Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 41 Membantunya Memutuskan


__ADS_3

Bab 41 Membantunya Memutuskan


Pak AngZakiah tidak berkata apa-apa lagi, alisnya yang sedari tadi berkerut tegang mulai kembali terlihat rileks.


Jika dilihat status Eki Tobingyang sekarang, benar-benar suatu kegagalan. Tetapi kembalinya dia kerumah juga merupakan hal yang diharapkannya.


Suami istri berpendapat saling berargumen memperdebatkan sesuatu telah usai, kemudian memasuki rumah dan melihat bahwa MZakiah sudah mengganti pakaiannya, seperti bersiap akan pergi keluar.


"MZakiah kamu mau pergi kemana?"


MZakiah memakai baju yang sangat minim dan memakai celana sobek-sobek, rambutnya digerai begitu saja menyentuh pundak. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet, terlihat benar-benar layaknya seorang gadis.


"mau pergi main."


Sebelum Pak AngZakiah sempat mengatakan sesuatu, Bu Ayu langsung menariknya.


"anak gadis sudah besar dan punya teman pergaulan sendiri itu hal yang wajar, kamu orang tua tidak usah terlalu ikut campur. Ayo kita lebih baik membicarakan hal yang lebih penting."


Pak AngZakiah belum sempat mengatakan apapun tetapi sudah ditarik oleh Bu Ayu masuk kedalam.


Kediaman Keluarga Qodir.


Terletak di bawah kaki gunung kota G.


Anak-anak dari keluarga, setelah dewasa akan membangun perumahan di dekat perkotaan untuk memudahkan dalam pergi bekerja. Tetapi Sanjaya Group juga mempunyai aturan keluarga yang harus dipatuhi, yaitu setiap akhir pekan harus kembali kerumah untuk makan bersama.


PUjang Arifa mengendarai mobinya baru pulang saat tengah malam.


Mobil sudah berbelok memasuki garasi, nona muda keluar dari mobil menenteng tas brandednya, kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada pelayan yang berjalan mendekat.


"Bantu aku beresin."


"baik nyonya."


PUjang Arifa mengangkat lehernya, kakinya yang memakai sepatu hak setinggi 10 sentimeter itu melangkah menuju kedalam rumah, pelayan mengikutinya dari belakang.


"papa dimana?" PUjang Arifa berjalan sampai pintu masuk, kemudian melihat bahwa ruang keluarga sangat gelap, sepertinya tidak ada orang satupun disana.


"tuan sudah kembali ke ruangannya." Pelayan menjawab dengan sopan.

__ADS_1


PUjang Arifa menghentikan langkah kakinya kemudian bertanya kepada kembali, "saat makan malam keluarga tadi apa semua orang hadir?"


Pelayan menggelengkan kepalanya, "tidak."


PUjang Arifa tidak bertanya lebih lanjut. Sejak kakek sakit dan dirawat dirumah sakit, orang yang datang ke acara makan malam keluarga makin lama makin sedikit, tidak sekalipun kumpul lengkap. Entah karena mereka sengaja atau bagaimana, kalau bukan beralasan sibuk, pasti beralasan kalau sedang diluar kota.


Dia memutar badannya dan menuju ke kamar.


Dari kejauhan sudah terlihat tananman hijau disekeliling, dibawah sorot sinar lampu, keindahannya seperti kediaman raja di jaman dahulu.


Pelayan dari kejauhan sudah melihat kedatangannya, kemudian berlari kecil keluar untuk menyambutnya.


"nona, anda akhirnya kembali."


PUjang Arifa mengangguk ringan, kemudian memberika tas nya kepada pelayan dan berkata, "papa dimana?"


"di ruang kerjanya. Tuan mengira anda akan kembali untuk makan malam, sengaja menunggu sangat lama."


"Oh, aku mengerti." PUjang Arifa mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja papa nya.


"tok tok.."


"masuk."


"pa, aku kembali untuk menemui papa." Begitu masuk kedalam, PUjang Arifa tidak memperdulikan papa nya yang sedang membaca buku dan memeluknya.


Laki-laki berambut hitam beralis cokelat sedang duduk disebuah kursi antik yang berwarna abu-abu, sepasang mata dengan pandangan yang tajam dan penuh aura kecerdaan. Meskupun sudah memasuki usia yang tidak muda lagi, tetapi masih memancarkan aura yang begitu gagah.


Dia adalah pemilik dari rumah besar Sanjaya Group, putra tertua dari kakek Ibramsyah, Marsely.


Melihat anak perempuan kesayangannya yang menghampirinya, Marsely mengangkat sedikit alis matanya, dan berkata dengan nada yang dibuat seakan dia sedang kesal.


"kamu sudah sebesar ini kenapa masih saja gegabah, perhatikan perilakumu!"


