
Bab 37 Mencari Rumah Kecil
Eki Tobingmembungkukkan badannya, membungkusnya dengan handuk memeluk tubuh anaknya yang basah itu keuar dari air.
Anaknya itu mendekatkan kepalanya kepadanya dan berbisik-bisik disampingtelinganya berkata, "mama, apa mama sangat takut kepada paman yang tadi itu?"
"yang mana?"
"itu paman yang kita temui tadi diluar apartemen."
Eki Tobingmengerutkan keningnya pelan,tepat sebelum itu, perasaan ketika laki-laki itu mentapnya dengan dalam kembali muncul dalam pikirannya. Tetapi dia hanya menjawab dengan lembut, "bagaimana mungkin, paman itu sangat baik, dia sampai membiarkan kita tinggal dirumahnya."
anak kesayangannya mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, dan dengan percaya diri berkata, "dia memang sangat tampan, tetapi jika dibandingkan dengan paman yang menyebalkan itu terlampau sangat jauh."
Eki Tobinghanya berpura bahwa dirinya mengantuk, tidak menaggapi dengan serius perkataan anaknya itu.
Setelah membaringkan anak kesayangannya ke atas kasur, Eki Tobingsegera membuka laptopnya, mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan minggu depan.
"mama!"
Dari belakang terdengar suara anak kesayangannya memanggilnya.
Eki Tobingmembalikkan badannya dan melihat bahwa anak kesayangannya dengan selimutnya yang terlepas dari badannya, Kedua tangannya menahan rahangnya, tergeletak diatas kasur sambil menatap ke arahnya.
Eki Tobingtersenyum seketika kemudian mengusap-usap hidungnya yang tidak gatal itu, kamu tidak malu?"
anak kesayangannya tersenyum kegirangan sambil menutupi wajah mungilnya itu.
Eki Tobingkembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian kembali mendengar anak kesayangannya itu memanggil namanya.
"mama....."
Suaranya kali ini terdengar lebih manja dari suara yang dia dengar sebelumnya.
Eki Tobingtidak bisa berbuat apa-apa dan menutup laptopnya itu dan menuju ke arah kasur dan terduduk disampingnya kemudian berkata de Bab 37 Mencari Rumah Kecil
Eki Tobingmembungkukkan badannya, membungkusnya dengan handuk memeluk tubuh anaknya yang basah itu keuar dari air.
Anaknya itu mendekatkan kepalanya kepadanya dan berbisik-bisik disampingtelinganya berkata, "mama, apa mama sangat takut kepada paman yang tadi itu?"
"yang mana?"
"itu paman yang kita temui tadi diluar apartemen."
Eki Tobingmengerutkan keningnya pelan,tepat sebelum itu, perasaan ketika laki-laki itu mentapnya dengan dalam kembali muncul dalam pikirannya. Tetapi dia hanya menjawab dengan lembut, "bagaimana mungkin, paman itu sangat baik, dia sampai membiarkan kita tinggal dirumahnya."
anak kesayangannya mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, dan dengan percaya diri berkata, "dia memang sangat tampan, tetapi jika dibandingkan dengan paman yang menyebalkan itu terlampau sangat jauh."
Eki Tobinghanya berpura bahwa dirinya mengantuk, tidak menaggapi dengan serius perkataan anaknya itu.
Setelah membaringkan anak kesayangannya ke atas kasur, Eki Tobingsegera membuka laptopnya, mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan minggu depan.
"mama!" ngan lembut, "kenapa sayang, kenapa malah belum tidur?"
anak kesayangannya memutar badannya, lemak ditubuhnya yang mempal, perutnya yang gembul itu terlihat begitu saja.
Eki Tobingmencubit hidungnya,membantu menyelimutinya kembali.
"anak kesayangannya, apa kamu mempunyai hal yang ingin dibicarakan dengan mama?"
Eki Tobingsangat memahami sifat anak kesayangannya, dia pasti karena ada sesuatu jadi berbuat seperti ini.
Ternyata benar, anak kesayangannyadengan ekspresi memelasnya seketika berada dalam pelukan Raline, menyunkan kedua bibirnya yang mungil itu.
"mama Raline,kapan kita akan mempunyai rumah?"
Mendengar perkataannya membuat hati kecil Eki Tobingbergetar.
