Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 22 Melecehkan Bawahan


__ADS_3

Bab 22 Melecehkan Bawahan


Setelah makan malam Eki Tobingmemandikan Rizki, lalu menyalakan komputer untuk mempersiapkan pekerjaan besok. Untungnya, pekerjaannya tidak banyak, dengan cepat sudah bisa di selesaikan.


Ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat bahwa putra kecilnya sudah tertidur. Di sebelah si kecil, ada pesawat mainan model baru. Eki Tobingtidak punya waktu untuk membawanya keluar bermain, dan juga  belum membelikannya hadiah ketika ia pulang ke rumah. Kalau di pikir, mungkin dari Ujang Arif.


Ketika menyimpan mainan pesawat baru tadi, secara tidak sengaja menyentuh lengan Rizki.


Si kecil berbalik dan mengigau, "Mama, jangan buang pesawat Rizki. "


Eki Tobingtersenyum.


Tadi Si kecil bermain terlalu asik, ketika tidur dia bisa khawatir kalau mainannnya di buang diam-diam.. Sebenarnya, itu bukan salahnya Raline.


Rizki tidak hanya suka dengan mainan, tetapi juga suka membongkar mainannya. Setiap kali dia membeli mainan baru, semuanya  berantakan dibuatnya, dan juga terpecah pecah. karena itu  sehingga ruang mainannya itu berantakan.


Ketika Eki Tobingbaru pulang dari pekerjaannya yang melelahkan, ketika dia malas dia akan memasukkan mainan mainan yang telah rusak lalu di buang ke tong sampah.


" Ok ok ok, mama tidak akan buang mereka." Eki Tobingmemberi tahu Rizki dengan lembut.


Di tengah malam, Eki Tobingmemeluk putra kecilnya, mendengarkan suara Rizki yang sedang bernafas, lalu  dengan cermat memikirkan semua hal yang terjadi hari ini.


Ada kepanikan, ada yang mengejutkan, ada kemarahan dan kebingungan.....


Tapi ini tidak bisa menjatuhkannya, Dia mempunyai keyakinan yang kuat, bahkan  dia menggunakan  seluruh hidupnya untuk mempertahankannya.


Keyakinan yang tidak tergoyahkan baginya, adalah putra kesayangannya, Rizki.


Anak kecil itu dengan erat memeluk badan hangat Raline.


Tanpa disadari, Eki Tobingjuga menutup matanya, kemudian bermimpi.


Paginya.


Eki Tobingnaik bus, kemudian pergi ke kantor.


Gedung Sanjaya Group, yang terletak di area utama pusat kota G, semua bangunan dari tanah menjulang tinggi ke langit. Dari kejauhan, kota G adalah kota yang paling ikonik.


Eki Tobingturun dari bus, lalu harus berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke Sanjaya Group.


Di kedua sisi jalan yang bersih dan cuacanya yang sedang cerah, mobil macet seperti air yang mengalir dan barisan sepanjang naga. Yang dikhawatirkan oleh kota-kota besar adalah tumpukan orang-orang  yang membludak.


Di gerbang bundaran bangunan itu, berhenti sebuah mobil mewah.


PUjang Arifa turun dari mobil, tersenyum dan menyapa rekan-rekannya. Rio saputramengendarai di satu sisi lainnya, kemudia mendorong pintunya lalu pergi ke arah PUjang Arifa.


Ketika dia datang, PUjang Arifa meraih pergelangan tangan Dirga, dan mereka berjalan barengan.


Hal seperti itu, banyak orang mengaguminya.


Eki Tobingjuga melihatnya. Hanya saja ketika dia melihat sosok PUjang Arifa, dia sengaja memperlambat langkahnya, Sampai mereka berdua memasuki ruangan, dia baru kembali berjalan seperti  normal.


Melangkah di dekat gedung Sanjaya Group, hamparan bunga, halaman rumput, bebatuan, air mancur, orang-orang yang tidak tahu tidak bisa menebak kalau ini adalah tempat perusahaan atau hotel internasional.


