
Bab 24 Saudara Sendiri Membantu Mengoleskan Obat
Belum lama ini, orang-orang di Sanjaya Group melihat sekelompok dokter datang dari departemen medis, semuanya membawa kotak obat, berjalan menuju kantor direktur dengan serius.
" Sebenarnya kondisi nya seperti apa? "
" Dengar –dengar orang yang semalam baru datang, wajahnya seperti rubah."
" Semalam baru datang sudah bisa menggoda direktur kami? Hebat sekali..."
Beberapa rekan wanita diam-diam mendiskusikan, masing-masing dari mereka bergosip dengan suasana hati yang berbeda. Setelah melihat Damiri keluar, mereka menutup mulutnya, lalu dengan cepat menundukkan kepala kemudian berpura-pura seperti sedang berada di kantor.
Mata Damiri dengan terang melihat semuanya, sudut matanya memandang dengan jijik.
Di dalam kantor direktur, Damiri mengetuk pintu lalu masuk.
Begitu masuk, melihat dua atau tiga dokter, berdiri di kedua sisi Raline, sementara direktur berdiri di sisi yang berlawanan dari Raline,lalu sedang mengatakan sesuatu.
"Direktur." Damiri datang menghampiri dan menyapa presiden seperti biasa.
Jika itu memang normal, direktur bahkan sedang sibuk, tetap bisa menyapa dia. Meskipun direktur sangat dingin orangnya, tetapi dia sangat rendah hati dan sopan dengan wanita.
Tetapi kali ini, direktur sepertinya tidak menyadari keberadaannya sama sekali. lalu matanya, sangat memperhatikan Raline.
"... Benar, dia jatuh. tidak tahu kaki yang mana keseleo, atau lututnya yang terluka...", Abdul Qodirsedang berbicara dengan tabib,
" Kalian lihat –lihat, apa kondisi nya parah."
" iya iya, aku lihat lihat."
Beberapa tabib kemudian bertanya sama Raline, lalu Eki Tobingmengatakan yang sebenarnya.
Sebenarnya dia hanya terjatuh, tidak ada perlu yang dikhawatirkan. Tidak tahu kenapa orang bisa menganggap ada masalah yang besar.
Tabib mengatakan, Nona Raline, sepatu anda bisa dilepaskan, Biarkan saya melihat, apakah ada kemungkinan cedera di pergelangan kaki.
Ini...
Tidak masuk akal, tapi bagaimanapun ini adalah kantor direktur, menyuruh dia di tempat seperti ini melepaskan sepatu nya, sepertinya sedikit.........
Namun,dia ragu dengan Nicholas, masalahnya bukan seperti ini lagi.
Abdul Qodirberkata kepada Pak Hadi, " Keluar dulu."
Pak Hadi mengangguk, berkata iya. Kemudian berbalik, lalu meninggalkan kantor.
Menedekat,kemudian Abdul Qodirberkata kepada Damiri, " Kamu juga keluar dulu."
"..." Damiri sepertinya tidak mempercayai telinganya.
Lalu dia melihat direktur dengan tanda tanya, kemudian berpikir mau pergi atau tidak.
Setelah pria itu mengatakan kalimat tadi, kemudian matanya fokus ke arah Raline, benar-benar mengabaikan keberadaannya.
Damiri yang selalu bangga, tidak tahan dengan pukulan ini.
Dia mengerutkan alisnya lalu melihat ke arah Raline, berbalik kemudian melangkah keluar dari ruangan.
Harus dikatakan, kalau Eki Tobingtidak hanya cantik, tetapi juga seperti batu giok.
Kulitnya yang putih, kukunya bersih, terawat. Batu giok itu, tidak ada warna lain lagi, seperti sepasang batu giok yang menawan.
Karena secara pribadi panggil oleh direktur, para tabib segan untuk menolak, setelah selesai memeriksa, lalu mereka melapor ke Nicholas.
" Pergelangan kaki Nona Eki Tobingbelum terkilir, hanya saja sedikit lecet di lututnya. Saya juga membawa salep, Itu hanya perlu dioleskan setiap hari, lalu akan baik-baik saja dalam beberapa hari. "
Abdul Qodirmengangguk, lalu meminta mereka duluan pergi.
Eki Tobingmembungkuk, bersiap mengenakan sepatu. Tetapi pria itu menghentikannya.
"Direktur, kamu..." Eki Tobingdengan bingung mengatakannya
Abdul Qodirmengambil salep dari atas meja, lalu berjongkok di samping Raline. Jarinya yang panjang membuka tutup salepnya, kemudian bau salepnya dengan cepat tericum oleh hidung Raline.
" Jangan, biarkan aku akan melakukannya sendiri. " Eki Tobingmenyadari apa yang akan dia lakukan, kemudian mencoba untuk mengambil salep dari tangannya.
"Jangan bergerak!" Alis Abdul Qodirnaik. "Orang sebesar ini, waktu berjalan bisa terjatuh, memang cocok buat kamu."
__ADS_1
Pria itu tampaknya menyalahkan, tapi pada kenyataannya ada rasa sayang, lalu membuat wajah Eki Tobingmerah dan putih.
