
Bab 46 Kamu Tidak Pantas
Setelah Abdul Qodirmengganti sandal, juga mengganti jaketnya, di gantung pada pohon gantungan baju.
Langsung berjalan ke dalam ruangan bar mini, menuangkan segelas anggur merah, tangannya memegang gelas anggur merah, membuka pintu kaca, datang ke balkon terbuka.
Di Kota G Abdul Qodirpunya banyak property, perumahan duplex, Villa pinggiran kota, apartemen terpisah di pusat kota......dia akan melihat suasana hati dan memilih malamnya akan pergi kemana.
Dia suka dengan ketenangan!
Dalam banyak situasi, di saat pekerjaan tidak terlalu sibuk, akan mengemudikan mobil pulang dan tinggal di Villa pinggiran kota area orang kaya. Jika malam ada masalah apa yang menundanya, dia akan tinggal di pusat kota.
Dengan begini, tidak akan mempengaruhi jadwal kerjanya ke esok harinya.
Besok adalah akhir pekan, tapi dia malah tidak berminat untuk pulang ke Villa mewah di pinggiran kota, tapi malah datang ke perumahan duplex yang berisik ini untuk menjaga ketenangan hati. Tidak bisa dikatakan kenapa, selalu merasa gelisah tidak tenang dan tidak tahu harus bagaimana, tidak ada mood untuk merundingkan masalah lain.
Malam hari di Kota G kota metropolitan yang penuh keramaian, Nicholaspelan meminum seteguk anggur merah, mata hitam yang sunyi menatap sedalam-dalamnya ke arah kota metropolis yang kokoh dan penuh dengan bangunan.
Tak tahu kenapa, saat ini Abdul Qodirada sebuah rasa kesepian dan kesunyian yang tidak bisa diutarakan.
Di kota G ini, dia mempunyai banyak uang, banyak kekuasaan, dan semua kedudukan dan identitas yang di impikan oleh banyak pria. Tapi kenapa, dia bisa ada rasa kesepian?
Apakah, hanya karena sekarang dia sedang berada dalam masa lajang?
Atau masih ada alasan yang lain....
Tanpa disadari, wajah wanita yang penuh kelembutan dan baik hati itu perlahan muncul di dalam benaknya. Di samping telinga menggemakan suaranya yang lembut bagaikan air.
Sebenarnya beberapa waktu ini, tidak peduli Abdul Qodirorangnya apakah berada di perusahaan, dia selalu tanpa disadari, selalu akan terpikir dengan wanita itu.
Sungguh hal yang sangat mustahil.
Dia mengakuinya. Dia memang cantik, sungguh menggoda. Sepertinya setiap pria yang melihatnya, pasti tidak tahan untuk memunculkan sebuah keinginan menaklukkannya. Hanya memikirkan agar bisa menekannya ke dalam tubuh sendiri, dan dengan kejam menindasnya.
Abdul Qodirberani bertaruh, asalkan pria yang normal, setelah bertemu dengannya di dalam hati banyak atau sedikit pasti akan muncul sebuah pikiran jahat...
Dia perlahan memejamkan mata, pemikiran seperti ini begitu muncul dan berakar di hati, maka langsung tidak bisa menghentikannya lagi.
Akhirnya, dia memgeluarkan ponsel, menelpon ke nomor Pak Hadi.....
Tidak peduli bagaimana memaksakan diri untuk tidur, tapi rasa kantuk sama sekali tidak ada.
Eki Tobingtidak berdaya dan membalikkan badan, ingin mengubah gaya dan memaksa melanjutkannya. Seberkas cahaya dalam kegelapan, tiba-tiba ada suatu tempat yang terang sebentar.
__ADS_1
Arahnya dari meja, seharusnya ponsel sedang berbunyi. Dia ingat sebelum tidur, sengaja menaruh ponselnya di sana. Takutnya telpon spam bisa membangunkan putranya, jadinya dia juga menggunakan mode silent.
Bangun dari ranjang, mengambil ponsel di tangannya.
Melihat sekilas nomor telpon, aneh, kenapa sederet nomor yang asing.
Tapi, pihak sana juga cuma mengirim pesan pendek saja.
"sudah tidur?"
Siapa ya?
Dalam pikirannya, Eki Tobingmerasa orang ini pasti kenal dengannya. Harusnya bukan Rio saputrakan? Berpikir sampai di sini, dia juga langsung meletakkan ponselnya, berencana tidak mempedulikannya.
Tapi berpikir lagi, jika memang benar adalah Dirga, dia pasti akan menghubunginya dari awal, masih perlu menunggu sampai sekarang?
Setelah berpikir-pikir, dia tetap menulis sebuah pesan singkat, mengirimkan ke sana.
"Kamu siapa?"
Begitu kabar ini dikirimkan, tapi tidak ada balasan lagi.