Jalanannya berkotak kotak. Eki Tobingtidak memperhatikan, Sepatu hak tingginnya masuk ke celah kotak, kemudian dia tanpa sadar terjembab tubuh ke depan.


Kedua lututnya terjatuh ke tanah, lalu rasa sakitnya langsung menerjang.


Sial! Pagi pagi sudah buat hal yang memalukan.


Dia mengertakkan gigi lalu berdiri. Lututnya lecet, lalu kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali.


Kemudian Eki Tobingberjalan dengan pinggangnya yang bengok – bengkok, sepasang alisnya yang cantik  kemudian mengerutkan keningnya karena rasa sakit yang dia rasakan, dia berjalan seperti mau terjatuh.


Meskipun hanya pendatang baru, masih ada pria yang tidak dikenal datang  menanyakan, apakah butuh bantuan.


Dia menolaknya dengan sopan, kemudian bersikeras untuk pergi.


Tiba-tiba, dia merasa ada angin kencang datang dari belakangnya, dia belum sempat bisa menoleh, badannya seperti terbang, kemudian dengan takut lalu  berteriak.


" Ini aku! "


Terdengar suara pria yang rasanya familiar, berat, dan, terasa suara laki lakinya.


Eki Tobingmenoleh, Ini adalah atasan langsungnya, Direktur Sanjaya Group, Nicholas!


" Direktur, biarkan saya saja, Saya bisa pergi sendiri."


Eki Tobingsangat gugup, Ini sangat tidak pantas. Rekan yang berada di sekitaran sudah memperhatikan  dia dengan cara yang berbeda.


" Kamu tadi jatuh begitu parah, Apakah kamu  berpikir kakimu terbuat dari besi? " Nada bicara Abdul Qodirmendominasi.


Ya Tuhan!  Suara bos begitu lembut dan sangat mendominasi!


Eki Tobingmerasa pipinya tiba-tiba kepanasan. Tapi dia masih ingin menghentikannya, Lagipula begitu banyak orang, dia masih memikirkan bekerja dengan aman di  Sanjaya Group.


"Tidak sakit lagi, Benar-benar tidak sakit lagi. Direktur, bisakah....., lepaskan aku....."


Suara Eki Tobingmenjadi lebih kecil.


Abdul Qodirtinggi dan tegap. Tinggi tubuhnya 1.89, baginya itu sangat mudah. Pria itu menggendongnya, tidak hanya kaki nya yang berjalan dengan lacar, tetapi juga bisa menggunakan sepasang matanya yang dipenuhi dengan tatapan cinta.


"Kalau kamu tidak bisa pakai sepatu hak tinggi  kamu bisa mengganti sepatu beralas datar, Kamu  baru saja jatuh seperti itu, Orang-orang yang tidak tahu mungkin bisa menuduh bahwa Abdul Qodirmelecehkan bawahannya. "


Menuduh?


Siapa yang berani menuduh, Direktur Sanjaya Group!


Eki Tobinghanya harus menutup mulutnya. Tetapi... Melihat mereka sudah berjalan sampai  gerbang gedung, lelaki itu sepertinya masih tidak ingin melepaskannya.


Apa maksudmu?


"Direktur..." Eki Tobingtidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa kamu masih gugup? Memangnya aku jatuh ke mulutmu?" Wajah Abdul Qodirmasih datar, tetapi nadanya seperti mengolok-olok.


" Mana ada!" Wajah Eki Tobingkemudian merah lagi.


Tidak ada cara lain, pria sombong yang suka meremehkan, dia pun mengeluarkan semua penolakannya.


Staf internal Sanjaya Group seolah-olah mereka melihat ledakan besar, semua orang keheranan. Ini adalah pertama kalinya sejak berdirinya Sanjaya Group.


