
Bab 35 Alasan Dibalik Keambisiusan
Abdul Qodirsama sekali tidak memelankan langkah kakinya, dan masih terus saja berjalan ke arah lift khusus untuk presdir.
Pintu lift terbuka, dia melangkahkan kaki jenjangnya masuk kedalam lift.
Saat dia membalikkan badannya dia melihat wanita yang mengikutinya sedari tadi masih mematung diluar lift. Abdul Qodirdengan nada tidak sabar berkata, "masuk!"
"Baik."
Eki Tobingtanpa berkata apa-apa menunduk mulai memasuki lift.
Memanggil nya untuk masuk apa tidak bisa dengan baik-baik, kenapa harus segalak itu dan dengan tampang dinginnya itu.
Pintu lift perlahan mulai tertutup, Eki Tobingbaru menyadari bahwa lift nya naik ke atas. Hatinya tidak bisa dipungkiri mulai muncul rasa curiga, ruang presdir bukannya di lantai paling atas gedung perusahaan, apa iya diatasnya lagi masih ada satu lantai? Ternyata benar! Diatas masih ada satu lantai lagi.
Tetapi orang yang tau keberadaan lantai ini tidaklah banyak, selain Abdul Qodirdan asistern terdekatnya, dan juga ada lagi pegawai yang sering datang kemari untuk bersih-bersih dan mempersiapkan makanan.
Pintu lift terbuka, Eki Tobingberjalan dibelakang Abdul Qodirdan mengikutinya keluar.
Saat melihat pemandangan didepannya, seketika sorot matanya bersinar cerah, benar-benar seperti dunia lain!
Benar-benar sebuah cafe ruang terbuka yang sangat terbuka, bukan, lebih tepatnya disebut bar kecil.
Bukan, ini tempat menikmati liburan, tempat...... Eki Tobingsudah tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata lagi.
Di atap ada sebuah air mancur kecil ditengah-tengah, didalmnya terdapat sebuah gunung buatan, Eki Tobingmelangkahkan kakinya mengamati lebih dekat, didasar kolam terlihat berbagai macam ikan emas yang sedang menggerak-gerakan ekornya bermain-main.
Disetiap undakan dihias dengan ornamen batu berwarna putih yang disusun rapi, beragam ornamen ala Eropa yang sangat kental dengan aura mistis silla kuno. Sofa yang berwarna abu-abu gelap terlihat sangat empuk dan nyaman, ukurannya yang besar sehingga jika tiga sampai lima orang tidur diatasnyapun tidak akan terasa penuh sesak.
Tepat didepan air mancur adalah sebuah tempat seperti bar kecil, lubang-lubang dengan berbagai ukuran tertata rapi dibagian belakang, didalamnya tersusun rapi berbagai bentuk gelas minuman bermerk dengan berbagai jenis dari berbagai negeri.
"Duduklah, berdiri selama itu apa tidak capek?" Abdul Qodirberkata sambil kaki panjangnya melangkah ke undakan bagian bar, dia dengan tubuhnya yang tinggi dan tegak itu berdiri sejajar dengan barisan anggur yang mahal, dia hanya berdiri diam begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun, benar-benar sebuah pemandangan yang indah dan sangat menyejukkan mata.
Eki Tobingmasih tertegun disana.
__ADS_1
Tetapi dia masih menuruti kata-katanya dan pergi menuju sofa disebelah pinggir dan duduk dengan pelan.
Tidak lama kemudian dia melihat Abdul Qodiryang sedang berjalan mendekat sambil membawa minuman.
"Mau minum anggur tidak?" Abdul Qodirduduk didekatnya, tangannya sibuk menggoyang-goyangkan gelas yang berisi minuman didalamnya.
Eki Tobingseketika memelototkan kedua matanya, ternyata presdie membawanya kesini hanya untuk mentraktirnya minum? Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Presdir, sekarang saya masih berada dalam jam kerja."
Abdul Qodirjustru tidak berpikir demikian, kemudian berkata, "kamu kenapa lagi?"
Hati kecil Eki Tobingmulai curiga!
Dari gosip yang beredar diketahui bahwa Abdul Qodiradalah seseorang yang gila kerja, terutama saat dirinya berada diperusahaan, membuat setiap orang merasakan aura dinginnya. Tetapi yang Eki Tobinglihat dia hanyalah adalah konglomerat yang suka bermain-main.
Dia sekilas memandang Nicholas, mendapati bahwa dia sudah melepaskan jasnya, menggunakan tangannya dan berusaha melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya. Selanjutnya,dia membuka tiga kancing baju dari kemeja yang dipakainya, terlihat dadanya kekarnya yang dia latih setiap hari itu, memperlihatkan kesan bugar dan seksi.
Wajah Eki Tobingyang putih cerat itu mulai sedikit memancarkan rona merah.
Laki- laki ini bagaimana bisa semakin lama semakin membuat seseorang tidak bisa menolak auranya.
