Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 44 Hanya Memanjakan Cucu Pertama


__ADS_3

Bab 44 Hanya Memanjakan Cucu Pertama


Orangtua di atas ranjang berumur kurang lebih 80 tahun, rambut putih yang tipis, postur tubuh terlihat agak kurus, jika bukan wajah yang penuh amarah, dirinya masih terlihat sangat baik hati dan welas asih.


Orang ini adalah Ibramsyah! Walau sakit dan masuk rumah sakit, tapi tetap kepala keluarga nomor satu di keluarga besar Sanjaya.


Jika dibicarakan juga aneh, Ibramsyah yang tadinya penuh amarah dan kejam begitu melihat orangnya datang, wajah yang tadinya tegang seketika menjadi agak santai.


Hanya melihat sepasang mata melotot, sambil menghembuskan udara dari mulut dan berkata, "Bocah busuk, kamu akhirnya datang."


"Kakek, anda jangan marah lagi, kalau sampai merusak badan, kami para junior ini tidak ada yang pimpin. "Sifat Abdul Qodiryang dingin dan sombong, nada bicara juga lebih lembut banyak. Orangnya terlihat, pria yang penuh jiwa muda dan ada aura pemimpin keluarga.


"Ng!" Tuan besar bersuara dingin, raut wajah yang santai mulai menegang lagi, "mereka satu persatu mengharapkan aku ada masalah, sangat berharap aku bisa turun dari bangku naga keluarga besar Sanjaya."


"Aku lihat siapa yang berani!" Abdul Qodirmenjawab dengan arogan dan sombong.


Dia melihat sekeliling orang-orang yang berdiri dalam kamar, hanya wanita tua dan muda yang lemah, tiap kepala keluarga rumah malah tidak datang, apa sebabnya semua ini.


Tuan besar seperti sudah melihat jelas pikirannya, ng ng berkata, "Aku tidak mengizinkan para putra tak berbakti itu datang menjengukku. Aku berada di rumah sakit, mereka malah bikin acara makan malam keluarga. Satu persatu sudah mulai berani, tidak ada satu pun yang menghormatiku lagi.


"Tuan besar, apa yang sedang anda bicarakan."


"Aiya....lihat apa yang anda katakan, tuan besar kami mana berani."


Dalam sekejap, di dalam kamar para nyonya mulai mencari keadilan demi keluarga sendiri.


Abdul Qodirtersenyum, si tua ini, sekarang malah berubah begitu perhitungan. Tapi dia malah berbicara, "Memang, aku sudah bilang masalah ini tidak boleh dilakukan seperti ini."


Tuan besar sepertinya tidak percaya, tersenyum jahat menatapnya, "Lalu apakah kamu ada pergi?"


"Tidak ada! Pasti tidak ada!"


"Ini masih termasuk lumayan." Sikap Ibramsyah yang membuat onar sangat mirip anak kecil yang buat keributan.


"Kami juga tidak pergi."

__ADS_1


Saat ini seorang nyonya yang berdiri di pinggir berbicara, dan orang ini adalah nyonya kedua, Liki.


Ibramsyah berkata, "Apakah Zakiah sudah kembali ke dalam negeri, dia kenapa tidak pergi?"


Liki berjalan selangkah ke depan, memakai mantel wool yang berwarna krem, kepribadiannya terhormat, meski sudah melewati usia pertengahan, tetap memiliki kulit putih dan cantik, perawatannya sampai sangat bagus.


Suaranya terasa agak sombong, merasa amat bangga.


"Tuan besar, apakah anda lupa? Zakiah kita melakukan perjalanan bisnis keluar negeri sudah agak lama."


"Yo! Kalau sesuai perkataanmu, jika kalau tuan besar mengadakan makan malam keluarga, Zakiah masih akan pulang dari tempat yang jauh di sana, hanya demi makan keluarga bersama." Terdengar suara tajam seorang wanita dalam kerumunan orang, suara ini tiba-tiba terdengar membuat orang-orang terasa menusuk telinga.


Liki seketika terpaksa harus mengalah, dalam sekejap juga tidak kepikiran harus mengatakan apa lagi.


Suara wanita yang tajam umurnya lebih mudah beberapa tahun dari dia, berdandan dengan sangat modis. Rambut yang bergelombang besar sebahu, di padukan dengan cheongsam china bersulaman merah, di bahu ada syal bulu kelinci, di leher masih bergantung sebuah kalung batu akik. Dirinya terlihat mewah dan anggun.


Dia adalah putri tertua dari Keluarga Qodir, Feby.


Hanya melihatnya maju selangkah, berbicara sambil tersenyum pada Ibramsyah.


Sambil berbicara Feby, pandangan mata yang tajam dan cerdas melirik, sepatah kata mengandung dua arti berkata.


"Anda harus lebih teliti lagi, jangan sampai dijadikan jalan untuk mereka yang sengaja ingin membuatmu emosi."