Jari Abdul Qodirterkena salep, saat sebelum jarinya menyentuh lututnya, ada sesuatu yang membuatnya teringat,kemudian berkata, " Lepaskan."
" Ah? "
Lepas? Lepas apa!
" Maksudku, stockingnya sudah bisa dilepas."
Abdul Qodirmengaitkan bibirnya, lalu memandangnya dengan penuh makna.
Eki Tobingcanggung untuk mengedipkan matanya, tidak lama kemudian dengan maksud yang tidak jelas mengatakan, "aku...... ga pakai stoking. "
Sialan! Ini sangat memalukan.
Aku dari awal sudah tahu dia bisa membuat keributan hari ini, Bagaimana dia bisa memakai stoking? Ini semua salah Rizki, dia selalu suka mengambil stokingnya lalu memakaikannya ke pesawatnya, semua stokingnya tergores.
Abdul Qodiragak sedikit sulit percaya.
Kakinya yang panjang dan cantik, kulit putihnya yang menawan, tidak ada bintik - bintik, ada sedikit gigitan nyamuk. Jika bukan dia yang mengatakannya, dia benar-benar tidak percaya kaki nya yang bagai giok ini tidak memakai stoking sutra.
Ketika salepnya dioleksan dilututnya, Eki Tobinghanya merasa sedikit gatal diluka itu, tapi dengan cepat sudah tidak gatal lagi, bahkan tidak ada rasa sakit sama sekali.
Abdul Qodirterlahir sebagai bangsawan, tidak peduli apa yang dilakukannya, dia dipenuhi dengan aura bangsawan. Bahkan saat ini, dia setengah berjongkok, membantu mengoleskan salepnya ke Raline, semuanya sangat menawan.
Akhirnya, salepnya sudah dioleskan.
Sebelum Eki Tobingberdiri, dia mendengar lagi Abdul Qodirmemberi perintah.
" Duduklah sebentar, jangan buru-buru berdiri, jangan salahkan aku kalau lukanya sakit lagi."
"... Ya!" Eki Tobingmenjawab dengan suara yang membosankan.
Abdul Qodirdengan berwibawa mengambil tisu dari meja, dengan santai menghapus salep yang ada di tangannya. Kemudian, dia duduk di sampingnya.
Kakinya panjang yang dibungkus dengan celana setelan buatan Italia, Satu kakinya yang panjang kemudian disilangkannya, bergaya seperti bangsawan.
Entah bagaimana, dijarak yang begitu dekat, Eki Tobingmerasa napasnya sepertinya tertekan kemudian sedikit kesulitan.
Belum lama ini, orang-orang di Sanjaya Group melihat sekelompok dokter datang dari departemen medis, semuanya membawa kotak obat, berjalan menuju kantor direktur dengan serius.
" Sebenarnya kondisi nya seperti apa? "
" Dengar –dengar orang yang semalam baru datang, wajahnya seperti rubah."
" Semalam baru datang sudah bisa menggoda direktur kami? Hebat sekali..."
Beberapa rekan wanita diam-diam mendiskusikan, masing-masing dari mereka bergosip dengan suasana hati yang berbeda. Setelah melihat Damiri keluar, mereka menutup mulutnya, lalu dengan cepat menundukkan kepala kemudian berpura-pura seperti sedang berada di kantor.
Mata Damiri dengan terang melihat semuanya, sudut matanya memandang dengan jijik.
Di dalam kantor direktur, Damiri mengetuk pintu lalu masuk.
Begitu masuk, melihat dua atau tiga dokter, berdiri di kedua sisi Raline, sementara direktur berdiri di sisi yang berlawanan dari Raline,lalu sedang mengatakan sesuatu.
"Direktur." Damiri datang menghampiri dan menyapa presiden seperti biasa.
Jika itu memang normal, direktur bahkan sedang sibuk, tetap bisa menyapa dia. Meskipun direktur sangat dingin orangnya, tetapi dia sangat rendah hati dan sopan dengan wanita.
Tetapi kali ini, direktur sepertinya tidak menyadari keberadaannya sama sekali. lalu matanya, sangat memperhatikan Raline.
"... Benar, dia jatuh. tidak tahu kaki yang mana keseleo, atau lututnya yang terluka...", Abdul Qodirsedang berbicara dengan tabib,
" Kalian lihat –lihat, apa kondisi nya parah."
" iya iya, aku lihat lihat."
Beberapa tabib kemudian bertanya sama Raline, lalu Eki Tobingmengatakan yang sebenarnya.
Sebenarnya dia hanya terjatuh, tidak ada perlu yang dikhawatirkan. Tidak tahu kenapa orang bisa menganggap ada masalah yang besar.
Tabib mengatakan, Nona Raline, sepatu anda bisa dilepaskan, Biarkan saya melihat, apakah ada kemungkinan cedera di pergelangan kaki.
Ini...
Tidak masuk akal, tapi bagaimanapun ini adalah kantor direktur, menyuruh dia di tempat seperti ini melepaskan sepatu nya, sepertinya sedikit.........
__ADS_1
Namun,dia ragu dengan Nicholas, masalahnya bukan seperti ini lagi.
