Overbearing CEO : Petting Cute Wife

Overbearing CEO : Petting Cute Wife
Bab 21 Diam-Diam Mengatur


__ADS_3

Bab 21 Diam-Diam Mengatur


Ada wanita dari luar masuk, bukan orang lain, kebetulan PUjang Arifa dan Damiri.


Pinggang PUjang Arifa berlenggak-lenggok, menggoyangkan kedua kaki nya yang panjang, kaki nya menapakki lantai lalu menghasilkan suara. Damiri mengikutinya dari belakang.


Tidak lama setelahnya, PUjang Arifa beridiri di depan cermin, lalu berdandan.


" Lakukan saja apa yang baru saja aku katakan. Jangan sampai ketahuan."


Eki Tobingmengerutkan kening. Menganalisa, Tampaknya itu suara PUjang Arifa.


"Jangan khawatir, jangan khawatir tentang tugasku!" Damiri tersenyum halus.


PUjang Arifa mengangguk, kemudian berjalan ke sampingnya, dia mengulurkan tangan dan menepuk pundaknya. " Jangan khawatir, aku akan urus urusanmu. "


Saat dia mengatakan ini, dengan pandangan matanya yang seperti memberikan harapan, dia memberikan Damiri sebuah harapan.


Baru setelah Damiri pergi, senyum PUjang Arifa memudar seperti kilau cahaya matahari yang terbenam. Wajah cantik itu digantikan oleh seringaian yang dingin.


Dia menoleh, dan melihat diri sendiri di cermin, tetapi pikirannya melayang ke malam itu yang sudah lima tahun yang lalu.


Dia tidak akan pernah lupa, ketika di hari keduanya Rio saputrabangun dan menyadari dia sedang tidur dengan dirinya sendiri, dia sangat terkejut, memohon padanya, untuk tidak mengatakan hal itu!


Bibir merah PUjang Arifa yang lembut. Lima tahun yang lalu, dia bisa merusak reputasi Raline, Lima tahun kemudian, dia bisa menghancurkannya seperti semut!


Eki Tobingmenahan napas, sampai kedua wanita itu pergi, dia baru menghela napas.


Tidak salah lagi ini suaranya PUjang Arifa, tapi siapa wanita yang satu lagi  itu? Apa arti yang disembunyikan dalam percakapan mereka?


Target mereka, sebenarnya siapa?


Pekerjaan di hari pertama sangat lancar, dan semua kekhawatiran rasanya sedikit berlebihan.  Eki Tobingmengirimkan dokumen yang perlu diterjemahkan sendiri ke kepala sekretaris. Damiri, kepala sekretaris yang cerdas dan cantik, kecantikannya terlihat sangat alami.


Setelah pulang kerja Eki Tobinglangsung pulang, tidak tahu apakah Rizki sendirian di rumah nakal atau tidak.


" Mama Raline..."

__ADS_1


Mendorong untuk membuka pintu, Rizki dan Eki Tobingberpelukan hangat. Mulut kecil pria kecil itu dengan manja mencium pipinya. Dia merengek.


Saat ini Eki Tobingmerasa takut akan menyesal lagi, namun kalau itu demi Rizki, semua nya berharga.


" Rizki, Bibi Ujang Arif kemana? " Eki Tobingmengganti sepatunya di teras, kemudian memegang tangan  Rizki masuk ke dalam ruangan.


Rizki memalingkan matanya yang hampir menitikkan air mata,lalu berkata dengan tatapan serius, "  Mood bibi sedang tidak bagus. "


" Oh? benarkah, apakah kamu ada menghiburnya? " Eki Tobingberjalan ke ruangan, lalu  pelayan datang menyambut dengan senyuman yang sopan.


Ibu dan anak itu duduk di sofa, dan pelayan itu membawakan buah segar dan bersih.


" Nona Raline, tuan muda, makanlah sedikit buah-buahannya. "


" Terima kasih." Eki Tobingtersenyum malu.


" Terima kasih tante." Rizki juga berkata dengan sopan.


Pelayan pelan-pelan mengelus kepala Rizki, lalu berkata kepada Raline, "Nona Raline, kalian duluan duduk istirahat sebentar lalu makan sedikit buah-buahan, sebentar lagi makan malam."


"Maad merepotkan anda, Liki. " Eki Tobingdengan cepat berdiri.


