Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 17 Jadi Dimana Yang Sakit


__ADS_3

Bab 17 Jadi Dimana Yang Sakit


"Aku… maksudku, malam itu, ah… aku pikir kamu bertanya… …"


Eki Tobingbegitu gugup, sehingga mulai berbicara dengan tidak jelas. Dia ingin menjelaskan sesuatu, tetapi tampaknya semakin dia ingin menjelaskan, semakin dia tidak bisa menjelaskannya. Sengajakah laki-laki tersebut?


Dia mengangkat alisnya, sambil melihat laki-laki yang sedang tersenyum padanya, dalam benaknya mulai menyadari bahwa dia sudah mulai tergoda olehnya.


Abdul Qodiringin bertanya padanya tentang kejadian malam itu, pada lima tahun yang lalu, Apakah dia merasakan kesakitan. Melihat wanita tersebut semakin gugup dan malu tersipu, akhirnya dia berhenti untuk menggodanya.


"Aku mengerti." Dia kembali dari keterasingannya dan menganggukan kepala.


Eki Tobingtertegun.


Baru-baru saja laki-laki itu dalam ekspresi menggoda, dan dalam sekejap mata, dia sudah kembali normal. Siapa bilang seorang wanita memalingkan wajahnya secepat membalikan buku? Tentunya laki-laki tersebut lebih cepat dari wanita!


Eki Tobingjuga menghentikan pikirannya, lalu mengeluarkan beberapa sertifikat penghargaan dari tasnya, juga sertifikat yang diperolehnya semasa di luar negeri.


"President, ini adalah daftar riwayat hidup saya yang terperinci, silakan dilihat."


Keadaan ruang kantor membuat Abdul Qodirmerasa tidak nyaman. Namun, dia tetap berusaha agar wajahnya masih tidak terlihat kurang nyaman, lalu dengan tenang mengambil informasi darinya.


Setelah beberapa kali membolak-balikkannya, sejujurnya dia tidak begitu tertarik dengan hal tersebut. Selesai mengetahui identitasnya, lalu dia memutuskan untuk mempertahankannya. Adapun mengapa dia melakukannya, itu tidak lebih dari hanya sekedar menunjukkan perhargaan padanya.


Satu menit kemudian, Abdul Qodirmengangkat kepala dan menggabungkan dokumen-dokumen yang ada di tangannya.


"Nona Raline, Selamat bahwa Anda akan bergabung dengan Sanjaya Group."


Kalimat ini tampaknya seperti memberikan isyarat kepada Eki Tobingbahwa dia sudah diterima masuk.


Diri sendiri tentu saja bahagia, tapi… … mengapa dia merasa prosesnya begitu sederhana?


Tidak ada pertanyaan dan verifikasi dalam ruang wawancara, bahkan tes masuk yang paling dasarpun juga tidak tersedia, begitu sajakah sudah diterima masuk?


Dia telah lama mendengar bahwa proses perekrutan karyawan diSanjaya Group cukup ketat dan rumit, bahkan sangat selektif dan tidak dengan mudah untuk menentukan satu orang!


"Ada apa? Ada pertanyaan?"


Sampai telinganya mendengar suara atasannya yang seksi, barulah Eki Tobingkembali tersadar.


Bibirnya yang lembab dan lembut mulai mengerucut, menggelengkan kepalanya,"Tidak ada."


Untuk saat ini tidak perlu pikir terlalu banyak, karena dia sudah diterima, maka dia akan tinggal.


"Ya, Saya harap kedepannya kita akan memiliki kerjasama yang menyenangkan seterusnya," Abdul Qodirtersenyum.

__ADS_1


Keduanya bersama-sama berdiri, Abdul Qodirmengulurkan tangan besarnya, Eki Tobingmengangguk sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


Itu merupakan jabat tangan yang tersopan, namun itu berubah menjadi… …


Eki Tobingmerasakan tangan kecilnya terbungkus erat oleh genggaman tangan laki-laki tersebut, suhu panas tangan dari orang ini memberikan dia kehangatan yang begitu mendalam.


Dia memaksakan untuk tetap tersenyum dengan tenang dan mulai perlahan-lahan menarik tangan kecilnya.


Siapa tahu, begitu dia membuat reaksi seperti itu, secara langsung akan menghentikannya.


Ini… …


Dia mengangkat alisnya, dan menatap kearah Nicholas.


Kemudian, laki-laki tersebut mulai melepaskan tangan besarnya, dan dari bibir seksinya terpancar senyuman.


Ditengah kebingungannya, Eki Tobingmerasa bahwa dia terlalu banyak berpikir.


Jadi, dia menganggukkan kepala dan perlahan berbalik badan untuk pergi.


"Nona Raline… …"


"Eh?"