Direktur ini tampak seperti gunung es dengan wajah dan hati dingin, menggendong seorang gadis  yang berpakaian sebagai karyawan Sanjaya Group.


Semua orang berhenti, semua orang melihat, dan semua orang tidak bisa tidak memperhatikan.


"Direktur, bisakah  kamu menurunkanku? Aku ingin pergi sendiri."


Bab 23 Mengejutkan Orang–Orang


Abdul Qodirmengabaikan orang-orang yang  memperhatiannya, Ketika dia mendengar protes  dari wanita kecil ini, dia sedikit tidak senang.


"Apa yang kamu  takutkan?"


"..."


Apa yang dia takuti? Jelas –jelas takut dengan semuanya!


Takut  digosipi, takut ditunjuk tunjuk, takut dengan laporan yang salah, takut akan bertambah parah....


Melihat  dia tidak berbicara, sebenarnya Abdul Qodirmemikirkan apa maksud dia. Apa dia takut orang lain tahu mereka berjalan dengan sangat dekat, jadi takut orang lain akan tahu?


"Tutupi wajahmu jika kamu takut."


Yang di bilang pria itu sudah ngaco.


Eki Tobinghampir pingsan di pelukannya.


Semakin banyak orang menonton, arah yang mereka tuju adalah pintu keluar lift, bagaimana mungkin dia tidak tahu, kalau pintu keluar lift sedang banyak orang, sampai pada waktunya......


Dalam waktu singkat, Abdul Qodirmemeluk Raline, kemudian masuk ke dalam lift di hadapan rekan rekannya.


PUjang Arifa dan Dirga, ada di antara mereka.


Ketika mata PUjang Arifa terfokus, dia terkejut dan melamun, dia tidak bisa mempercayainya!


Ya Tuhan, apa yang dia lihat?


Dia tiba-tiba melihat kakak laki-lakinya, Abdul Qodiryang sudah bertahun-tahun tidak dekat dengan wanita, lalu tiba-tiba memeluk wanita ****** itu di aula Sanjaya Group.


Rio saputrajuga lumayan  terkejut!


Terutama ketika dia melihat Eki Tobingdipelukannya Nicholas, dengan wajah malu-malu dan memerah, menyala sebuah api dihatinya.


Dia sepertinya menebak sesuatu.


Jangan jangan, Eki Tobingmemasuki Sanjaya Group apa karena demi dia sendiri atau.....ada orang lain?


Eki Tobinghanya merasa wajahnya semakin panas, suhunya panas seperti api.


Jangan-jangan ingin terus membiarkan orang-orang melihatnya?


Dia diam-diam mengigit giginya, lupakan, lalu tidak mempedulikannya. Dia mengubur seluruh wajahnya di pelukan yang hangat dari pria itu. Sudah tidak bagus, membiarkan orang orang melihatnya, apalagi  dia baru hari pertama  bekerja di perusahaan ini, dan hanya sedikit orang yang mengenal Raline.


Abdul Qodirtidak ada keraguan. Dari luar memeluk sambil berjalan kemari, lalu juga tidak merasa capek. Yang dipeluknya seperti jaket yang ringan, tidak merasakan berat apapun.


Tidak heran dia sangat kurus. Apakah dia sering tidak makan.


Direktur memiliki lift khusus, jadi tidak perlu menunggu.


Dan ketika karyawan di pintu depan, sedang melihat direktur membawa wanita itu langsung ke lift khusus direktur, tatapan semua orang sudah tidak bagus lagi.


Bahkan ada gadis kecil menangis di tempat.

__ADS_1


" Sebenarnya siapa wanita itu? kenapa mau menggoda direkturku."


" Wahhh, aku tidak tahu darimana rubah kecil itu datang, begitu di lihat ini bukan hal yang bagus."


"Kamu lihat penampilannya yang arogan tadi, ketika direktur begitu dekat di hadapan kami, dia punya kelebihan apa."


