
Bab 26 Lelaki Pelit
Kantin Sanjaya Group dibandingkan dengan kantin lain, merupakan tempat makan dengan dekorasi yang indah dan elegan. Selain itu, makanan di kantin sini tidak beda jauh dengan tempat makan berbintang.
Karena itu, banyak karyawan yang suka makan gratis di kantin ini.
"Raline, di sini, kita ambil peralatan makanan." Di jalan, Sidi Lestari banyak bicara, gayanya bicara seperti boss perempuan.
Dia menarik Eki Tobingke tempat steril di mana ada piring dan sumpit. Dia berkata, "Makanan di sini benar-benar enak, ini kecap ayam, kaki ayam, babat, sup daging ****..........Setiap hidangan punya keunggulannya..."
Di bawah penjelasan Sidi Lestari, mereka berdua mengambil sumpit mereka sendiri lalu pergi ke meja tempat makanan diletakkan.
Saat siang hari, sebagian besar pekerja dari Sanjaya Group datang ke sini.
Tidak lama kemudian, Eki Tobingdan Sidi Lestari masing-masing membawa sepiring makanan, cari tempat buat makan, lalu duduk.
Sidi Lestari melihat piring Raline, makanannya sedikit sekali sampai membuatnya merasa kasihan, lalu dia penasaran kemudian dia bertanya " Raline, kamu setiap hari hanya makan segini? Tidak heran kamu begitu kurus. " Saat dia bicara, dia melihat kotak makanannya sendiri, 3-4 jenis sayuran di kotaknya. Dia tersenyum malu lalu mengatakan. "Sepertinya kurus juga ada sebabnya, aku harus diet. Aku sudah selesai makan,aku juga mau menurunkan berat badan. "
Eki Tobingtersenyum. "Aku hanya makan dengan porsi normal."
Pas baru makan, memang benar, makanan di kantin persis seperti yang di bilang Sidi Lestari, enak sekali, sama sekali ga berlebihan. Dari waktu ke waktu, kadang-kadang ada rekan kerja yang lewat, lalu tersenyum dan menyapa mereka.
Meskipun tidak semua orang tahu Raline, tapi dia menghadapi semuanya dengan tersenyum dan menganggukan kepala.
Tiba-tiba, tidak tahu siapa yang memanggil, melihat-lihat, bukannya itu direktur? Dia ternyata datang ke kantin. Semua mata tertuju kepadanya dan memandang ke arah pintu.
Eki Tobingjuga mendengarnya, mengikuti arah suara, ternyata di depan pintu dia melihat seorang pria dengan setelan kantoran, badannya tinggi dan berwibawa, wajahnya yang tampan bak seperti dewa, Nicholas.
Jantung berdebar!
Jangan–jangan dia biasanya makan di kantin? Tapi, dari reaksi rekan-rekan lain, nampaknya tidak seperti itu.
"Wow! Direktur! Ternyata benar direktur! Aku ga tahan, hati aku sudah mau berhenti." Sidi Lestari sudah tidak memperhatikan dirinya lagi, Mulutnya penuh makanan, dia bahagia sekali seolah dia melihat sesuatu yang luar biasa. "Direktur ternyata pergi ke kantin untuk makan! Senang kali! Aku bahagia sekali! Ternyata aku bisa makan bareng dengan Direktur!"
Mereka tersihir, Eki Tobingmengerutkan dahi nya.
__ADS_1
Pria yang berdiri di depan pintu, tampan sekali. Pria itu tersenyum dengan bosan, sedikit senyum dan mengangguk dengan para pekerja, dengan matanya menyapa orang satu per satu. Matanya yang gelap itu, ketika berbalik ke arah Raline, sadar atau tidak sadar ia berhenti sebentar.
Sekilas, Eki Tobingmerasa napasnya sudah mulai tidak lancar.
"Wahhh! Direktur tadi melihatku! Raline, kamu melihatnya kan? Tuan Direktur, Tuan Direktur tadi melihatku!" Sidi Lestari kesenangan sampai menari.
"Oh, benarkah? Aku... aku ga peduli." Eki Tobingacuh tak acuh.