Rizki mengerti bagaimana mengupas anggur, tangannya yang berdaging diangangkatnya, "ma.. ma... aku akan berikan ke kamu anggur yang paling enak. "


"Terima kasih Rizki, Rizki benar-benar luar biasa." Eki Tobingsangat terharu, sehingga dia memakan anggur yang telah dikupas putranya. "Rizki, apakah kamu tahu kenapa Bibi Ujang Arif tidak bahagia? "


"Ini..... aku tidak tahu, " Rizki menggaruk -garuk rambutnya. " pas sore hari bibiku yang cantik menjawab telepon, lalu dia tidak senang. "


Mungkin bertengkar dengan Alfredo?


Eki Tobingketika dia hamil baru berusia 18 tahun dan meninggalkan kota G. Meskipun Ujang Arif beberapa tahun lebih tua darinya, dia tidak mengenal Alfredo pada saat itu, jadi Eki Tobingtidak pernah bertemu dengan Alfredo, hanya saja setelah mendengar beberapa kali. Dari yang dia perkenalkan, dia pikir Alfredo adalah pria yang baik.


" Rizki, duduk di sini."


" ehm..., ma..., kamu pergilah." Rizki mengangguk dengan gembira, kemudian mengambil  beberapa buku dengan cerita pendek dan terlihat seperti beberapa buku keuangan.


Eki Tobingmenggelengkan kepalanya dan terdiam, tidak mengerti, mengapa pria sekecil ini tertarik pada hal-hal ini. Selain itu, ada banyak kata-kata yang  di dalamnya seharusnya Rizki tidak mengerti  sama sekali.

__ADS_1


Datang ke balkon yang besar di lantai atas, Eki Tobingmelihat Ujang Arif duduk sendirian di sofa di balkon yang terbuka, dikelilingi oleh bunga-bunga yang bermekaran, anggur merah yang cantik, tidak tahu mengapa, Eki Tobingmerasa Ujang Arif saat ini ada semacam kesepian yang tak terkatakan.


" Ujang Arif.. " Dia berjalan ke sana dan memanggil dengan lembut.


"Ah..., Raline, kamu sudah kembali." Ujang Arif mengangkat kepalanya, kemudian menatap dengan dua mata besar seperti anggur ungu di wajahnya yang cantik, Eki Tobingmemperhatikan bahwa matanya tampaknya sudah berlinang air mata, oleh karena itu bisa secerah ini.


Eki Tobingkemudian duduk.


Untuk sementara, keduanya tidak berbicara, sama sama terdiam, dan dengan tenang mereka duduk.


"... Ujang Arif.. " Pada akhirnya, Eki Tobingtidak tahan.


Ujang Arif tersenyum, meletakkan tangannya di atasnya, dan berkata, " Tidak ada, jangan khawatirkan aku, kita sering seperti ini, sebenarnya itu semua masalah sepele. "


"Oh. "


Eki Tobingmengangguk, melihat dia seperti sedang  tidak ingin berbicara, dia juga tidak bisa banyak bertanya lagi.


" Bagaimana, bekerja di hari pertama? Bagaimana perasaanmu? " Ujang Arif memalingkan kepalanya dan matanya sedikit menyipit.


" Sangat bagus. " Sebenarnya kalau diceritakan ini adalah cerita yang panjang, dan Eki Tobingjuga sedikit kesal.


Ujang Arif mengangguk, " Ehmm.., asalkan itu bagus. "


Kedua wanita dengan pikirannya masing-masing saling memandang, lalu  keduanya tersenyum.


" Okelah, tidak usah dibicarakan lagi, Ayo, pergi makan. " Ujang Arif berkata dan bangkit, Dia menarik tangan Eki Tobingdan berkata, " Aku tahu kamu hari ini  hari pertama bekerja, secara khusus aku meminta Liki untuk menyiapkan lebih banyak sayur. Aku ingin membawa kamu dan Rizki ke restoran, tetapi aku benar-benar takut kepada kamu. " setelah mengatakannya, dia menepuk dahi Raline.


" Takut padaku? " Eki Tobingbingung.


" Aku khawatir kamu akan menghilang lagi!"


Eki Tobingmerasa canggung.


" Sebenarnya, aku tahu, kamu pasti bertemu dengan seseorang lagi. Tapi, karena kamu tidak mau mengatakannya, jadi aku tidak bertanya."


" Sebenarnya, aku......" Eki Tobingragu-ragu, ia  tidak tahu apakah harus mengatakan semua hal yang terjadi malam itu.

__ADS_1


" Yah, jangan pikirkan lagi. Ayok pergi makan!


__ADS_2