
Bab 14 Memasuki Sanjaya Group
Mobil berputar memasuki Villa Mewah di Teluk Ancol, pada saat bersamaan kebetulan Rio saputrajuga dalam perjalanan dinas, Eki Tobingbersama anaknya sementara tinggal dirumahnya Ujang Arif.
Dia juga berkata, sekiranya menemukan kamar yang cocok, maka dia bersama Rizki akan segera pindah. Ujang Arif hanya bisa mengikutinya saja. Kenyataannya, villa dimana Ujang Arif tinggal tidak kekurangan kamar kosong, akan tetapi Eki Tobingmerasa tidak terlalu pantas untuk terus menerus menganggu mereka.
Seorang pelayan membukakan pintu, lalu menjemput Rizki.
Eki Tobingbaru saja hendak mengikuti untuk membantu, namun dipanggil oleh Ujang Arif.
"Raline, mari bersama pergi ke balkon untuk beristirahat." Ujang Arif menarik tanganRaline, sambil berjalan keatas," Kamu tenang saja, Fernanda adalah orang yang perhatian, dia bisa menjaga Rizki dengan baik."
Balkon sangat besar, Angin malam cukup sejuk, langitpun penuh dengan bintang, sungguh indah!
Ujang Arif menuangkan dua gelas anggur merah ditempat bar kecil terbuka, sambil berjalan pelan-pelan kemari, kemudian menyerahkan segelas anggur ke hadapan Raline, lalu dirinya dengan gaya yang elegan meminumnya seteguk.
"Kamu ada rencana apa?" Tanya Ujang Arif.
Eki Tobingterdiam.
"Kalau tidak… … Kalau tidak kamu pergi ketempatAlfredo bekerja saja. Kamu bukannya pernah belajar menjadi penerjemah, perusahaannya sedang membutuhkan seorang penerjemah."
Alfredo adalah pacar Ujang Arif, dia mendirikan Perusahaan World Talk Group di kota G, skalanya sangat besar.
Eki Tobingmenggelengkan kepala dan berkata,"Tidak, ini sangat merepotkan."
Dia ingin mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan hidup, sehingga tidak ingin bergantung pada teman dan hubungan relasi.
"Yah, apa yang salah, toh saya juga tidak memintamu hanya memakan nasi saja, kamu juga harus bekerja." Ujang Arif menyikutnya.
"Sebenarnya sebelum kembali ke kampung halaman saya telah diwawancarai oleh sebuah perusahaan melalui internet, pihak mereka juga telah mengurus dokumen yang telah diterima mengenai ringkasan riwayatku, hanya menunggu beberapa hari saja, saya akan pergi wawancara lagi."
"Oh? Perusahaan apa?"
"Sanjaya Group!"
"Sanjaya Group?" Ujang Arif terkejut dengan mata melotot.
__ADS_1
Mengenai Sanjaya Group, hanya sedikit orang yang tidak tahu di kota G. Belum lagi, President dari Sanjaya Group adalah senior termasyur di kota G, namanya Jamal. Beliau merupakan kesayangan di Industri hiburan, Tokoh terkemuka di Industri Keuangan, juga mengendalikan sebagian besar jalur perekonomian di kota G.
Laki-laki tersebut merupakan tokoh juga penakhluk dunia!
"Ehm!" Eki Tobingmeletakkan gelasnya diatas meja, sambil mengangukkan kepala.
"Saya lihat hal ini" Ujang Arif sambil menggelengkan kepalanya,"Sanjaya Group, banyak sekali orang-orang berjuang gigih untuk dapat masuk kesana, jika tidak mengenal hubungan orang dalam bagaimana mungkin kamu dapat diterima masuk?"
Eki Tobingtertawa,"seberapa mungkinkah itu, setidaknya kucoba terlebih dahulu."
Sebenarnya dahulu semasa kuliah Eki Tobingtelah melakukan penelitian terhadap Sanjaya Group, Sanjaya Group merupakan perusahaan Internasional, meskipun dari luar terlihat berkembang dengan pesat, namun persaingan sesungguhnya masih Wendriminasi dari kalangan keluarga. Selain itu Sanjaya Group juga berbeda, setiap orang yang berhasil direkrut masuk, juga merupakan karyawan-karyawan yang memiliki potensi-potensi unggul.
Jika hanya mengandalkan relasi untuk masuk ke Sanjaya Group, itu sangat tidak mungkin!
"Kalau begitu kuucapkan selamat untuk keberhasilanmu yang akan segera tiba." tawa Ujang Arif, sambil mengangkat tinggi gelas anggur yang dipegangnya.
Eki Tobingjuga mengangkat gelasnya dan melakukan mereka melakukan tos bersama,"terima kasih!"
"Oh ya, apakah Pak AngZakiah mengetahui bahwa kalian sudah kembali?"
"Mengapa… … Kalian… …" Ujang Arif berhenti bertanya.
"Kamu ingin bertanya, mengapa tidak kembali untuk tinggal bersamanya?" senyum Eki Tobingmelanjutkan perkataanya.