Memeluk dengan erat buah hatinya yang berada dipelukannya itu, "sayang, buaknnya kita selalu berada dirumah?"
Buah hatinya yang berada dipelukannya itu menggelengkan kepalanya,"bukan bukan. Ini adalah rumah Bibi Ujang Arif, bukan rumah milik mama, aku hanya ingin rumah yang ada aku dan mama didalamnya. Boleh tidak?"
Mata Eki Tobingbergetar dan mengeluarkan sedikit air dari dalamnya.
"baiklah, mama berjanji akan segera mengurus permintaan kecilmu ini dan akan membuat anak kesayangan mama ini mempunyai rumah sendiri."
anak kesayangannya yang mendapatkan keinginanya, suasana gembira dalam hatinya seketika melonjak keluar dan berteriak kegirangan.
"hidup mama……hidup mama……"
Eki Tobingseketika mencubit bibirmungilnya itu,kemudian anak dan ibu tersenyum bersama.
Keesokan siang harinya, Eki Tobingdi internet mencari informasi mengenai kontrakan di kota G, kemudian seketika dikagetkan oleh suara telepon yang memecah keheningan.
"halo, siapa ya?" dia mengangkat teleponnya dan melihat nomor telepon yang tertera di layar, ternyata adalah nomor dari kota G dan kemudian bertanya dengan sopan.
"……Raline!"
Dari dalam hapenya terdengar suara laki-laki yang sedikit berat dan bergetar.
Seketika air matanya mengalir keluar begitu saja.....
Selam dalam perjalanan di mobil, anaknya yang menggemaskan itu dengan kegirangan memandangi ke arah luar kaca mobil, melihat keluar ramai dan megahnya kota G.
"mama Raline,kita ini akan pergi kemana? taman bermain kah?"
Eki Tobingmenggelengkan kepalanya, wajah cantik dan menawannya itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraan yang dirasakannya saat ini.
"kita pergi untuk menemui kakekmu."
"kakek?" anak kesayangannya terdiam seketika,dalam ingatannya sepertinya tidak pernah muncul sosok kakek ini,"kakek itu siapa?"
__ADS_1
"kamu akan tau nanti ketika sampai."
Kemudian keduan anak dan ibu itu turun dari mobil, dari pintu masuk Hotel Emperor, terlihat penjaga pintu dari jauh sudah menyambut kedatangan mereka dan membawa mereka masuk kedalam restoran.
Hotel Emperora dalah salah satu restoran bintang lima di kota G, dengar-dengar hubungan diantara anak dari keluarga Tuan Dong dan Keluarga Qodir Group sangat bagus, sehingga membuat restoran ini menjadi sangat terkenal dan banyak dikunjungi orang, para tamunya seakan berasal dari lima benua, kebanyakan adalah para selebriti kaya.
Dalam panduan pelayan, mereka telah sampai pada salah satu ruangan.
Setelah membuka pintu ruangan itu Eki Tobingmelihat ayahnya sedang duduk sendirian didalam.
"……papa!"suara Eki Tobingsedikit bergetar, air mata yang berada dikelopak matanya itu seketika tidak terbendung lagi.
"Raline."Pak AngZakiah beranjak dari tempat duduknya,berkata dengan suara yang penuh dengan perasaan campur aduk.
"papa."Eki Tobingterisak dan berlari kedalam, menuju ke arah Pak AngZakiah dan segera memeluknya.
"anakku, kamu sudah kembali, kamu sudah kembali." Pak AngZakiah dengan pelan menepuk punggung Raline, sorot matanya penuh dengan kasih sayang, dia dengan sedikit bergetar menggenggam tangan Raline.
Eki Tobingbenar-benar merasa sangat tersanjung.
Papanya yang waktu itu mengusirnya keluar, dia mengira dia selamanya tidak akan berjumpa dengannya lagi, tetapi tidak disangka, sekarang......
Pak AngZakiah mengerti pemikiran yang tersimpan didalam hatinya"Eki Tobing……kamu harus tau, papa dulu berbuat seperti itu kepadamu bukan karena apa-apa......
Sosok papa yang berada dalam ingatannya adalah dia yang baik hati dan penuh kasih sayang, sejak kapan bisa berkata dengan lembut seperti ini?
Eki Tobingtidak dapat menghindari bahwa dirinya merasa sangat tersentuh, dan membuat air matanya seketika semakin mengalir deras.