Di kerumunan, wajah PUjang Arifa sudah sangat kesal.


Pada saat ini, dia sudah berada di lift khusus direktut.


Dia diam-diam mengeluarkan kepalanya dari  pelukannya, lalu mendongak sedikit, Apa yang dia lihat dari matanya adalah sisi lain dari Nicholas.


Kontur wajah yang sempurna, alisnya yang memesona, hidungnya yang tegas, bibirnya yang lembut yang sedang dikerutkan.


Benar-benar pria yang sangat tampan!


Tiba-tiba, matanya bertatapan dengannya.


Memalukan!


Ketahuan sedang mengintip direktur!


Eki Tobingcepat-cepat  mengalihkan matanya,lalu diam-diam menelan air liur.


Dia pikir, Abdul Qodirakan melepaskannya, tapi siapa yang tahu kalau pria ini disengaja atau tidak? Setelah dia memalingkan matanya, dia mengangkat matanya dan menatap lurus ke depan.


"Itu..... bolehkah....lepaskan aku," kata Eki Tobinglagi.


Tapi lelaki itu tampaknya tidak mendengar, masih berdiri seperti pohon cemara, tidak bergerak.


Akibatnya, Eki Tobingmemutar tubuhnya, lalu ingin turun sendiri.


Namun,Abdul Qodirtiba-tiba semakin erat memegangnya dengan tangan besarnya.


Dia terkejut, lalu dia menatapnya dengan mata curiga.


Mata pria itu seperti air yang jernih, seperti cahaya bulan yang terang.


" Jangan asal bergerak!"


Kalimat itu tampaknya biasa, tapi juga ada makna yang tersirat di balik suaranya, lalu masuk ke telinga Raline.


Dia sedikit menaikkan alisnya.


Hatinya  seperti rusa kecil, dan terus terusan melompat.


"Ding dong..."


Lift akhirnya mencapai lantai kantor direktur.


Kali ini Lengan Raline, menghalangi leher pria itu. Tetapi ketika pintu lift terbuka dan melihat dari luar, dia sangat takut lalu dia kembali memasukkan tangannya, sekali lagi berusaha masuk di pelukan pria itu lagi.


Serangkaian gerakan kecil ini, membuat Abdul Qodirdengan lembut mengaitkan bibir tipisnya, dan senyuman yang tipis keluar dari wajahnya yang tampan.


Terkejut! Mengejutkan! Berhalusinasi!


Kepala sekretaris Damiri juga adalah orang yang sudah mempunyai pengalaman tentang orang terdekat nya meninggal dunia, tetapi bahkan dia, melihat situasi seperti ini, tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Pak Hadi, di sisi lain relatif tenang.


Dia melangkah maju menghadap direktur, " Direktur."


" En...." Abdul Qodirmengangguk, tetapi tidak ingin mendengarkan laporan pekerjaan dari mereka.


Pak Hadi menebak apa maksudnya, tetapi dia tidak berbicara, Dia hanya mengangguk kepada staf yang berdiri di belakang, lalu mengerti.


Tim elit memimpin jalan, kemudian bubar dengan sendirinya.


Pak Hadi mengikuti Abdul Qodirke kantor.


Beberapa langkah di depan kantor, Pak Hadi melangkah  maju, kemudian membuka pintu untuk direktur.


Setelah masuk, Abdul Qodirlangsung menuju sofa kulitnya yang bewarna putih, meletakkan wanita  yang ketakutan di pelukannya.


"Pergi ke departemen medis, lalu cari dokter."


"Iya." Pak Hadi mengangguk.


"Ingat, bilang obat untuk kaki yang keseleo mau pakai obat apa, lalu bawa kemari."


"Iya!"


Wajah Eki Tobingmasih memerah seperti apel.


Abdul Qodirmengambil segelas air dan menuangkannya untuknya.


"Terima kasih." Raline, dengan wajah penuh rasa malu, mengangguk dan mengambil gelas air yang dia berikan.