Ujang Arif dengan pesona matanya, menganggukan kepala.
Eki Tobingsedikit menghela nafas,"sudah ada kedua orang, Bu Ayu danMZakiah, kamu pikir saya masih layak untuk kembali. Bahkan jika saya kembali, maka saya dan Rizki akan menjalani hari-hari yang meresahkan."
Setelah mengatakan itu, Ujang Arif menepuk dahinya dan berkata,"Saya rasa, bagaimana mungkin saya melupakan hal ini. Raline, saya lihat kamu tidak perlu menyewa kamar lagi, tinggallah bersamaku disini. Ada orang yang akan menjaga Rizki, jadi kamu dapat dengan tenang pergi bekerja."
"Itu… … Kita bicarakan kembali." Eki Tobingmengedipkan matanya, tidak memberikan kepastian pada jawabannya.
Sejak pertanyaan yang dilontarkan Rizki hari itu, ‘Apakah semua laki-laki berdiri untuk membuang air kecil’ menyadarkan Eki Tobingbahwa selama ini hanya sedikit orang yang dapat membimbing dan menasehatinya, diapun berharap bahwa kelak Rizki dewasa nanti bisa menjadi seorang laki-laki sejati dan memahami banyak kebenaran.
Setidaknya, dia dapat belajar memahami perbedaan antara jenis kelamin.
Eki Tobingselesai mencuci lalu kembali ke kamar, dan putranya sudah tertidur. Dia pelan-pelan berbaring disebelah Rizki, sambil mengusap matanya, pemuda ini sejak kecil sudah seperti pengukus, kerap berkeringat. Dengan penuh kasih, dia menyeka dahi putranya yang berkeringat, juga membelai rambutnya yang basah.
__ADS_1
Semasa hidup, ada baiknya jika aku selamanya bersama Rizki seperti ini.
Eki Tobingtidak mengetahui, bahwa laki-laki tampan dan lembut tersebut, saat itu masih menunggu kedatangannya di dalam mobil dekat depan pintu gerbang hotel.
PUjang Arifa dan Rio saputradi gerbang pintu depan, sedang mengantarkan kepergian tamu penting. Dengan mata tajam, dia melihat sebuah mobil yang terparkir yaitu milik kakak Nicholas.
Hei. Bukankah kakak besar sudah kembali, mengapa mobilnya masih ada disini?
Setelah dia dan Rio saputrapergi, jendela mobilnya masih belum tertutup rapat, maka kakak besar hanya ingin memastikan agar sesuatu yang kurang baik tidak terjadi.
PUjang Arifa menghampiri,"Kakak besar, kenapa masih belum kembali? Apa yang sedang kamu kerjakan?"
Abdul Qodirsebenarnya memang belum kembali, dia masih menatap kearah pintu, menunggu untuk melihat kembali bayangan wanita cantik itu. Matanya berkedip, dia sungguh menyukai senyuman manisnya. Sebenarnya tidak ingin memikirkan, namun terpikir kembali, haruskah berani bertanya.
"PUjang Arifa, apakah kamu mengenal wanita itu?"
PUjang Arifa tercengang bingung, lalu tersenyum berkata,"Kakak besar, siapa yang kamu maksud. Saya tidak mengenalnya, mengapa?"
Hati kecil Abdul Qodirmasih memikirkannya, namun semua orang yang melihatnya masih bersikap dingin.
"Semula saya rasa seperti mengenalnya, ternyata saya salah mengenali orang." jelas PUjang Arifa.
Abdul Qodirmenganggukan kepala, berkata,"Kalian pulang dahulu saja, saya masih ada sedikit urusan."
PUjang Arifa dan Rio saputramasuk kedalam mobil, Rio saputrapenasaran dan bertanya,"PUjang Arifa, siapakah perempuan yang dimaksud kakak besar?"
"Aku sungguh tidak tahu." jawab PUjang Arifa, sambil melemparkan tas bermerk kekursi belakang, raut wajahnya tampak benar-benar tidak tahu.
Rio saputrasegera mengeratkan sabuk pengaman, sekali lagi seakan berpura-pura bertanya.
"Benarkah? Sejak kapankah kakak suka mulai bergosip?"
Sepertinya laki-laki tersebut tidak bermaksud apa-apa, namun PUjang Arifa mengerutkan alisnya. Sekejap suasana hati wanita itu berubah menjadi kesal, rasa tidak puasnya tersirat lewat rautan alis wajahnya,"Kenapa? Apa kamu tidak percaya padaku, atau sedang menyelidiki aku? Bukannya sudah kukatakan hanya salah mengenali orang saja, kenapa tidak ada habisnya bertanya."
"Hehe… … Tidak apa-apa, kamu jangan marah, saya hanya bertanya-tanya saja."
Rio saputradalam hati telah menyadari bahwa sudah membuat kesal kakak PUjang Arifa, kemudian dia terdiam, lalu menyalakan mesin mobil dan meninggalkan parkiran hotel.
__ADS_1