Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 52 Menangkap Dan Membawa Ke Kantor Polisi


__ADS_3

Bab 52 Menangkap Dan Membawa Ke Kantor Polisi


Eki Tobingtidak berbicara, membalikkan badan dan bersiap untuk pergi.


"Tunggu dulu."


PUjang Arifa berbicara dengan suara dingin.


"Wakil presdir, apa kabar." Eki Tobingmenghentikan kedua kaki, sopan dan saat bicara bisa mengendalikannya. "Ada masalah apa?"


PUjang Arifa tersenyum dingin, berkata, "Kamu masuk ke kantor presdir untuk apa."


"Datang melaporkan pekerjaan." Eki Tobingmenjawab jujur.


"Laporkan pekerjaan?" Kedua lengan PUjang Arifa melingkari tubuhnya sendiri, berkata, "Posisi rendah sepertimu, juga pantas datang ke kantor presdir untuk melaporkan pekerjaan?"


Eki Tobingsantai menjawab, "Memang benar presdir yang menyuruhku datang, jika anda tidak percaya, bisa pergi bertanya padanya."


"Benarkah?" PUjang Arifa mengangkat rahang bawahnya, berkata, "Apakah sekarang presdir ada di dalam? Aku pergi menanyakannya."


"Dia tidak ada." Tanpa berpikir Raline, langsung menjawab.


"Ha! Bahkan tidak ada, kamu masuk untuk melaporkan pekerjaan apa. Aku lihat, kamu masuk untuk mencuri sesuatu ya." Bagaimana mungkin PUjang Arifatidak tahu kalau Abdul Qodirsedang berada di ruang rapat, dia bertanya begini hanya sengaja membuat malu Raline.


Rio saputratidak ingin masalah sampai ribut besar, maka diam-diam menarik ujung bajunya, "Sudahlah, PUjang Arifa, jangan keterlaluan."


Keterlaluan? Begitu PUjang Arifa mendengar kata-kata ini, sifat keras kepala dan licik sekejap langsung naik.


Dia mengelilingi Raline, seperti memperhatikan sebuah produk saja, pandangan mata yang tidak baik memperhatikannya dari atas sampai bawah.


"Presdir memang tidak ada dalam kantor, kamu malah bilang datang untuk melaporkan pekerjaan pada presdir. Aku menangkap kesalahanmu, kamu malah tidak mau mengakuinya, mau aku pergi bertanya pada presdir, lalu kamu mengambil kesempatan ini untuk kabur."


"Kamu---" Eki Tobingdibuat kesal seketika wajahnya memerah, beberapa kata itu sepertinya keluar dari sela-sela gigi, "Sungguh tidak tahu malu!"


"Aku tidak tahu malu? He." PUjang Arifa tersenyum dingin, berbicara pada pria di sampingnya, "Dirga, kamu pergi panggilkan petugas keamanan. Aku malah tidak percaya, jika kamu ingin membuktikan kalau kamu tidak salah, maka ikut denganku ke kantor polisi."

__ADS_1


Dalam hati Eki Tobingsangat jelas, walaupun dia tidak bersalah, hanya menggunakan kedudukan PUjang Arifa di Kota G, tetap bisa mengaturkan sebuah kesalahan yang tidak ada. Walau pun nantinya bisa membuktikan kebenarannya, mungkin akan menjadi goresan jelek dalam perjalanan hidupnya. Ada lagi, yang paling penting adalah, Rizki tidak bisa berpisah dengannya!


Sedikitpun tidak bisa!


Dia melirikan pandangan minta tolong pada Dirga, walau dia sangat membencinya, tapi dia juga tidak harus mempermainkannya sampai tahap begini?


Rio saputrUjang Arifihat pandangannya yang sedang memohon, hatinya tidak jelas dan menjadi lembut.


"PUjang Arifa, jangan ribut sampai masalah jadi besar." Setelah berpikir-pikir, Rio saputramendekatkan mulutnya ke samping telinga PUjang Arifa, pelan berkata, "Jika kakak pertama tahu, pasti tidak akan melepaskanmu."


PUjang Arifa seumur hidup selalu ingin menang dan melebihi orang lain, tapi kelemahannya adalah, memang tidak salah dia takut pada Nicholas, tapi sifat takutnya ini ada saatnya juga membuatnya tidak takut dan mendatangkan perasaan yang bertolak belakang.


Berdasarkan apa dia harus takut padanya, ada lagi, dari awal dia sudah memikirkan jalan mundurnya.


Masih ada satu lagi, Rio saputraseharusnya berada satu pihak dengannya, tapi bagaimana bisa terus membantu wanita rendahan itu.


PUjang Arifa melihatnya dengan kejam, menggigit bibir berkata, "Kamu pergi ke samping dan diam." Saat ini kebetulan, di depan ada petugas keamanan yang sedang berpatroli. Setelah mata tajam PUjang Arifa melihatnya, mengangkat tangan ke arahnya.