Setelah makan malam Eki Tobingmemandikan Rizki, lalu menyalakan komputer untuk mempersiapkan pekerjaan besok. Untungnya, pekerjaannya tidak banyak, dengan cepat sudah bisa di selesaikan.


Ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat bahwa putra kecilnya sudah tertidur. Di sebelah si kecil, ada pesawat mainan model baru. Eki Tobingtidak punya waktu untuk membawanya keluar bermain, dan juga  belum membelikannya hadiah ketika ia pulang ke rumah. Kalau di pikir, mungkin dari Ujang Arif.


Ketika menyimpan mainan pesawat baru tadi, secara tidak sengaja menyentuh lengan Rizki.


Si kecil berbalik dan mengigau, "Mama, jangan buang pesawat Rizki. "


Eki Tobingtersenyum.


Tadi Si kecil bermain terlalu asik, ketika tidur dia bisa khawatir kalau mainannnya di buang diam-diam.. Sebenarnya, itu bukan salahnya Raline.


Rizki tidak hanya suka dengan mainan, tetapi juga suka membongkar mainannya. Setiap kali dia membeli mainan baru, semuanya  berantakan dibuatnya, dan juga terpecah pecah. karena itu  sehingga ruang mainannya itu berantakan.


Ketika Eki Tobingbaru pulang dari pekerjaannya yang melelahkan, ketika dia malas dia akan memasukkan mainan mainan yang telah rusak lalu di buang ke tong sampah.


" Ok ok ok, mama tidak akan buang mereka." Eki Tobingmemberi tahu Rizki dengan lembut.


Di tengah malam, Eki Tobingmemeluk putra kecilnya, mendengarkan suara Rizki yang sedang bernafas, lalu  dengan cermat memikirkan semua hal yang terjadi hari ini.


Ada kepanikan, ada yang mengejutkan, ada kemarahan dan kebingungan.....


Tapi ini tidak bisa menjatuhkannya, Dia mempunyai keyakinan yang kuat, bahkan  dia menggunakan  seluruh hidupnya untuk mempertahankannya.


Keyakinan yang tidak tergoyahkan baginya, adalah putra kesayangannya, Rizki.


Anak kecil itu dengan erat memeluk badan hangat Raline.


Tanpa disadari, Eki Tobingjuga menutup matanya, kemudian bermimpi.


Paginya.


Eki Tobingnaik bus, kemudian pergi ke kantor.


Gedung Sanjaya Group, yang terletak di area utama pusat kota G, semua bangunan dari tanah menjulang tinggi ke langit. Dari kejauhan, kota G adalah kota yang paling ikonik.


Eki Tobingturun dari bus, lalu harus berjalan sekitar 10 menit untuk sampai ke Sanjaya Group.


Di kedua sisi jalan yang bersih dan cuacanya yang sedang cerah, mobil macet seperti air yang mengalir dan barisan sepanjang naga. Yang dikhawatirkan oleh kota-kota besar adalah tumpukan orang-orang  yang membludak.


Di gerbang bundaran bangunan itu, berhenti sebuah mobil mewah.


PUjang Arifa turun dari mobil, tersenyum dan menyapa rekan-rekannya. Rio saputramengendarai di satu sisi lainnya, kemudia mendorong pintunya lalu pergi ke arah PUjang Arifa.


Ketika dia datang, PUjang Arifa meraih pergelangan tangan Dirga, dan mereka berjalan barengan.


Hal seperti itu, banyak orang mengaguminya.


Eki Tobingjuga melihatnya. Hanya saja ketika dia melihat sosok PUjang Arifa, dia sengaja memperlambat langkahnya, Sampai mereka berdua memasuki ruangan, dia baru kembali berjalan seperti  normal.


Melangkah di dekat gedung Sanjaya Group, hamparan bunga, halaman rumput, bebatuan, air mancur, orang-orang yang tidak tahu tidak bisa menebak kalau ini adalah tempat perusahaan atau hotel internasional.