Pandangan mata Pak AngZakiah menurun, sorot matanya penuh dengan kasih sayang tertuju pada sosok anak kecil yang berdiri dismping Raline. Anak kecil itu terlihat sangat pintar dan sangat menggemaskan
Dia menatapnya dengan dalam, alis matanya, wajahnya yang penuh dengan semangat, benar-benar adalah tiruan dari Raline.
Eki Tobingseketika mengatur kembali perasaannya, kemudian menggandeng tangan buah hatinya menarinya kedepannya. "Rizki, apa kamu tau dia siapa? Dia adalah kakek kamu, papa nya mama."
"kakek apa kabar." Rizki memanggilnya sekali,"semoga kakek semakin lama semakin terlihat muda dan semakin panjang umur."
"aiyo, cucuku yang sangat nurut, cepat beri kakek pelukan."
Pak AngZakiah bersuka cita dalam kegembiraan dan sedikit membungkukkan tubuhnya menggendong cucunya itu, dan mengamatinya dari dekat.
Tidak dapat dipungkiri, alis mata dari cucunya ini terlihat sangat indah.
Alisnya yang hitam pekat, matanya yang hitam dan besar, dan juga bentuk hidungnya semuanya benar-benar sangat indah.
"baiklah, ternyata adalah seekor harimau kecil! Kakek menyukainya!" kebahagiaan Pak AngZakiah yang tidak sedikitpun terlihat palsu, kemudian dari dari tubuhnya mengeluarkan amplop berwarna kuning kecoklat-coklatan, dan terlihat ada tonjolan dari dalamnya dan diberikannya kepada cucunya itu. "cucuku tersayang, ini, kakek memberimu hadiah pertemuan yang sangat besar."
"terimakasih kakek, kakek memang yang terbaik!"perkataan anak kecil memang sangat enak didengar.
Pak AngZakiah seketika tersenyum lebar.
Eki Tobingkhawatir tubuh ayahnya tidak dapat menopang berat badan anaknya, kemudian memberinya sebuah isyarat.
"Rizki,kamu terlalu berat, cepat turun, kakek bisa kelelahan karena menggendongmu.
Eki Tobingmembungkukkan badannya, membungkusnya dengan handuk memeluk tubuh anaknya yang basah itu keuar dari air.
Anaknya itu mendekatkan kepalanya kepadanya dan berbisik-bisik disampingtelinganya berkata, "mama, apa mama sangat takut kepada paman yang tadi itu?"
"yang mana?"
"itu paman yang kita temui tadi diluar apartemen."
Eki Tobingmengerutkan keningnya pelan,tepat sebelum itu, perasaan ketika laki-laki itu mentapnya dengan dalam kembali muncul dalam pikirannya. Tetapi dia hanya menjawab dengan lembut, "bagaimana mungkin, paman itu sangat baik, dia sampai membiarkan kita tinggal dirumahnya."
anak kesayangannya mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, dan dengan percaya diri berkata, "dia memang sangat tampan, tetapi jika dibandingkan dengan paman yang menyebalkan itu terlampau sangat jauh."
Eki Tobinghanya berpura bahwa dirinya mengantuk, tidak menaggapi dengan serius perkataan anaknya itu.
Setelah membaringkan anak kesayangannya ke atas kasur, Eki Tobingsegera membuka laptopnya, mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan minggu depan.
"mama!"
Dari belakang terdengar suara anak kesayangannya memanggilnya.
Eki Tobingmembalikkan badannya dan melihat bahwa anak kesayangannya dengan selimutnya yang terlepas dari badannya, Kedua tangannya menahan rahangnya, tergeletak diatas kasur sambil menatap ke arahnya.
Eki Tobingtersenyum seketika kemudian mengusap-usap hidungnya yang tidak gatal itu, kamu tidak malu?"
anak kesayangannya tersenyum kegirangan sambil menutupi wajah mungilnya itu.
Eki Tobingkembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian kembali mendengar anak kesayangannya itu memanggil namanya.
"mama....."
Suaranya kali ini terdengar lebih manja dari suara yang dia dengar sebelumnya.
Eki Tobingtidak bisa berbuat apa-apa dan menutup laptopnya itu dan menuju ke arah kasur dan terduduk disampingnya kemudian berkata de Bab 37 Mencari Rumah Kecil
Eki Tobingmembungkukkan badannya, membungkusnya dengan handuk memeluk tubuh anaknya yang basah itu keuar dari air.