Saat ini sudah sekitar pukul 6 malam, lampu malam mulai bersinar terang, menerangi gelapnya malam itu.
Dalam pengawasan Nicholas, Eki Tobingmencoba mencicipi seteguk anggur.
Entah kenapa dia begitu saja mengiyakan tawaran dari Nicholas,anggur tidak memabukkan, hanya orang itu sendiri yang tidak dapat mengontrol rasa mabuk. Seperti pemandangan indah pada saat ini, tidak ingin mabuk pun tidak semudah itu.
Eki Tobingbangkit dari tempat duduknya, berdiri disamping anak tangga berornamen batu putih, pandangannya tertuju pada tempat jauh disana, angin malam yang sepoi-sepoi, dengan perlahan menyentuh rambut nya terurai lepas. Wanita cantik yang membuat setiap hati pria berdebar berdiri di ujung sorot lampu neon, pemandangan seperti ini benar-benar membuat Abdul Qodirtidak bisa mengalihkan pikiran dan pandangannya.
"Raline."
Abdul Qodirmulai beranjak menuju ke arahnya. Tangan kirinya diletakkanpada pijakan anak tangga, dan tangan satunya lagi dengan kerennya dimasukkan kedalam saku celana. Terdengar suara panggilan yang sangat lirih, bisikan yang terdengar begitu mesra, berputar-putar di bibir, dan dikeluarkannya seketika.
Entah karena anggur nya yang memabukkan atau suasana disini yang memabukkan.Eki Tobingpelan-pelan mengangkat kepalnya, sorot matanya yang bening dan cerah seperti air dimusim gugur, jernih seperti mata air di pegunungan yang dingin. Membuat orang tidak mampu mendeskripsikannya lebih jauh.
Saat ini, wajah dari Abdul Qodirterlihat seperti dewa yang sedang berada didepannya, ada kelembutan dalam sorot matanya yang dalam. Dalam pemandangan yang menakjubkan ini, merupakan sebuah gambaran yang sangat cerah.
__ADS_1
"Presdir..." bibir merah Eki Tobingseketika bergetar, suaranya selembut dan sebening percikan air pada bulan maret, perlahan mengalir ke dalam hati Nicholas.
Ruang dihatinya terasa hangat seketika, dan kemudian menjadi sedikit melunak
Dia dengan menatap kedua mataEki Tobingdan bertanya, "kamu dan Rio saputraada hubungan apa?"
Sorot mata Eki Tobingsedikit bergetar, pertanyaan itu, nama itu, membuat sorot matanya meredup. Dalam sekejap, masalah yang terjadi limat tahun yang lalu seketika mulai terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Orang yang dulu begitu dicintainya, sekarang berubah menjadi seperti hamparan sawah yang sangat luas. Perasannya benar-benar bercampur aduk jadi satu. Sorot mata cerah itu berubah menjadi sedikit buram dan berair, bibir merahnya itu perlahan menjadi kaku, mengalihan pandangannya ke arah cahaya berkilauan yang jauh disana.
Terlihat ekspresi wajahnya yang sangat sedih dan terluka, seperti ada sesuatu yang dengan ssah untuk diugkapkan. Sebenarnya meskipun dia tidak mengungkapkannya, Abdul Qodirjuga sudah dapat menebak jawabannya.
"dia adalah....."
"tidak perlu dijelaskan."saat Eki Tobingakan menjelaskan,Abdul Qodirseketika menghentikannya.
Dia memalingkan wajahnya menatap ke arah Nicholas.
Ekspresi wajahnya menunjukkan ada sedikit senyuman yang tergantung disana, tetapi tidak diperlihatkan dengan jelas.
"Oke."Eki Tobingtersenyum pahit,dia juga menyadari bahwa dirinya tidak peru sampai menjelaskan kepadanya.
"apakah dia mengganggumu?" hari ini sudah memergoki mereka sedang bersama sebanyak dua kali, sorot mata Abdul Qodirmenangkap ada ekspresi ketidak senangan pada raut wajah Eki Tobingyang bening dan cerah itu.
Tidak sulit untuk mengetahuinya, dia pasti sedang memikirkan Dirga.
Saat ini, Abdul Qodirseketika menjadi sedikit tenang!
"tidak." Eki Tobingmenjawab sambil menahan ujung bibirnya.
Dulu memang tidak pernah mengganggunya, tetapi sekarang.......
Mungkin tindakannya dimasa lalu benar-benar melukainya, jadi setelah berlalu selama lima tahun dia masih menyimpan kebencian yang mendarah daging terhadapnya.
"aku yang terlebih dulu berbuat salah kepadanya."
__ADS_1
Eki Tobingsaat mengatakan hal ini tubuhnya bergetar tanpa henti.
Perkataan yang sebenarnya tidak begitu menyakitkan, tetapi membuat hati Abdul Qodirterasa begitu tertusuk berkali-kali.