Jalanannya berkotak kotak. Eki Tobingtidak memperhatikan, Sepatu hak tingginnya masuk ke celah kotak, kemudian dia tanpa sadar terjembab tubuh ke depan.


Kedua lututnya terjatuh ke tanah, lalu rasa sakitnya langsung menerjang.


Sial! Pagi pagi sudah buat hal yang memalukan.


Dia mengertakkan gigi lalu berdiri. Lututnya lecet, lalu kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali.


Kemudian Eki Tobingberjalan dengan pinggangnya yang bengok – bengkok, sepasang alisnya yang cantik  kemudian mengerutkan keningnya karena rasa sakit yang dia rasakan, dia berjalan seperti mau terjatuh.


Meskipun hanya pendatang baru, masih ada pria yang tidak dikenal datang  menanyakan, apakah butuh bantuan.


Dia menolaknya dengan sopan, kemudian bersikeras untuk pergi.


Tiba-tiba, dia merasa ada angin kencang datang dari belakangnya, dia belum sempat bisa menoleh, badannya seperti terbang, kemudian dengan takut lalu  berteriak.


" Ini aku! "


Terdengar suara pria yang rasanya familiar, berat, dan, terasa suara laki lakinya.


Eki Tobingmenoleh, Ini adalah atasan langsungnya, Direktur Sanjaya Group, Nicholas!


" Direktur, biarkan saya saja, Saya bisa pergi sendiri."


Eki Tobingsangat gugup, Ini sangat tidak pantas. Rekan yang berada di sekitaran sudah memperhatikan  dia dengan cara yang berbeda.


" Kamu tadi jatuh begitu parah, Apakah kamu  berpikir kakimu terbuat dari besi? " Nada bicara Abdul Qodirmendominasi.


Ya Tuhan!  Suara bos begitu lembut dan sangat mendominasi!


Eki Tobingmerasa pipinya tiba-tiba kepanasan. Tapi dia masih ingin menghentikannya, Lagipula begitu banyak orang, dia masih memikirkan bekerja dengan aman di  Sanjaya Group.


"Tidak sakit lagi, Benar-benar tidak sakit lagi. Direktur, bisakah....., lepaskan aku....."

__ADS_1


Suara Eki Tobingmenjadi lebih kecil.


Abdul Qodirtinggi dan tegap. Tinggi tubuhnya 1.89, baginya itu sangat mudah. Pria itu menggendongnya, tidak hanya kaki nya yang berjalan dengan lacar, tetapi juga bisa menggunakan sepasang matanya yang dipenuhi dengan tatapan cinta.


"Kalau kamu tidak bisa pakai sepatu hak tinggi  kamu bisa mengganti sepatu beralas datar, Kamu  baru saja jatuh seperti itu, Orang-orang yang tidak tahu mungkin bisa menuduh bahwa Abdul Qodirmelecehkan bawahannya. "


Menuduh?


Siapa yang berani menuduh, Direktur Sanjaya Group!


Eki Tobinghanya harus menutup mulutnya. Tetapi... Melihat mereka sudah berjalan sampai  gerbang gedung, lelaki itu sepertinya masih tidak ingin melepaskannya.


Apa maksudmu?


"Direktur..." Eki Tobingtidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa kamu masih gugup? Memangnya aku jatuh ke mulutmu?" Wajah Abdul Qodirmasih datar, tetapi nadanya seperti mengolok-olok.


" Mana ada!" Wajah Eki Tobingkemudian merah lagi.


Tidak ada cara lain, pria sombong yang suka meremehkan, dia pun mengeluarkan semua penolakannya.


Staf internal Sanjaya Group seolah-olah mereka melihat ledakan besar, semua orang keheranan. Ini adalah pertama kalinya sejak berdirinya Sanjaya Group.