Raline, yang berjalan ke arah pintu, mendengar suara laki-laki. Dia sejenak berhenti dan membalikkan badannya.


Ruang kantor President sangat besar, dari ketiga sisi arah ruangan terpancar hangatnya sinar matahari yang masuk keruangan tersebut, diantaranya menyinari kearah tubuh tampan dari laki-laki tersebut.


Eki Tobingsesaat, matanya terasa pusing.


Dia tidak bisa menahan untuk menyipitkan matanya, sampai laki- laki tersebut mengangkat alis matanya, bibirnya sedikit terbuka dan berkata,"Kamu belum berterima kasih padaku!"


Eki Tobingmengerutkan kening.


Berterima kasih untuk? Kejadian malam itu atau penawaran hari ini... …


"President, terima kasih!"


Eki Tobingtidak berani memikirkannya lagi. Segera dia berbalik badan dan berjalan pergi.


Sampai pintu kantor President tertutup, hati Eki Tobingmasih berdetak tiada henti.


Karena masih berpikir keras, dia masih berdiri di pintu kantor sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang sedang berjalan dari sebelah kiri mendekatinya.


"Nona Raline."

__ADS_1


Pak Hadi memanggil dengan lembut, mengejutkan wanita tersebut yang masih hanyut dalam pikiran dan khayalannya.


"Ah... Halo."


Pak Hadi memang sebenarnya adalah seorang laki-laki yang berbakat, juga tampan, dan sekarang dengan rendah hati, dia tersenyum dan berkata,"Kelak, kita akan menjadi kolega. Nona Eki Tobingtidak perlu terlalu sopan terhadapku, cukup panggil nama Pak Hadi saja."


"Iya, Pak Hadi." Eki Tobingdengan tegas memanggil namanya.


Pak Hadi mengangguk,"Ayo pergi, aku akan membawamu ke kantor."


Mengikuti Pak Hadi dari belakang, Eki Tobingmulai mencuri-curi pandang secara diam-diam ke Sanjaya Group.


Seluruh keadaan dari gedung itu sungguh sangat terlihat bersih. Mulai dari lantai paling atas terlihat bersih, cerah, suasananya, memberikan sentuhan mewah pada setiap ruangan.


"Nona Raline, ini adalah meja kantormu."


Setelah Pak Hadi pergi,Eki Tobingmulai memberesi meja kantornya.


Karena dia hanyalah seorang penerjemah baru dan posisinya juga tidak terlalu tinggi, maka meja kantor yang diberikan untuknya adalah yang terbuka luas agar dapat bekerja bersama-sama rekan lainnya.


Begitu dia duduk, seorang gadis yang berada didepannya menepuk kepalanya dan menyapanya dengan senyuman.


"Hai."


"Hai!" Eki Tobingmendongakkan kepalanya dan menyapa kembali sambil tersenyum.


Gadis tersebut sangat ceria dan dengan antusias menanggapi kedatangannya, dia berbalik memutar kursi kantor dan datang mendampingi ke sisinya.


"Namaku Sidi Lestari, dan kita akan menjadi rekan kerja mulai sekarang."


"Raline." Eki Tobingmemperkenalkan dirinya dengan gembira.


"Raline, kamu sungguh luar biasa."


"Apa maksudmu?" Tampaknya gadis yang bernama Sidi Lestari masih sangat terlihat muda dan tidak memiliki hati yang licik, sangat menarik perhatian orang.


"Begitu banyak ratusan penerjemah yang datang untuk melamar. Hanya kamu yang berhasil direkrut masuk, dan aku juga barusan mendengar bahwa, President hanya mewawancaraimu sendirian dan tampaknya dia sangat menginginkanmu. Sepertinya kamu memiliki kualifikasi yang sungguh luar biasa."


Eki Tobingmenggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata,"Mana mungkin, kamu terlalu membesar-besarkan. Barusan, ketika berada di ruang kantor dan diwawancarai oleh President saya sangat terlihat gugup."


Gugup? Sangat gugup. Tetapi President tidak mengatakan apa pun mengenai kualifikasinya… …


"Itu juga menunjukkan bahwa kamu hebat, jika itu aku… …" Sidi Lestari berkata sambil tersenyum, kemudian melirik kearah dimana ada sekelompok orang yang berjalan kearah mereka, lalu segera menutup mulutnya, dan kembali ke tempat duduknya untuk bekerja.


Kenapa?

__ADS_1


Eki Tobingdiam-diam ingin tahu, jadi dia terus menatap matanya.


Melihat barisan sekelompok orang yang memakai setelan jas, dan mereka kelihatan sangat bersemangat datang menuju kearah sini. Ada pria dan wanita, katanya sambil tersenyum.


__ADS_2