Orang itu mengenal PUjang Arifa, sepanjang jalan lari pelan ke sana, sangat sopan berkata, "Nona PUjang Arifa, ada perintah apa."


"Orang ini, aku curiga dia masuk ke kantor mencuri sesuatu." Jari telunjuk PUjang Arifa menunjuk ke arah hidung Raline.


"Kamu periksa badannya, harus mencari barang yang dicuri sampai dapat."


Begitu kata-kata ini dilontarkan, Eki Tobinghanya merasa otaknya ada suara ledakan dan menjadi kosong semua.


Rio saputramerasa sudah keterlaluan, "PUjang Arifa, jangan ribut lagi boleh tidak?"


Saat PUjang Arifa sedang semangat ribut, mana bisa peduli dengan yang lain lagi, melototnya sebentar, pertanda menyuruhnya tutup mulut.


Petugas keamanan merasa memeriksa badan sendiri tidak baik, bagaimana pun pihak sebelah sana adalah wanita, walau pun.... Dia ingin turun tangan, tapi wanita ini benar-benar terlalu cantik. Tapi sayang sekali, bagaimana bisa menjadi seorang pencuri.


"PUjang Arifa, kamu jangan keterlaluan! Apakah kamu tahu, ini adalah penuduhan palsu, aku bisa pergi menuntutmu!"


Eki Tobingmarah sampai seluruh badan gemetar, belum pernah bertemu ada wanita yang begitu keji!

__ADS_1


"Menuntut aku?" PUjang Arifa tertawa, "Di Kota G siapa yang tidak tahu aku adalah anak Keluarga Qodir, kamu bisa saja mencobanya, aku juga mau lihat, siapa yang menuntut siapa dulu."


Selesai bicara, sinar matanya menjadi mendalam, melirik dingin ke arah petugas keamanan, suara dingin berkata, "Kenapa masih diam saja, tangkap dan antar ke kantor polisi."


"Ah iya iya iya." Orang itu seketika menyingkirkan pandangan yang belum puas, menganggukkan kepalanya, mengulurkan tangan mau mendorong badan Raline.


Eki Tobingmelirik dingin, mengangkat alis, terus menatap pandangan PUjang Arifa, kekuatan itu sedikitpun tidak berkurang.


"Aku bisa berjalan sendiri. Tapi, PUjang Arifa, semoga kamu tidak menyesal!"


"Raline, kita lihat saja nanti!" PUjang Arifa mengatakannya dengan sangat marah.


Sebentar saja gedung dilantai presdir langsung heboh, kebanyakan orang akhirnya bisa melihat sifat asli Raline. Menggoda presdir adalah palsu, ternyata menipu harta dan uang barulah benar. Hanya sedikit yang merasa kejadian masalah ini sangatlah aneh.


"Tut tut... Sungguh tidak salah melihat, gadis yang wajahnya begitu cantik, ternyata adalah seorang pencuri."


"Bukankah begitu, bahkan aku juga hampir tertipu olehnya."


"Kali ini Eki Tobingpasti akan di keluarkan dari Sanjaya Group. Aiya, dipikir-pikir juga terasa takut, dompetku biasa di taruh di laci, masih tidak memperhatikannya."


"Jiihhh!" Ada yang menyindir, "Kamu sudahlah, gajimu uang sedikit itu? Juga tidak lihat dalam kantor presdir kita, ada berapa macam barang yang tidak berharga ratusan juta."


Sidi Lestarimarah sampai menepukkan meja, "Aku tidak percaya! Kalian semuanya tutup mulut! Eki Tobingplaing dekat denganku, aku paham dengan dirinya, dia pasti bukan wanita yang akan mencuri barang orang lain!"


Diteriakin oleh dia seperti ini, suara bicara sudah berkurang banyak. Tapi diantara mereka juga ada yang mengejeknya.


"Jiihh.... Kamu sendiri cuma gadis kecil, berapa banyak yang kamu ketahui."


"Tidak pasti, dia sendiri sudah dibohongi dan tidak tahu apa-apa."


Area kantor banyak orang yang melihat keramaian, begitu kata-kata ini keluar, semuanya langsung tertawa.


Ruang interogasi polisi.


Kamar yang gelap tiba-tiba menyala sinar yang menyilaukan mata, cahaya itu bagaikan jarum yang menyinari wajah Raline.

__ADS_1


"Nona Lin, mohon kamu bekerja sama dengan kami, katakan sejujurnya barang apa yang sudah kamu ambil, lalu menyembunyikannya di mana, bersiapa-siap menjualnya pada siapa, dulu apakah kamu pernah melakukan hal yang sama, apakah kamu punya komplotan...."


Menghadapi sederetan pertanyaan, Eki Tobingsudah menjawabnya berulang kali, tapi sama sekali tidak ada orang yang mempercayainya. Walau dia menjelaskan sampai air liur pun kering, tapi pihak sebelah sama sekali tidak mendengarkannya, tetap terus mengulang pertanyaan yang sama.


__ADS_2