Direktur ini tampak seperti gunung es dengan wajah dan hati dingin, menggendong seorang gadis  yang berpakaian sebagai karyawan Sanjaya Group.


Semua orang berhenti, semua orang melihat, dan semua orang tidak bisa tidak memperhatikan.


"Direktur, bisakah  kamu menurunkanku? Aku ingin pergi sendiri."


Bab 23 Mengejutkan Orang–Orang


Abdul Qodirmengabaikan orang-orang yang  memperhatiannya, Ketika dia mendengar protes  dari wanita kecil ini, dia sedikit tidak senang.


"Apa yang kamu  takutkan?"


"..."


Apa yang dia takuti? Jelas –jelas takut dengan semuanya!


Takut  digosipi, takut ditunjuk tunjuk, takut dengan laporan yang salah, takut akan bertambah parah....


Melihat  dia tidak berbicara, sebenarnya Abdul Qodirmemikirkan apa maksud dia. Apa dia takut orang lain tahu mereka berjalan dengan sangat dekat, jadi takut orang lain akan tahu?


"Tutupi wajahmu jika kamu takut."


Yang di bilang pria itu sudah ngaco.


Eki Tobinghampir pingsan di pelukannya.


Semakin banyak orang menonton, arah yang mereka tuju adalah pintu keluar lift, bagaimana mungkin dia tidak tahu, kalau pintu keluar lift sedang banyak orang, sampai pada waktunya......


Dalam waktu singkat, Abdul Qodirmemeluk Raline, kemudian masuk ke dalam lift di hadapan rekan rekannya.


PUjang Arifa dan Dirga, ada di antara mereka.


Ketika mata PUjang Arifa terfokus, dia terkejut dan melamun, dia tidak bisa mempercayainya!


Ya Tuhan, apa yang dia lihat?


Dia tiba-tiba melihat kakak laki-lakinya, Abdul Qodiryang sudah bertahun-tahun tidak dekat dengan wanita, lalu tiba-tiba memeluk wanita ****** itu di aula Sanjaya Group.


Rio saputrajuga lumayan  terkejut!


Terutama ketika dia melihat Eki Tobingdipelukannya Nicholas, dengan wajah malu-malu dan memerah, menyala sebuah api dihatinya.


Dia sepertinya menebak sesuatu.


Jangan jangan, Eki Tobingmemasuki Sanjaya Group apa karena demi dia sendiri atau.....ada orang lain?


Eki Tobinghanya merasa wajahnya semakin panas, suhunya panas seperti api.


Jangan-jangan ingin terus membiarkan orang-orang melihatnya?


Dia diam-diam mengigit giginya, lupakan, lalu tidak mempedulikannya. Dia mengubur seluruh wajahnya di pelukan yang hangat dari pria itu. Sudah tidak bagus, membiarkan orang orang melihatnya, apalagi  dia baru hari pertama  bekerja di perusahaan ini, dan hanya sedikit orang yang mengenal Raline.


Abdul Qodirtidak ada keraguan. Dari luar memeluk sambil berjalan kemari, lalu juga tidak merasa capek. Yang dipeluknya seperti jaket yang ringan, tidak merasakan berat apapun.


Tidak heran dia sangat kurus. Apakah dia sering tidak makan.


Direktur memiliki lift khusus, jadi tidak perlu menunggu.


Dan ketika karyawan di pintu depan, sedang melihat direktur membawa wanita itu langsung ke lift khusus direktur, tatapan semua orang sudah tidak bagus lagi.


Bahkan ada gadis kecil menangis di tempat.


" Sebenarnya siapa wanita itu? kenapa mau menggoda direkturku."


" Wahhh, aku tidak tahu darimana rubah kecil itu datang, begitu di lihat ini bukan hal yang bagus."


"Kamu lihat penampilannya yang arogan tadi, ketika direktur begitu dekat di hadapan kami, dia punya kelebihan apa."


Di kerumunan, wajah PUjang Arifa sudah sangat kesal.