Eki Tobingterus menunggu, akhirnya masih tidak tahan dengan rasa kantuk, memejamkan mata, kelihatannya sudah mau tertidur lelap, layar di ponsel mulai menyala lagi, menusuk mata Eki Tobingyang belum terpejam semua.
Dia membuka layar ponsel, rasa ngantuk yang samar-samar dan matanya melihat beberapa huruf---
Sekejap matanya yang agak melamun langsung melotot bulat, mengusap-usap mata, takut dirinya salah lihat. Saat melihatnya lebih jelas, isi dalam pesan bukankah beberapa huruf itu.
Dia bagaimana bisa tahu nomor ponselnya? Tengah malam kenapa bisa mengirim pesan padanya?
"Presdir, anda ada masalah apa?"
Dalam hati Eki Tobingpenuh keraguan, menuliskan sebuah pesan dan mengirimkannya.
Kali ini, pesan yang dikirimkan tidak lama seperti yang tadi, bahkan membalas dalam beberapa detik saja.
"Tidak bisa tidur!"
Yiii....Eki Tobingtidak ada kata untuk membalasnya.
Presdir, hanya karena kamu tidak bisa tidur, jadi tengah malam boleh mengganggu orang, membuat orang lain juga tidak bisa tidur.
Walau bagaimana pun dia presdir, Eki Tobingpasti tidak berani tidak sopan.
__ADS_1
Bangun, mengambil ponsel, sangat pelan berjalan keluar.
Dia takut akan membangunkan putranya yang sudah tertidur lelap.
"Kenapa tidak bisa tidur?"
"Tidak tahu!"
Kedua orang begini dalam kesepian tengah malam, saling mengatakan kata-kata yang sama sekali tidak penting.
Tanpa disadari, waktu sudah berjalan sampai dini hari jam satu pagi.
Eki Tobingmengusapkan mata, dan bersin.
"Presdir, istirahat lebih awal saja."
Di saat Eki Tobingsedang menuliskan pesan ini, bersiap berdiri dan kembali ke kamar, malah mendengar sederet suara langkah kaki dari tangga seperti agak kacau. Dia berdiri di depan pintu, matanya menatap terus kesana.
Tidak lama, sudah melihat MZakiah dengan dandan gadis punk satu badan. Rambut yang terurai sebahu diwarnai dengan warna kuning layu yang paling diminati gadis muda pada tahun ini. Di padukan dengan riasan smokey, seperti seorang gadis nakal yang masih tidak ingin pulang dari tempat hiburan!
MZakiah juga sudah melihatnya, minum sampai mabuk mukanya sudah memerah. Hanya melihat mukanya menunjukkan sebuah senyuman yang menyindir, mengangkat kaki berjalan ke arahnya, "Yooo, bukankah ini adalah nona pertama keluarga Lin si Raline? Tengah malam begini tidak tidur, apa yang mau kamu lakukan?"
Eki Tobingmenghindari wajah dan mulut MZakiah yang mendekat, hanya merasa mulutnya yang bau alkohol sangat menjijikkan.
"MZakiah, kamu minum bir?" Dia merasa aneh dan bertanya.
Baru umur berapa MZakiah, bermain sampai malam begini baru pulang, satu badan masih bau alkohol.
MZakiah tidak merasa begitu dan mengangkatkan bahu, "Benar, aku memang minum bir, terus bagaimana? Apakah melanggar hukum! Selain itu, apakah bisa dibandingkan denganmu?"
Dalam kata-kata ini, membawa rasa perselisihan dan ejekan.
"Apa maksudmu?" Eki Tobingpelan mengerutkan alis.
"Jiihhh," MZakiah meniupkan ejekan, "Apa maksudnya? Aku bilang ya Raline, kamu urus dirimu saja sudah bagus, untuk apa urus masalah orang lain, apakah kamu sanggup mengurusnya."
Eki Tobingsama sekali tidak memikirkan, MZakiah yang awalnya hanya sedikit keras kepala dan egois, dalam waktu beberapa tahun, semuanya berubah, bahkan berubah menjadi anak punk jalanan, sama sekali tidak ada penampilan yang harus dimiliki putri keluarga Lin.
Apalagi, di dalam kata-katanya tetap membawa arti lain.
Melihat sekilas pandangan Eki Tobingyang penuh dengan keraguan, MZakiah tertawa hehe, berbalik badan dan berjalan ke kamar sendiri, sambil berjalan mulutnya sambil bergumam.
"18tahun sudah mengandung anak haram, juga pantas mengajariku, jiiihhh... Apa-apan."
__ADS_1
Suara walau tidak nyaring, tapi bagaikan sebuah cambuk, dengan keras memukul di badan Raline.
Beberapa hari ini diperlakukan penuh perhatian, wajah penuh senyuman, semuanya hanyalah kebohongan.