Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 38 Sandiwara Yang Sempurna


__ADS_3

Bab 38 Sandiwara Yang Sempurna


Pak AngZakiah tersenyum lebar dan berkata bahwa dia tidak merasa lelah,tetapi Rizki adalah anak yang sangat pengertian dan berdiskusi sebentar dengan kakeknya itu, kemudian Pak AngZakiah baru setuju untuk menurunkannya.


Ayah dan anak selama 5 tahun tidak bertemu, banyak kata yang tidak selesai-selesai jika dibicarakan,dan perasaan yang tidak dapat diungkapkan begitu saja.


Rizki juga tidak rewel, dengan tenang bersandar pada tubuh Raline.


Dari pintu restoran ada sebuah mewah yang berhenti didepannya.


Dari dalam mobil terlihat ada seorang pemuda dan seorang perempuan, dan dari kursi belakang ada seorang paruh baya.


MZakiah sedikit-sedikit melihat ke arahBudi Setiawan, "Budi Setiawan, kamu lebih baik makan malam bersama kami saja."


Budi Setiawan menggelengkan kepalanya.


Kemudian Bu Ayu keluar dari dalam mobil, tersenyum berkata kepada Budi Setiawan,"iya, Budi Setiawan. Ditambah lagi orang yang mengundang kita makan malam adalah kakaknya MZakiah, bukan orang luar,kamu lebih baik ikut kami makan malam?"


"siapa yang kakaku, aku tidak bersedia menjadi adiknya." Raut wajah MZakiah sedikit berubah dan menggerutu.


Budi Setiawan dan MZakiah adalah teman sekolah, dan juga orang yang disukai oleh MZakiah, tetapi Budi Setiawan juga hanya menganggapnya sebagai teman sekolah, hanya sekedar teman.


Budi Setiawan menebarkan senyumannya kesegala arah, terlihat deretan giginya yang sangat putih, dan berkata dengan sopan,"tidak usah tante, ibu saya sedang menunggu saya kembali untuk makan. Kalau begitu saya permisi dulu."


MZakiah menatap dalam Budi Setiawan yang berjalan meninggalkan mobilnya, hatinya terasa sedikit sesak.


Bu Ayu berkata,"ayo jalan, ayahmu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


MZakiah dengan memanyunkan bibirnya berkata,"semua itu gara-gara kamu, sebentar-sebentar bilang akan beli baju, kemudian bilang lagi ingin pergi ke salon, kamu berlagak seperti tokoh utama hari ini adalah kamu saja."

__ADS_1


Bu Ayu dengan sedikit kesal berkata,"kamu ini, apa yang sedang kamu bicarakan? Aku seperti ini adalah demi kebaikan kamu, kalau dari awal aku tau kamu membawa serta teman sekolahmu, apa aku perlu merepotkan diri sendiri seperti ini"


MZakiah mengerti, bibir manyunnya itu tidak lagi berkata apa-apa lagi.


Kedua orang itu berjalan menuju restoran.


"MZakiah, nanti jangan salahkan aku karena tidak memberitahumu. Nanti ketika bertemu Raline, jangan sampai berkata macam-macam, mengerti tidak?"


"Cihh" MZakiah dengan sedikit kesal.


"bagaimanapun juga dia adalah kakakmu, kamu tidak boleh berlaku seperti dulu kepadanya. Meskipun kamu tidak ingin melihatnya, kamu juga harus menahannya untuk sebentar saja."Bu Ayu menjelaskan panjang lebar.


"aku tidak punya kakak seperti dia, dengan perutnya yang besar kabur dari rumah, lihat saja dia sekarang, dia malah membawa anak haram kembali. Heh!muka keluarga sudah dipermalukan habis-habisan olehnya" MZakiah dengan perkataan yang jahat itu membicarakan kakaknya.


"heh……kamu ini, bisa pelan dikit tidak bicaranya, kalau dia sampai mendengarnya bagaimana" Bu Ayu sedikit kesal.


"kalau dengar ya biarkan saja, kenapa dibikin susah, dia juga bukan siapa-siapa. Meskipun kenyataannya memang seperti ini, aku tidak bicara sembarangan."


MZakiah mengerutkan bibirnya!


"kalau kamu bisa, buruan dapatkan Budi Setiawan. Aku rasa keluarga Budi Setiawan ekonominya juga lumayan, kalau tidak dia tidak akan mampu mengendrai mobil semewah itu. Meskipun begitu kita juga membutuhkan Raline. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis tidak tau malu itu."


