidi Lestari teman baik saya, sifat dia begitu terbuka, saya harap Anda tidak keberatan. "
Wanita cantik ini ingin menyelesaikan masalah, tapi wajah nya tidak mengatakan hal itu.
Adinda Novita tertawa, memperlihatkan dirinya sendiri tidak keberatan.
Semuanya, Abdul Qodirmengetahuinya dengan detail. Hanya saja, karena masalah jarak dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, hanya melihatnya dia ke dia dan satu orang lagi yang lagi memandang dia, lalu membisikkan sesuatu.
Hati pria itu seketika seperti terbakar.
Wanita ini juga terlalu berani, dia mau menggoda pria lain? Sudah saatnya aku beraksi!
Abdul Qodirdengan tenang melihat pria yang jelek itu, kemudian semakin tidak nyaman.
Pria itu biasa – biasa aja, dia juga tidak menonjol di perusahaan, apa seleranya begitu buruk?
Eki Tobingmakanannya sedikit, bentar saja sudah habis. Ketika dia selesai makan, dia terkejut melihat Sidi Lestari juga sudah selesai makan. Dia hanya bisa melebarkan matanya. Begitu banyak makanan, dia ternyata begitu...... sudah selesai makan!
" Raline, ayo pergi." Sidi Lestari berdiri dan menyapa.
" Emm, Baiklah." Eki Tobingjuga meletakkan sumpitnya, lalu berdiri.
" Raline, kamu di departemen mana? saya dari departemen desain, ingat kalau ada waktu harus cari saya, saya akan mentraktirmu minum kopi." Adinda Novita berdiri, cepat–cepat meninggalkan tempatnya.
"Oke, aku pergi dulu." Eki Tobingmengangguk.
Abdul Qodirjuga melihat Eki Tobingberdiri bersiap–siap untuk pergi, sebenarnya dia masih belum makan seberapa banyak, jangankan memakannya, makan dari mata sudah cukup baginya, mana bisa makan lagi.
Dia juga meletakkan sumpitnya, lalu pergi keluar.
Eki Tobingmenyadari Abdul Qodirakan keluar juga, di pagi hari dia seharusnya tidak melakukan hal yang sembrono, apa dia ingin melakukan sesuatu hal lain untuk membuatnya malu lagi?
Ketika dia memikirkan hal ini, dia memegang tangan Sidi Lestari, dan langkahnya menjadi lebih besar dari sebelumnya.
"Sidi Lestari, tiba-tiba aku teringat, aku masih ada beberapa dokumen penting yang belum ditranslate. ayo cepat kembali."
Di saat yang sama, Eki Tobingtidak memperhatikan langkah kaki, dia hampir tersandung dan berteriak, jika tadi tidak memegang Sidi Lestari, dia pasti akan jatuh lagi.
__ADS_1
"Raline, kamu pelan-pelan."
"... Aku minta maaf, kaki ku sedikit sakit, tadi pagi aku terjatuh," Eki Tobingmenjelaskan, tapi begitu dia mengatakannya dia mulai menyesalinya.
Yang benar saja, Sidi Lestari mendengarnya lalu bertanya dengan curiga, "Kaki mu sakit? Raline, jangan bilang kamu yang dibawa masuk oleh Direktur pagi ini?"
Eki Tobingmembantah, "omong kosong! Bagaimana mungkin aku? Aku masuk sendiri."
"Oh." Kekhawatiran Sidi Lestari hilang.
Setelah itu, kecepatan mereka berdua melambat beberapa langkah, kemudian ada orang yang di belakang sedang mengejar.
Sidi Lestari berhenti sebentar kemudian bersikap centil. Matanya yang berbinar binar dan juga dipenuhi dengan harapan.
" Direktur." Dia memanggil dengan lembut.
Abdul Qodirtidak mengeluarkan suara, hanya mengangguk sedikit. Lalu, matanya yang liar jatuh ke Raline.
Apa pria ini sengaja?