Pada saat ini, dia sudah berada di lift khusus direktut.


Dia diam-diam mengeluarkan kepalanya dari  pelukannya, lalu mendongak sedikit, Apa yang dia lihat dari matanya adalah sisi lain dari Nicholas.


Kontur wajah yang sempurna, alisnya yang memesona, hidungnya yang tegas, bibirnya yang lembut yang sedang dikerutkan.


Benar-benar pria yang sangat tampan!


Tiba-tiba, matanya bertatapan dengannya.


Memalukan!


Ketahuan sedang mengintip direktur!


Eki Tobingcepat-cepat  mengalihkan matanya,lalu diam-diam menelan air liur.


Dia pikir, Abdul Qodirakan melepaskannya, tapi siapa yang tahu kalau pria ini disengaja atau tidak? Setelah dia memalingkan matanya, dia mengangkat matanya dan menatap lurus ke depan.


"Itu..... bolehkah....lepaskan aku," kata Eki Tobinglagi.


Tapi lelaki itu tampaknya tidak mendengar, masih berdiri seperti pohon cemara, tidak bergerak.


Akibatnya, Eki Tobingmemutar tubuhnya, lalu ingin turun sendiri.


Namun,Abdul Qodirtiba-tiba semakin erat memegangnya dengan tangan besarnya.


Dia terkejut, lalu dia menatapnya dengan mata curiga.


Mata pria itu seperti air yang jernih, seperti cahaya bulan yang terang.


" Jangan asal bergerak!"


Kalimat itu tampaknya biasa, tapi juga ada makna yang tersirat di balik suaranya, lalu masuk ke telinga Raline.


Dia sedikit menaikkan alisnya.


Hatinya  seperti rusa kecil, dan terus terusan melompat.


"Ding dong..."


Lift akhirnya mencapai lantai kantor direktur.


Kali ini Lengan Raline, menghalangi leher pria itu. Tetapi ketika pintu lift terbuka dan melihat dari luar, dia sangat takut lalu dia kembali memasukkan tangannya, sekali lagi berusaha masuk di pelukan pria itu lagi.


Serangkaian gerakan kecil ini, membuat Abdul Qodirdengan lembut mengaitkan bibir tipisnya, dan senyuman yang tipis keluar dari wajahnya yang tampan.


Terkejut! Mengejutkan! Berhalusinasi!


Kepala sekretaris Damiri juga adalah orang yang sudah mempunyai pengalaman tentang orang terdekat nya meninggal dunia, tetapi bahkan dia, melihat situasi seperti ini, tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Pak Hadi, di sisi lain relatif tenang.


Dia melangkah maju menghadap direktur, " Direktur."


" En...." Abdul Qodirmengangguk, tetapi tidak ingin mendengarkan laporan pekerjaan dari mereka.


Pak Hadi menebak apa maksudnya, tetapi dia tidak berbicara, Dia hanya mengangguk kepada staf yang berdiri di belakang, lalu mengerti.


Tim elit memimpin jalan, kemudian bubar dengan sendirinya.


Pak Hadi mengikuti Abdul Qodirke kantor.


Beberapa langkah di depan kantor, Pak Hadi melangkah  maju, kemudian membuka pintu untuk direktur.


Setelah masuk, Abdul Qodirlangsung menuju sofa kulitnya yang bewarna putih, meletakkan wanita  yang ketakutan di pelukannya.


"Pergi ke departemen medis, lalu cari dokter."


"Iya." Pak Hadi mengangguk.


"Ingat, bilang obat untuk kaki yang keseleo mau pakai obat apa, lalu bawa kemari."


"Iya!"


Wajah Eki Tobingmasih memerah seperti apel.


Abdul Qodirmengambil segelas air dan menuangkannya untuknya.


"Terima kasih." Raline, dengan wajah penuh rasa malu, mengangguk dan mengambil gelas air yang dia berikan.

__ADS_1


__ADS_2