
Bab 16 Keakraban Yang Erat
Sebagai seorang laki- laki jiwa penasarannya muncul, Abdul Qodirmengulurkan jari panjangnya dan menarik keluar formulir tersebut.
Dia teringat akan masa lalu, dan terkejut melihat wajah wanita itu sangat begitu akrab. Bukankah wanita ini yang pernah saya temui di Hetol Bintang ?
Wanita di foto itu selalu menghadap ke atas, namun dia masih tetap terlihat menawan, penampilannya yang alami memberikan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya. Dibandingkan dengan wanita-wanita lainnya dengan riasan dandanan yang agak berlebihan, sebab itulah yang membuat dia terlihat lebih indah dan cantik.
Kemudian dia dengan sibuk dan seksama mencari informasi lainnya.
Raline, 23 tahun, tinggi badan 168cm… …
Abdul Qodirmeragukan, apakah dia memang setinggi 168cm? Ketika berdiri berdekatan dengannya tadi malam, dia terlihat sangat imut.
Wajah lembut dan pesona laki-laki tersebut menunjukkan sedikit senyuman.
Sungguh tidak perlu memerlukan banyak tenaga untuk menemukannya. Dia sempat berpikir bahwa wanita tersebut akan menghilang dari dunianya, namun tidak disangka kali ini, dia benar-benar datang dengan sendirinya.
Kali ini, tidak peduli apapun, dia tidak akan membiarkan wanita tersebut diam-diam pergi lagi darinya.
Dengan sendirinya, tiba-tiba dia teringat kembali pada kejadian lima tahun lalu akan kenangan malam yang indah itu. Abdul Qodirmerasa senang sekali. Dia terdiam dan melihat ke bawah, tidak diduga lagi-lagi sesuatu dalam celananya terlihat menonjol!
Benar saja, itu hanya makhluk aneh!
Pak Hadi kembali keruang kerja President.
"Persilahkan Nona Eki Tobingmasuk." Abdul Qodirmembuka pintu dan berkata.
"Raline… … Nona?" Pak Hadi sedikit bingung.
"Raline, penerjemah baru!"
"… … ooh ohh, Iya, saya akan menjemput dan mengundangnya masuk."
Abdul Qodirmengambil dokumen di tangannya, berdiri, berjalan kearah sofa di depan ruang kantornya untuk duduk. Dia tidak ingin kedatangan Eki Tobingmembuat dirinya merasa sedang berurusan dengan seorang pejabat kantor.
"Hmm… …" Ketukan di pintu berbunyi, dan hati Abdul Qodirentah bagaimana mulai merasa gugup.
__ADS_1
Dia menggerutu, tidak ada harapan!
"Masuk."
Pak Hadi mendorong pintu masuk, menuntun Eki Tobingmemasuki ruangan.
Ketika menoleh, dia melihat seorang pria dengan setelan jas sedang duduk di sofa, kejadian ini sempat membuat Pak Hadi cukup terkejut. Biasanya, President akan duduk di meja kantornya untuk bertemu dengan rekan mitra kerja. Mulai sejak kapankah dia menjadi begitu santai? Tapi sebagai bawahan, dia hanya bisa menahan rasa penasarannya.
"Nona Raline, ini President kita, Tuan Nicholas." Pak Hadi tersenyum profesional.
Saat Eki Tobingmemasuki pintu, dia belum menatap langsung ke wajah atasannya. Mendengar Pak Hadi memperkenalkan dirinya, dengan sedikit menundukkan kepalanya lalu berkata,"President, saya Raline."
Selesai berbicara, dia mendongakkan kepalanya.
Ketika tatapan matanya melihat kearah Abdul Qodirsungguh terkagumnya dia akan ketampanan laki-laki tersebut!
Orang ini… … bukankah orang ini adalah laki-laki yang baik itu?
"Nona Raline, jangan terlalu gugup, silakan duduk. Kedepannya kita akan menjadi kolega, jadi biasa-biasa saja." kata Nicholas."Pak Hadi, buatkan dua cangkir kopi."
"Baik." Pak Hadi mengangguk pergi.
Saya sangat tidak mengira bahwa atasanku adalah, President dari Sanjaya Group, Dia merupakan sosok seorang Tuan yang baik. Waktu ini sungguh begitu ajaib, selalu saja ada kejadian-kejadian yang akan selalu membuat dirinya untuk melewati masa-masa tersebut.
