
Bab 31 Menanamkan Kebencian
Jabatan Eki Tobingtidak tinggi, dia hanya seorang penerjemah kecil, dan sehingga membuat tempat duduknya terlampau sangat jauh dari para petinggi perusahaan
Setelah perkenalan oleh sekretaris utama Damiri, rapat resmi dibuka.
Tempat duduknya berada di ujung dibaris terakhir deretan para pegawai lainnya, pelan-pelan mengeluarkan bolpoin yang sedari awal dibawanya, menulis semua informasi penting selama rapat.
Laki-laki yang duduk di kursi utama dalam ruang rapat menyorotkan ekspresi dingin yang terpancar dari bibirnya, dari sorot matanya yang dalam justru terpancar aura kebijaksanaan, dia sesekali tersenyum tipis mengisyaratkan kesopanan menatap pegawai yang sedang memeparkan
Jati tangan yang panjang dan lentik milik laki-laki itu diletakannya diatas meja rapat, mengetuk-ngetukkan lirih ke arah wajah meja, ujung bibir tipisnya terangkat pelan, tersenyum. Memberikan setiap orang kesan yang nyaman untuk melanjutkan pembicaraan, tanpa melakukan banyak hal tetapi mampu memberikan kesan mengontrol yang sangat kuat.
Eki Tobingtanpa disadari terus memandanginya, dalam pikirannya terus memikirkan kejadian beberapa hari ini yang dilaluinya bersama dengan laki-laki yang bernama Nicholas.
Dia merasa seakan tersihir, entah saat ditempat kerja ataupun saat dirumah selalu saja teringat segala hal akan dirinya. Meskipun dia sudah sekuat tenaga untuk tidak memikirkannya, tetapi pikirannya tidak dapat dihentikan dari memikirkan hal ini.
Abdul Qodiryang saat ini, seakan berdiri ditempat yang sangat tinggi yang bertabur bintang dan diterangi cahaya bulan. Segala yang berada dalam dirinya, benar-benar berada diluar jangkauannya. Sedangkan dia? Dia sama seperti kumpulan ribuan orang diluar sana, begitu tidak terlihat dimatanya.
Dia memfokuskan lagi pandangannya, suasananya tiba-tiba berubah menjadi mengecewakan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tiba-tiba, dia merasakan didepan sana dari arah yang tidak begtu jauh, dia seperti merasakan ada sorot mata menakutkan yang sedang menatapnya. Dia merasa penasaran dan menaikkan pandangannya, sorot mata yang sedingin es tanpa bergetar, ya, matanya bertemu dengan kedua mata Rio saputrayang sangat mengintimidasi itu.
"Terjemahkan....."
"Penerjemah!"
Ketika ada seseorang yang memanggilnya beberapa kali, Eki Tobingbaru tersadar dari lamunannya.
Bagaimana ini! Bagaimana bisa dalam situasi ini malah melamun dan tidak fokus.
Eki Tobingseketika memfokuskan kembali pandangannya, saat dia beranjak dari tempat duduknya, terburu-buru melirik ke arah Pak Hadi yang tempat duduknya sangat dekat dengan Nicholas.
Dokumen penting yang dibutuhkan berada ditangan, Eki Tobingmeyakinkan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan hal lain dalam situasi seperti ini, dia harus melanjutkan rapatnya dengan serius, tidak boleh kelewatan sedikitpun.
Tetapi kenyataan tidak selalu sesuai dengan angan-angan, mungkin karena sepatu yang hari ini dipakainya, dan mungkin juga karena luka hari itu yang diperbannya belum sembuh benar, kakinya seakan seperti dipelintir-pelintir, kaki bagian bawah Eki Tobingterasa nyeri, tubuhnya tanpa disadari hampir terjatuh ke arah satu sisi.
Untung saja aja salah satu pegawai yang menahannya agar tidak terjatuh. Tetapi karena tangannya menggenggam erat bibir meja dan membuat gelas berisi air yang berada diatas meja
"Praaanggggg!"
__ADS_1
Ruangan rapat yang begitu besar dan sunyi tiba-tiba dibuyarkan oleh suara pecahan gelas, dan merusak suasana serius dan hikmat diruang rapat.
"Apa yang kamu lakukan, kamu dari bagian mana?"
Suatu suara yang sangat menusuk, dan terdengar ada sedikit celaan dari kata-kata itu.
Terlihat PUjang Arifa yang bangkit dari tempat duduknya, menaikkan kedua alisnya dan terlihat waut wajahnya yang memancarkan kemarahan yang meledak-ledak.
Semua sorot mata pegawai seketika tertuju ke arah Raline, Eki Tobingmerasa setiap sorot mata yang dipancarkan kepadanya memandangnya seakan akan akan menerkamnya bulat-bulat.
"Wakil presdir." Damiri beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah PUjang Arifa dan berkata, "dia adalah penerjemah yang baru saja bergabung dengan perusahaan, Raline."