" Direktur." Eki Tobingberpura-pura tidak punya masalah apapun, lalu menyapa.
"Apa kamu kesakitan?"
"Ah?"
Hanya saja Eki Tobingmasih menyimpan akal sehat, Aku tidak mengerti kenapa Abdul Qodirtiba-tiba bertanya.
"Apakah kamu tadi menyentuh lukanya?" Abdul Qodirmengatakan dengan tepat apa yang dia maksud.
Hati Eki Tobingmulai lompat lagi, apa dia melihat yang tadi?
"Oh, tidak apa-apa."
"Emh, aku akan baik-baik saja."
Percakapan mereka berdua, kalau dilihat sederhana dan jelas, tetapi orang tidak tahu sebenarnya ada apa.
Misalnya, Sidi Lestari.
Dia tidak mengerti apa terjadi dengan mereka berdua, kemudian mereka berbicara seperti diam-diam, dia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
__ADS_1
Eki Tobinglebih gugup. Dia menggigit bibir bawahnya, kemudian matanya menatapnya beberapa menit, lalu mengedipkan matanya kepada Nicholas. Aku harap dia tidak akan melanjutkan lagi, orang lain akan salah paham sampai level mana, aku tidak bisa membayangkannya.
" Nona Raline."
" Iyah!"
" Kamu tidak merasa..."
Pria itu baru berbicara setengah, lalu berhenti. Mata nya seperti bunga persik kemudian tersenyum, Eki Tobingtidak bisa memastikan apa dia sengaja atau tidak......
Abdul Qodirmerasa mood nya sudah membaik. Terutama ketika melihat dia gugup dan malu, lalu merasa dia lucu sekali.
Ternyata ini bisa menjadi bahan untuk menggodanya.
" Warna lipstik ini sangat tidak cocok untukmu."
Pria itu mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti para bisku yang sedeang berada di utara, kemudian tanpa mengatakan apapun lalu berbalik badan, dengan langkah nya yang menawan kemudian pergi.
Maksud dia, sebenarnya apa?
Jelas-jelas mukanya yang acuh tak acuh, tapi dia bisa mengatakan hal-hal yang menggoda semacam ini.
" Raline, kamu sepertinya mengenal direktur dengan sangat baik." Sidi Lestari melihat Direktur dengan menawan pergi, kemudian mengatakan hal yang tidak dia yakini.
" Mana ada, aku tidak pernah mengenalnya. Lagi pula, aku benar-benar baru kembali dari luar negeri."
"... Apa memang benar seperti itu? " Sidi Lestari meletakkan pandangannya ke arah Raline.
" Sidi Lestari, apakah kamu meragukan aku?"
Sidi Lestari terdiam.
" Sebagai atasan, peduli dengan bawahannya itu hal yang sudah biasa. Dia bilang lipstik ini tidak cocok untuk aku, terutama karena posisi aku. Kamu juga tahu aku menjadi translator, pasti akan bertemu banyak pelanggan penting dari perusahaan. Direktur mengingatkan aku untuk memperhatikan dandananya, ini juga beralasan kan. "
Eki Tobingwanita dengan EQ dan kebijaksanaan tinggi. Dia hanya mengatakan beberapa kata, sudah bisa menghilangkan keraguan Sidi Lestari, kemudian berjalan sama-sama ke kantor.
"Raline, mau pergi ke kamar mandi?"
"Tidak Sidi Lestari, kamu pergi saja, Aku punya beberapa dokumen yang harus di keluarkan." Eki Tobingmeneguk air, bersiap-siap untuk pekerjaan yang sore hari.
"Baiklah." Melihat ini Sidi Lestari tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu akan ada rapat penting di sore hari ini, jadi dia tidak mengganggu pekerjaan Eki Tobinglagi.
__ADS_1
Baru pergi sebentar, tiba-tiba berbalik.
Sidi Lestari menarik kursi kantor, duduk dengan misterius di samping Eki Tobingtanpa bicara apapun, Dia dengan tenang menatapnya.