Ekspresi diwajah MZakiah sudah tidak dapat ditahan lagi. "Ma, apa maksudnya? Hubunganku dengan Budi Setiawan berjalan dengan baik."


"kamu diamlah, kamu menyukainya tapi dia tidak menyukaimu, apa menurutmu aku masih tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Bu Ayu dengan kesal membentaknya, kemudian kembali berkata, "jika saja kemampuan merayumu sama dengan Raline, aku pasti sudah dari awal merasa tenang, sekarang malah harus mengundangnya makan malam, benar-benar tidak tau diri. Rio saputrasaat itu juga sama saja, kamu juga tidak dengan terang-terangan mengatakan bahwa kamu menyukainya, lihat sekarang bagaimana dia membereskanmu."


"Ma sudah lah! Aku sudah tau mama tidak usah mengungkitnya lagi, aku akan diam dengan nurut, tidak akan berkata apa-apa tentangnya, sudah puas kan!" MZakiah menjawab dengan kesal.


Anak dan ibu dengan begini baru bisa menghentikan perdebantannya, kalau tidak, mereka sudah dari tadi sampai di ruangan mereka.

__ADS_1


Mereka membuka pintu berjalan masuk, Bu Ayu seketika dengan ramah menarik tangan Raline, memperhatikannya dengan teliti dan berkata, "aiyoo, kamu akhirnya kembali, kamu membuatku merindukanmu setengah mati."


"eh... ibu, lama tidak berjumpa." Menghadapi kelakukan Bu Ayu yang ramah secara tiba-tiba, Eki Tobingseketika merasa sedikit tidak terbiasa.


"biar aku lihat, kamu dalam berapa tahun ini ada perubahan apa!" Bu Ayu berkata seakan peduli terhadapnya, "aiyooo... kamu sangat kurus, bagaimana ini. Tidak mudah kan hidup sendirian diluar negeri? Kamu juga! Kenapa tidak terpikirkan untuk mengabari kita yang dirumah."


Eki Tobingseketika terdiam setelah mendengar perhatian yang ditujukan kepadanya secara berturut-turut.


Bu Ayu menurunkan pandangannya melihat ke arah sosok anak kecil yang berada disamping Raline, seketika tersenyum sampai bibirnya terbuka lebar.


"ehhh, apakah dia adalah cucuku? Kemari, berikan nenek sebuah pelukan."


Saat ini Rizki tidak memberikan eskpresi yang dia berikan kepada Pak AngZakiah tadi. Begitu melihat nya sekali dia baru menyadari bahwa tidak menyukai seseorang terasa sangat tidak mengenakkan, tubuh kecilnya seketika berlari kebelakang Eki Tobingmenghindar.


"Rizki, buruan panggil nenek, kamu tidak ingat apa yang telah kamu sepakati dengan mama? Bukankah kamu akan menjadi anak yang pengertian?"Eki Tobingberkata dengan lembut.


Rizki pelan-pelan menujukan badannya dari belakang Raline, dan berkata"nenek apa kabar."


Nada suaranya juga tidak seperti saat dia menyapa kakeknya tadi.


Tetapi Bu Ayu masih memperlihatkan senyum lebarnya, mengulurkan tangannya memainkan pipi Rizki yang sangat gembul itu. Kemudian dari belakang tubuhnya mengeluarkan amplop berwarna kuning kecoklat-coklatan, dan juga terlihat ada sedikit benjolan dari dalamnya, tidak perlu menebaknya, pasti isinya adalah hadiah pertemuan.


Dia membungkukkan badannya, memberikan amplop itu kepada Rizki dengan tersenyum dan berkata,"ternyata namamu Rizki ya, bagus sekali! Ini ambillah, ini nenek memberimu hadiah pertemuan."


Eki Tobingdan keluarganya sekian lama tidak saling bertemu, hatinya terasa sangat tersentuh. Tetapi keadaan yang seperti ini membuatnya sedikit tidak terbiasa, harinya samar-samar merasakan bahwa buakankah ini terlalu mendadak?


Sikap papa dari tadi juga! Ini ibu tirinya Bu Ayu yang dari dulu tidak menyukainya tiba-tiba berubah menjadi perhatian dan baik seperti ini?


Setelah dipikirkan kembali, dia tidak mengekspresikan kedalam wajahnya apa yang ada didalam hatinya.

__ADS_1


Mata hitam bulat Rizki terangkat dan melihat ke arah Eki Tobingsekali, tetapi tidak mengulurkan tangannya menerima pemberian yang diberikan oleh Bu Ayu.


__ADS_2