Abdul Qodirberkata kepada Pak Hadi, " Keluar dulu."
Pak Hadi mengangguk, berkata iya. Kemudian berbalik, lalu meninggalkan kantor.
Menedekat,kemudian Abdul Qodirberkata kepada Damiri, " Kamu juga keluar dulu."
"..." Damiri sepertinya tidak mempercayai telinganya.
Lalu dia melihat direktur dengan tanda tanya, kemudian berpikir mau pergi atau tidak.
Setelah pria itu mengatakan kalimat tadi, kemudian matanya fokus ke arah Raline, benar-benar mengabaikan keberadaannya.
Damiri yang selalu bangga, tidak tahan dengan pukulan ini.
Dia mengerutkan alisnya lalu melihat ke arah Raline, berbalik kemudian melangkah keluar dari ruangan.
Harus dikatakan, kalau Eki Tobingtidak hanya cantik, tetapi juga seperti batu giok.
Kulitnya yang putih, kukunya bersih, terawat. Batu giok itu, tidak ada warna lain lagi, seperti sepasang batu giok yang menawan.
Karena secara pribadi panggil oleh direktur, para tabib segan untuk menolak, setelah selesai memeriksa, lalu mereka melapor ke Nicholas.
" Pergelangan kaki Nona Eki Tobingbelum terkilir, hanya saja sedikit lecet di lututnya. Saya juga membawa salep, Itu hanya perlu dioleskan setiap hari, lalu akan baik-baik saja dalam beberapa hari. "
Abdul Qodirmengangguk, lalu meminta mereka duluan pergi.
Eki Tobingmembungkuk, bersiap mengenakan sepatu. Tetapi pria itu menghentikannya.
"Direktur, kamu..." Eki Tobingdengan bingung mengatakannya
Abdul Qodirmengambil salep dari atas meja, lalu berjongkok di samping Raline. Jarinya yang panjang membuka tutup salepnya, kemudian bau salepnya dengan cepat tericum oleh hidung Raline.
" Jangan, biarkan aku akan melakukannya sendiri. " Eki Tobingmenyadari apa yang akan dia lakukan, kemudian mencoba untuk mengambil salep dari tangannya.
"Jangan bergerak!" Alis Abdul Qodirnaik. "Orang sebesar ini, waktu berjalan bisa terjatuh, memang cocok buat kamu."
Pria itu tampaknya menyalahkan, tapi pada kenyataannya ada rasa sayang, lalu membuat wajah Eki Tobingmerah dan putih.
Jari Abdul Qodirterkena salep, saat sebelum jarinya menyentuh lututnya, ada sesuatu yang membuatnya teringat,kemudian berkata, " Lepaskan."
" Ah? "
Lepas? Lepas apa!
" Maksudku, stockingnya sudah bisa dilepas."
Abdul Qodirmengaitkan bibirnya, lalu memandangnya dengan penuh makna.
Eki Tobingcanggung untuk mengedipkan matanya, tidak lama kemudian dengan maksud yang tidak jelas mengatakan, "aku...... ga pakai stoking. "
Sialan! Ini sangat memalukan.
Aku dari awal sudah tahu dia bisa membuat keributan hari ini, Bagaimana dia bisa memakai stoking? Ini semua salah Rizki, dia selalu suka mengambil stokingnya lalu memakaikannya ke pesawatnya, semua stokingnya tergores.
Abdul Qodiragak sedikit sulit percaya.
Kakinya yang panjang dan cantik, kulit putihnya yang menawan, tidak ada bintik - bintik, ada sedikit gigitan nyamuk. Jika bukan dia yang mengatakannya, dia benar-benar tidak percaya kaki nya yang bagai giok ini tidak memakai stoking sutra.
Ketika salepnya dioleksan dilututnya, Eki Tobinghanya merasa sedikit gatal diluka itu, tapi dengan cepat sudah tidak gatal lagi, bahkan tidak ada rasa sakit sama sekali.
Abdul Qodirterlahir sebagai bangsawan, tidak peduli apa yang dilakukannya, dia dipenuhi dengan aura bangsawan. Bahkan saat ini, dia setengah berjongkok, membantu mengoleskan salepnya ke Raline, semuanya sangat menawan.
Akhirnya, salepnya sudah dioleskan.
Sebelum Eki Tobingberdiri, dia mendengar lagi Abdul Qodirmemberi perintah.
" Duduklah sebentar, jangan buru-buru berdiri, jangan salahkan aku kalau lukanya sakit lagi."
"... Ya!" Eki Tobingmenjawab dengan suara yang membosankan.
Abdul Qodirdengan berwibawa mengambil tisu dari meja, dengan santai menghapus salep yang ada di tangannya. Kemudian, dia duduk di sampingnya.
Kakinya panjang yang dibungkus dengan celana setelan buatan Italia, Satu kakinya yang panjang kemudian disilangkannya, bergaya seperti bangsawan.
Entah bagaimana, dijarak yang begitu dekat, Eki Tobingmerasa napasnya sepertinya tertekan kemudian sedikit kesulitan.
__ADS_1