Anaknya itu mendekatkan kepalanya kepadanya dan berbisik-bisik disampingtelinganya berkata, "mama, apa mama sangat takut kepada paman yang tadi itu?"
"yang mana?"
"itu paman yang kita temui tadi diluar apartemen."
Eki Tobingmengerutkan keningnya pelan,tepat sebelum itu, perasaan ketika laki-laki itu mentapnya dengan dalam kembali muncul dalam pikirannya. Tetapi dia hanya menjawab dengan lembut, "bagaimana mungkin, paman itu sangat baik, dia sampai membiarkan kita tinggal dirumahnya."
anak kesayangannya mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, dan dengan percaya diri berkata, "dia memang sangat tampan, tetapi jika dibandingkan dengan paman yang menyebalkan itu terlampau sangat jauh."
Eki Tobinghanya berpura bahwa dirinya mengantuk, tidak menaggapi dengan serius perkataan anaknya itu.
__ADS_1
Setelah membaringkan anak kesayangannya ke atas kasur, Eki Tobingsegera membuka laptopnya, mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pekerjaan minggu depan.
"mama!" ngan lembut, "kenapa sayang, kenapa malah belum tidur?"
anak kesayangannya memutar badannya, lemak ditubuhnya yang mempal, perutnya yang gembul itu terlihat begitu saja.
Eki Tobingmencubit hidungnya,membantu menyelimutinya kembali.
"anak kesayangannya, apa kamu mempunyai hal yang ingin dibicarakan dengan mama?"
Eki Tobingsangat memahami sifat anak kesayangannya, dia pasti karena ada sesuatu jadi berbuat seperti ini.
Ternyata benar, anak kesayangannyadengan ekspresi memelasnya seketika berada dalam pelukan Raline, menyunkan kedua bibirnya yang mungil itu.
"mama Raline,kapan kita akan mempunyai rumah?"
Mendengar perkataannya membuat hati kecil Eki Tobingbergetar.
Memeluk dengan erat buah hatinya yang berada dipelukannya itu, "sayang, buaknnya kita selalu berada dirumah?"
Buah hatinya yang berada dipelukannya itu menggelengkan kepalanya,"bukan bukan. Ini adalah rumah Bibi Ujang Arif, bukan rumah milik mama, aku hanya ingin rumah yang ada aku dan mama didalamnya. Boleh tidak?"
Mata Eki Tobingbergetar dan mengeluarkan sedikit air dari dalamnya.
"baiklah, mama berjanji akan segera mengurus permintaan kecilmu ini dan akan membuat anak kesayangan mama ini mempunyai rumah sendiri."
anak kesayangannya yang mendapatkan keinginanya, suasana gembira dalam hatinya seketika melonjak keluar dan berteriak kegirangan.
"hidup mama……hidup mama……"
Eki Tobingseketika mencubit bibirmungilnya itu,kemudian anak dan ibu tersenyum bersama.
Keesokan siang harinya, Eki Tobingdi internet mencari informasi mengenai kontrakan di kota G, kemudian seketika dikagetkan oleh suara telepon yang memecah keheningan.
"halo, siapa ya?" dia mengangkat teleponnya dan melihat nomor telepon yang tertera di layar, ternyata adalah nomor dari kota G dan kemudian bertanya dengan sopan.
"……Raline!"
Dari dalam hapenya terdengar suara laki-laki yang sedikit berat dan bergetar.
Seketika air matanya mengalir keluar begitu saja.....
Selam dalam perjalanan di mobil, anaknya yang menggemaskan itu dengan kegirangan memandangi ke arah luar kaca mobil, melihat keluar ramai dan megahnya kota G.
"mama Raline,kita ini akan pergi kemana? taman bermain kah?"
Eki Tobingmenggelengkan kepalanya, wajah cantik dan menawannya itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraan yang dirasakannya saat ini.
"kita pergi untuk menemui kakekmu."
"kakek?" anak kesayangannya terdiam seketika,dalam ingatannya sepertinya tidak pernah muncul sosok kakek ini,"kakek itu siapa?"
"kamu akan tau nanti ketika sampai."