Malam itu begitu gelap, pemandangan jalanan juga terasa indah, bahkan Abdul Qodirmasih tetap merasakan keraguan. Benarkah wanita yang bernama Eki Tobingmerupakan orang yang sama pada waktu lima tahun lalu?
Sekarang, si makhluk aneh itu duduk tepat berada di depannya, dan dia benar-benar yakin dan putuskan, malam itu dia akan mengubahnya dari seorang gadis menjadi seorang wanita dewasa, itu dia, Eki Tobing!
Dan saat ini Eki Tobingsedang menatap laki-laki yang berada di depannya.
Dalam hatinya dia semakin terpukau dan berseru, bahwa laki-laki tersebut sungguh begitu tampan. Bahkan ketampanannya, sampai membuat dia merasa terlalu serakah untuk harus terus-menerus melihatnya.
Yang lebih mengejutkan adalah mata dari laki-laki tersebut memiliki daya pikat yang sangat kuat seakan menyihir dia untuk terus melihatnya.
Dalam benaknya, ada rasa keakraban!
Keduanya sudah merasa sangat dekat, keduanya saling menatap dengan penuh konsentrasi.
__ADS_1
Bahkan sampai Pak Hadi masuk, tak ada satu pun dari mereka berdua yang menyadarinya.
Sampai Pak Hadi berkata,"President, Nona Raline, kopi sudah tersedia."
"Ah... oh oh, terima kasih." Eki Tobingakhirnya kembali sadar kepikirannya, mengedipkan matanya yang indah, berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari khayalan yang berlebihan.
Sebaliknya Abdul Qodirjuga menunjukkan sedikit rasa canggung dari wajahnya yang tampan. Tetapi sesegera mungkin dia kembali menenangkan dirinya, mengulurkan tangannya yang besar untuk mengambil kopi dan meminumnya seteguk.
Eki Tobingjuga mulai meminum kopinya.
Kali ini, dia tidak sengaja lagi menumpahkan minuman di sekujur tubuhnya seperti kejadian waktu malam itu, dia begitu khawatir dan takut pekerjaannya tidak aman.
Tidak tahu mengapa, dia selalu merasakan adanya perasaan tertekan yang masuk kedalam pikirannya. Dia menjadi sangat panik dan resah. Lalu sedikit mengangkatkan kepalanya, menatap mata indah Nicholas, Sorotan mata laki-laki tersebut serasa sampai masuk kedalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Eki Tobingmenggigil.
Kedua mata saling bertatap-tatapan. Keaadan itu, mengingatkan kembali kepada kejadian waktu lima tahun yang lalu tentang dia yang begitu ketakutan … …
Abdul Qodirberusaha untuk menenangkan pandangannya, agar tidak terlihat cemas dan tidak mengagetinya. Tapi sial, wanita tersebut sama sekali tidak mengingat akan dirinya, sehingga membuat dirinya sedikit merasa frustrasi!
"Ah... Maafkan aku, kemarin kurang begitu sehat, dan tenggorokanku sedikit terasa sakit."
Abdul Qodirmencari alasan.
Sebenarnya memang sudah kurang begitu sehat selama beberapa hari, setelah malam waktu kepergian wanita itu, yang begitu menyakiti dirinya karena telah menunggu begitu lama.
Eki Tobingsedikit bengong, lalu berpikir sejenak, dan berkata,"President, apabila tenggorokanmu sakit ada baiknya jika kamu mengurangi minum kopi." Eki Tobingmenyesali diri setelah mengatakannya, memang siapakah dia itu?Mengkhawatirkan Atasannya sendiri?
"Terima kasih." ucap Abdul Qodirsedikit tersenyum padanya. Lalu dia kembali teringat akan kejadian yang barusan, dan bertanya,"Oh ya, apakah masih sakit?"
"Ah?Oh... itu, tidak sakit lagi." MukaEki Tobingsedikit memerah.
Melihatnya begitu lucu dan pemalu, Abdul Qodirtiba-tiba ingin menggodanya. Akhirnya, dia meneruskan pertanyaannya,"Saya belum selesai mengatakan di mana letak sakitnya, Kamu sudah menjawabnya?"
"… …"
Eki Tobingterdiam!
__ADS_1
Perkataan laki-laki tersebut terdengar sangat tidak serius, namun wajahnya begitu terlihat tenang, hampir-hampir seperti tidak mengekspresikan apapun!