Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 48 Aktor Drama Perjalanan Penderitaan Cinta


__ADS_3

Bab 48 Aktor Drama Perjalanan Penderitaan Cinta


Eki Tobingyang ada dalam ingatan Bu Ayu, dia selalu tegar tidak buru-buru, gadis ini dari kecil sampai dewasa tidak pernah menunjukkan penderitaannya, terluka ataupun tidak berdaya. Tapi hari ini.....


Seketika dia tersadar! Dia ternyata telah telah dipermainkan oleh Raline.


Tapi sekarang menyesal juga sudah terlambat, apa lagi mengingat tadi saat di hadapan Raline, tampangnya yang menepuk dada dengan yakin tak tergoyahkan. Bu Ayu merasa dadanya sesak!


Semua ini gara-gara MZakiah! Bukannya membantu keluarga menyelesaikan kesulitan, masih terus membuat onar menambah masalah.


Pak AngZakiah dari ruang tamu kembali ke kamar tidur, meminum seteguk air dingin, berharap bisa menghilangkan amarah yang tertumpuk di dada.


Setelah meletakkan gelas, dia menatap Bu Ayu, "Nantinya baik-baik mendidik MZakiah, kamu lihat dandanannya hari ini, mana mirip dengan gadis yang normal."


Bu Ayu merasa tidak senang, menjelaskan berkata, "Aduh gadis muda, cantik suka berdandan mengikuti trend juga sangat wajar."


"Wajar?" Pak AngZakiah melototnya, mengerutkan alis panjangnya, "Seorang gadis bermain sampai tengah malam baru pulang masih termasuk wajar? Minum sampai mabuk masih termasuk wajar? Memukul dan memarahi kakak sendiri wanita rendahan masih termasuk wajar?"


"......." Bu Ayu tidak berbicara.


Dalam hati semakin merasakan, semua ini sengaja di lakukan.


Dia merasa sumpek dan berbaring, dalam hati berpikir, tunggu sampai semua ini di selesaikan, dia mau lihat ada kemampuan apa Raline


Eki Tobingmembalikkan badan dan berjalan ke kamar sendiri, perdebatan kali ini dilakukan dengan bagus!


Dia mau lihat, besok MZakiah menggunakan cara apa untuk meminta maaf padanya.


Berjalan di samping ranjang, menemukan putra kecilnya masih tertidur manis, apa yang terjadi di luar tadi tidak mengganggu mimpi indahnya. Beban di dalam hatinya perlahan bisa di lepaskan.


Keesok harinya Eki Tobingmengetahui ayahnya sudah pergi, dengan menggunakan alasan badannya tidak enak, membawa Rizki pergi ke rumah sakit. Sebenarnya, dia pergi ke tempat Ujang Arif. Makan di rumah Ujang Arif, sampai matahari tenggelam di gunung sebelah barat, baru membawa Rizki pulang ke rumah Lin. Dan saat ini, Pak AngZakiah sudah pulang.


"Raline, katanya badan kamu tidak enak ya, bagaimana?" Pak AngZakiah menggendong Rizki, penuh perhatian bertanya pada Raline.


Eki Tobingmemegang keningnya, berpura-pura seperti tidak bertenaga, badan dengan lemah duduk di atas sofa, "Eng, tidak apa-apa, mungkin karena semalam tidak tidur dengan baik."

__ADS_1


Saat ini Pak AngZakiah mengingat kejadian semalam, raut wajahnya seketika agak berubah. Mengangkat kepala melihat Bu Ayu, suara sangat rendah berkata, "Dimana MZakiah, panggil dia turun."


"Dia...." Bu Ayu masih belum selesai bicara, sudah mendengar Eki Tobingberbicara.


"Pa, sudahlah, masalah ini sudahi saja begini. Aku percaya, MZakiah dia juga bukan sengaja."


Kata-kata Eki Tobingseketika membuat hati Bu Ayu agak lega, setidaknya MZakiah tidak perlu kehilangan muka untuk meminta maaf padanya. Di luar dugaan, mendengar Eki Tobingberbicara lagi dengan sedih.


"Lagi pula....dia bukan pertama kali berbuat begini padaku....semuanya yang terjadi di masa lalu, aku juga tidak ingin mengungkitnya lagi....pa, aku rasa lebih baik aku bawa Rizki pindah keluar saja.....jika anda memang tidak bisa merelakan Rizki, maka aku akan keluar seorang diri, biarkan Rizki tinggal di sini menemanimu...."


Setelah Eki Tobingselesai bicara, terlintas cahaya di matanya, saat dalam kondisi tidak ada orang yang melihatnya, melirik pada puta kecilnya.


Pak AngZakiah masih belum berbicara, langsung mendengar cucu yang ada dalam pelukannya tiba-tiba memangis.