Tanpa sadar, Eki Tobingberpikir Abdul Qodirseharusnya datang ke tempatnya. Karena ketika dia meninggalkan kantor direktur di pagi hari, dia tidak mendapatkan izin dari nya.
Benar-benar pria yang kejam!
Eki Tobingmengerutkan keningnya, dia berpikir, apa yang harus dilakukan. lalu mereka kebetulan punya tempat kosong di samping mereka. Dia seharusnya tidak......
"Hai, apa kabar?" Kebetulan ada seorang pria, Eki Tobingtidak mengenalnya lalu menyapanya, dia memegang piring di tangannya, seharusnya sedang cari tempat duduk untuk makan. " Di sini ada tempat."
Pria itu langsung tersanjung, "Terima kasih, terima kasih." Dengan cepat mereka duduk.
Sidi Lestari melihatnya tidak tahu harus bicara apa.
Wanita terkutuk ini! Dia Sulit sekali memandangnya dengan pria lain. Abdul Qodirmerasa tidak puas, dengan pandangannya yang tajam, dia menemukan tempat kosong.
"Wow...Direktur! Dia datang ke arah kita!"
Di sebelah meja mereka duduk beberapa gadis muda, kemudian mereka bersemangat sekali. Terlebih lagi, langsung memutarkan kepalanya untuk berdandan.
Ketika Abdul Qodirduduk, dia tersenyum dengan bawahannya. Gadis – gadis itu mana ada pikiran untuk makan lagi? Mata mereka yang berbinar binar itu hanya melihat laki laki yang tampan.
Eki Tobingmenundukkan kepalanya, mencoba untuk tidak terlalu menonjol. Walaupun begitu, dia tidak terlalu jauh masih bisa merasakan, pria itu melihatnya dengan pandangan yang tajam ke arahnya.
Dia sebenarnya mau buat apa?
Kenapa aku harus memandang diri ku?
Eki Tobingpelan-pelan menelan makanannya, diam-diam mengangkat alisnya, diam-diam melirik sekilas pria itu.
__ADS_1
Melirik lagi, dia masih melihat dirinya sendiri.
Lihat lagi? Masih lihat lagi aku akan langsung menatap kamu.
Dalam benaknya, Eki Tobingbenar-benar akan menatap pria itu.
Laki laki yang duduk berlawanan arah sudah kontak mata dengan dia, dia ternyata tidak berhenti, malah tatapannya semakin tajam.
Mau besar-besaran mata?
Abdul Qodirmenunjukkan ketidakpuasannya.
Baiklah, kamu sudah menang. Eki Tobingterdiam, wajahnya memerah, dan menundukkan kepalanya karena kalah. Bukan karena dia takut, itu karena dia sudah merasakan orang orang disekitarannya sudah memperhatikannya.
Tadi pagi saat dipeluk oleh Direktur, sudah cukup membuatnya posisinya tidak aman lagi, Jika dia membuat keributan lagi di kantin, dia pasti akan menjadi terkenal di gedung Sanjaya Group.
Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu."
Pada saat ini, pria di sampingnya juga mana ada pikiran lagi untuk makan? Tidak biasa ada seorang wanita cantik menyuruh mereka duduk ditempatnya?
"Sidi Lestari." Sidi Lestari lebih cepat satu langkah, dengan cepat menjawab. Hanya saja suaranya sedikit malas.
Pria itu sedikit canggung, lalu tertawa dan mengangguk. Dia kemudian menoleh melihat wanita cantik di sampingnya. "Bagaimana dengan kamu?"
"Halo, nama saya Raline." Eki Tobingmenjawab dengan sopan.
"Adinda Novita." Pria itu tertawa dengan begitu gembira.
"Adinda Novita? Ha ha ha..." Sidi Lestari tertawa terbahak-bahak. "apa masih ada orang yang namanya Adinda Novita? "
Adinda Novita dengan canggung tertawa, kemudian dengan tatapan kosong dia menatapnya.
Eki Tobingpada awalnya tidak banyak berpikir, Mendengar Sidi Lestari bicara, salah satu dari mereka, tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1