"Siapa yang merekrut seseorang yang tidak jelas seperti dia?" PUjang Arifa berkata dengan nada dingin dan menusuk, perkataannya itu jelas-jelas tertuju pada Damiri. Tetapi pandangannya tidak sekalipun teralihkan dari wajah Raline.
"........" Damiri terdriam beberapa saat.
"Ketua sekretaris, apa bagian penerjemah tidak ada cukup pegawai?"
"Ada!"
"Berhentikan dia, pergi ke bagian penerjemah dan pilih satu orang kemari sebagai gantinya"
Damiri menganggukkan kepala mengerti, kemudian dengan pelan berjalan ke arah Eki Tobingdan berkata dengan nada yang sama, dingin dan menusuk.
"Nona Raline, maaf, saya merasa kamu tidak cukup sesuai untuk mengemban pekerjaan penerjemah ini."
Ini jelas-jelas adalah sebuah jebakan, hanya rekayasa!
Eki Tobingmerasa tidak terima!
Dia mengakui bahwa mereka berkata dia tidak jelas dan kepribadian naik turun! Tetapi kejadian itu tadi, sudah jelas ada seseorang yang sengaja ingin menjebaknya."
"Ketua sekretaris, saya bersedia keluar, tetapi saya akan menjelaskan kejadian tadi dengan jelas. Saya....."
"Diam." Suara yang terdengar sangat dingin. Seseorang yang duduk di posisi sebelah sana tiba-tiba membentak keras.
Seketika sorot mata setiap orang beralih ke sumber suara itu.
Orang yang berbicara itu adalah Nicholas.
__ADS_1
Eki Tobingseketika kebingungan, apakah kata-kata ‘diam’ yang dilontarkan ditujukan kepadanya atau bukan, tetapi sepertinya memang itu ditujukan kepadanya.
Dari sorot matanya tersembunyi kesedihan yang mendalam.
"Nona Raline." Abdul Qodirdengan pandangan yang sedikit terangkat, mengedipkan matanya dan menggertakkan giginya dengan keras, menahan agar dirinya tidak mengagetkan Raline.
"Iya." Eki Tobingmenyaut.
"Apakah ada yang terluka?"
Semua orang mengira bahwa Presdir akan menegurannya, tetapi yang semua orang dengar adalah bahwa perkataan Presdir yang malah sedang mencemaskannya. Dalam hati setiap orang terbesit pikiran kebingungan dan tidak mengerti.
"...... tidak ada." Eki Tobingterdiam sebentar baru kemudian menjawabnya, lalu dengan nada yang sedikit bersemangat dia berkata, "saya tadi......"
"Syukurlah kalau tidak ada, segera mulai rapatnya." Abdul Qodirberkata dengan nada yang memerintah.
"Tadi itu karena....." Eki Tobingmasih merasa sedikit tidak terima dan ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"aku…."
Ruang rapat yang begitu besar, suara lantang Abdul Qodirmenggema dan terdengar seperti suara cello yang besar, seketika menghentikan keributan yang berada diruang rapat. Nada suaranya sangat datar, tidak ada nada seperti memerintah, tetapi malah terdengar seperti tidak mudah ditolak oleh seseorang yang mendengarnya. "jika Nona Eki Tobingtidak terluka, maka segera mulai saja rapatnya."
Eki Tobinggawat!
Kesalahpahaman yang terjadi belum terselesaikan, dia belum mengungkapkan apa yang terjadi dan siapa yang memfitnahnya..... Tetapi kenapa dia malah biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa? Apa untuk melindungi saudara perempuannya? Waktu seakan berhenti begitu saja, Eki Tobingmenahan nafasnya dan menggertakan giginya karena kesal.
Dia harus bagaimana agar bisa bernafas dengan lega?
PUjang Arifa karena hal yang dilakukan oleh Abdul Qodirmenjadi tidak berhasil melanjutkan rencananya, tetapi tidak terlihat ekspresi kesal di raut wajahnya, tentu saja, dia tidak bisa berbuat sembarangan disepan semua orang. Dia memberi Damiri sebuah isyarat mata dan kemudian Damiri yang mengerti akan maksud dari isyaratnya itu perlahan kembali ke tempat duduknya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Pak Hadi beranjak dari tempat duduknya berjalan ke arah Raline, berkata lirih, "Nona Raline, jika ada sesuatu menjanggal yang lainnya maka katakanlah sekarang juga. Rapat kali ini sangat penting, tidak bisa menunda lebih lama lagi untuk memulainya. Semoga kamu dapat mengerti maksud saya."
Setelah mengatakannya, tatapan hangat Pak Hadi tertuju kepadanya.
Eki Tobingmengerti akan perkataannya, tetapi hati kecilnya tidak tenang karena ada sesuatu yang menjanggal.
Seperti seakan akan menuruni anak tangga, tetapi harus menunggu Abdul Qodiruntuk datang sendiri untuk meraih tangannya.
Eki Tobingmengerti dan mengangguk begitu saja, dan membawa kertas yang sedari tadi dicoret-coretnya selama rapat dan maju kedepan dan memulai tugasnya sebagai penerjemah dan mulai memaparkan hasil terjemahannya.
__ADS_1