"Mama....mama jangan meninggalkanku....Rizki seorang diri bisa takut.... Mama di tindas pergi oleh bibi kecil, bagaimana kalau dia menindas Rizki? Hiks hiks hiks..... Bagaimana kalau dia menindas Rizki...."


Pria kecil begitu berakting sungguh sangat serius dibandingkan siapapun, persis dengan aktor dalam drama perjalanan penderitaan cinta, menangis sampai tersedu-sedu, tampang kecil itu bukan hanya terlihat kasihan, membuat orang ikut meneteskan airmata.


Pria kecil itu merangkul leher Pak AngZakiah, menangis sampai sangat menyedihkan, juga membuat hati Pak AngZakiah melunak seperti air di danau barat.


"Kamu pergi panggilkan gadis itu untuk turun."


Pak AngZakiahsudah beberapa tahun tidak menunjukkan sikap wibawanya sebagai kepala keluarga , membuat Bu Ayu sangat terkejut.


Dia linglung dan menganggukkan kepala, berkata, "Oh, baik. Aku.... Aku pergi sekarang."


Sambil bicara, dia membalikkan badan dan naik ke lantai atas.


Pak AngZakiah membalikkan badan, menatap sepasang ibu dan anak yang sudah menangis penuh airmata, lalu menghiburnya betkata, "Raline, Rizki, kalian jangan menangis lagi.


Papa akan memberi kalian sebuah kejelasan yang layak!"


Tidak lama, terdengar suara langkah kaki turun tangga.


Pak AngZakiah mengangkat kepala, melihat wajah MZakiah yang baru bangun matanya masih kabur-kabur, rambutnya seperti sarang burung yang tertumpuk di atas kepala sangat berantakan, di dalam hati terasa sedikit kecewa dengan putri bungsu ini.

__ADS_1


Bu Ayu berjalan di belakang badan MZakiah, wajahnya juga muram.


"Ahh---" MZakiahberjalan ke hadapan Pak AngZakiah, pertama-tama sangat malas dan bersin sekali, dengan santai bertanya, "Pa ada masalah apa? Aku masih sedang tidur."


Pak AngZakiah sekuat tenaga menahan amarah dalam hatinya, berkata, "MZakiah, cepat minta maaf pada kakakmu."


"Minta maaf?" Saat ini, rasa kantuk MZakiah juga sudah berkurang banyak, "Minta maaf apa, kenapa aku harus meminta maaf padanya?"


"Semalam apa yang sudah kamu lakukan apakah kamu sudah melupakannya? Kamu hampir memukul kakakmu, masih terus menghinanya. Kamu tahu salahmu dimana?"


MZakiah hanya merasa hatinya tiba-tiba panik!


Gawat! Semalam dia benar-benar sudah mabuk, dalam ingatannya sepertinya ada bertemu dengan Raline, tapi dia ada atau tidak ada memukul, memarahi, dia bahkan tidak ada bayangan sedikitpun.


Dia menatapkan mata pada Bu Ayu, mata yang penuh keraguan bertanya padanya, semalam apakah benar ada masalah seperti ini?


Bu Ayu mengerutkan alis, tidak berbicara, hanya melihatnya. Dengan begini, kelihatannya kejadian semalam benar.pantas saja tadi saat mama menyuruhnya turun, di mulut sepertinya bilang sementara mengalah dulu, ternyata adalah masalah ini.


Tapi... Berdasarkan apa?


Berdasarkan apa dia harus mengalah? Berdasarkan apa harus meminta maaf pada Raline?


Wanita rendahan itu, memang murahan. Berdasarkan apa harus meminta maaf pada wanita rendahan yang tidak tahu malu?


MZakiah tersenyum, berkata, "Untuk apa aku harus meminta maaf padanya? Walau pun aku mabuk, tidak mengingat apa pun, aku juga tidak akan memukul orang, paling juga hanya memarahinya saja."


"Kamu--"


Pak AngZakiah tidak bisa berkata apa-apa!


Dia memang tidak pernah melihat MZakiah memukul orang, setelah dipikir-pikir, lalu mengatakan, "Tapi kenapa kamu harus memarahi orang? Ada lagi, apakah kamu tahu, kata-kata yang kamu gunakan untuk memarahinya, semua kata itu, bahkan.... Semua ini kamu belajar dari siapa?"


Sifat Pak AngZakiah memang lebih membela orang yang lembut, dalam hati Eki Tobingsangat jelas. Bu Ayu dan MZakiah hanya perlu ngomong beberapa kata, maka bisa dengan mudah menghapus kemarahan dalam hatinya.


Jika begitu, bukankah putranya Rizki sudah sia-sia menerima hinaan?

__ADS_1


__ADS_2