"hehehe papa, aku merindukan papa." Kelakuannya yang tadi sedikit arogan berubah menjadi anak perempuan yang manja, mengelendotkan tubuhnya ke Marsely.


"hem, merindukanku katanya? Kenapa tadi tidak pulang untuk makan malam?" Marsely berdehem lirih, sambil merapikan dokumen yang berada didepannya dan menaruhnya di sisi yang lain.


PUjang Arifa memanyunkan bibirnya berapa senti.

__ADS_1


"kenapa, apa berdebat lagi dengan Dirga? Rio saputradia sebenarnya lumayan, sifatnya juga tidak buruk, kamu lebih baik jangan terlalu memperdulikannya, jangan sampai kamu dibikin kesal sampai kabur dari rumah."


"pa, kenapa malah membahas hal itu." PUjang Arifa merajuk.


"aaaa... apa kamu pikir papa tidak mengerti anak papa sendiri?" Marsely berkata dengan nada layaknya seorang papa yang memanjakan anak perempuannya.


"semua itu gara-gara dia." PUjang Arifa mengerutkan alis nya yang indah itu kemudian kembali berkata, "semua karena kakak."


"Nicholas? Bukankah dia selalu membelamu setiap saat?"


PUjang Arifa menghela napas panjang dan berkata, "semua itu gara-gara seorang perempuan. Di perusahaan ada satu pegawai baru dengan wajah lonjongnya itu. Begitu datang langsung keganjenan menggoda semua laki-laki di kantor, lihat saja sekarang, kakakpun tergoda olehnya."


"benarkah?" Marsely bertanya dengan sedikit kaget.


"didepan orang banyak kakak membawanya masuk ke perusahaan. Reputasi Sanjaya Group semuanya sudah dihancurkan oleh rubah betina ini. Jika dia hanya berhubungan dengan kakak saja aku tidak masalah, tetapi dia masih berhubungan dengan laki-laki lain. Pa, menurut papa perempuan seperti ini apa pantas untuk masuk ke keluarga besar kita?"


"tidak pantas!" ekspresi sumringah diwajah Marsely seketika memudar, sorot matanya tajam, tidak kalah tajam dari sorot mata anak muda yang lebih muda darinya.


"kakak sekarang benar-benar seakan tersihir oleh wanita rubah itu, kakak sangat patuh kepadanya. Aku benar- benar sudah tidak tahan dan ingin segera mengeluarkannya dari perusahaan, tetapi tidak disangka kakak malah menyalahkanku dan memarahiku."


PUjang Arifa bercerita sambil memanyunkan bibirnya kedepan dengan ekspresi memelas bercerita kepada papa nya itu, "pa, menurut papa apa tindakanku yang seperti ini salah?"


"tidak, kamu sudah melakukan hal yang benar, si brengsek itu yang salah."


"iya kan, kalaupun aku yang salah, jika kakak memarahiku aku tidak akan membantah. Tetapi karena perempuan itu aku jadi disalahkan begini." Tangan PUjang Arifa menarik ujung baju Marsely, sama seperti saat dia masih kecil ketika merajuk sering menarik-narik ujung baju ayahnya itu, "pa, kali ini papa harus membantuku untuk membereskan perempuan itu. Kalau tidak Sanjaya Group kita akan dipermalukan oleh dia."


Marsely menjawab dengan penuh perhatian, "perempuan itu harus segera dibereskan, kakakmu itu lebih-lebih harus mendapat pelajaran."


PUjang Arifa dengan puas hati meninggalkan ruang kerja, saat dia berjalan sampai pintu, kemudian dia teringat sesuatu dan membalikkan badannya, "pa, apakah keadaan kakek sudah mulai membaik?"


Marsely menundukkan sorot matanya sayu dan tidak mengatakan apapun.


Jawaban yang tidak jelas ini membuat PUjang Arifa tidak dapat menerimanya. Kemudian dengan gamblang berkata, "kalau gitu aku akan pergi menjenguk kakek."


Siapa yang mengira begitu dia melepaskan perkataannya itu kemudian Marsely seketika terdiam. Sosok papa yang lembut dan penuh kasih sayang seketika lenyap dari ekspresi wajahnya, justru sebaliknya, dia menyorotkan ekspresi dingin dan cuek di dalam wajahnya.


Marsely kemudian menjawab untuk meredam suasana mencekam, "kondisi kakek masih dalam masa perawatan, kamu lebih baik jangan kesana, biarkan nenek dirawat dengan tenang."


"Baiklah, aku mengerti."

__ADS_1


PUjang Arifa menyadari bahwa ayahnya sangat memanjakannya, tetapi dalam hatinya, dia sangat menghormati ayahnya itu.


__ADS_2