Begitu kata-kata ini terlontar, raut wajah semua orang yang ada di situ menjadi agak aneh.


Liki sangat ketakutan sampai raut wajah juga berubah.


Feby memang adalah orang yang selalu berkata kejam dan pedas, sudah terkenal saat melakukan sesuatu tidak takut apapun. Sekali berbicara langsung bisa memecahkan perkataan Liki yang memiliki maksudnya, dan menaikan arti perkataan Liki menjadi lebih serius, sekejap Liki ketakutan sampai raut wajah pun berubah.


Bergegas menjelaskan dengan kata-kata baik, "Tuan besar, salah paham, ini sama sekali adalah salah paham. Kakak pertama sungguh pandai bercanda, jika tahu aku berani tidak sopan pada kakek, saat pulang dia akan menghajarku."


"Berisik sekali!" Ibramsyah tiba-tiba tangan besarnya diayunkan, ekspresi wajahnya menunjukkan sangat tidak senang. Erat mengerutkan alis putihnya, "Jika masih mau ribut semuanya pergi keluar."


Tuan besar sudah mulai marah,semua orang dalam ruangan dengan patuh menutup mulutnya.

__ADS_1


"Bocah busuk, kamu membawa mobil apa ke sini?" Ibramsyah bertanya pada Nicholas.


Kedua alis Abdul Qodirbergerak, "Tentu saja yang 'Voltron'!"


Mobik off-road Nicholas, di rancang khusus untuknya oleh Land Rover, hanya ada satu. Abdul Qodirmempunyai banyak teman lama di departeman pertahanan nasional, secara pribadi mengutus orang memodifikasi luar dan dalam mobil offroad itu, dari dalam sampai luar, di setiap bagian menonjolkan gaya uniknya.


Sama seperti pemiliknya Nicholas, sombong dan berkuasa, merasa dia yang paling hebat!


"Hanya saja kulit badak di dalamnya sudah agak usang. Kakek kamu harus cepat sembuh, aku masih menunggu anda membawaku berburu untuk menghias mobil Voltron ku."


Saat Ibramsyah memberikan mobil 'Voltron' ke hadapan Nicholas, tuan besar dengan bangga menunggu pujian dari cucunya, tapi Nicholasmalah tidak ingin memenuhi maksud kakek tampan ini.


Akhirnya, dia mendapatkan kekurangannya. Alasannya adalah alas dudukan terlalu biasa, sama sekali tidak sepandan dengan mobil off-road yang liar dan berkuasa ini.


Sifat tuan besar yang tidak ingin mengalah langsung melonjak naik, hari itu juga membawa orang dan naik pesawat pribadi, pergi ke hutan lama dipegungungan yang dalam menangkap seekor badak hidup.


Jadi, alas duduk di kursi pengemudi Nicholas, semuanya dari kulit badak dan dibuat dengan sistem manual.


Dengan begitu, mobil off-road ini semakin keren. Awalnya ada yang memperkirakan, paling tidak harus satu miliyar.


Semua anak-anak di Keluarga Qodir walau iri tapi tidak akan mendapatkannya, Ibramsyah hanya memanjakan dan menyayangi Abdul Qodircucu cowoknya ini.


"Bocah baik nyali tidak sedikit ya, berani memerintahkan kakek." Dalam mata Ibramsyah bersinar cahaya keemasan, tapi kata-kata yang keluar dari mulut penuh dengan rasa kasih sayang seorang senior kepada juniornya.


"Jika tidak ada modifikasi dari kakek, mobil 'Voltron' itu juga hanya biasa saja!"


"Kenapa? Tidak ada 'Voltron', kamu tidak mau mengemudi yang lain lagi?"


"Jika Tank terpaksa masih bisa mengemudinya. Pasang dua senapan sniper, lalu meneliti memasang alat pendeteksi dan lain sebagainya. Paling bagus lagi bisa seperti pesawat di buatkan sepasang sayap, jika ingin terbang langsung terbang, siapa pun tidak bisa menghalanginya!" Nicholasdan kakek membicarakan mobil sampai tidak ada habisnya.


".....hahaha..baik, baik baik. Aku suka yang seperti itu." Ibramsyah digoda sampai tertawa terbahak-bahak.


"Kakek, kalau begitu kita pastikan begini ya. Kamu harus cepat sembuh, dengarkan kata-kata dokter dan suster. Harus minum obat tepat waktu, jangan selalu bersikap keras kepala dan membuat para suster takut. Tunggu saat anda keluar dari rumah sakit, aku akan mengemudi tank seperti itu menjemputmu."


Ibramsyah sangat senang, langsung menjanjikannya, "Bocah, kita sudah sepakati begini ya, tunggu aku keluar dari rumah sakit, kamu mengemudi tank besar seperti itu datang menjemputku!"

__ADS_1


__ADS_2