Kemudian keduan anak dan ibu itu turun dari mobil, dari pintu masuk Hotel Emperor, terlihat penjaga pintu dari jauh sudah menyambut kedatangan mereka dan membawa mereka masuk kedalam restoran.
Hotel Emperora dalah salah satu restoran bintang lima di kota G, dengar-dengar hubungan diantara anak dari keluarga Tuan Dong dan Keluarga Qodir Group sangat bagus, sehingga membuat restoran ini menjadi sangat terkenal dan banyak dikunjungi orang, para tamunya seakan berasal dari lima benua, kebanyakan adalah para selebriti kaya.
Dalam panduan pelayan, mereka telah sampai pada salah satu ruangan.
Setelah membuka pintu ruangan itu Eki Tobingmelihat ayahnya sedang duduk sendirian didalam.
"……papa!"suara Eki Tobingsedikit bergetar, air mata yang berada dikelopak matanya itu seketika tidak terbendung lagi.
"Raline."Pak AngZakiah beranjak dari tempat duduknya,berkata dengan suara yang penuh dengan perasaan campur aduk.
"papa."Eki Tobingterisak dan berlari kedalam, menuju ke arah Pak AngZakiah dan segera memeluknya.
"anakku, kamu sudah kembali, kamu sudah kembali." Pak AngZakiah dengan pelan menepuk punggung Raline, sorot matanya penuh dengan kasih sayang, dia dengan sedikit bergetar menggenggam tangan Raline.
Eki Tobingbenar-benar merasa sangat tersanjung.
Papanya yang waktu itu mengusirnya keluar, dia mengira dia selamanya tidak akan berjumpa dengannya lagi, tetapi tidak disangka, sekarang......
Pak AngZakiah mengerti pemikiran yang tersimpan didalam hatinya"Eki Tobing……kamu harus tau, papa dulu berbuat seperti itu kepadamu bukan karena apa-apa......
Sosok papa yang berada dalam ingatannya adalah dia yang baik hati dan penuh kasih sayang, sejak kapan bisa berkata dengan lembut seperti ini?
Eki Tobingtidak dapat menghindari bahwa dirinya merasa sangat tersentuh, dan membuat air matanya seketika semakin mengalir deras.
Pandangan mata Pak AngZakiah menurun, sorot matanya penuh dengan kasih sayang tertuju pada sosok anak kecil yang berdiri dismping Raline. Anak kecil itu terlihat sangat pintar dan sangat menggemaskan
Dia menatapnya dengan dalam, alis matanya, wajahnya yang penuh dengan semangat, benar-benar adalah tiruan dari Raline.
Eki Tobingseketika mengatur kembali perasaannya, kemudian menggandeng tangan buah hatinya menarinya kedepannya. "Rizki, apa kamu tau dia siapa? Dia adalah kakek kamu, papa nya mama."
"kakek apa kabar." Rizki memanggilnya sekali,"semoga kakek semakin lama semakin terlihat muda dan semakin panjang umur."
"aiyo, cucuku yang sangat nurut, cepat beri kakek pelukan."
Pak AngZakiah bersuka cita dalam kegembiraan dan sedikit membungkukkan tubuhnya menggendong cucunya itu, dan mengamatinya dari dekat.
Tidak dapat dipungkiri, alis mata dari cucunya ini terlihat sangat indah.
Alisnya yang hitam pekat, matanya yang hitam dan besar, dan juga bentuk hidungnya semuanya benar-benar sangat indah.
"baiklah, ternyata adalah seekor harimau kecil! Kakek menyukainya!" kebahagiaan Pak AngZakiah yang tidak sedikitpun terlihat palsu, kemudian dari dari tubuhnya mengeluarkan amplop berwarna kuning kecoklat-coklatan, dan terlihat ada tonjolan dari dalamnya dan diberikannya kepada cucunya itu. "cucuku tersayang, ini, kakek memberimu hadiah pertemuan yang sangat besar."
"terimakasih kakek, kakek memang yang terbaik!"perkataan anak kecil memang sangat enak didengar.
Pak AngZakiah seketika tersenyum lebar.
Eki Tobingkhawatir tubuh ayahnya tidak dapat menopang berat badan anaknya, kemudian memberinya sebuah isyarat.
__ADS_1
"Rizki,kamu terlalu berat, cepat turun, kakek bisa kelelahan karena menggendongmu.